Jumat, 08 November 2013

Pagi itu Ayyas merasakan kesedihan luar biasa.
Ia merasa kehilangan sesuatu yang paling
berharga yang ia miliki. Ia merasa hatinya seperti
telah copot dan kepalanya mau lepas dari tubuhnya.
Dunia terasa suram dan kelam. Ia merasa
memikul dosa sebesar gunung. Bahkan ia merasa
menjadi manusia paling berdosa di atas muka
bumi ini. Pagi itu Ayyas bangun kesiangan. Ia
shalat Subuh tidak tepat pada waktunya. Ia merasakan
musibah yang luar biasa.

Penyebabnya adalah karena ia terlalu letih dan
tidur sangat terlambat. Setelah minum teh bersama
Dokter Tatiana Baranovna di stolovaya40Italian
Medical Centre, ia pulang ke
apartemen dengan taksi. Linor dan perempuan
tua itu tetap di sana menunggu apa pun yang terjadi
pada Yelena. Ia sampai di kamarnya hampir
jam tiga. Tubuhnya seperti remuk semua. Sebelum
tidur ia masih sempat memasang alarm.

Tetapi ia sama sekali tidak mendengar bunyi
alarm. Ia terlalu lelap. Ia ketinggalan shalat
Subuhnya. Ia merasa sangat berdosa kepada Allah
Ta ala. Ia merasa sangat rugi. Sesuatu yang
sangat berharga miliknya telah hilang, dan ia
merasa tidak bisa menggantinya dengan cara apa
pun.

Jika satu bagian saja dari wiridku telah hilang,
maka tidak mungkin aku bisa menggantinya
untuk selama-lamanya.

Airmata Ayyas meleleh. Ia teringat wasiat seorang
sahabat Nabi, Abu Bakar Ash Shiddiq ra.
menjelang wafatnya kepada Umar bin Khattab
ra.,

"Aku wasiatkan kepadamu semoga kau mau
menerimanya. Sesungguhnya Allah memiliki hak
pada malam hari yang tidak diterima ketika
dilaksanakan siang hari. Demikian juga Allah
memiliki hak pada siang hari yang tidak diterima
jika dilakukan pada malam hari. Sesungguhnya
Allah tidak akan menerima amalan sunah sebelum
melaksanakan amalan wajib."

Ayyas dicekam ketakutan sekaligus kesedihan.
Ia takut kalau shalat Subuhnya yang dilakukan
tidak pada waktunya samasekali tidak diterima
oleh Allah Ta ala. Jika shalatnya tidak diterima
Allah, bagaimana nasibnya kelak di akhirat?

Ia selalu ingat, shalat adalah amal kebajikan pertama
sekali yang kelak akan dihitung oleh Allah.

Nabi Muhammad Saw. menjelaskan, jika shalat
seorang hamba dinilai baik oleh Allah, maka
baiklah seluruh amal perbuatannya, dan jika shalatnya
dinilai buruk oleh Allah, maka buruklah seluruh
amal perbuatannya.

Dan pagi itu ia bangun kesiangan, tidak shalat
Subuh tepat pada waktunya. Di atas sajadahnya
Ayyas terus beristighfar dan menangis,

"Ya Allah harus bagaimana hamba menebus
dosa ini. Ampunilah kekhilafan hamba-Mu ini ya
Allah. Karuniakan kepada hamba kenikmatan
shalat tepat pada waktunya sampai akhir hayat ya
Allah. Ya Allah tolonglah hamba-Mu yang lemah
ini untuk selalu mengingat-Mu, untuk selalu
bersyukur kepada-Mu, dan untuk selalu
beribadah sebaik mungkin kepada-Mu."

Ia tidak menyesal sama sekali bahwa ia terlalu
letih karena harus menolong Yelena dan
mengantarkannya ke rumah sakit. Tidak,
sama sekali tidak. Ia tidak menyesal harus menolong
perempuan yang ternyata berprofesi menjual
diri seperti Yelena. Ia menolong Yelena karena
Yelena adalah makhluk Tuhan yang saat itu
memerlukan pertolongannya. Jadi ia tidak merasa
apa yang dilakukannya sia-sia. Kalau ternyata
nyawa Yelena dapat diselamatkan dan Yelena
bisa kembali pulih seperti sedia kala, lalu perempuan
itu kembali menjual dirinya, itu adalah urusan
yang lain.

Kewajibannya sebagai manusia adalah menolong
manusia yang memerlukan pertolongannya.

Tentu saja ia tidak menginginkan Yelena terus di
jalan yang tidak benar. Ia ingin Yelena menginsafi
bahwa yang ia lakukan adalah kesalahan besar,
bahkan ia berharap Yelena kemudian bisa
mendapatkan hidayah, lalu merubah cara
hidupnya; dari cara hidup yang gelap dan pengap
menjadi cara hidup yang penuh cahaya dan penuh
kesegaran nikmat Tuhan.

Sungguh ia tidak menyesal harus berletih-letih
sampai pukul tiga dini hari. Yang ia sesalkan
adalah dirinya sendiri yang tidak bisa bangun tepat
pada waktunya. Telinganya seperti tuli. Bunyi
alarm samasekali tidak didengarnya. Ia menyesal
bahwa dirinya bagaikan kerbau bodoh yang
mendengkur sampai matahari terbit. Kerbau
bodoh yang tidak bangun shalat Subuh ketika
hamba-hamba Allah yang saleh sama rukuk dan
sujud kepada Allah. Ia menyesali kelemahan dirinya
sendiri. Ternyata kekuatan cintanya kepada
Allah belumlah dahsyat.


Buktinya, kekuatan cintanya kepada Allah belum
mampu membangunkannya untuk terjaga di
saat ia harus bangun, terjaga dan sujud kepada
Allah. Dirinya ternyata masih jauh dibandingkan
orang-orang saleh yang mampu menjaga
keistiqamahan shalat tepat pada waktunya sampai
akhir hayatnya.

Pagi itu Ayyas shalat Subuh pukul sembilan.
Hal yang belum pernah terjadi selama hidupnya.
Baru pagi itu ia kebobolan. Ia merasa shalat dan
ibadahnya selama ini seolah tidak ada maknanya.
Ia benar-benar menyesal sampai relung hati paling
dalam.

Ponselnya bergetar lalu berdengking-dengking.
Ada panggilan. Ternyata dari Linor. Ayyas
mengangkatnya dengan raut muka kelam bergurat
kesedihan.

"Hai sudah bangun ya?" Suara Linor dari
seberang.

"Sudah. Ada apa?"

"Aku kira masih mendengkur. Tadi jam lima
aku kontak berkali-kali tidak kauangkat. Aku
yakin kau masih pulas karena tadi malam kelelahan.
Kau bisa datang kemari sekarang?"

"Ada apa?"

"Yelena sudah siuman. Datanglah! Aku ada
pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan."

"Aku juga sama."

"Yang penting datanglah dulu. Temui Yelena.
Dia menanyakanmu. Bibi Margareta sudah cerita
semua tentang kepahlawananmu pada Yelena.
Kelihatannya Yelena ingin sekali bertemu
dengan orang yang telah menyelamatkan
nyawanya. Datanglah. Setelah itu terserah kau."

"Kau sudah hubungi keluarganya?"

"Yelena mengaku tidak punya keluarga lagi.
Dia sebatang kara di Moskwa ini. Tapi dia bilang
ada temannya yang lain, yang mungkin bisa
sedikit membantunya. Segera datang ya? Biar
aku bisa segera berangkat."

Ayyas berpikir sesaat. Ia seharusnya segera
pergi ke kampus MGU. Ia harus menemui Doktor
Anastasia Palazzo. Tapi tidak ada salahnya ia ke
rumah sakit dahulu baru kemudian ke MGU.

Ayyas segera mandi. Sudah tiga hari ia tidak
mandi. Setelah itu memakai pakaian musim dinginnya
lengkap, dan meluncur ke rumah sakit di
mana Yelena dirawat.

Ia bersyukur, nyawa Yelena akhirnya selamat.
Dengan selamatnya Yelena, ia akan terhindar
dari urusan panjang dengan pihak kepolisian.

Nanti Yelena bisa menceritakan apa yang dialaminya
panjang lebar kepada polisi. Dengan begitu
polisi tidak akan mencurigai dirinya samasekali
sebagai pelaku kejahatan yang mencederai
Yelena. Sehingga ia bisa konsentrasi melakukan
penelitian dan menyelesaikannya tepat pada
waktunya.

***
Yelena sudah pindah ruangan. Ia sudah tidak
di bagian gawat darurat lagi. Linor memilihkan
kamar VIP utuk Yelena. Kamar itu layaknya
kamar hotel. Ada dua tempat tidur di situ. Yang
satu untuk pasien dan yang satu untuk penunggu.
Ada sofa dan meja kecil di depannya. Ada kamar
mandi di dalamnya. Ruangan itu tentu saja
dilengkapi penghangat ruangan, televisi dan kulkas
kecil. Yang paling penting ruang itu
dilengkapi alat-alat standar kesehatan terbaik
dunia.

Yelana samasekali tidak menolak ketika
dibawa ke kamar VIP. Ia tahu, pada akhirnya ia
sendiri yang harus membayarnya, dan ia merasa
mampu untuk membayarnya. Tabungan yang dimilikinya
ia rasa lebih dari cukup untuk membayar
biaya perawatannya sampai ia sembuh. Yang
penting baginya adalah ia masih bernyawa, tidak
mati sia-sia layaknya anjing kurap yang membeku
di pinggir jalan.

Linor dan Bibi Margareta masih menunggu di
situ ketika Ayyas masuk. Yelena terlentang
lemah dengan infus menggantung di atas kepalanya.
Kepalanya masih terasa pusing. Jika digerakkan
sedikit rasanya dunia berputar dan dirinya
ingin muntah. Maka Yelena berusaha tidak
menggerakkan kepalanya samasekali meskipun ia
tahu Ayyas datang. Ia hanya mengikuti Ayyas
dengan kedua matanya.

"Akhirnya kau datang juga." Sapa Linor.

"Ya tapi mungkin aku tidak lama. Aku harus
ke MGU."

"Tak apa? Yang penting Yelena sudah ketemu
kau sebelum sebentar lagi dia dioperasi?"

"Dioperasi?"

"Dioperasi apanya?"'

"Daun telinga kanannya tidak dapat diselamatkan.
Daun telingannya sudah menjadi es
ketika dia kaubawa kemari. Hidungnya hampir
mengalami hal yang sama. Kata dokter Tatania,
terlambat tiga menit saja mengangkat Yelena dari
dinginnya salju, Yelena akan kehilangan daun
telinga, hidung dan jari-jari tangannya, bahkan
bisa lengannya. Kalau terlambat lima menit ya
nyawanya sudah hilang karena lehernya membeku,
pernafasannya putus, jantungnya berhenti
berdetak."

"Begitu mengerikan."

"Ya. Yelena beruntung ada yang
menyelamatkannya. Dan orang yang
menyelamatkan itu kau."

"Bukan aku. Sebenarnya yang menyelamatkan
adalah Tuhan. Tuhan mengulurkan tangan pertolongannya
lewat Bibi Margareta. Dan Bibi Margareta
mengajak saya. Awalnya saya juga merasa
tidak percaya pada Bibi Margareta. Tapi Tuhan
membuka hati dan pikiran saya untuk memenuhi
ajakan Bibi Margareta menyelamatkan nyawa
anak manusia."

Yelena mendengar dialog Linor dan Ayyas
dengan hati bergetar. Ia teringat Tuhan. Ya
Tuhan. Di tengah-tengah rasa putus asanya,
ketika ia merasa nyawanya sudah sampai tenggorokan,
yang ia sebut-sebut untuk dimintai pertolongan
adalah Tuhan. Ia terus menyebut Tuhan,
meratap pada Tuhan. Dan pertolongan itu datang.
Berarti apakah benar Tuhan itu ada? Ia masih
ragu. Tetapi pertolongan itu datang setelah ia
memintanya dari Tuhan. Benarkah yang
menyelamatkan nyawanya sebenarnya adalah
Tuhan, seperti dikatakan oleh Ayyas baru saja.

Tuhan mengulurkan tangan pertolongannya lewat
Bibi Margareta. Dan Bibi Margareta lalu
mengajak Ayyas. Tuhanlah yang membuka hati
dan pikiran Ayyas untuk memenuhi ajakan Bibi
Margareta menyelamatkan nyawanya.

"Hai Yelena apa kabar?" Sapa Ayyas.

Yelena hanya mengedipkan kedua matanya,
dan berusaha tersenyum. Ia ingin menjawab tapi
tenggorokannya terasa sakit sekali kalau untuk
mengucapkan satu kata saja.

"Yang tabah ya. Percayalah kau pasti
sembuh."

Yelena kembali berusaha tersenyum.

"Yelena... karena Ayyas sudah datang, aku berangkat
dulu ya. Menurutku Bibi Margareta bisa
menemanimu sampai kamu sembuh. Dia katanya
tidak punya rumah. Jadi malah senang kalau menemani
kamu di sini. Aku sudah memberinya
uang untuk membeli pakaian, agar dia tidak berpakaian
kumal seperti itu. Dia biar pergi beli
pakaian ketika kamu dioperasi. Baik?" Terang
Linor.

Yelena mengedipkan kedua matanya.

"Baik. Kalau begitu aku pergi dulu."

Linor melangkah keluar kamar. Tinggallah
mereka bertiga di kamar itu. Bibi Margareta duduk
di sofa sambil terkantuk-kantuk. Sesekali kepalanya
jatuh ke kanan. Ia tergagap dan bangun.

Lalu berusaha menegakkan kepalanya. Tak lama
mengantuk lagi. Kepala itu lalu jatuh ke kiri seperti
tidak ada lehernya. Ia tergagap lagi dan berusaha
tegak. Begitu berulang-ulang.

Yelena diam. Hanya matanya yang terjaga. Ia
ingin bicara tapi luar biasa susahnya. Ayyas hanya
diam saja, berdiri di sampingnya. Ia berpikir,
benarkah Yelena tidak memiliki keluarga? Benarkah
dia sebatang kara? Sejak kapan dia sebatang
kara? Berarti dia yatim piatu? Kalau benar,
betapa berat hidup di Moskwa dengan musim
dingin yang mencekam, tanpa keluarga
samasekali.

Ayyas lalu berpikir, alangkah kasihannya
Yelena. Meskipun kini nampak pucat, gadis itu
tetap nampak jelita. Oh, kalau dia di Indonesia, ia
membayangkan pasti akan dilamar main film
oleh PH-PH raksasa yang bermarkas di Jakarta.

Tapi gadis secantik itu harus hidup dalam jalan
yang gelap. Jalan gelap penuh sampah dan kotoran
menjijikkan. Tubuh yang kelihatannya sangat
memesona itu sebenarnya telah menjadi onggokan
sampah daging busuk yang menjijikkan. Ia
langsung teringat Yelena ketika bertemu
dengannya di restoran kemarin. Yelena menggandeng
lelaki besar berkulit hitam. Entah apa
yang telah dilakukan lelaki hitam itu pada
Yelena. Dan entah berapa setan yang telah menodai
Yelena,

Kini Yelena terbaring tak berdaya. Meskipun
ada rasa muak membayangkan tubuh Yelena
yang telah menjadi lebih murah dari sampah, tapi
rasa kasihan itu terbit juga. Walau bagaimanapun,
Yelena adalah manusia. Dia bisa jadi merasa
hidupnya baik-baik saja. Bahkan dia tidak percaya
adanya Tuhan, dan merasa senang. Itu
semua karena yang ada dalam
pikiran Yelena berbeda dengan yang ada
dalam pikiran Ayyas.

Dalam pikiran Ayyas ada yang namanya
Tuhan, ada ajaran agama Tuhan, ada Nabi
Muhammad, ada ajaran Nabi Muhammad, ada
perintah dan larangan Tuhan, ada pahala, ada
dosa, ada surga, ada neraka.

Sementara dalam pikiran Yelena, semua yang
ada dalam pikiran dan keyakinan Ayyas
sama sekali tidak ada. Yang ada adalah dirinya
sendiri, dan hidup yang dijalaninya. Ia merasa
bebas berbuat apa saja selama ia merasa nikmat
dan nyaman, dan selama orang lain juga merasa
nikmat. Tak ada aturan agama mana pun yang
mengekangnya.

Yelena ingin mengucapkan satu kalimat saja,
yaitu berterima kasih kepada Ayyas, tapi
susahnya luar biasa. Ia tetap merasa Ayyas adalah
orang yang paling besar jasanya dalam
menyelamatkan nyawanya. Bibi Margareta telah
menceritakan semuanya. Ia mengerti semuanya
meskipun ia hanya terlentang tak berdaya. Bibi
Margareta bercerita bagaimana orang-orang tidak
ada yang peduli, dan hanya Ayyas yang peduli
saat itu. Terus bagaimana Ayyas membopong dirinya.

Bagaimana Ayyas rela membayar tiga puluh
ribu rubel untuk ongkos taksi. Juga bagaimana
Ayyas menandatangani semua berkas
rumah sakit sehingga ia bisa langsung
mendapatkan perawatan medis segera. Kalau
tidak ada Ayyas, ia sudah menjadi mayat yang
membeku di pinggir jalan sempit kota Moskwa.

Ya, jika benar kata Ayyas bahwa yang menolong
adalah Tuhan, maka Ayyas adalah utusan Tuhan
yang menjadi juru selamat utama baginya dari
kebinasaan.

Yelena tidak tahan untuk tidak mengatakan
sesuatu pada Ayyas. Maka dengan rasa sakit luar
biasa ia memaksakan berbicara.

"Ay...yas!" lirihnya parau.

Ayyas tersentak dari diamnya. Seluruh wajahnya
seketika menghadap wajah Yelena sambil
semakin mendekatkan kepalanya ke kepala
Yelena.

"Iya Yelena."

"S..spa..si...ba...bal..shoir” (Terima kasih)
Kalimat itu akhirnya bisa keluar dari mulut
Yelena. Wajahnya sedikit berbinar cerah.

"Tidak perlu berterima kasih untuk sebuah kewajiban
Yelena. Manusia harus tolong menolong.

Sudah menjadi kewajibanku untuk
menolongmu."

Yelena mengedipkan kedua matanya sambil
berusaha tersenyum.
Terdengar langkah perempuan mendekat.
Pintu diketuk, lalu dibuka. Muncul wajah Dokter
Tatiana Baranovna. Wajah perempuan berusia
empat puluh tahunan itu nampak segar.

Langkahnya anggun. Rambutnya yang pirang ia
kucir di belakang. Dengan jas putih panjang dan
celana juga putih, ia nampak begitu rapi dan bersih.
Berbalik seratus delapan puluh derajat
dengan Bibi Margareta yang kumal, lusuh dan
kotor.

"Dabroye utra, Dokter." Sapa Ayyas.

"Dabroye utra. O jadi kamu datang lagi. Perempuan
muda ini harus kami operasi. Daun
telinga kanannya harus kami amputasi. Jika tidak
bisa membusuk dan menjalar ke mana-mana."

"Samasekali tidak bisa diselamatkan Dokter."

"Tidak ada cara lain kalau kepalanya ingin
tetap selamat."

Mata Yelena berkaca-kaca mendengar penjelasan
Dokter Tatiana. Tapi ia tidak berdaya
apa-apa kecuali ikut apa yang terbaik menurut
dokter yang mengusahakan kesembuhannya. Jika
ia bisa bicara ia ingin bertanya apa bisa kelak ia
melakukan operasi plastik untuk daun telinga
palsunya. Ia berharap bisa. Sebab setahu dia,
bahkan operasi hidung plastik pun bisa. Michael
Jackson sangat dikenal memiliki hidung hasil operasi
plastik. Jika hidung bisa operasi plastik,
daun telinga tentu bisa.

"Kapan dia harus operasi, Dokter?"

"Sekarang. Sebentar lagi perawat akan membawanya
ke ruang operasi. Lebih cepat lebih
baik."

"Lakukan yang terbaik untuknya, Dokter."

"Tentu. Kamu perhatian sekali sama dia."

"Ah biasa saja. O ya kabar Ksenia
bagaimana?"

"Tadi pagi saat sarapan pagi aku sudah cerita
padanya. Ia senang sekali. Ia sebenarnya mau
ikut. Tapi ia harus masuk sekolah. Satu bulan lagi
ia akan tampil di Bolsoi Teater. Katanya dia akan
mengundangmu."

"Penampilan apa?"

"Ia terpilih mewakili sekolahnya untuk menjadi
salah satu penari balet yang akan menampilkan
pertunjukan balet Lebedinoe Ozera."

Dokter Tatiana nampak begitu bangga menerangkan
prestasi anak putrinya.

"O Lebedinoe Ozera, pertunjukan balet danau
angsa, sebuah pertunjukan balet paling legendaris
dan paling menyedot penonton. Berarti anak putri
Dokter bukan penari balet sembarangan." Tiba-tiba
Bibi Margareta menukas. Rupanya ia telah
bangun dari tidurnya sambil duduk.

"Terima kasih atas pujiannya Bibi."

Dua perawat datang. Seorang di antara mereka
memberi laporan kepada Dokter Tatiana Baranovna
bahwa pasien bernama Yelena sudah siap
untuk dioperasi. Dua dokter ahli bedah sudah
menunggu di ruang operasi.

Ayyas pamit pada Yelena dan mendoakan
Yelena semoga operasinya sukses dan ia segera
sembuh. "Percayalah Tuhan akan menolongmu.
Percayalah kepada Tuhan. Semoga Tuhan mendampingimu
selama operasi." Kata Ayyas kepada
Yelena. Yelena hanya mengedipkan mata, ia berusaha
tersenyum semampunya. Dalam hati ia
menjawab bahwa ia akan mencoba untuk percaya
kepada Tuhan.


Sudah hampir pukul dua belas siang, Ayyas
belum juga datang. Doktor Anastasia Palazzo
mondar-mandir di ruang Profesor Tomskii. Ia
menunggu ponselnya berdering, berharap anak
muda itu menelponnya atau memberi kabar kepadanya
meskipun melalui sms. Ia ingin menelpon
anak muda itu, tapi harga dirinya mencegah
untuk melakukannya.

Bibi Parlova memberitahu, Ayyas bekerja di
ruang Profesor Tomskii sampai pukul sebelas
malam. Catatan pihak keamanan mengatakan demikian.
Jika yang terjadi seperti itu, ia merasa
bahwa anak muda itu sangat mencintai ilmu. Jika
benar bahwa anak muda itu datang dan bekerja
melakukan penelitian dalam keadaan pundak kirinya
sakit, maka kecintaannya pada ilmu sampai
mengalahkan rasa sakit. Hanya para peneliti sejati
yang memiliki jiwa seperti itu.

Ia tidak ingin dengar dari Bibi Parlova. Ia
ingin mendengar sendiri dari cerita anak muda
itu. Ia ingin tahu, kenapa pundak kirinya bisa
sakit? Bagaimana ia bisa tetap memaksa sampai
MGU dalam kondisi pundak kiri sakit? Apa yang
ia dapat selama berjam-jam di ruang Profesor
Tomskii. Ia juga ingin tahu selama ini tinggal di
mana? Dan banyak pertanyaan lainnya, yang
ingin ia ajukan pada anak muda itu, dan ia ingin
anak muda itu bercerita banyak padanya. Ia suka
dengan caranya merangkai dan menyampaikan
kata-kata.

Karena merasa agak bosan menunggu di ruang
Profesor Tomskii, Doktor Anastasia Palazzo
pergi ke stolovaya. Ia hanya mengambil empat
potong Monti (Daging giling berbalut tepung
disiram mayonez) dan segelas teh panas. Sesekali
ada satu dua mahasiswa yang menyapanya. Ia
tersenyum dan menjawab sapaan mereka. Ia melahap
sepotong demi sepotong daging gulung itu
sambil membaca kumpulan cerpen Leo Tolstoy.

Tak terasa satu jam lebih ia ada di stolovaya.
Tehnya sudah habis. Kumpulan cerpen itu tinggal
beberapa halaman saja yang belum ia baca. Ia
bangkit keluar dari stolovaya menuju ruangan
Profesor Tosmkii. Ia berharap Ayyas telah tiba di
sana.

Begitu memasuki ruangan Profesor Tomskii
hatinya langsung berbunga, karena ia melihat
Ayyas berdiri tegap di sana. Hanya saja, ketika ia
menyapa, Ayyas diam saja, tetap berdiri tegak
menghadap ke selatan. Ayyas samasekali tidak
menoleh ke arahnya. Ia tetap masuk. Ia melihat
Ayyas mengangkat kedua tangannya lalu menurunkan
kedua tangannya dan meletakkannya di lututnya,
punggungnya lurus, jika ia membawa
nampan berisi segelas teh panas dan meletakkan
nampan itu di atas punggung Ayyas, ia bisa memastikan
teh panas itu tidak akan tumpah sedikit
pun. Ia beftanya-tanya apakah Ayyas sedang senam,
ataukah...?

Ayyas kemudian berdiri lalu menggelosor meletakkan
seluruh mukanya ke tanah. Ayyas sujud.
Anastasia langsung ingat cara orang-orang Islam
melakukan ritual ibadahnya yang disebut shalat.
Ya, ini Ayyas sedang shalat. Selama ini ia hanya
melihat di gambar, atau melihat di layar televisi.
Ia belum pernah melihat secara langsung orang
shalat dengan kedua kepalanya sendiri dan dalam
jarak yang sangat dekat. Ia belum pernah masuk
ke tempat ibadah orang Muslim.

Entah kenapa tiba-tiba Anastasia merasa tidak
nyaman melihat Ayyas sujud seperti itu. Ia merasa
Ayyas melakukan ritual yang sangat primitif
bahkan sangat purba. Menggelosor, meletakkan
kening di tanah, kedua tangan juga di tanah, lutut
dan kedua kaki semua di tanah. Begitu
menghinakan diri sendiri. Lebih hina dari anjing
yang menggelosor di pinggir jalan. Anjing
bahkan tidak pernah meletakkan keningnya di tanah
seperti Ayyas. Ia merasa sangat kasihan kepada
Ayyas. Anak muda yang sedemikian cerdasnya
bisa dibelenggu oleh ajaran agama yang
begitu primitif. Dan anehnya Ayyas samasekali
tidak kritis mengoreksi itu semua. Dan itu juga
terjadi lebih pada satu miliar anak manusia di seluruh
dunia.

Doktor Anastasia Palazzo duduk di sofa sambil
memerhatikan Ayyas yang sedang shalat. Setiap
kali Ayyas rukuk dan sujud, Anastasia
menggelengkan kepala, menganggap Ayyas yang
cerdas ternyata samasekali tidak cerdas. Kalau
cerdas bagaimana ia bisa melakukan ritual ibadah
yang begitu primitif. Anastasia dalam hati
meminta perlindungan kepada Kristus agar jangan
sampai tersesat seperti Ayyas. Ia bahkan
memohon agar Ayyas ditunjukkan kepada jalan
keselamatan yang sesungguhnya, seperti dirinya
yang telah menemukannya. Ia berdoa kepada
Kristus agar Ayyas segera terbangun dari
kebodohannya.

Ayyas selesai shalat. Ia berzikir singkat. Tasbih,
tahmid, dan tahlil masing-masing tiga puluh
tiga kali lalu berdoa.

Setelah itu ia menoleh ke arah Doktor
Anastasia Palazzo yang sudah duduk di sofa sambil
memandangi dirinya dengan pandangan rasa
kasihan.

"Maafkan saya Doktor, tadi saya tidak menjawab
ketika Anda menyapa saya. Sebab saya
seperti yang mungkin sudah Doktor ketahui
sedang melakukan shalat. Beribadah seperti yang
diajarkan oleh agama saya, Islam."

"Ah tidak apa-apa. Bagus, kamu tidak lupa kepada
Tuhan. Kamu berarti orang yang sangat religius,
sangat taat pada ajaran agama."

"Ibu saya selalu berpesan agar tidak pernah
lupa shalat, sujud kepada Allah di mana pun saya
berada."

"Kau berarti juga sangat taat kepada ibumu.
Kau anak yang berbakti. Ibumu itu sama dengan
ibuku. Selalu saja ibuku mengingatkan aku untuk
selalu menyebut nama Tuhan dalam kesempatan
apa saja."

"Beliau masih hidup?"

"Masih. Dia sekarang menikmati hari tuanya
dengan hidup tenang di pinggir kota Novgorod."

"Kota paling penting bagi Rusia klasik yang
banyak melahirkan kesatria yang gagah berani."

"Benar. Kalau kau mau, suatu saat bisa aku
temani ke sana."

"Sangat rugi kalau aku tidak mau. Tidak
mudah mencari penunjuk jalan yang menarik,
enak diajak diskusi dan memahami sejarah
dengan baik."

"Dengan bahasa halus kau selalu memuji."
Kata Anastasia merasa disanjung.

"Memuji siapa?" Tanya Ayyas pura-pura tidak
tahu. Pertanyaan Ayyas seketika membuat wajah
Anastasia menyemu merah. Semu merah muka
Anastasia kian menyempurnakan kecantikannya.
Ayyas tahu itu, dan ia menyimpan rapat-rapat
rasa tahunya itu di dalam bilik hatinya yang terdalam.
Sementara Anastasia merasa, pertanyaan
Ayyas itu begitu menjebak dirinya. "Cerdas! Sebuah
jebakan yang sempurna," lirihnya dalam
hati memuji kecerdasan Ayyas. Tiba-tiba ia merasa
bodoh harus menjawab apa. Beberapa detik
berpikir ia langsung ketemu jawabannya.

"Memuji kota-kota Rusia."

"Jadi menurutmu begitu?"

“Iya.”

"Berarti saya orang yang bodoh, yang tidak
bisa memahamkan lawan bicara. Padahal kalimat
yang terakhir saya ucapkan tadi samasekali tidak
untuk memuji kota Rusia. Maafkan kebodohan
saya Doktor."

"Kalau begitu untuk memuji siapa sebenarnya?"

Doktor Anastasia masih mengejar
dengan pertanyaan yang sesungguhnya ia sudah
tahu jawabannya. Ia ingin Ayyas sama w salah
tingkahnya dengan dirinya. Tapi reaksi Ayyas
sungguh di luar dugaannya. Ayyas spontan menjawab
tanpa beban sedikit pun,

"Tidak usah saya jelaskan, nanti salah lagi.
Kalau saya salah menjelaskan lagi malah akan
semakin nampak jelas betapa bodohnya saya ini.
Apalagi kalau perut saya sedang lapar, rasanya
otak saya kehilangan sekian persen kecerdasan
saya."

"Kau mau makan siang?"

"Iya. Supaya konsentrasi saya kembali pulih
seperti sedia kala dan tidak diganggu oleh permintaan
perut yang mulai melilit-lilit."

"Mau aku temani?"

"Bukannya Doktor baru saja dari stolovaya?

Tadi Bibi Parlova mengatakan kepada saya, Doktor
sedang makan siang di sana?"

"Tadi cuma minum teh untuk menghangatkan
tubuh, tidak benar-benar makan siang. Aku tadi
tidak makan kentang. Orang Rusia kalau belum
makan kentang itu sama saja belum makan."

"O kalau begitu, mari kita makan siang."

Keduanya lalu bergegas ke stolovaya. Mereka
hampir tidak dapat tempat karena stolovaya itu
nampak penuh. Beruntung dua orang mahasiswi
bermata sipit dan bermuka bundar khas wajah
China bagian barat berdiri meninggalkan meja
mereka. Doktor Anastasia mengajak Ayyas duduk
di tempat yang ditinggalkan dua mahasiswi
bermata sipit itu. Mau tak mau mereka duduk
berhadapan dan hanya dipisah oleh meja kecil
yang langsung penuh sesak oleh makanan yang
mereka ambil.

Ayyas memilih kotlety (Sejenis perkedel yang
terbuat dari daging giling tanpa kentang) dengan
sup, dua iris roti hitam, dan secangkir teh panas.
Sementara Doktor Anastasia Palazzo memilih
kentang kukus yang kuning keemasan, sup borsh
khas Rusia, dan teh panas. Ayyas melahap kotlety
itu dengan penuh nafsu. Sementara Anastasia
menikmati kentang kukusnya dengan penuh
khusyuk. Terkadang ia ambil potongan kentang,
ia masukkan ke mangkuk sup borshnya. Terkadang
potongan kentang itu ia masukkan dulu ke
mulutnya baru ia menyendok supnya. Terkadang
ia ambil sepotong kecil kentang kukus, ia masukkan
ke dalam mangkuk sup dan ia masukkan
ke dalam mulutnya bersama roti lipyoshka yang
ada dalam sup borshnya. Anastasia benar-benar
menikmati cara memakannya yang berbeda dari
orang-orang Rusia pada umumnya.

"Orang Rusia suka sekali makan kentang."
Gumam Ayyas sambil melihat ujung sendok

Anastasia yang mengangkat kentang kukusnya
dari sup borsh-nya.

"Ya, kami orang Rusia sangat mencintai
kentang. Satu hari tanpa kentang adalah penderitaan
bagi orang Rusia. Orang Rusia tidak bisa
hidup tanpa makan kentang. Kentang adalah kebanggaan
orang Rusia, bahkan nyawa orang
Rusia." Jawab Doktor Anastasia.

"Kalau begitu bisa jadi di dunia ini yang paling
banyak makan kentang adalah orang Rusia."

"Kau benar."

"Selain kentang apa yang paling tidak bisa
dipisahkan dari orang Rusia?"

"Teh panas, dan Vodka. Tapi aku tidak suka
Vodka."

Ayyas menganggukkan kepalanya. Ia sudah
menyikat habis menu yang dipilihnya. Anastasia
masih sibuk menghabiskan sisa-sisa kuah supnya.
Setelah mangkuknya bersih, ia menyeruput teh
panasnya yang kini jadi hangat.

"M m boleh aku tanya sedikit?" Kata Anastasia
agak ragu.

"Boleh tentu saja."

"Maaf kalau pertanyaanku ini akan mengganggumu."

"Semoga tidak."

"Maaf, ini sedikit tentang Islam. Kau orang
Islam kan?"

"Iya. Aku orang Islam. Kau tadi lihat sendiri
aku shalat seperti orang Islam mana pun di seluruh
dunia."

"Iya ini tentang cara shalat kalian. Cara kalian
menyembah sesembahan kalian. Begini, katanya
Islam melarang manusia menyembah berhala
seperti yang aku baca di internet, tetapi mengapa
ketika shalat, mereka menurutku justru melakukan
satu kebodohan dengan menyembah batu
persegi empat yang mereka sebut ka'bah. Tidak
tanggung-tanggung, mereka menyembah batu
persegi empat itu lima kali sehari. Kau bisa menjelaskan
sesuatu padaku!? Dan, maaf, jika
perkataanku ini menyinggungmu!"

Ayyas agak kaget mendengar pertanyaan Doktor
Anastasia Palazzo itu. Ia berusaha tetap tenang,
meskipun dari pertanyaan itu ada tuduhan
bahwa dirinya melakukan kebodohan ketika shalat.
Doktor muda yang cemerlang itu
berpandangan orang-orang Islam menyembah
batu. Ayyas berbaik sangka, Doktor Anastasia
berpandangan seperti itu hanya karena ketidaktahuannya
akan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Dan dengan adanya pertanyaan yang keluar dari
mulut Doktor Anastasia ia jadi tahu kira-kira seperti
apa orang-orang yang bukan Muslim dalam
memandang orang Muslim. Bisa jadi yang punya
pendapat seperti Doktor Anastasia sangat banyak
di muka bumi ini, yang berarti banyak sekali orang
yang salah melihat Islam.

Ayyas berusaha menjawab apa yang ditanyakan
oleh Doktor Anastasia sebaik mungkin. Ia
berharap, bahasa yang ia gunakan dapat dipahami
Doktor Anastasia dengan baik.

Setelah menarik nafas Ayyas menjawab,

"Ka'bah, sesungguhnya hanyalah kiblat, yaitu
arah di mana kaum Muslim menghadapkan wajahnya
ketika shalat. Jadi ketika shalat seorang
Muslim samasekali tidak menyembah ka'bah
yang tak lain adalah batu persegi empat. Sekali
lagi tidak. Yang disembah seorang Muslim hanyalah
Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang
diikrarkan seorang Muslim pertama kali masuk
Islam adalah aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali
hanya Allah.

"Anda bisa bertanya kepada Muslim yang
masih anak-anak sekalipun. Silakan Anda tanya
mereka, menyembah apa mereka ketika shalat?
Menyembah ka'bah atau menyembah
Allah. Bisa dipastikan, leher saya ini jadi
taruhannya, mereka akan menjawab bahwa
ka'bah hanyalah arah di mana harus menghadap
ketika shalat, tak lebih. Yang mereka sembah
adalah Allah. Mereka rukuk dan sujud hanya kepada
Allah semata.

"Perlu Doktor Anastasia ketahui, di dalam
Islam tata cara ibadah semuanya diatur secara
sempurna. Yang mengatur tata cara ibadah itu
adalah Allah. Rasulullah hanyalah utusan Allah
yang menjelaskan tata cara ibadah itu. Tidak ada
campur tangan manusia dalam hal aturan dan tata
cara ibadah kepada Allah. Termasuk ke arah
mana wajah ini harus dihadapkan ketika ibadah.

Allah sendirilah yang menentukan ke mana wajah
hamba-Nya menghadap ketika beribadah
kepada-Nya. Di dalam Al-Quran, surat Al-
Baqarah ayat 144, Allah berfirman: 'Sungguh
Kami sering melihat mukamu menengadah ke
langit, maka sungguh Kami akan memalingkan
kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah
mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana
kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya.'

"Tujuan menghadap arah yang sama, yaitu ke
arah ka'bah adalah untuk menyatukan umat Islam
di mana pun mereka berada. Jika tidak disatukan
kiblatnya, umat Islam akan susah melakukan
shalat berjamaah. Dalam satu masjid bisa terjadi
ada yang shalat menghadap ke utara ada yang
menghadap ke selatan, ada yang menghadap ke
tenggara dan lain sebagainya. Ibadah shalat jadi
tidak khusyuk. Persatuan tidak mudah tercipta.

"Demi menyatukan umat Islam di mana pun
mereka berada, Allah memerintahkan umat Islam
menghadap ka'bah ketika shalat. Jika ia berada di
sebelah utara ka'bah berarti dia harus menghadap
ke selatan, seperti orang Islam di Moskwa ini.
Jika orang Islam itu ada di sebelah timur ka'bah
berarti harus menghadap barat seperti orang
Islam di Indonesia. Jadi sekali lagi umat Islam
tidak menyembah ka'bah. Tuduhan seperti yang
Doktor Anastasia sampaikan sesungguhnya
samasekali salah, karena hanya purbasangka
yang tidak ada dasarnya.

"Kalau kita baca sejarah dengan seksama,
yang menggambar peta dunia pertama kali adalah
orang Islam. Orang Islam menggambar peta
dunia dengan petunjuk arah selatan menghadap
ke atas, sedangkan arah utara menghadap ke
bawah. Dan bangunan ka'bah berada di tengahtengahnya.
Jadi dalam pandangan orang Islam,
saat itu ka'bah berada di tengah-tengah peta
dunia. Kemudian para pembuar peta dari Barat
menggambar dunia dengan cara terbalik, artinya
arah utara menghadap ke atas dan arah selatan
menghadap ke bawah. Alhamdulillah ka'bah juga
tetap berada di bagian tengah peta dunia.

"Doktor juga harus tahu, di ka'bah ada batu
hitam yang disebut hajar aswad. Ada riwayat
menarik, Umar bin Khattab ra. pernah berkata
kepada hajar aswad, 'Saya tahu engkau hanyalah
sebuah batu yang tidak bermanfaat dan tidak
merugikan. Jika aku tidak pernah melihat
Rasulullah menyentuh kamu, maka aku tidak
akan menyentuh kamu.'

"Lihat, apa kata-kata Umar kepada hajar aswad,
yang juga adalah salah satu batu di ka'bah?
Umar mengatakan bahwa hajar aswad tak lebih
sebuah batu yang tidak membawa manfaat dan
membawa kerugian. Sekali lagi tak lebih dari sebuah
batu. Tak ada seorang pun di kalangan umat
Islam yang beranggapan, batu-batu yang bertumpuk
jadi ka'bah itu adalah Tuhan. Samasekali
tidak ada yang beranggapan demikian.

"Di zaman ketika Rasul kami, Muhammad
Saw. masih hidup, bahkan ada orang yang
bernama Bilal bin Rabbah berdiri di atas ka'bah
dan mengumandangkan azan dari atas ka'bah.
Kalau orang Islam menyembah ka'bah, bagaimana
mungkin seorang penyembah
menginjak-injak Tuhan yang disembahnya? Bilal bin Rabbah berdiri menginjak
ka bah tidak ada masalah. Sebab ka'bah
hanyalah sebuah batu, tak kurang tak lebih. Jadi,
anggapan Doktor Anastasia bahwa orang Islam
menyembah batu sangat jauh dari benar. Yang
disembah oleh orang Islam hanyalah Allah,
Tuhan seru sekalian."

Jawaban Ayyas yang runtut dan halus itu
membuat Doktor Anastasia menjadi mengerti
kenapa umat Islam menghadap ke ka'bah. Dalam
pojok hatinya ia merasa salah sangka kepada orang
Islam selama ini. Jawaban Ayyas sedikit
membuka wawasannya. Ia belum pernah menemukan
jawaban segamblang dan sedetil itu. Ia
jadi penasaran ingin bertanya banyak hal pada
Ayyas tentang Islam.

"Boleh aku bertanya lagi?"

"Boleh saja."

"Maaf, tadi aku lihat caramu beribadah. Sekali
lagi maaf, kau meletakkan keningmu ke tanah
berkali-kali. Menurutku itu sangat primitif.
Kenapa ritual ibadahnya harus ada sujud
meletakkan kening di atas tanah, seperti cara
suku-suku asing di belantara yang tidak tersentuh
peradaban yang sehat. Apakah tidak ada cara
ibadah yang lebih modern dan sehat. Jujur saja
aku agak jijik melihatnya. Aku tidak bisa membayangkan
kalau diriku harus sujud di lantai seperti
itu. Sekali lagi, maaf kalau
menyinggungmu."

Pertanyaan Doktor Anastasia membuat tubuh
Ayyas gemetar. Ia ingin marah karena cemburu
cara ibadahnya diremehkan, tapi ia tidak boleh
marah pada orang yang tidak tahu. Ia berusaha
mengendalikan diri sebaik mungkin. Ia harus
menjelaskan apa yang bisa ia jelaskan. Jika masih
juga tidak membuat Doktor Anastasia puas, ya ia
tidak bisa memaksa orang untuk puas atau menerima
penjelasannya.

"Ada pepatah Arab mengatakan al insan a'dau
ma jahilu. Artinya, manusia adalah musuh sesuatu
yang tidak diketahuinya. Misalnya karena
saya tidak tahu ilmu konstruksi bangunan, bisa
dipastikan kalau saya diminta menghitung
kekuatan sebuah bangunan, atau menaksir berapa
ketebalan beton untuk suatu bangunan berlantai
lima, saya angkat tangan. Kalau saya tetap
dipaksa itu akan jadi musuh saya, yang akan terus
menghantui saya. Sebab, saya bodoh di bidang
itu. Kalau saya masuk program doktor terus saya
diuji materi itu pasti saya akan gagal, sebab saya
tidak tahu ilmunya. Itu sekali lagi jadi musuh
saya. Tetapi di bidang yang saya tahu dan saya
kuasi dengan baik. Bidang itu jadi sahabat saya,
jadi penolong saya. Begitulah makna pepatah
Arab itu.

"Saya tidak heran Doktor Anastasia
mengatakan apa yang telah Doktor katakan tadi.
Itu semata-mata karena Doktor Anastasia belum
tahu. Kalau Doktor tahu, saya yakin Doktor akan
punya pandangan yang berbeda.

"Islam seutuhnya datangnya dari Allah. Itu
yang kami yakini dan bisa dibuktikan kebenarannya
dengan timbangan ilmiah. Semua
ajarannya datangnya dari Allah, Tuhan seru
sekalian alam. Tata cara, ibadah dalam Islam
diatur oleh Allah. Allah menjelaskannya kepada
Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad menjelaskannya
kepada umatnya. Maka cara shalat
umat Islam di seluruh dunia sama. Takbirnya
sama. Bacaannya sama. Gerakannya juga sama.

"Shalatnya umat Islam saat ini, yang ada
sujudnya, adalah sama dengan shalatnya para
nabi dan rasul sebelumnya. Nabi Adam, Nuh,
Idris, Ibrahim, Ismail, Ishak, Musa, Yunus, Daud,
Sulaiman, Yahya, Isa dan seluruh nabi sebelum
Nabi Muhammad menyembah Allah dengan cara
yang sama dengan umat Islam saat ini. Yaitu
dengan rukuk dan sujud yang disebut shalat.

"Itu adalah cara beribadah terbaik yang
diajarkan Allah kepada manusia sejak manusia
ada. Cara beribadah yang paling beretika dan paling
modern bagi orang-orang yang benar-benar
beriman kepada Allah.

"Islam artinya menyerahkan diri secara total
kepada Allah, tunduk secara penuh kepada Allah.
Maka di dalam ajaran Islam, saat dan tempat
yang paling dekat seorang hamba dengan Allah
adalah ketika hamba itu sedang sujud kepada
Allah.

"Ketundukan seorang Muslim yang total kepada
Allah nampak jelas ketika dia sujud kepada
Allah. Kepala dan muka adalah bagian paling
mulia bagi manusia. Bagian yang paling mulia itu
harus ditundukkan sepenuhnya dengan keikhlasan
kepada Allah. Tidak ada yang lebih mulia dari
Allah, tidak ada yang lebih agung dan lebih besar
da'ri Allah. Inilah ibadah yang total tidak
setengah-setengah. Penyembahan yang total kepada
Allah.

"Ketika seseorang sujud kepada Allah, berarti
dia siap untuk melaksanakan seluruh perintah Allah
dan siap untuk menjauhi seluruh larangan Allah.
Artinya, di luar shalat pun dia siap sujud kepada
Allah, patuh kepada Allah tanpa keraguan
sedikit pun.

"Doktor tidak boleh melupakan hal penting.
Di dalam Islam, rukun pertamanya adalah
syahadat, bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah utusan Allah. Ketika
seseorang mengatakan aku bersaksi tidak ada
Tuhan selain Allah, artinya orang itu hanya akan
beribadah kepada Allah saja. Dia hanya boleh
sujud kepada Allah saja. Dia hanya boleh meletakkan
keningnya ke tanah kepada Allah saja.

Selain kepada Allah tidak boleh. Dia hanya menjadi
hamba Allah, hanya tunduk kepada Allah.

Selain kepada Allah dia tidak boleh tunduk apalagi
sujud.

"Jadi kalau boleh saya berkata, saya ingin
mengatakan sesungguhnya di atas muka bumi ini
yang paling merdeka adalah orang Islam. Sebab
orang Islam hanya tunduk kepada Allah, hanya
menyembah kepada Allah. Umat Islam tidak
menyembah sesama manusia, atau manusia yang
dianggap Tuhan. Umat Islam hanya sujud kepada
Allah semata. Inilah cara ibadah para nabi dan rasul
sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad.

"Tidak ada cara ibadah yang lebih total
menyembah Allah selain daripada Islam. Dan
tidak ada kemerdekaan yang lebih merdeka selain
daripada Islam. Doktor Anastasia boleh saja
mengatakan, aku patuh dan tunduk kepada
Tuhan, tapi Doktor masih merasa jijik saat diminta
Tuhan meletakkan kening ke tanah, sujud
kepada Tuhan. Sekali lagi sujud kepada Tuhan,
bukan sujud kepada makhluk ciptaan Tuhan.
Apakah dia benar-benar ikhlas dan total
menyembah Tuhan. Kepada Tuhan masih merasa
jijik? Menurut saya, maaf, orang seperti itu masih
sombong, dia masih merasa setara dengan Tuhan,
sebab ia tidak mau sujud kepada Tuhan.

"Itu penjelasan secara teologis. Saya tadi
menyampaikan bahwa ibadah kami, umat Islam
adalah cara ibadah yang paling modern dan bisa
dibuktikan secara ilmiah. Sudah banyak pakar
kesehatan yang meneliti seluruh gerakan shalat,
dan hasilnya menakjubkan. Seluruh gerakan shalat
membawa manfaat kesehatan yang menakjubkan
bagi umat manusia. Bahkan waktu-waktu
shalat itu sangat bermanfaat dalam mengatur
irama proses-proses fisiologi dalam tubuh.

Kelima waktu shalat wajib sangat sesuasi dengan
perubahan-perubahan biologis yang penting
dalam tubuh. Shalat yang dilakukan dalam tubuh
bisa mengontrol keseimbangan enzim dalam tubuh,
yang menjadikan tubuh selalu sehat. Dan
pada gilirannya kesesuaian itu menjadikan shalat
lima waktu sebagai conditional reflex yang

berpengaruh seiring dengan perputaran waktu.
"Saya tidak ingin menjelaskan semua bukti
ilmiah. Hanya sebagian kecil saja. Langsung saja
saya masuk pada sujud. Sujud yang menurut
Doktor sangat menjijikkan dan primitif. Maaf,
agaknya Doktor kurang banyak membaca di luar
sejarah. Jadi pengetahuan Doktor hanya tentang
teori sejarah. Itu pun Doktor tidak tahu sejarah
ibadah para nabi dan rasul.

"Kalau Doktor membaca buku-buku kesehatan
populer saja, Doktor akan tahu bahwa gerakan
rukuk dan sujud sangat bermanfaat bagi kaum
perempuan, khususnya perempuan yang sedang
hamil. Seringkah masalah utama perempuan
hamil adalah kesulitan pencernaan yang membuatnya
merasa kembung bahkan muntah.

Dengan izin Allah, shalat dapat mengatasi kesulitan
pencernaan perempuan hamil ini. Rukuk dan
sujud akan menguatkan otot-otot dinding perut
dan membantu perut dari kekerutan, sehingga
bisa menyelesaikan kerjanya secara maksimal.

"Ada lagi gerakan-gerakan senam pada
minggu-minggu terakhir kehamilan yang sama
persis dengan gerakan rukuk dan sujud ketika
shalat. Gerakan ini sangat penting dan berguna
untuk mendorong janin agar tetap di jalur alaminya
di dalam tulang pinggul, sehingga proses
persalinan nantinya lancar dan normal.

"Tidakkah Doktor pernah membaca, banyak
orang Jepang yang menjatuhkan diri ke lantai
lalu sujud ketika merasa tertekan dan stres.

Dengan sujud itu mereka merasa lebih segar dan
lebih enteng kepalanya. Mereka samasekali tidak
tahu bahwa sujud adalah salah satu rukun shalat
umat Islam. Penelitian kedokteran modern
mengatakan, sujud bisa menjadi cara yang baik
untuk menghilangkan kegelisahan dan kegundahan
seseorang. Seorang Muslim ketika sujud
akan merasakan hembusan angin ketenangan, dan
belaian cahaya tauhid yang menyejukkan pikiran
dan jiwa.

"Terakhir saya ingin sampaikan apa yang pernah
di katakan oleh Dr. Alexis Karel, peraih
Nobel bidang kedokteran, 'Shalat menciptakan
satu aktivitas yang menakjubkan di dalam sistem
tubuh dan organ-organnya. Saya telah banyak
melihat orang-orang sakit yang tidak berhasil disembuhkan
oleh obat-obat konvensional, namun
shalat mampu menyembuhkan mereka secara
total. Shalat seperti logam rodium, sumber radiasi,
dan pembangkit energi otomatik. Saya telah
menyaksikan sendiri efek shalat dalam mengatasi
berbagai penyakit seperti TBC, radang tulang,
luka bernanah, kanker dan lain-lain.'

"Itu yang bisa saja jelaskan Doktor. Memang
sebaiknya kita tidak menghukumi sesuatu hanya
berdasarkan perasaan dan praduga tanpa dasar.
Maaf, tanpa bermaksud menasihati, alangkah
baiknya jika Doktor Anastasia juga banyak membaca
di luar teori-teori sejarah, agar wawasan
Doktor lebih luas lagi dan pandangan Doktor
tidak terkesan sempit."

Panjang lebar Ayyas menjelaskan kebenaran
yang ia yakini kepada Doktor Anastasia Palazzo.
Ia berusaha menjelaskan sedetil dan sehati-hati
mungkin. Ia berharap Doktor Anastasia bisa
menerima penjelasannya. Ia juga berharap tidak
ada satu kalimat pun dalam menjelasannya yang
akan menyinggung rasa keberagamaan Doktor
Anastasia.

Sementara itu, Doktor Anastasia sama sekali
tidak menyangka Ayyas akan memberi penjelasan
yang sedemikian gamblangnya. Ia merasa salut
pada pemuda itu berikut kecerdasan yang
menyertainya. Toh begitu, ada juga yang mengganjal
di hatinya. Ya, sindiran Ayyas kepadanya
sebagai orang yang kurang membaca, meskipun
disampaikan Ayyas dengan ekstra hati-hati, sungguh
membuat hatinya berselimut
amarah yang terpendam dalam dada. Sebuah
amarah yang biasa terbit kala seseorang disinggung
kecerdasannya. Amarah yang mudah muncul
dan mudah tenggelam. Amarah itu manusiawi
menurutnya.

Meski amarah itu sempat menghinggapinya,
Doktor Anastasia justru merubahnya menjadi
"cambuk motivasi" untuk membaca lebih banyak
lagi dan lebih banyak lagi. Yang jelas, dia akan
mencari informasi yang detil seputar apa yang
dijelaskan Ayyas. Apakah pemuda itu menyampaikan
hal yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah ataukah ia hanya membual
belaka alias cepukha, omong kosong.

Doktor Anastasia bangkit dari tempat duduknya.

Ia mengajak Ayyas kembali ke ruang
Profesor Tomskii untuk berbincang-bincang
tentang teori sejarah total. Besok-besok masih
ada waktu. Di lain waktu yang lebih tepat ia akan
menanyakan, kenapa umat Islam harus shalat
dengan cara yang menurutnya primitif seperti itu.

Dan di lain waktu pula, ia akan kembali menanyakan
banyak hal kepada Ayyas tentang Islam,
yang menurutnya primitif. Tentu dengan bekal
pengetahuan yang lebih siap sebelumnya. Ayyas
mengiyakan ajakan Anastasia. Mereka berdua
meninggalkan stolovaya dengan saling memendam
tanda tanya. Tanda tanya yang kelak, sangat
mungkin kian menumbuhkan benih-benih kekaguman
di antara mereka. Bepih-benih kekaguman
jenis apakah itu? Hanya angin dingin kota
Moskwa yang akan menjawabnya

Yelena dan Bibi Margareta sedang makan pagi
ketika Ayyas tiba. Yelena nampak senang dengan
kedatangan Ayyas, demikian juga Bibi
Margareta.

"Kau sudah makan, malcik?" Tanya Bibi Margareta
yang kini sudah berpakaian sangat rapi
dan bersih. Siapa pun yang melihatnya tidak akan
mengira kalau dia sebelumnya adalah seorang
gelandangan berpakaian kumal tanpa rumah tinggal
tetap di Moskwa.

"Hari ini saya puasa, Bibi." Jawab Ayyas.

"O puji Tuhan. Kau orang yang taat
beragama."

"Bagaimana keadaanmu Yelena?" Sapa Ayyas
pada Yelena yang sedang menikmati sup Borsh
yang masih mengepulkan uapnya.

"Dokter Tatiana menjelaskan besok sore saya
bisa pulang." Jawab Yelena dengan mata
berbinar.

"Syukurlah."

"Saya ingin Bibi Margareta ini terus menemaniku.
Dia akan aku ajak tinggal di apartemen.
Satu kamar denganku. Bagaimana menurutmu?
Apa kamu keberatan kalau Bibi Margareta masuk
kamar kita?"

"Samasekali tidak. Justru itu sangat baik untukmu
dan untuknya."

"Aku pikir juga begitu."

"Bahkan kalau kau mau. Kau bisa ambil
kamar saya untuk Bibi Margareta."

"Maksudmu!?"

"Beberapa hari lagi saya mau pindah. Ada orang
Indonesia, seorang guru di Sekolah Indonesia
Moskwa yang memintaku untuk tinggal bersamanya.
Kamarku bisa dipakai Bibi Margareta,
sehingga kau tetap nyaman."

"Kenapa kau akan pergi secepat ini? Berilah
aku kesempatan membalas kebaikanmu." Kata
Yelena agak sedih.

"Aku sudah bilang bahwa aku merasa tidak
berbuat apa-apa kepadamu, selain aku hanya
melakukan sebuah kewajiban yang diperintahkan
oleh Tuhan kepadaku."

"Jadi dasarmu adalah perintah Tuhan?"

"Ya. Di dalam Islam diajarkan, bahwa
menyelamatkan satu nyawa anak manusia itu
sama saja dengan menyelamatkan nyawa seluruh
umat manusia. Allahlah sendiri yang mengatakan
hal itu di dalam kitab suci umat Islam, yaitu Al-
Quran."

Bibi Margareta menyela, "Ajaran yang sangat
indah."

Ayyas tidak lama menjenguk Yelena, yang
penting ia sudah tahu keadaannya. Tak lebih dari
sepuluh menit Ayyas duduk di kamar VIP tempat
Yelena dirawat. Ketika Ayyas pamit Bibi Margareta
nampak masih menginginkan Ayyas
duduk danberbincang-bincang di situ. Begitu
juga Yelena.

"Maaf, saya harus ke kampus sekarang. Masih
banyak hal yang belum saya selesaikan. Kalau
saya banyak menunda-nunda pekerjaan saya,
saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya
dapatkan." Ayyas tetap bersikukuh harus pergi.

"Baikah kalau begitu. Selamat jalan Bogatir!
Tuhan menyertaimu!" Kata Bibi Margareta penuh
pujian dan doa.

"Ya selamat jalan, Bogatir!'"Yelena ikut
menyanjung Ayyas seperti Bibi Margareta.

Ayyas yang disanjung malah menghentikan
langkah. Sebab ia tidak tahu apa maksud mereka
berdua menyebutnya bogatir.

"Maaf, saya tidak paham. Apa itu Bogatir?
Apa makna dan maksudnya?" Tanya Ayyas.

"Jelaskanlah Yelena!" Pinta Bibi Margareta.

"Bogatir adalah sebutan untuk kesatria zaman
dulu yang sangat masyhur dalam folklor Rusia
dan keperkasaannya menjadi pujaan orang Rusia.
Saya sendiri sekarang jarang mendengar sanjungan
model ini. Tapi generasi Bibi ini menggunakannya
secara luas. Dan itu sanjungan yang luar
biasa. Ketika Bibi menyanjungmu begitu, saya
rasa tepat." Jelas Yelena dengan wajah lebih
cerah.

"Baik terima kasih atas pujiannya. Da svidaniya!
(Sampai jumpa)” Kata Ayyas sambil
melambaikan tangan dan bergegas pergi.

"Zhelayu uspekha!" (Semoga sukses) Sahut
Yelena dengan senyum mengembang.

***
Tidak ada tanda-tanda Doktor Anastasia
Palazzo telah datang ketika Ayyas memasuki ruang
Profesor Tomskii. Ruang itu tidak dikunci
tapi pastilah Bibi Parlova yang membukanya.

Jika Doktor Anastasia Palazzo telah tiba, biasanya
palto tergantung di salah satu sudut ruangan
itu. Ayyas langsung mengambil buku tentang sejarah
hubungan diplomasi pemerintah Uni Soviet
dengan Iran.

Satu bulan setengah pertama di Moskwa
memang ia jadwalkan untuk membaca literatur
sebanyak-banyaknya. Sesekali ia mencatat halhal
penting dalam catatan kecil. Ia juga pasti
akan melakukan banyak wawancara dengan
orang-orang yang pernah hidup pada zaman
komunis Uni Soviet, utamanya zaman Lenin dan
Stalin, jika masih ada sebagai saksi sejarah. Atau
orang yang benar-benar tahu persis kondisi sosial
pada masa itu. Imam Hasan Sadulayev berjanji
akan banyak membantu.

Sampai pukul setengah dua siang Doktor
Anastasia Palazzo belum juga datang. Ayyas
samasekali tidak menghiraukannya. Terkadang ia
malah merasa lebih senang jika Doktor Anastasia
tidak datang menemuinya sehingga ia bisa lebih
konsentrasi dan lebih banyak membaca.

Ayyas melihat jadwal waktu shalatnya. Hari
ini Zuhur datang pukul 12.50, lalu Ashar pukul
14.31, Maghrib pukul 16.41, dan Isya akan tiba
pada pukul 18.00. Berarti sudah tiba waktu shalat
Zuhur. Ayyas tanpa ragu mengambil air wudhu
lalu berdiri tegak takbiratul ihram dan hanyut
dalam kenikmatan berdialog dengan Tuhan Yang
Maha Pencipta.

Doktor Anastasia Palazzo telah duduk di sofa
ketika Ayyas selesai shalat.

"Sebenarnya aku sudah sampai sejak pagi tadi.
Begitu sampai aku dikontak Profesor Lyudmila
Nozdryova, untuk mendampinginya menemui
tamunya, orang penting dari Yunani. Tamunya
itu tidak bisa bahasa Rusia, dan bahasa
Inggrisnya kurang lancar. Aku terpaksa yang
menjadi penerjemah, sebab tamu itu bicara dalam
bahasa Yunani." Kata Doktor Anastasia pada
Ayyas.

"Berarti semuanya sukses." Sahut Ayyas sambil
bangkit dari duduknya di atas lantai.

"Puji Tuhan. Tapi masih ada satu masalah
yang harus aku selesaikan. Di Fakultas Kedokteran
akan ada seminar tentang ketuhanan. Sampai
kemarin soal pembicara tidak ada masalah. Dari
kalangan Islam kami minta seorang intelektual
muda dari Kazan University. Sayangnya tadi pagi
ada telpon dari Kazan, dia tidak bisa karena
dengan sangat mendadak harus terbang ke Timur
Tengah menemani kunjungan Mufti Rusia. Padahal
seminar tinggal empat hari lagi."

"Saya ada kenalan seorang Imam lulusan
Syiria kalau kau mau?"

"Boleh. Kau ada nomor kontaknya?" "Ada."

"Coba saya minta. Biar saya hubungi sekarang
juga. Namanya siapa?"

"Namanya Imam Hasan Sadulayev. Ini nomornya."
Ayyas menyodorkan ponselnya yang
menyala. Doktor Anastasia mencatat ke ponselnya
lalu menghubunginya. Beberapa saat
kemudian terjadilah pembicaraan antara Doktor
Anastasia dengan Imam Hasan Sadulayev. Wajah
Anastasia nampak kurang cerah.

"Bagaimana?" Tanya Ayyas.

"Dia tidak bisa. Dia sudah ada jadwal penting
yang tidak bisa digeser. Atau..." Tiba-tiba wajah
itu berbinar.

"Atau apa?"

"Kau saja yang jadi pembicara. Kau bisa. Bahasa
Inggrismu bagus, bahasa Rusiamu juga lumayan.
Dan kau sarjana dari Madinah. Yah, kau
saja ya?"

"Jangan saya Doktor, yang lain saja kan masih
banyak."

"Ini waktunya mendesak. Sudah, aku putuskan
kau saja yang jadi pembicara menggantikan
intelektual dari Kazan University itu. Kau ingat,
empat hari lagi seminarnya di Fakultas Kedokteran.
Aku juga jadi pembicara di seminar itu. Jadi
nanti kau ke sini dulu, kita berangkat ke sana bersama.
Kau bisa nulis makalah?"

"Dokter ini sangat mepet waktunya."

"Baik tidak apa. Kalau kau bisa membuat
makalah akan lebih baik. Temanya, 'Tuhan Bagi
Manusia di Era Modern."

"Baiklah."

"Spasiba balshoi. E, kau sudah makan siang?"

"Belum."

"Aku traktir makan siang di Yolki Palki
mau?"

"Apa itu Yolki Palki?"

"Restoran di daerah Kropotkinskaya."

"Tidak, ah."

"Kenapa?"

"Letaknya jauh, akan banyak membuang
waktu."

"Kita pakai mobil. Aku tahu jalan pintas."

"Maaf Doktor, saya tidak bisa. Saya ingin
benar-benar menghemat waktu yang ada.' Ayyas
mengucapkan kata-katanya dengan rasa percaya
diri yang penuh dan tegas. Doktor Anastasia
Palazzo sedikit kecewa mendengarnya. Tapi ia
segera menguasai dirinya dengan baik.

"Tak apa. Aku bisa memahami. Kalau begitu
kita ke stobvaya seperti biasa?"

Ayyas hampir saya mengiyakan. Ia hampir
lupa kalau dirinya sedang berpuasa.

"Maaf Doktor. Tidak juga ke stobvaya. Maaf,
saya sedang puasa. Saya hampir lupa kalau saya
hari ini berpuasa."

"Oh ya sudah tidak apa-apa. Kau puasa apa?"

"Puasa untuk menjaga kesucian diri."

"Menjaga kesucian diri bagaimana?"

"Dari godaan syahwat dan godaan setan."

"Jadi puasa itu jadi semacam benteng di dalam
jiwa dari godaan syahwat dan perbuatan jahat
begitu?"

"Kira-kira begitu. Apalagi saya masih muda.
Pemuda normal yang belum menikah. Dan
sekarang sering bertemu dengan perempuan
Rusia yang Doktor tahu sendiri seperti apa perempuan
muda Rusia. Kalau saya tidak membentengi
diri dengan benteng yang kuat, iman saya
bisa roboh, saya bisa melakukan dosa besar yang
dilarang agama saya."

"Dosa besar itu apa misalnya?"

"Melakukan hubungan haram dengan lawan
jenis, alias zina, misalnya."

"Jadi kau belum melakukan yang seperti itu
samasekali?"

"Saya berlindung kepada Allah dari zina.

Semoga sampai akhir hayat Allah menjauhkan
saya dari perbuatan dosa itu. Saya ingin menjaga
kesucian diri saya. Kalau pun melakukan
hubungan dengan lawan jenis, saya ingin yang
berlandaskan kesucian, yaitu menikah. Dengan
menikah saya ingin memuliakan istri saya, saya
ingin setia padanya sampai akhir hayat. Saya
ingin menjaga kesuciannya. Saya berharap istri
saya juga melakukan hal yang sama. Pernikahan
itu menjadi hubungan saling mencintai dan
mengasihi yang ditaburi rahmat Allah. Dari
percintaan yang harmonis dan indah itu saya
ingin lahir anak turun yang juga bersih, dan terjaga
kesuciannya. Maka saya berusaha mati-matian
menjaga kesucian saya, sebab saya ingin
memiliki istri yang juga terjaga kesuciannya."

"Sampai sedetil itu, Islam mengaturnya?"
Iya.

"Berarti kau sudah memiliki calon?"

"Dulu pernah, sekarang tidak."

"Maksudmu?"

"Dulu saya pernah melamar seorang gadis
yang baik. Kami bertunangan. Kemudian suatu
hari gadis itu membebaskan saya dari ikatan pertunangan.
Jadi statusnya, saya ini tidak lagi bertunangan
dengannya."

"Apa gadis itu kini sudah menikah?"

"Saya tidak tahu."

"Kau mencintainya?"

"Saya telah berjanji untuk hanya mencintai
perempuan yang menjadi istri saya. Siapa pun
dia. Kalau ternyata yang menjadi istri saya adalah
gadis itu, maka dialah orang yang akan saya
limpahi segenap cinta dan kasih yang saya
miliki."

Hati Doktor Anastasia Palazzo bergetar
mendengar ucapan Ayyas. Belum pernah ia
mendengar kalimat yang sedemikian kesatria dari
seorang pemuda mana pun sebelumnya. Tiba-tiba
ia ingin menjadi seorang perempuan yang
mendapat kemuliaan cinta dari seorang lelaki
yang begitu menjaga cintanya seperti Ayyas.

Tetapi apakah masuk akal kalau dia
mengharapkan Ayyas sebagai orang yang akan
melimpahinya dengan segenap cinta dan kasih
yang murni itu? Bukankah ia berbeda keyakinan
dengan Ayyas? Tapi entahlah, di dunia ini serba
mungkinmungkin saja. Ia berdoa dalam hati,
suatu saat Ayyas bisa menaruh hati padanya.

Oo... tak hanya menaruh hati, tapi keyakinannya
pun bisa sama dengannya. Akankah doa Anastasia
dikabulkan Tuhan? Kita lihat saja nanti bagaimana
sang waktu merekam perjalanannya.

Yang jelas, sampai saat ini Anastasia belum
melihat tanda-tanda bahwa Ayyas menaruh hati
padanya. Kalau Ayyas sangat menghormati dirinya
dan sangat menjaga sikap kepadanya, ia telah
membuktikan dan merasakannya. Itu ia rasa
karena posisi dia sebagai orang yang dimintai
Profesor Tomskii untuk membimbingnya.

Beberapa kali ia mengajak Ayyas makan
malam di rumahnya juga belum pernah dipenuhi.
Dan baru saja Ayyas menolak ajakannya untuk
makan di Yolki Palki dengan alasan puasa. Itulah
kesimpulan Doktor cantik nan cerdas, Anastasia
Palazzo saat ini. Entah esok nanti.

Melihat dan mengamati ketinggian pribadi
Ayyas, kini dalam hati Doktor Anastasia
terpantik sebuah asa di dalam dada; kalau ada seorang
pemuda Rusia yang memiliki pandangan
tentang kesucian cinta seperti Ayyas, ia pasti siap
melabuhkan segenap cintanya pada pemuda itu.
Sejak remaja ia telah berkenalan dengan banyak
lelaki. Dan di matanya hampir semua lelaki
yang ia kenal itu tidak bisa dikatakan sebagai
lelaki yang setia. Budaya berganti-ganti pasangan
telah melanda anak-anak muda Rusia saat ini.
Yang ia cari bukan yang terbiasa gonta-ganti pasangan.
Ia mencari orang yang mau hidup dengan
hanya saru pasangan, dan setia sampai mati. Persis
seperti yang dikatakan Ayyas. Adakah
pemuda Rusia yang seperti itu? Kalau ada, di
manakah dia sekarang?

Sejauh ini, sudah banyak lelaki terpandang
yang melamar Doktor Anastasia untuk dijadikan
istri, tetapi belum ada satu pun yang ia terima,
karena ia tahu mereka terbiasa gonta-ganti pasangan.
Ia tahu jika telah menikah dengan salah
satu di antara mereka, lelaki yang menikahinya
itu pasti, ya, pasti masih akan tidur dengan banyak
perempuan selain dirinya. Itu hal yang sangat
dibencinya. Itulah tabiat lelaki Rusia. Dan karena
itulah kenapa ia menolak semua lelaki yang
datang kepadanya.

Ia ingin lelaki yang setia padanya sampai tua,
sampai ajal tiba. Maka wajarlah jika hatinya bergetar
hebat ketika ia merasa mendapatkan konsep
kesetiaan yang dahsyat itu dari mulut Ayyas.
Kalau saja Ayyas tahu, bahwa saat ini, seluruh isi
hati Doktor Anastasia dipenuhi pesona dirinya.
Ah, kalau saja Ayyas tahu...

"Setelah sekian hari kau tinggal di Moskwa,
maaf apakah ada terlintas di pikiranmu bahwa
kau akan memperistri perempuan Rusia?" Pertanyaan
itu keluar begitu saja dari mulut Doktor
Anastasia. Ia sendiri agak kaget kenapa pertanyaan
itu keluar begitu saja. Mengalir. Alami.
Tanpa beban.

Tak hanya Doktor Anastasia yang kaget.
Rupa-rupanya Ayyas juga kaget mendengar pertanyaan
itu. Namun ia segera menyembunyikan
kekagetannya itu dalam palung hatinya dalamdalam.
Sungguh, sejak menginjakkan kaki di
Moskwa, ia samasekali tidak berpikir tentang
jodoh. Yang ia pikirkan adalah bagaimana
melakukan penelitian dengan baik dan secepat
mungkin menyelesaikan tesisnya.

Adapun jodohnya, ia berharap tetaplah Ainal
Muna, penulis muda sarat prestasi yang berwajah
manis itu. Tetapi masalah jodoh sebenarnya sudah
diatur Allah, Siapakah yang kelak akan jadi
istrinya kalau ia berumur panjang, juga sebenarnya
telah tercatat di Lauhul Mdhfudh. Maka ia
merasa tidak perlu menanggapi pertanyaan Doktor
Anastasia itu dengan sangat serius. Ia malah
menjawabnya dengan bercanda,

"Sebenarnya saya tidak pernah berpikiran menemukan
jodoh saya di sini. Jodoh saya sudah
diatur Tuhan. Kalau Tuhan menentukan jodoh
saya ternyata adalah perempuan Rusia yang cerdas,
setia dan menjaga kesucian, seperti Doktor
Anastasia kenapa tidak? Hahaha!"

Jawaban Ayyas membuat merah wajah Doktor
Anastasia. Ia merasa tersanjung. Namun, Doktor
Anastasia bukanlah gadis remaja yang tidak menguasai
dirinya. Ia langsung tersenyum dan
berkata,

"Jadi kau menilai aku sebagai perempuan
yang cerdas, setia dan menjaga kesucian?"

"Begini Doktor, di dalam kaidah hukum
Islam, ada kaidah yang berbunyi al ashlu baqau
ma kaana ala maa kaana. Maksudnya, hukum sesuatu
itu pada pokoknya dilihat dari asalnya.

Seorang gadis pada asalnya adalah cerdas, sebab
ia adalah manusia yang diberi akal. Pada asalnya
adalah setia, sebab setia adalah salah satu watak
utama nurani manusia. Dan pasti pada asalnya
dia suci, sebab semua manusia pada asalnya lahir
dalam keadaan suci. Ini konsep Islam. Mungkin
berbeda kalau dalam konsepnya agama Nasrani
yang Doktor peluk. Menurut kaidah hukum
Islam, selama kita tidak menemukan hal-hal yang
merubah dari hukum asal, maka yang dipakai
adalah hukum asalnya. Karena selama ini saya
tidak melihat misalnya Doktor Anastasia berzina
atau melakukan perbuatan cabul dan yang sejenisnya,
ya saya anggap Doktor masih menjaga kesucian.
Kecuali kalau di kemudian hari ada fakta
dan kenyataan yang lain, maka penilaian itu bisa
berubah."

"Kau ternyata bisa lebih bijak dari Aristoteles.
Alangkah bahagianya gadis yang kelak menjadi
istrimu." Sanjung Doktor Anastasia tulus, tanpa
pretensi.

"Siapa pun dia yang jadi istriku, semoga kelak
aku bisa membahagiakannya, dan menggenggam
tangannya erat-erat memasuki pintu surga, tempat
paling indah untuk orang-orang yang
memadu cinta semata-mata karena mencari ridha
Allah Subhanahu Wa Taala."

"Semoga Ayyas," sahut Doktor Anastasia,

"Dan semoga yang kelak menjadi istrimu itu adalah
aku, Anastasia Palazzo," lanjutnya dalam
hati. Seuntai senyum terbersit dari bibir Doktor
Anastasia. Senyum yang manis sekali, yang hanya
bisa diketahui oleh orang-orang yang mencintai
dengan hati. Sayang, Ayyas tak melihat senyum
itu. Ia sedikit menundukkan wajahnya untuk
menjaga pandangan.

Malam baru datang, tapi Bibi Margareta telah
tertidur di sofa dengan tubuh terlentang. Perempuan
tua bertubuh gemuk itu mendengkur pelan.

Yelena duduk tak jauh dari Bibi Margareta. Wajahnya
telah cerah seperti sedia kala. Ia sudah
tidak lagi diinfus, dan menurut keterangan perawat
ia hanya tinggal minum obat tiga kali saja.

Dan besok siang ia bisa pulang ke apartemennya,
tak perlu menunggu sore tiba.

Yelena berdiri lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah gosok gigi, ia melihat wajahnya lekatlekat.

"Berterimakasihlah pada pemuda itu. Kalau
bukan karena pemuda itu kau sudah jadi bangkai
yang membusuk dan terkubur entah di mana."

Kemudian Yelena berpikir, apa yang harus ia
lakukan untuk membalas jasa pemuda itu kepadanya.
Ia ingin menghadiahi pakaian yang
bagus, atau sepatu yang bagus, tapi ia merasa itu
samasekali tidak bisa dibandingkan dengan jasa
pemuda itu menyelamatkan dirinya. Pikirannya
terus berkelebat ke sana kemari mencari cara
yang tepat membalas
budi kebaikan pemuda Indonesia yang telah
menolongnya. Beberapa saat lamanya ia berpikir,
ia tidak juga menemukan hal yang merasa membuatnya
lega dan puas. Ia berpikir untuk minta
pendapat Bibi Margareta atau Linor saja. Yelena
lalu kembali duduk di sofa tak jauh dari Bibi
Margareta yang lelap dalam tidurnya.

Polisi sudah memeriksa kasusnya. Ia telah
menjelaskan semuanya sejak ia bisa berbicara
dengan jelas dan ingatannya telah kembali sepenuhnya.
Pelaku kejahatan itu adalah tiga orang asing,
dua berkulit hitam dan satu berkulit putih asal
Eropa. Yelena telah menggambarkan dengan
detil ciri-ciri mereka. Yelena juga memberitahu
polisi bahwa yang membawa mereka kepadanya
adalah Olga Nikolayenko.

Ia tidak tahu sampai di mana polisi mengejar
para pelaku. Apakah mereka sudah ada yang tertangkap.
Atau malah sudah tertangkap semua.

Atau malah samasekali tidak ada yang tertangkap.
Atau memang polisi tidak berusaha
menangkap? Ia juga tidak tahu apakah Olga
Nikolayenko juga terseret ke penjara? Atau
samasekali tidak tersentuh apa-apa, seperti
sebelum-sebelumnya?

Yang jelas, setelah kejadian itu, ia memutuskan
untuk tidak lagi berhubungan dengan Olga
Nikolayenko dan teman-temannya. Ia juga sudah
berbulat tekad untuk tidak lagi berdekat-dekat
dengan dunia hitam itu lagi. Sementara ini ia
masih bisa mengandalkan tabungannya. Ia masih
bisa bertahan hidup selama dua tahun di Moskwa
tanpa bekerja sekali pun. Tetapi ia akan tetap berusaha
bekerja.

Begitu ia merasa sudah sampai di apartemen
dan seluruh lukanya sudah sembuh, termasuk
tulang-tulangnya yang patah sudah pulih, dan
luka di daun telinga yang diamputasi juga sudah
sembuh, ia akan langsung mencari, kerja. Ia
yakin pasti tidak mudah. Meski tidak mudah,
tekadnya sudah bulat.

"Selamat tinggal dunia hitam. Dan selamat
datang masa depan," pekiknya dalam hati.

Ia sangat paham angka pengangguran di Rusia
cukup tinggi. Tapi ia akan berusaha. Kalau sampai
tidak dapat pekerjaan, ia akan jadi pengamen
saja selama musim semi sampai menjelang musim
dingin. Ia dulu pernah bisa main biola
dengan cukup baik, meskipun ia akui tidak sebaik
Linor yang profesional. Tetapi, dengan bisa bermain
biola mungkin ia bisa mengamen di Arbatskaya,
Kitai Gorod, atau di daerah-daerah yang
biasa dikunjungi turis lainnya.

Gairah hidupnya memang tumbuh kembali. Ia
merasa masih ada yang peduli padanya. Paling
tidak Bibi Margareta, dan Ayyas sangat peduli
padanya. Meskipun ia bukan siapa-siapanya
mereka. Dan mereka berdua juga sangat asing baginya.
Linor ternyata cukup perhatian juga
padanya, meskipun selama ini Linor sangat dingin
padanya dan sering adu mulut, tetapi di saat
dia terkapar tak berdaya, Linor tetap menunjukkan
sisi kepeduliannya. Masih ada sisi
manusia di dalam dirinya.

Bahwa ada satu orang saja di dunia ini yang
peduli padanya, ia merasa itu sudah cukup menjadi
alasan baginya untuk bergairah menyambung
hidup, yang sebelumnya ia rasakan begitu hampa
dan tidak bermakna. Ia bahkan sampai merasa
bukan lagi seorang manusia.

Kini ada orang-orang yang memanusiakannya
dan memedulikannya. Ia jadi merasa masih menjadi
manusia, dan berhak hidup sebagai manusia.
Ya, ia yakin dirinya adalah manusia seutuhnya,
yang memuliakan dan dimuliakan, yang layak
menghormati dan dihormati.

Akan tetapi ia masih mencemaskan satu hal,
yaitu jika Olga Nikolayenko samasekali tidak
tersentuh apa-apa, lalu perempuan cantik yang
bengis itu memaksanya untuk kembalike dunia
hitam Tverskaya dengan segala cara. Ia tidak
tahu bagaimana cara menghadapinya. Ia hanya
berpikir jika itu yang terjadi, maka ia lebih baik
pergi dari Moskwa sejauh-jauhnya, dan mencari
tempat hidup yang lebih tenang dan nyaman.

Ia merasa tidak mungkin lagi bisa berteman
dengan Olga Nikolayenko, Mavra Ivanovna,
Rossa De Bono, Valda Oshenkova, Kezina Parlova,
Amy Lung dan lainnya. Sebab, ia merasa
mereka samasekali tidak memanusiakannya dan
tidak peduli sedikit pun padanya. Tidak ada seorang
pun di antara mereka yang mau menjenguknya,
meskipun ia telah memberi kabar penderitaan
yang dialaminya lewat sms kepada
mereka.

Lebih dari itu, setiap kali ia berkumpul bersama
mereka, harga dirinya sebagai manusia seperti
tanggal begitu saja dan hilang, lalu yang ia
rasakan hanyalah nafsu kebinatangan dan cara
hidup layaknya setan jalang.

Yelena mendengar suara sepatu mendekat ke
pintu. Lalu seseorang mengetuk pintu. Yelena
melangkah membuka pintu yang terkunci dari
dalam. Nampaklah wajah Ayyas yang kelelahan.

"Privet, kak dela? (Hallo, apa kabar?) Ayyas
berusaha tersenyum pada Yelena.

" Ya Vso Kharasho (Saya baik-baik saja).
Masuklah! "Jawab Yelena dengan mata berbinar
dan bibir menyungging senyum yang manis.

"Bibi Margareta ada?"

"Ada. Sudah tertidur. Itu lihat."

"Pantas tidak terdengar suaranya. Biasanya
juga dia yang membuka pintu."

"Kau dari mana nampak sangat lelah dan
kedinginan?"

"Seperti biasa, tadi pagi sampai siang di kampus
MGU. Kira-kira jam tiga aku ke masjid
Prospek Mira, menemui seorang sahabat."

"Wajar kalau kau lelah."

"O ya ini aku bawakan beberapa potong roti
pirozhki."

"Wah menyenangkan. Sudah lama aku tidak
merasakan pirozhki? Jerit Yelena girang.

Ayyas membuka bungkusan agak besar yang
dibawanya dan mengeluarkan isinya.

"Kau beli banyak sekali." Sambung Yelena.

"Aku kelaparan. Bibi Margareta dibangunkan
saja. Kita makan roti pirozhkinya. bersamasama.
"Benar."

Yelena membangunkan Bibi Margareta. Perempuan
tua bertubuh gemuk itu mengucek kedua
matanya dengan punggung tangan kanannya. Begitu
bangun kedua matanya langsung menatap
roti pirozkhi yang ada di atas meja.

"O pirozbki. Puji Tuhan." Katanya.

"Bibi, minta tolong beli tiga cangkir teh panas
di kantin?" Pinta Yelena.

"O baik, Anakku. Memang enaknya makan
roti pirozhki sambil minum teh panas. Yang
benar-benar panas. Yang uapnya masih mengepul."
Sahut Bibi Margareta dengan senyum
mengembang. Perempuan itu lalu bangkit dan
bergegas menuju kantin.

Ayyas sudah tidak sabar. Ia langsung mencomot
satu pirozhki berisi kacang mindal. Yelena
ikut mencomot satu pirozhki berbalut cokelat.

"Besok sore jadi pulang?" Tanya Ayyas.

"Malah diajukan besok siang."

"Alhamdulillah. Linor hari ini datang?"

"Tidak. Mungkin sedang sibuk."

"Entah kenapa, dia seperti tambah dingin
padaku. Nampak agak membenciku." Gumam
Ayyas.

"Jangan kau ambil hati. Dia memang begitu.
Dingin. Cantik tapi wajahnya dingin. Wajahnya
cerah kalau dia main biola dalam konser yang dibanggakannya.
Aku pernah melihatnya dua kali.

Dia seperti malaikat memainkan biola, sangat
menawan dan memesona."

"O ya sudah ada kabar dari kepolisian? Para
penjahat yang menganiaya kamu sudah
ditangkap?"

"Tak ada kabar apa-apa. Aku tidak tahu polisipolisi
itu bekerja apa tidak."

"Kalau tidak ditangkap dan diberi hukuman
yang setimpal, para penjahat itu bisa semakin
merajalela, mereka bisa semakin besar kepala
dan semakin menjadi-jadi kezalimannya."

"Aku menduga polisi tidak berbuat apa-apa,
sebab para penjahat itu kelihatannya ada mafia
yang melindunginya."

"Dari mana kau bisa menduga seperti itu."

"Yang mengenalkan aku dengan salah seorang
dari mereka adalah Olga Nikolayenko. Dan kau
harus tahu, dia kekasih gelap salah satu pemimpin
mafia yang paling ditakuti di Moskwa."

"Apakah polisi kalah sama mafia?"

"Di banyak negara, bahkan presiden pun
diatur oleh mafia. Aku yakin kau sudah tahu apa
profesiku setelah kejadian ini. Beberapa waktu
sebelum kau datang-aku memiliki tamu seorang
pejabat dari negaramu. Dia mengaku, di depan
publik dia dikenal sebagai pejabat. Tapi sebenarnya
dia adalah seorang kepala mafia. Dia
memiliki banyak perusahaan, dan perusahaannya
itu ia jalankan dengan cara mafia. Dia bercerita
sendiri, sangat mudah baginya mengeruk uang
negara dengan cara yang kelihatannya legal, tapi
sebenarnya ilegal. Itu dia sendiri yang cerita."

Ayyas terhenyak mendengar penjelasan
Yelena. Ia memang sering mendengar cerita kebusukan
para pejabat Jiinggi, bahkan di internet
ia bisa membaca hampir setiap hari ada pejabat
yang masuk penjara karena melakukan kejahatan
korupsi. Tapi penjelasan Yelena benar-benar
membuatnya kaget; sebobrok itukah kerusakan
sistem berbangsa dan bernegara di Indonesia?

"Boleh aku tahu siapa nama pejabat Indonesia
itu?" Tanya Ayyas penasaran.

"Maaf aku tidak boleh membuka rahasianya.
Sudah kesepakatan."

"Kenapa kau menutupi identitas seorang penjahat?!
Kalau kau beritahu aku siapa dia, paling
tidak aku bisa memberitahu kepada rakyat Indonesia
agar berhati-hati padanya." Desak Ayyas
dengan nada jengkel.

"Karena aku sudah komitmen untuk tidak
membuka rahasianya, maka tidak ada pilihan bagiku
kecuali untuk menjaga komitmen. Yang
jelas, aku sudah memberitahu kamu, bahwa ada
pejabat dari negaramu yang kalau kunjungan ke
luar negeri seperti itu kelakuannya, dan di dalam
negeri sesungguhnya ia tidak ada bedanya
dengan kepala penyamun dan mafia. Itu menurutku
sudah cukup." Tegas Yelena tanpa ragu
sedikit pun.

Bibi Margareta datang membuka pintu diikuti
pegawai kantin yang membawa nampan berisi
tiga cangkir teh panas. Pegawai kantin itu seorang
perempuan berwajah Asia Tengah.


Ia melihat Ayyas sesaat lalu menurunkan
cangkir-cangkir berisi teh itu di atas meja. Ia
masih sempat menatap wajah Ayyas sebelum
pergi meninggalkan kamar itu.

"Bismillaahirrahmaanirrahiim" Kata Ayyas
mengambil satu cangkir dan menyeruputnya
pelan.

"Yang tadi kauucapkan itu doa ya, Malcik?"

"Iya Bibi"

"Itu bahasa Indonesia?"

"Bukan Bibi."

"Bahasa apa?"

"Bahasa Arab."

"Jadi kau orang Islam?"

“Iya.”

"Aku senang. Kau baik. Dulu aku pernah punya
teman orang Islam yang juga baik, bahkan
baik sekali. Sayang dia bernasib tragis."

"Tragis bagaimana Bibi?"

"Saat rezim komunis mencengkeram negeri
ini, semua agama dilarang melaksanakan aktivitas
ibadah. Bahkan semua yang beragama
dipaksa untuk ikut komunis. Gereja-gereja ditutup
dijadikan gudang, masjid-masjid juga sama.

Maka orang yang beragama menjalankan
agamanya dengan diam-diam. Teman saya
namanya Zakarov. Dia orang Islam. Suatu ketika
dia shalat di kamar rumahnya dan diketahui oleh
anak tetangganya yang komunis. Anak tetangganya
itu lapor kepada ayahnya. Dan ayahnya
lapor kepada pihak pemerintah. Akhirnya ia dan
seluruh anggota keluarganya ditembak mati di
hadapan penduduk desa. Aku menyaksikan
dengan kepalaku sendiri eksekusi itu. Saat itu aku
masih sekolah dasar. Aku tidak pernah melupakan
peristiwa itu. Anak yang melaporkan itu
adalah juga temanku, sejak itu aku tidak pernah
memaafkannya sampai sekarang. Ya sampai
sekarang. Sebab, perbuatannya telah membuat
teman yang sangat baik kepadaku dibantai bersama
seluruh anggota keluarganya."

"Apa kebaikan Zakarov pada Bibi, sampai
Bibi kelihatannya tidak pernah melupakannya."

"Dia teman satu sekolah denganku. Keluarganya
termasuk kaya. Sementara aku boleh
dikata anak petani paling miskin di desa. Ketika
banyak anak-anak menghinaku, Zakarov ada di
sampingku, dia membelaku. Saat aku tidak punya
sepatu, Zakarov minta uang kepada orangtuanya
untuk membelikan aku sepatu. Dan orangtuanya
memang sangat dermawan. Kalau mau hari raya
tiba, orangtuanya itu memberi kami hadiah uang
yang cukup banyak, mereka menyebutnya
shadaqah. Khusus aku, selain diberi uang aku
juga dibelikan baju baru. Sayang orang-orang
baik itu sering kali ditakdirkan untuk berumur
pendek."

Muka Bibi Margareta nampak sedih, matanya
berkaca-kaca.

"Bibi selamat sampai sekarang, berarti Bibi
komunis?"

"Tidak mungkin aku komunis. Tidak mungkin
aku ikut cara hidup orang-orang yang kejam itu!"
Sahut Bibi Margareta dengan nada tinggi. "Kami
hanya pura-pura komunis. Ya, kami sekeluarga
tidak ada pilihan lain kecuali pura-pura jadi
komunis saat itu. Setelah pemerintah komunis
ambruk dan kebebasan beragama dibuka, kami
kembali mencari gereja."

"Bibi sambil dimakan roti pirozhki-nya."

"Iya. Spasiba balshoi."

Bibi Margareta mencomot sepotong pirozkhi
berisi keju, lalu mengunyahnya pelan. Gurat-gurat
wajahnya yang telah menua tidak bisa
menyembunyikan, bahwa wajah itu adalah jelita
ketika mudanya. Ayyas ingin bertanya kenapa
Bibi Margareta sampai menjadi gelandangan, apa
tidak punya anak dan keluarga? Tapi Ayyas mengurungkan
niatnya. Ia tidak sampai hati mengutarakannya.
Ia takut kalau hal itu malah menyinggung
perasaan perempuan tua itu atau malah
menyakiti hatinya.

"Berarti Bibi percaya kepada Tuhan?" Tanya
Ayyas.

"Apa kau pernah dengar, berkali-kali aku
mengucapkan puji Tuhan, puji Tuhan. Ya pasti
aku percaya kepada Tuhan. Aku ini orang beriman.
Kenapa kautanyakan itu padaku?"

"Untuk tambah yakin saja, karena aku mau
minta tolong sama Bibi."

"Minta tolong apa?"

"Menyadarkan dia." Kata Ayyas sambil mengisyaratkan
matanya ke arah Yelena.

"Kenapa dengan diriku sampai aku harus disadarkan?"

Yelena yang mengerti arah pembicaraan
itu langsung menyela.

"Iya kenapa dia?" Sambung Bibi Margareta.

"Dia masih tidak percaya adanya Tuhan!
Sadarkanlah dia Bibi!" Jawab Ayyas.

"Benarkah Yelena?" Tanya Bibi Margareta.

Yelena mengangguk.

"O tidak! Ini tidak boleh terjadi. Kau tidak
boleh begitu Yelena, Anakku. Aku akan
menyesali seumur hidupku kalau kau masih terus
tidak percaya adanya Tuhan. Kau bisa selamat
dan sekarang sembuh ini karena kasih Tuhan."

"Mungkin aku masih perlu merasakan tambahan
kasih Tuhan lagi, agar aku bisa percaya."

"Oo... Kau tersesat Yelena. Setiap saat Tuhan
melimpahkan kasihnya kepada kita."

"Bibi jangan gusar dan sedih seperti itu. Bibi
peganglah kuat-kuat yang Bibi yakini. Biarlah
Yelena hidup dengan apa yang Yelena yakini
juga. Dunia terus berubah, siapa tahu nanti
Yelena berubah." Kata Yelena berusaha
menghibur Bibi Margareta.

"Ya berubahlah menjadi orang beriman
Yelena." Sahut Ayyas.

"Kau boleh berharap apa pun, sebagaimana
manusia mana pun bebas memiliki harapan. Kau
boleh berharap aku beriman. Teta..." Jawab
Yelena. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya,
ponselnya berdering. Yelena bangkit
mengambilnya. Satu sms masuk. Hatinya berdebar
keras. Rasa was-was dan cemas tiba-tiba
datang dan menyelimuti sekujur tubuhnya begitu
saja. Sms itu datang dari Olga Nikolayenko. Ia
membuka dan membaca sms itu.

Apa kabar Yelena? Mohon maaf kami tidak
bisa menjengukmu. Aku dengar kamu mengalami
kecelakaan kecil. Itu hal yang biasa bukan? O ya
kalau kamu sudah sembuh, segera masuk kerja
ya. Kita sedang kewalahan. Ada banyak ikan istimewa
yang harus diolah dan dimasak. Kamu
pasti merindukannya. Aku harap besok kamu sudah
kembali kerja, sebab aku tadi sudah mengecek
ke tempat kamu dirawat, kamu sudah sembuh.
Aku tunggu di tempat biasa.

Kini rasa cemas itu bercampur amarah. Muka
Yelena merah padam, gigi-giginya gemeretak.
Jika Olga Nikolayenko ada di hadapannya, ia
rasanya ingin membunuhnya saat itu juga. Ia
disiksa berjam-jam, dan dibuang di pinggir jalan
dalam keadaan sekarat, dan itu dianggap hanya
sebagai kecelakaan kecil. Ia sudah nyaris binasa
jadi bangkai, itu dianggap kecelakaan kecil. Daun
telinganya sampai harus diamputasi karena sudah
membeku jadi es, juga dianggap kecelakaan kecil.
Dan kini dengan begitu arogannya memberi
perintah kepadanya untuk kembali masuk kerja.

Yelena sangat marah, tapi kemudian ia sangat
sadar siapa Olga Nikolayenko dan siapa yang ada
di belakangnya. Rasa cemas dan takut perlahanlahan
menjalar dengan sangat kuat. Jika Olga
Nikolayenko menggunakan orang-orangnya untuk
menyeretnya ke tempat kerja atau untuk
menghabisinya sekalian, maka ia belum punya
jalan untuk melawannya. Apakah besok pagipagi
sekali ia langsung meninggalkan rumah
sakit dan langsung pergi sejauh-jauhnya dari
Moskwa? Ataukah ia akan mencoba bernegosiasi
dengan Olga Nikolayenko sambil mencari jalan
keluar?

Yelena tiba-tiba bingung, ia harus bagaimana
sebaiknya? Tiba-tiba ia merasa sangat memerlukan
pertolongan yang mengeluarkannya dari
situasi tidak nyaman yang sedang dihadapinya. Ia
tidak tahu harus minta tolong kepada siapa?

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu terlihat begitu
ketakutan dan panik?" Tanya Ayyas.

"Aku menghadapi masalah serius. Dan kau
tidak bisa membantuku. Bibi Margareta juga
tidak bisa membantu. Linor apalagi. Aku sendiri
merasa susah menghadapinya. Aku tidak tahu
harus minta bantuan siapa?" Jawab Yelena
dengan wajah cemas.

"Kalau kau beriman, kau akan mudah minta
bantuan. Yaitu minta bantuan Tuhan Yang Maha
Kuasa. Jika Tuhan membantu, tidak ada yang
tidak terselesaikan." Sahut Bibi Margareta
tenang.

"Bibi Margareta benar. Jika Allah, Tuhan
sekalian alam memberi pertolongan, maka tidak
ada yang perlu kita takutkan dan kita sedihkan."

Salju kembali turun petang itu. Anastasia
Palazzo duduk di ruang tamu yang merangkap
menjadi ruang kerja, perpustakaan sekaligus ruang
santai. Ia tinggal di kawasan Tretyakovskaya.
Tepatnya di sebuah apartemen yang terletak di
lantai empat pada sebuah gedung tua tak jauh
dari Galeri Tretyakov. Apartemen itu terhitung
kecil. Hanya terdiri atas ruang tamu, dua kamar
tidur, satu kamar mandi dan dapur.

Anastasia telah mendesain ulang apartemennya
itu sehingga terasa lebih nyaman. Tidak
tanggung-tanggung, ia dibantu oleh seorang desainer
interior terkemuka Aleksandrovna Vasilyevichna.
Sehingga apartemennya yang sempit
itu seperti memiliki sihir. Siapapun yang masuk
ke dalamnya akan merasa betah dan ingin
berlama-lama.

Selama ini, Anastasia Palazzo hanya ditemani
oleh seorang perempuan tua berumur enam puluh
tahun bernama Krupina. Ia memanggilnya Bibi
Krupina. Ibunyalah yang mengirim Bibi Krupina
untuk menemaninya. Bibi Krupina tak lain dan
tak bukan adalah adik angkat ibunya. Selama ini
Bibi Krupina memperlakukan Anastasia layaknya
anak sendiri dan sebaliknya Anastasia memandang
Bibi Krupina tak berbeda dengan ibunya
sendiri.

"Bibi, bisa minta tolong dibuatkan teh hijau
panas." Ucap Anastasia dengan pandangan mata
tetap tertuju pada makalah yang baru saja ia
print. Makalah itu ia tulis dalam bahasa Inggris,
akan ia presentasikan dalam sebuah seminar internasional
di Kota Praha, Cekoslovakia.

"Baik, Anakku." Seorang perempuan tua bertubuh
agak tinggi dan besar menjawab dari dapur
dengan suara besar.

"Mau dicampur dengan jahe tidak?" Tanya
perempuan tua itu beberapa jurus kemudian.

"Boleh Bibi, asal jangan memakai gula sedikit
pun."

"Baik, Anakku."

Tak lama kemudian perempuan tua bersuara
besar itu keluar dari dapur membawa nampan
berisi mug porselen putih. Mug itu berukuran
sedang. Tidak besar dan tidak kecil. Mug itu adalah
mug kesayangan Anastasia. Mug yang menemaninya
selama menyelesaikan S3-nya di
Inggris.

Perempuan tua yang tak lain adalah Bibi
Krupina itu meletakkan mug berikut tatakannya
di atas meja kerja Anastasia. Tak jauh dari tangan
kanan Anastasia. Asap mengepul dari mug itu.
Bau harum teh hijau dan jahe yang diseduh langsung
menyusup perlahan ke hidung Anastasia. Itu
adalah bau yang sangat disukai Anastasia. Setiap
kali ia mencium bau seperti itu syaraf-syarafnya
seketika seperti diremajakan kembali.

"Spasiba balsoi, Bibi." Ujar Anastasia sambil
memejamkan mata mengerahkan konsentrasinya,
sementara hidungnya mulai menghirup bau harum
teh hijau itu pelan-pelan.

"Bibi sudah buat sup ukha kesukaan ibumu."
Gumam Krupina di dekat telinga Anastasia.

"Sup ukha? Seperti ibu ada di sini saja. Kalau
Bibi Krupina ingin ketemu ibu karena sudah
lama tidak ketemu, Bibi bisa pulang beberapa
hari ke Novgorod." Ujar Anastasia lembut.

"Jadi ibumu belum memberitahu kamu!?"

"Memberitahu apa?"

"Malam ini dia akan datang."

"Dia akan datang?!" Anastasia menghentikan
pekerjaannya dan memandang wajah Bibi
Krupina dalam-dalam.

"Iya. Tadi siang dia nelpon begitu."

"Malam ini?"

“Iya.”

"O my God, dengan siapa dia melakukan perjalanan
sejauh itu? Untuk apa dia kemari? Kalau
perlu diriku, aku bisa pulang ke Novgorod. Dia
tidak harus bersusah-susah. Dia sudah tua."

"Orang tua tidak berarti harus di rumah terus,
tidak ke mana-mana. Orang tua juga ingin jalanjalan,
menghirup udara yang berbeda. Ibumu
mungkin sudah terlalu rindu padamu, dia tidak
ingin mengganggu pekerjaanmu. Maka dia
datang untuk melihatmu, juga untuk melihat di
mana kamu tinggal selama ini. Untuk sebuah rasa
cinta yang mendalam dan rasa rindu yang tak tertahan,
jarak sejauh apapun tidak menjadi
penghalang."

"O begitu ya Bibi?"

"Menurutku begitu."

"Apa Bibi sebenarnya juga ingin jalan-jalan,
menghirup udara lain."

"Lho kamu kan sudah tahu, Bibi setiap hari
keluar rumah. Tadi Bibi belanja di pasar Vietnam.
Di jauh sana, di daerah Savelovskaya. Jadi
kamu jangan mengkhawatirkan Bibimu ini. Sementara
ibumu katanya sekarang diminta untuk
hidup bersama pamanmu di tengah kota
Novgorod. Kau tahu sendiri kan cara hidup
pamanmu berbeda dengan cara hidup ibumu."

"Bibi benar. Sebenarnya saya ingin ibu tinggal
di sini bersama kita, tapi ibu tidak mau. Dia tidak
mau keluar dari Novgorod."

"Dia pernah bilang padaku, ingin mati di
Novgorod, dan dikubur di tanah Novgorod bersanding
dengan kubur kakek dan nenekmu."

"Ya, itulah ibu. Yang penting dia mau datang
dengan siapa?"

"Bibi tidak tahu persisnya."

"Yang penting Bibi sudah menyiapkan
semuanya untuk menyambut kedatangan ibu?"

"Sudah. Begitu dia datang. Kita akan pesta."

"Kira-kira jam berapa dia akan datang Bibi?"

"Mungkin satu jam lagi."

"Apa kita perlu menjemputnya di stasiun?"

"Itu sudah bibi tanyakan pada ibumu. Dia
menjawab tidak usah. Katanya dia akan datang
tepat pada waktunya dengan selamat."

Anastasia menarik nafas panjang, lalu
memejamkan kedua matanya, dalam hati ia berdoa
agar ibunya selalu mendapat perlindungan
Tuhan, dan sampai di apartemennya dengan
selamat. Dia tahu ibunya adalah orang yang
memiliki pendirian sangat keras, tetapi sangat
lembut dan penyayang. Jika ibunya sudah berkata
B maka harus B. Susah untuk diubah. Jika dia sudah
bilang tidak usah dijemput, maka berarti
yang terbaik tidak usah dijemput. Jika dijemput,
dia justru akan kecewa. Seandainya tidak dijemput
terus dia tersesat, dia pasti akan menelpon
dan minta bantuan.

Anastasia merasa bahagia ibunya mau datang.
Tapi di hati terdalamnya ia sedikit merasa cemas.
Ia punya firasat ibunya datang tidak hanya
sekadar karena ingin jalan-jalan, atau sekadar
rindu pada dirinya. Ia menduga ada sesuatu di
rumah pamannya, sehingga ibunya sampai datang
jauh-jauh menempuh, jarak tak kurang dari 389
km di tengah musim dingin yang tidak ringan.
Benarkah firasat Anastasia?

Malam itu Anastasia merasa sangat bahagia.
Ia makan malam di apartemennya ditemani
ibunya. Di atas meja makan mungil berbentuk
bundar dari kaca tebal telah terhidang satu panci
kecil sup ukha, dua piring roti bulkha (Roti yang
dibuat dari tepung gandum), satu piring penuh
kentang kukus yang keemasan, dan satu piring
kotlety. Meja makan mungil itu benar-benar penuh.
Mereka bertiga; Anastasia, ibunya dan Bibi
Krupina makan bersama dengan sangat
bergairah.

"Sebenarnya kenapa ibu bersusah payah ke
sini?" Tanya Anastasia sambil mengambil kotlety
dengan garpu lalu menggigitnya pelan.

"Kau tidak suka ibu datang?" Sahut sang ibu
yang wajahnya nampak mulai berkeringat karena
merasakan hangatnya sup ukha.

"Bukan begitu, Ibu. Anastasia sangat bahagia
Ibu datang. Hanya saja ini di luar kebiasaan Ibu.
Maksud Anastasia seandainya Ibu memerlukan
Anastasia, biarlah Anastasia yang pergi menemui
Ibu di Novgorod."

"Ibu memang ingin membicarakan hal penting
denganmu. Tapi nanti sajalah jika kita sudah
benar-benar selesai makan malam. Ibu ingin
menikmati sup ukha istimewa buatan bibimu ini."

Sang ibu kembali mengambil sup ukha dari
panci. Bibi Krupina tambah bahagia sekali
melihat hasil karyanya mendapat apresiasi sedemikian
hebatnya.

Selesai makan, Anastasia membantu Bibi
Krupina membawa piring-piring dan panci ke
dapur. Sementara sang ibu duduk di sofa lalu
menyalakan televisi dengan remote kontrol. Layar
menyala dan nampaklah pertandingan tenis
Semifinal Turnamen WTA Kremlin Cup. Duel
maut antara Alisa Kleybanova dari Rusia
melawan Flavia Pennetta dari Italia. Sang ibu
nampak kurang suka dengan pertandingan tenis,
ia langsung memindah ke saluran yang lain. Lalu
nampaklah di layar kaca pertunjukan tari balet
yang nampaknya dari Bolsoi Teater. Tapi itu
bukan siaran langsung. Sang ibu langsung
tersenyum.

Setelah kira-kira lima menit menonton
gerakan-gerakan penari balet di layar kaca, ia
langsung bisa menebak cerita apa yang sedang
dimainkan para penari balet itu. Itu adalah cerita
tentang ALYOSHA yang legendaris, yang ditulis
oleh Leo Tolstoy. Pada bagian Alyosha dilarang
menikahi gadis pilihannya yang bernama
Ustinya, sang ibu meneteskan airmata. Dan airmatanya
kembali tumpah ketika Alyosha yang tulus
dan luhur budi itu akhirnya harus menghembuskan
nafas terakhirnya karena terjatuh dari atap
saat membersihkan salju. Alyosha meninggal
tanpa menikahi Ustinya yang yatim piatu.

Sang ibu masih ingat betul kata-kata terakhir
yang diucapkan oleh Alyosha pada Ustinya sebelum
meninggal, Leo Tolstoy menggambarkan
dengan bahasa tugas yang menyihir hati pembacanya,

"Terima kasih Ustinya. Selama ini kau
begitu baik padaku. Sekarang kau tahu, ada
baiknya memang kita tidak jadi kawin. Kalau kita
kawin, akan percuma saja. Sekarang dengan begini
tidak ada masalah."

Alyosha begitu mensyukuri takdirnya tidak
jadi menikahi gadis pujaan hatinya karena dilarang
sang ayah. Alyosha sudah melihat
hikmahnya sesaat sebelum ajalnya menjemput. Ia
bahagia tidak menikahi Ustinya, karena umurnya
tidak panjang. Kalau ia menikahi Ustinya,
kemudian ia mati, alangkah kasihan Ustinya yang
ditinggalnya dalam keadaan janda. "Sekarang
dengan begini tidak ada masalah." Katanya. Setelah
itu dia berdoa, dia menghembuskan nafasnya
yang penghabisan dengan merentangkan kakinya.
Penari balet itu juga melakukan hal yang sama di
akhir tariannya, merentangkan kakinya lalu
perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir.

"Kenapa menangis, Ibu? Mengharukan ya?"
Pelan Anastasia sambil duduk di samping ibunya
yang masih mengusap kedua matanya.

"Tadi itu kisah Alyosha yang ditulis Leo Tolstoy.
Itu salah satu karya Tolstoy yang paling ibu
sukai. Ibu sangat terharu menyaksikan drama
hidup Alyosha yang dimainkan para penari balet
itu."

"Ya, nasib Alyosha memang membuat kita
merasa kasihan."

"Ketekunan, keuletan, dan kebaikan hati Alyosha
bisa jadi teladan anak-anak muda Rusia."

"Saya percaya bahwa hal itu sudah terjadi.
Terutama di zaman Leo Tolstoy masih hidup dan
dekade setelah Tolstoy. Tulisan Tolstoy sangat
berpengaruh saat itu. Bahkan para pakar sejarah
sampai mengatakan, bahwa ada tiga hal penting
di Rusia saat itu: Gereja, Tsar dan Leo Tolstoy."

"Yang ibu suka dari karya-karya Leo Tolstoy,
karya-karyanya mudah dipahami dan isinya
dalam, bercorak realis dan bernuansa religius,
juga penuh renungan moral dan filsafat."

"Tepat sekali kalimat ibu dalam menilai Leo
Tolstoy."

"Jelek-jelek begini ibumu ini kan lulusan Fakultas
Sastra."

"Ah Anastasia hampir lupa."

"Sekarang ada yang ingin ibu sampaikan
padamu."

"Sampaikan saja, Ibu."

"Mintalah bibimu masuk ke kamarnya. Ibu
cuma mau berbicara empat mata denganmu."

"Kalau begitu kita bicara di kamar saja, Ibu."

"Baik. Begitu juga baik."

Ibu dan anaknya itu lalu bangkit dan bergegas
masuk ke kamar Anastasia.

"Ibu membuat Anastasia penasaran saja. Apa
sih yang ingin Ibu bicarakan sebenarnya?" Kata
Anastasia sambil menutup pintu.

Sang ibu duduk di tepi ranjang, demikian sang
anak.

"Ibu mau minta sesuatu padamu. Kau jangan
kaget."

"Kalau Anastasia mampu memenuhi permintaan
Ibu, pasti akan Anastasia kabulkan."

"Ibu ingin kau menikah dengan seseorang!"

"Menikah dengan seseorang?!" Anastasia
tetap juga kaget mendengar permintaan ibunya.
Iya.

"Jadi Ibu memiliki calon yang harus saya
nikahi?"

"Iya, ibu berharap kau cocok."

"Siapa orangnya, Ibu? Apa Anastasia telah
mengenalnya?"

"Kau sangat mengenalnya."

"Siapa dia?" Desak Anastasia penasaran. Sebab,
selama ini ibunya tidak pernah membicarakan
urusan pribadinya. Dan sang ibu tidak
pernah mempermasalahkan dia mau menikah
kapan dan mau menikah dengan siapa, bahkan
tidak menikah pun sang ibu tidak mempermasalahkannya.
Tetapi ini tiba-tiba ibunya datang dari
jauh hanya ingin menyampaikan keinginannya,
agar dirinya menikah dengan seseorang yang
menurut ibunya cocok dengannya.”

"Dia sepupumu sendiri, Boris Melnikov."

"Apa? Boris?"

"Ya Boris."

"Apa Anastasia tidak salah dengar, Ibu?"

"Tidak, Anakku. Ibu ingin kau menjadi pendamping
Boris Melnikov."

"Kenapa Boris Melnikov, Ibu? Apa Ibu tidak
melihat perbuatannya selama ini?"

"Justru karena perbuatannya selama ini tidak
baik, ibu ingin kau menikah dengannya."

"Ibu ini tiba-tiba aneh, tiba-tiba tidak masuk
akal. Ibu tahu dia itu otak pelaku kejahatan di
mana-mana. Dia itu ketua mafia, Ibu tahu itu.
Kerjanya memeras orang, membunuh orang,
menjual narkotika, bermain perempuan dan
mempermainkan hukum dengan uang. Dan
Anastasia harus menikah dengan orang seperti
itu. Bagaimana jalan pikiran Ibu, Anastasia
samasekali tidak paham.".

"Ibu berpikir, kalau Boris menikah denganmu
dia akan insyaf. Dia sangat mencintaimu. Dia
sangat kagum padamu dan dia sangat menghormatimu.
Di dunia ini, jika ada orang yang katakatanya
paling dia takuti dan paling dia dengar
adalah kamu. Tak ada yang lebih dia ikuti melebihi
kamu.
Kalau kau menjadi istrinya, kau bisa merubahnya
menjadi orang baik. Begitu jalan pikiran
ibu."

"Luar biasa, jalan pikiran Ibu menyamai para
santo yang bijaksana itu. Ibu samasekali tidak
berpikir betapa liciknya Boris. Dia adalah aktor
yang ulung. Dia bisa berpura-pura sangat
menghormati, berpura-pura kagum dan setia pada
mangsa yang diincarnya. Tetapi jika mangsa itu
sudah jatuh ke cengkeramannya, maka segeralah
taring-taring buasnya akan merobek-robek
mangsanya itu. Ibu mau Anastasia mengalami
nasib setragis itu?"

"Kau terlalu berburuk sangka padanya
Anastasia. Kau tidak bersikap obyektif. Kau melihat
Boris hanya dalam satu sisi saja, yaitu sisi
gelapnya. Kau samasekali tidak mau melihatnya
dalam sisi terangnya. Meskipun sedikit anak itu
juga memiliki kebaikan. Di antaranya, ia sangat
mencintai keluarganya. Dia sangat setia membantu
keluarga besarnya yang kekurangan."

"Justru Ibu yang mudah diperdaya olehnya.
Dalam sejarah ya memang seperti itu karakter
penjahat sejati. Dia membunuh banyak manusia
tapi di rumahnya d\a tunjukkan rasa sayang pada
keluarganya. Bahkan sering para penjahat itu sudah
dianggap musuh negara, tapi di desanya ia
dianggap pahlawan karena sangat baik kepada
masyarakat desanya. Justru di mata Anastasia,
yang seperti itu menyempurnakan kejahatannya.
Dia sangat jahat sampai berbohong kepada keluarga
dan masyarakat desanya. Kalau dia baik
pada keluarga seharusnya baik pada orang lain
juga. Dia baik pada keluarga agar anggota keluarganya
bersimpati padanya, dan jika kejahatannya
digugat anggota keluarganyalah yang akan membelanya.
Demikian juga dia baik kepada
masyarakat kanan-kirinya, agar mereka menjadi
pembelanya ketika kejahatannya dipermasalahkan.
Kebaikannya pada keluarga dan
masyarakat desanya itu bagian dari tameng hidup
yang ia persiapkan dengan matang. Dan ibu kini
sudah menjadi salah satu tameng hidup itu.
Bahkan ibu sekarang meminta saya menjadi
tameng utama bagi kejahatan Boris Melnikov."

"Kau memang pandai bicara dan beretorika.
Yang jelas maksud ibu baik. Ibu ingin kau
menikah dengan orang yang sangat mengagumi
dan mencintaimu. Dan ibu ingin kau bisa menuntun
domba yang sesat ke jalan yang benar.
Meskipun kau punya pikiran yang seperti itu. Ibu
berharap kau tetap bisa mencoba berpandangan
yang sedikit positif pada Boris. Jika Boris insyaf,
maka Yvonna adiknya juga akan insyaf. Dengan
begitu kau akan menyelamatkan banyak domba
yang tersesat."

"Apa ibu tidak khawatir, jika justru Anastasia
yang akhirnya tersesat."

"Tidak! Ibu tahu siapa kamu. Kamu tidak akan
tersesat."

"Sepertinya bukan Tuhan yang menentukan
takdir, tapi Ibu!"

"Kenapa kau berkata begitu pada ibumu?"

"Coba Ibu renungkan kata-kata Ibu tadi."

"Kau terlalu berlebihan menanggapi kata-kata ibu."

"Maafkan Anastasia kalau terlalu keras
mendebat Ibu. Kalau boleh, Anastasia ingin bertanya
kepada Ibu,"

"Boleh."

"Ibu dulu menikah dengan ayah karena diminta
oleh nenek atau Ibu menentukan pilihan
Ibu sendiri?"

"Jujur, ibu menentukan pilihan ibu sendiri.
Bahkan pilihan ibu sempat ditentang oleh nenekmu
dan ibu tetap kukuh dengan pilihan ibu yang
tak lain adalah ayahmu."

"Jika seperti itu sejarah Ibu, kenapa Ibu
setengah memaksa saya untuk menikahi Boris
Melnikov? Kenapa Ibu tidak membiarkan saya
memilih sendiri orang yang saya sukai?"

"Karena ibu ingin kau lebih baik dari ibu."

"Jadi kalau Anastasia ikut Ibu, maaf, seperti
anjing ikut pada tuannya tanpa berpikir sedikit
pun itu lebih baik? Kenapa Ibu bisa berubah seperti
ini? Apa Ibu ditekan oleh Paman? Atau
ditekan oleh Boris?!"

Sang ibu kelihatan ragu untuk menjawab.
Akhirnya ia hanya menggelengkan kepala.

"Sudahlah, Ibu sudah tua. Ibu jangan
memikirkan apa-apa kecuali memikirkan cara
terbaik menghadap Tuhan di surga. Anastasia
akan berpikir untuk mengambil jalan terbaik bagi
masa depan Anastasia. Apakah nanti mengikuti
saran Ibu atau mungkin Anastasia punya
pendapat sendiri? Sekarang Anastasia sudah
mengerti maksud Ibu. Anastasia minta maaf kepada
Ibu kalau mendebat terlalu keras. Sudah
saatnya Ibu istirahat. Ibu pasti lelah karena perjalanan
jauh."

"Apa pun yang kaupilih, tidak akan berkurang
rasa sayang ibu padamu, Anakku. Ibu akan tetap
mencintaimu seperti matahari mencintai titah
Tuhannya."

"Terima kasih, Ibu. Anastasia juga akan terus
mencintai Ibu, seperti siang mencintai
mataharinya."

Memang sudah nasibnya, pemuda Indonesia
itu harus mati!" Kata Linor dalam hati. Ia tidak
bisa berbuat apa-apa kecuali melaksanakan keputusan
rapat bersama Ben Solomon dan agen-agen
lainnya. Tugasnya tidak susah, hanya meletakkan
tas ransel yang telah diisi bahan-bahan untuk
membuat bom di kamar Ayyas. Tas itu harus ia
letakkan di kamar Ayyas, tentu saja tanpa sepengetahuan
Ayyas. Dan harus diletakkan beberapa
jam sebelum polisi pemerintah Rusia menggerebek
kamar Ayyas.

Rencana Ben Solomon sangat detil dan
kemungkinan kesalahannya sangat kecil. Yang
akan diledakkan adalah lobby Metropole Hotel
yang terletak di jantung kota Moskwa, tepatnya
di kawasan Teatralnaya, yang tak jauh dari
Kremlin. Lobby itu akan dibom bertepatan
dengan datangnya seorang pejabat penting Inggris.
Akan ada korban, tapi pejabat itu akan dijaga
untuk tetap selamat meskipun luka. Yang
diinginkan bukan matinya pejabat itu, tapi efek
dari bom itu.

Dengan adanya pemboman itu, seluruh dunia
akan mengutuk aksi pemboman itu. Dan pihak
keamanan Rusia akan mencari pelaku pemboman
itu. Di sinilah Ben Solomon dan anak buahnya
mempermainkan dunia. Seorang anak buah Ben
Solomon akan masuk ke Metropole Hotel dengan
menyamar berpenampilan persis seperti Ayyas.

Hasil rekaman dari Linor sangat membantu
penyamaran itu. Setelah itu anak buah Ben Solomon
akan menampakkan diri kepada pihak
keamanan di dekat apartemen di mana Ayyas
menginap, sehingga pihak keamanan akan sangat
mudah menarik benang merah.

Dan dari bukti yang sudah direkayasa oleh
Ben Solomon dan anak buahnya, pihak keamanan
akan menetapkan Ayyas sebagai tersangka
pengeboman. Bukti yang tidak akan terbantahkan
adalah dengan ditemukannya bahan-bahan
peledak di kamar Ayyas. Setelah Ayyas tertangkap,
Ben Solomon akan mengerahkan
seluruh pers dunia yang telah dikuasai oleh
Zionis untuk menghantam Islam sejadi-jadinya,
dan dipastikan tidak akan ada perlawanan pers
yang berarti, kecuali pers-pers kecil milik orang
Islam yang hanya bergumam sambil lalu di
belakang.

Linor pulang ke apartemennya dengan
bernyanyi-nyanyi kecil. Ia merasa bahagia bisa
mengabdikan hidupnya untuk kejayaan negeri
yang dijanjikan oleh Tuhan dalam Talmud.
Meskipun seringkah ia merasa hampa jiwanya,
tapi saat menjalankan sebuah operasi yang ia
yakini akan berhasil, semangatnya muncul begitu
saja.

Sampai di apartemen, Linor langsung masuk
ke kamarnya. Ia bawa ransel berisi bahan-bahan
peledak itu. Ia tersenyum. Tugasnya kali ini
sangat ringan, hanya meletakkan bahan peledak
itu ke kamar sebelahnya, nanti jika sudah tiba
waktunya. Sangat mudah. Dengan kamera yang
ia pasang di kamar Ayyas, ia tahu semua gerakgerik
Ayyas. Kapan saat-saat Ayyas banyak di
kamar, kapan ia tidur, kapan ia bangun tidur, dan
kapan ia biasa ke kamar kecil.

Linor merebahkan badannya ke kasur, setelah
menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia sempat
berpikir kasihan pemuda Indonesia itu, ia tidak
tahu apa-apa, tapi ia harus menjadi tumbal untuk
kesuksesan operasi Ben Solomon. Jika operasi ini
berhasil, sangat mungkin Ben Solomon akan
mendapat penghargaan sangat tinggi dari Tel
Aviv. Lebih kasihan, pemuda Indonesia itu begitu
lugu, begitu lurus, tidak tahu dunia spionase
sama sekali. Anak muda itu bahkan tidak tahu,
kalau keberadaan dirinya di Moskwa akan menjadi
alat empuk bagi orang seperti Ben Solomon.

Ia sama sekali tidak tahu kalau tak lama lagi akan
menjadi korban rekayasa yang tidak pernah ia
pikirkan sebelumnya.

Linor juga berpikir bahwa ia berhutang nyawa
pada pemuda itu. Tetapi ia kembali bersikukuh,
yang paling mulia di atas muka bumi ini adalah
anak-anak Yahwe, selain anak-anak Yahwe sejatinya
adalah diciptakan oleh Yahwe sebagai
budak untuk mengabdi kepada anak-anak Yahwe.
Mereka bahkan boleh disembelih kalau perlu seperti
ternak. Memang mereka diciptakan untuk itu,
untuk mengabdi kepada anak-anak Yahwe. Dan
pemuda bernama Ayyas itu adalah bagian dari
yang diciptakan untuk pelengkap isi dunia bagi
anak-anak Yahwe. Karenanya ia tidak perlu merasa
berhutang budi kepada pemuda itu.

Linor melihat jam tangannya. Pukul dua siang.
Semalam suntuk ia tidak tidur karena rapat. Lalu
ia sempatkan mengedit tulisan di kantor redaksi
di mana ia bekerja. Setelah semua pekerjaannya
beres, ia pamit pulang. Ia ingin istirahat kurang
lebih dua jam. Setelah itu ia harus membereskan
urusannya dengan Boris Melnikov yang masih
mencurigainya sebagai pembunuh Sergei
Gadotov. Ia berpikiran, pada akhirnya ia akan
sekalian menjebak Ayyas sebagai pelaku pembunuhan
Sergei Gadotov. Ia masih memegang
ponsel Sergei. Ponsel itu akan ia masukkan ke
dalam tas ransel yang berisi bahan peledak itu
sekalian. Dengan begitu ia tidak perlu repot
bekerja. Dengan sekali menembak dua burung ia
dapat.

Saat matanya mau terpejam, ia mendengar
suara berisik orang masuk di ruang tamu. Ia tajamkan
pendengarannya. Ia tersenyum lalu kembali
memejamkan mata. Yang datang adalah
Yelena dan Bibi Margareta. Ia jadi ingat siang ini
memang Yelena pulang dari rumah sakit. Apartemen
ini akan kembali hidup dengan hadirnya
Yelena. Ia tersenyum membayangkan apa kirakira
komentar Yelena nanti setelah peristiwa
pengeboman Metropole Hotel, dan tiba-tiba
pelakunya adalah Ayyas.

Ya, Ayyas yang menolong Yelena ketika
sedang sekarat, ternyata menurut berita banyak
koran, adalah seorang teroris berdarah dingin. Ia
ingin tahu apa reaksi Yelena saat itu. Yang pasti
Yelena mungkin akan semakin tidak percaya
pada Tuhan dan pada semua jenis agama. Linor
meraba-raba jalan pikiran Yelena. Ia tersenyum
sendiri, dan setelah menyebut Yahwe di hati ia
lalu tertidur pulas.

Sementara Ayyas saat itu sedang berada di
kantor Sekolah Indonesia Moskwa. Dia berbincang
dengan Pak Joko Santoso dan dua guru
lainnya, yaitu Pak Ismet dan Bu Febriani. Pak Ismet
mengajar Sosiologi dan Antropologi, sementara
Bu Febriani mengajar Fisika dan
Matematika.

"Jadi kau belum ke Lapangan Merah?" Tanya
Pak Ismet.

"Belum Pak."

"Sempatkanlah ke sana di musim dingin ini.
Biar kau tahu seperti apa Kremlin yang terkenal
itu di musim dingin. Nanti pas musim semi lihat
lagi."

"Iya Pak, nanti saya sempatkan."

"Sudah berapa masjid yang Mas Ayyas kunjungi?"
Kali ini Bu Febriani yang bertanya.

"Baru dua. Masjid Balsoi Tatarski dan masjid
Pusat Prospet Mira."

"Masih ada tiga masjid lagi yang harus
kaukunjungi. Yang satu ada di komplek museum
perjuangan Kutuzovski, dan dua lainnya di
Rayon Otradnoye. Yang di Rayon Otradnoye itu
unik. Masjid itu ada dalam satu komplek tempat
ibadah agama lain, artinya masjid itu berdampingan
dengan gereja ortodoks dan sinagog."
Jelas Bu Febriani.

"Berarti masjid di Rayon Otradnoye itu yang
membangun pemerintah Rusia?" Tanya Ayyas.

"Tidak. Yang membangun orang-orang
Muslim keturunan Tatar. Gereja dan sinagog itu
juga orang Muslim yang membangun." Jawab Bu
Febriani.

"Kok bisa begitu?"

"Saya pernah menanyakan hal itu kepada
Imam masjid. Beliau bercerita ihwal pendirian
masjid itu. Saat itu izin mendirikan masjid sangat
sulit. Pemerintah tidak mengijinkan ada masjid
baru di Moskwa. Tetapi orang-orang Islam
keturuan Tatar itu tidak kehabisan akal. Seorang
deputat Muslim keturunan Tatar melobi pemerintah
untuk diberi izin mendirikan sebuah komplek
rumah ibadah untuk semua agama, tidak hanya
untuk umat Islam. Dan izin itu akhirnya
dikeluarkan oleh pemerintah. Akhirnya umat
Islam bisa mendirikan masjid yang cukup besar
di rayon Otradnoye. Karena sudah terikat perjanjian,
setelah membangun masjid ya terpaksa
mereka membangun gereja dan sinagog."

"Sampai seperti itu perjuangan mereka."

"Iya, keinginan mereka menegakkan kalimat
Allah tidak pernah padam."

"Sore ini setelah shalat Ashar, saya mau ke
pasar Vietnam. Mas Ayyas mau ikut?" Sela Pak
Joko Santoso sambil menyeruput teh panas di
hadapannya.

"Itu tawaran yang sangat menarik Pak Joko.
Dengan senang hati Pak. Saya perlu tahu lebih
banyak sudut-sudut kota Moskwa."

"Di sana, meskipun namanya pasar Vietnam,
ada juga penjual dari keturunan Kirgish, Tajik,
dan Dagestan. Nanti kau bisa tanya-tanya banyak
hal di sana. Ada tetangga apartemen saya yang
jualan ikan segar di sana."

"Wah menarik sekali itu Pak."

"Siang ini agak lebih cerah dibandingkan kemarin.
Agak enak untuk jalan-jalan." Sahut Pak
Ismet.

"Ya benar." Gumam Bu Febriani sambil
mengangkat cangkirnya.

Tak lama kemudian waktu Ashar tiba. Ayyas
shalat berjamaah dengan para guru Sekolah Indonesia
Moskwa. Setelah itu ia berangkat menuju
pasar Vietnam bersama Pak Joko Santoso, Guru
Bahasa Indonesia Sekolah Indonesia Moskwa.
Selesai shalat Pak Joko mengajak Ayyas
menuju tempat parkir mobil. Pak Joko menuju
mobil Volga biru.

"Ayo Mas, silakan masuk. Kita pinjam mobilnya
Pak Ismet."

"Nanti beliau pulangnya bagaimana?"

"Dia sendiri tadi yang nawari saya. Dia nanti
pulang agak malam. Dia mau mengoreksi lembar
jawaban anak-anak. Dia
selalu begitu. Tidak mau membawa lembar
jawaban itu ke rumah. Semua ia selesaikan di
meja kerjanya. Jika sudah rapi semuanya baru dia
pulang."

Pelan-pelan mobil sederhana itu meninggalkan
komplek KBRI. Dengan santai Pak Joko
membawa mobil itu menelusuri Planitskaya
Ulista. Terus ke utara, menyeberangi kanal
Moskwa, lalu menyusuri pinggir komplek Kremlin
yang megah. Mata Ayyas tidak berkedip
memandangi komplek itu. Salju menghiasi bumi
di sana sini. Pak Joko mengambil jalan * terus ke
utara. Sampai di kawasan Lubyanka, mobil terus
melaju melewati gedung KGB Lubyanka yang
nampak gagah dan angker. Mobil terus meluncur
melewati stadion Olympik, Gedung Teater Tentara,
akhirnya memotong jalur lingkar dalam kota
Sadovaya Koltso dan akhirnya sampai di kawasan
Savelovsky.

Pak Joko memarkir mobil Volga sederhana itu
beberapa puluh meter saja dari sebuah komplek
pertokoan sederhana yang dipenuhi pedagang
yang hampir semuanya berwajah Vietnam.

"Inilah pasar Vietnam. Ayo kita turun." Seru
Pak Joko.

"Apa istimewanya pasar Vietnam Pak?"

"Inilah tempatnya membeli barang murah.

Hidup di luar negeri yang serba mahal harus
pinter-pinter cari tempat berbelanja yang tepat.
Apalagi kita tidak sehari dua hari di Moskwa,
jadi harus pandai-pandai menghemat. Di pasar ini
juga kita bisa mencari bumbu-bumbu dapur khas
Asia, juga jenis sayuran yang langka seperti
kangkung, bayam, katuk dan lain-lain bisa kita
cari di sini."

"Pakaian ada, Pak?"

"Lha itu, lihat, ada sandal, sepatu, pakaian.
Kau perlu beli pakaian musim dingin lagi. Kelihatannya
yang kaupakai itu yang diberi sama Pak
Adi ya. Tidak diganti-ganti."

"Yang bagian luar memang tidak pernah saya
ganti Pak. Sebab adanya ini. Tapi yang dalam
pasti saya ganti."

"Ya kaubeli lagi, ya satu lagi lah semua item,
biar ada ganti."

"Baik Pak. Di sini boleh nawar Pak?"

"Harus. Ini kayak Bringharjo Jogja atau pasar
Johar Semarang. Harus nawar semurahmurahnya.
Yang pinter nawar dia akan dapat
murah. Yang tidak bisa nawar ya bisa kemahalan.
Nanti aku bantu nawar."

Pak Joko membawa Ayyas ke toko penjual
pakaian. Ayyas memilih-milih pakaian yang
cocok ukuran, warna, dan modelnya. Akhirnya
dia menemukan yang cocok di antara sekian banyak
yang tidak cocok.

Ayyas mengambil sepasang pakaian monyet
atau pakaian hanoman dari katun yang lengan
dan kakinya ia rasa pas. Ia juga mengambil
sepasang pakaian olahraga musim dingin yang ia
suka, juga sweeter, jas coklat kehitaman. Sepasang
sepatu hangat yang akan terasa hangat di
kaki. Sepasang sarung tangan dari kulit yang
halus. Satu palto, yaitu mantel besar berlapis
dengan krah berbulu. Dan topi hangat yang ada
umbainya, yang disebut shapka, yarig bila cuaca
sangat dingin datang, umbai itu dapat diturunkan
untuk menutupi kedua telinga dan tengkuk.
Setelah tawar menawar yang sengit dengan
penjualnya, seorang lelaki Vietnam yang wajahnya
mirip Pol Pot, akhirnya Ayyas bisa
membawa barang-barang yang dipilihnya itu
dengan harga sangat miring. Itu semua karena
jasa Pak Joko. Ayyas harus mengagumi kehebatan
Pak Joko dalam hal bernegosiasi dengan
pedagang Vietnam itu. Pak Joko* bisa membeli
barang-barang itu hanya dengan membayar sepertiga
saja dari harga yang ditawarkan.

Setelah itu Pak Joko membawa Ayyas memasuki
daerah sayur mayur. Pak Joko membeli beberapa
ikat kangkung, bayem, satu kilo bawang
bombay, setengah kilo bawang putih, dan
bumbu-bumbu dari Vietnam, setelah itu ia
menuju ke penjual ikan segar.

"Lelaki berjenggot putih itu namanya Osmanov.
Dia Muslim, keturunan Kirgishtan. Apartemennya
satu gedung dengan saya." Ujar Pak
Joko memberitahu Ayyas.

"Sudah agak tua ya Pak kelihatannya?"

"Coba tebak berapa umurnya?"

"Enam puluh lima mungkin Pak."

"Dia nampak lebih muda dari umurnya. Ia
sebenarnya sudah berumur tujuh puluh lima. Tapi
masih segar. Berjalan masih tegak."

"Mungkin, karena banyak makan ikan Pak."

"Mungkin. Tetapi yang pasti dia dulu seorang
atlet. Dia seorang pelari cepat. Dia katanya pernah
ikut perlombaan atletik di Moskwa ini tahun
enam puluhan. Itulah awalnya dia ke Moskwa.
Ketika ikut perlombaan itu, ia berkenalan dengan
seorang gadis Moskwa di sebuah restoran. Ia
jatuh cinta pada gadis itu, menikah dengannya
dan tinggal di Moskwa ini. Ternyata istrinya itu
perempuan tidak benar. Istrinya kabur membawa
semua harta miliknya dengan pacar gelapnya.
Dan dia jatuh miskin. Dia mau kembali ke Kirgishtan
malu. Dia tetap bertahan di sini dengan
jualan ikan."

"Kisahnya menyedihkan betul Pak."

"Ya begitulah hidup. Tapi dia sungguh lelaki
yang baik hati dan sabar."

Pak Joko melambaikan tangannya kepada seorang
pria berjenggot putih berwajah Asia
Tengah. Lelaki tua itu melihat ke arahnya, dan
serta merta melambaikan tangannya dan
tersenyum.

"Kak Dela?' Sapa Pak Joko ramah.

"Ya Vso Kharashor Jawab lelaki tua itu
dengan senyum mengembang.

"Ini kenalkan, adik saya, namanya
Muhammad Ayyas." Kata Pak Joko memperkenalkan
Ayyas.

"Ah senang bertemu kamu. Nama saya Osmanov.
Lengkapnya Osmanov Aytugan Aslanov."
Sahut Osmanov.

" Vi Muslimari! (Anda Muslim?)” Tanya
Ayyas, meskipun ia tahu bahwa lelaki tua itu seorang
Muslim.

"Da (Ya)."

"Namas sitali? (Anda mengerjakan shalat?)"

"Nyet.(tidak)" Jawab Osmanov dengan raut
muka berubah.

"Nyet?f Ayyas heran, lelaki tua itu mengaku
Islam tapi dia tidak shalat. Sebelum Osmanov
menjawab, Pak Joko lebih dulu memotong,

"Tetanggaku, kau punya ikan lele yang
segar?"

"Sayang sekali, kau datang terlambat." Jawab
Osmanov. "Lihatlah sudah hampir habis semuanya,
ini tinggal tersisa ikan Leshch yang ditangkap
dari danau Ilmen, masih segar. Ini gurih. Bisa
kau buat sup ukha juga. Kau goreng juga enak."

"Masih berapa kilo itu?"

"Kalau semua paling sekitar empat kilo."

"Baik aku ambil semua."

Osmanov dengan cekatan memasukkan puluhan
ikan Leshch yang masih segar ke dalam
kantong plastik, lalu mengikat dan merangkapinya
dengan plastik kedua setelah itu
menyerahkannya kepada Pak Joko dengan tanpa
ditimbang.

"Kenapa tidak ditimbang, Osmanov?"

"Tidak perlu. Ini semua besplatna^ Hadiah
untukmu."

"O jangan Osmanov, jangan begitu, kau nanti
rugi."

"Tidak. Hari ini aku sudah untung banyak.
Sudah terimalah, besplatna (Jangan kau tolak),
nanti aku sedih!" Pinta Osmanov dengan
sungguh-sungguh.

Mau tidak mau Pak Joko mengikuti kemauan
lelaki tua itu. Ia membawa bungkusan berisi ikan
itu dengan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

"Semoga Allah membalasmu dengan pahala
yang melimpah, Osmanov."

"Ameen."

Anastasia Palazzo mondar-mandir di ruangan
Profesor Tomskii. Ia ingin Ayyas datang tapi
tidak datang. Ayyas sudah mengirim sms kepadanya
minta izin tidak datang karena ada urusan
di Kedutaan Republik Indonesia di
Moskwa. Entah kenapa ia ingin bertemu pemuda
itu setiap hari dan mengajaknya berdiskusi banyak
hal.

Ia sangat senang saat pemuda itu bercerita
banyak tentang desanya di Jawa. Tentang masa
kecilnya. Tentang persawahan di Indonesia.
Tentang Borobudur yang ia baru tahu termasuk
salah satu keajaiban dunia. Tentang pantai
Parangtritis yang katanya indah. Tentang gunung
Merapi yang masih aktif yang terus mengeluarkan
asap. Tentang air terjun Tawang Mangu
yang sangat jernih dan segar. Tentang dataran
tinggi Ketep dan Dieng yang indah seumpama
tangga menuju langit.

Tentang pelbagai jenis makanan Indonesia
yang tiada duanya di dunia. Ayyas telah banyak
bercerita padanya tentang Indonesia. Entah
kenapa ia merasa dekat dengan Indonesia. Dan
dari cerita Ayyas, negeri bernama Indonesia itu
sepertinya begitu damai, indah dan makmur. Ia
ingin menengok negeri yang dibanggakan Ayyas
itu.

"Bawalah tongkat dan tancapkan ke tanah Indonesia,
maka tongkat itu akan tumbuh lalu
menerbitkan'buah-buahan yang sangat enak,
tidak ada duanya di dunia." Begitu kata Ayyas
suatu kali padanya. Betapa dahsyat tanah Indonesia;
tongkat ditancapkan bisa menumbuhkan
buah-buahan. Alangkah menakjubkan!

Kali ini ia sungguh ingin Ayyas datang. Entah
kenapa ia ingin bercerita kegundahan hatinya kepada
Ayyas. Meskipun ibunya memberinya kebebasan
menentukan jodohnya, tetapi ibunya
sangat berharap ia mau menikah dengan Boris
Melnikov. Tadi pagi ia benar-benar kesal pada
ibunya, sampai terpaksa ia berbohong pada
ibunya. Ini adalah satu-satunya kebohongan yang
ia lakukan pada ibunya. Sebelumnya ia
samasekali tidak berani bohong kepada ibunya.
Kepada orang lain ia pernah bohong, tetapi tidak
kepada ibunya.

Bagaimana ia tidak kesal, bangun tidur ibunya
meminta dirinya untuk mengantarkannya ke
rumah Boris Melnikov. Menurutnya, ibunya sudah
mulai tidak benar cara berpikirnya. Ia selama
tinggal di Moskwa tidak pernah tahu alamat tempat
tinggal Boris Melnikov, dan tidak pernah
ingin tahu. Ia tidak ingin berakrab-akrab dengan
penjahat yang keji seperti Boris Melnikov. Sekali
berakrab-akrab, penjahat itu akan terus menempel,
bahkan mencengkeram tidak mau lepas. Ini
ibunya datang dan memintanya untuk menemaninya
ke rumah Boris Melnikov, ibunya membawa
alamat yang lengkap dan denah yang detil. Ia
tahu itu pasti dari pamannya, ayah Boris Melnikov.
Maka dengan sangat terpaksa ia berbohong
pada ibunya.

Ia katakan pada ibunya bahwa dirinya harus
ke kampus pagi-pagi sekali. Ada tugas yang tidak
mungkin ia tunda apalagi ia tinggalkan. Ia satu
hari penuh ada banyak pekerjaan. Ada jadwal
mengajar, rapat dosen, rapat dengan senat mahasiswa
dan bertemu tamu dari luar negeri. Ia
katakan kepada ibunya, ia akan pulang larut
malam. Mendengar penjelasannya, ibunya memaklumi,
dan ibunya langsung minta diantar ke
stasiun antarkota. Ibunya ingin kembali lagi ke
Novgorod, keluar dari apartemen bareng dengan
Anastasia.

Tak ada pilihan lain bagi Anastasia kecuali
memenuhi permintaan ibunya, meskipun Bibi
Krupina meminta ibunya tetap tinggal dr
Moskwa tiga atau empat hari lagi. Ia merasa lebih
aman ibunya segera pulang ke Novgorod,
daripada ibunya meminta dirinya mendatangi
rumah Boris Melnikov, atau ibunya nanti yang
malah mengundang penjahat itu ke apartemennya.
Semuanya bisa kacau dan berantakan.

Jadilah sejak pagi-pagi sekali ia ada di
kampus. Satu-satunya hal yang ia tidak bohong
adalah dia ada jadwal mengajar. Dan berikutnya
bisa dianggap bohong. O ya ada juga hal yang
bisa dianggap tidak bohong, yaitu ia ada jadwal
bertemu dengan tamu dari luar negeri. Tamu
yang ia maksud adalah Ayyas. Tetapi ternyata
Ayyas tidak datang.

Sebenarnya ia sangat bahagia ibunya datang.
Tetapi permintaan ibunya yang membuat kebahagiaannya
luntur seketika. Bagaimana mungkin ia
bisa menikah dengan orang yang melihat bayangannya
atau mendengar namanya saja ia merasa
jijik bukan main. Ia sudah melihat dengan mata
dan kepala sendiri bagaimana Boris Melnikov
bermain perempuan.

Anastasia melihat jam dinding. Sebentar lagi
malam tiba. Ia ingin menyegarkan pikirannya dan
melepas kejengkelannya yang masih menyesak di
dada. Ia ingin menumpahkan isi hatinya pada seseorang.

Ia ingin ada seseorang yang bisa diajak
bicara. Seandainya ayahnya masih ada, pastilah
ia sudah bicara kepada ayahnya dan pastilah urusannya
akan selesai begitu saja. Tapi ayahnya
telah tiada.

Bibi Krupina? Ah, ia tahu Bibi Krupina adalah
pengikut ibunya yang paling setia. Ia pasti akan
seia-sekata dengan ibunya. Bahkan ia sampai beranggapan,
jika ibunya menerjunkan dirinya ke
neraka pastilah Bibi Krupina mengikutinya
dengan tersenyum bahagia. Maka tidak ada gunanya
ia membicarakan masalah yang mengganjal
di hatinya pada Bibi Krupina.

Kakak perempuan satu-satunya, kini hidup di
Kanada dengan suaminya. Karena jarak umur
yang cukup jauh, ia agak kurang akrab dengan
kakaknya. Maka kepada siapa ia harus berbicara.
Sebenarnya jika Profesor Tomskii ada, ia bisa bicara
padanya. Profesor Tomskii telah ia anggap
layaknya ayah sendiri. Tetapi Profesor Tomskii
juga sedang berada di tempat yang sangat jauh, di
Istanbul sana.

Ia merasa, yang bisa diajak bicara saat itu adalah
Ayyas. Ya Ayyas. Tapi sungguh celaka,

Ayyas tidak nampak batang hidungnya. Apakah
ia harus meminta Ayyas untuk datang?

Ia bisa tidak tidur semalam suntuk jika tidak
mendinginkan isi hatinya dengan dibagi pada orang
lain. Akhirnya dengan nekat, ia memanggil
Ayyas dengan ponselnya. Saat itu Ayyas sedang
meluncur bersama Pak Joko dari pasar Vietnam
menuju Smolenskaya.

"Hai kamu masih di Kedutaan?" Kata
Anastasia.

"Tidak, saya baru mau sampai apartemen. Ada
apa Doktor?"

"Aku perlu bantuanmu penting!"

"Bantuan apa Doktor?"

"Apartemenmu di mana? Aku jemput kamu
saja."

"Apa benar-benar mendesak harus sekarangsekarang
ini Doktor?"

"Ya. Kalau tidak mendesak, aku tidak
menghubungi kamu."

"Baiklah kalau begitu. Aku tinggal di depan
The White House Residence, Panvilovsky Pereulok,
Smolenskaya."

"Aku tahu alamat itu. Aku meluncur ke sana."

"Baiklah. Nanti kalau Doktor Anastasia sudah
ada di depan The White House Residence, telpon
saya lagi. Saya langsung turun."

"Baik."

Wajah Doktor Anastasia Palazzo langsung
cerah. Matanya berbinar-binar. Dan seperti anak
remaja ia menjerit kecil, "Yes!"

***

"Kau suka masakan Arab?" Tanya Anastasia
Palazzo sambil mengendarai Toyota Pradonya.

"Suka. Aku lama tinggal di Arab." Jawab
Ayyas yang duduk di samping Anastasia. Bau
harum parfum Anastasia menyusup pelan ke
hidungnya, dan ia tidak bisa menolaknya.

"Baik, kita ke restoran Arab paling enak di
Moskwa. Profesor Tomskii sering menjamu
tamu-tamunya dari Umur Tengah di situ."

Anastasia mengarahkan mobilnya ke kawasan
Arbatskaya. Tak lama kemudian mobil itu sudah
menyusuri Novy Arbat Ulista. Mereka meluncur
ke timur. Di perempatan sebelum masuk Vozdvizhenka
Ulista mereka belok ke utara memasuki
Nikitsky Bui. Anastasia memperlambat laju mobilnya.
Didepan nampaklah restoran Sindibad's
khas Libanon.

Desain interior restoran itu memadukan gaya
Arab dan Rusia, jadilah sebuah restoran yang mewah
dan anggun. Begitu Ayyas ada di dalam ruangan
restoran itu, ia merasa tidak di Moskwa,
tapi ia merasa seperti di Libanon atau Syiria.
Pengunjung restoran itu hampir semuanya berwajah
Arab. Bahkan perempuan-perempuan yang
modis tanpa abaya itu adalah perempuan Libanon
yang molek.

Ayyas duduk di kursi kosong yang agak pojok,
dekat dengan cermin kaca khas Arab.
Anastasia duduk di depannya dengan menyungging
senyum. Saat tersenyum wajah gadis
blesteran Rusia-Italia itu seperti mawar yang
merekah. Sedap dipandang. Ayyas melihat
sekilas dengan dada berdebar, ia langsung
menundukkan pandangan. Ayyas beristighfar
berulang kali di dalam hati, ia merasa tidak pada
tempatnya makan di restoran berduaan dengan
Doktor Anastasia Palazzo. Tapi ia susah
menolaknya.

Seorang pelayan lelaki bermuka Arab
datang membawa daftar menu dan meletakkannya
tepat di depan Ayyas. Tanpa melihat
daftar menu Ayyas berkata pada pelayan,

"Indakum mandi? (Kalian punya mandi.
Mandi adalah sebutan untuk daging kambing
yang dimasak cara Yaman.)"

Pelayan Arab itu kaget, "Ei Enta bitakallim
'arabi? (Hei kamu ngomong bahasa Arab?)”

"Naama ana atakallam arabi. Na'am ya akhi,
'indakum mandi? (Ya saya ngomong bahasa
Arab. 0 ya, Saudaraku, kamu punya mandi?)

"Na'am indana" (Ya kami punya)

Ayyas pesan satu piring mandi, lengkap
dengan roti dan saladnya. Untuk minumnya ia
pesan teh panas campur nina'.

Sedangkan Anastasia pesan sambosa, ayam
panggang, nasi bukhari, salad, dan minumnya teh
panas campur susu.

Ayyas duduk dengan tangan disedekapkan di
atas meja. Kedua matanya memandang ke meja,
sesekali ke jari jemari Doktor Anastasia yang
putih dan lentik. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
Sementara Doktor Anastasia memandangi
sosok pemuda yang ada di depannya
dengan seksama. Pemuda itu menunduk. Rambutnya
hitam legam sedikit ikal. Kulitnya khas
Asia Tenggara. Wajahnya biasa saja. Tidak jelek,
tapi juga tidak tampan. Tapi perempuan manapun
yang memandangnya niscaya akan jatuh hati.

"Maaf kalau ini mengganggu waktumu." Doktor
Anastasia membuka percakapan.

"Jadi apa yang bisa saya bantu?" Tanya
Ayyas.

"Kau mau menemaniku makan malam saja sudah
sangat membantuku."

"Maaf, saya tidak paham maksud Doktor."

"Aku sedang dalam suasana hati sangat tidak
nyaman. Aku perlu orang yang bisa aku ajak bicara.

Aku tidak menemukannya saat ini kecuali
kamu. Maaf, ini pasti jadi sangat mengganggumu.
Tapi aku memang perlu orang yang bisa aku
ajak bicara. Jadi cukuplah kau mau aku ajak
makan bersama, terus kau mau mendengarkan
aku bicara. Itu saja. Kau sudah sangat
menolongku."

Ayyas menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus
menjawab apa. Kata-kata Doktor Anastasia
Palazzo itu sangat melankolis. Ada saatnya
memang manusia memerlukan orang lain untuk
menampung keluh kesahnya. Ini mungkin yang
dialami Doktor Anastasia. Yang ia tidak habis pikir kenapa harus dirinya. Kenapa Doktor
Anastasia tidak memercayakan keluarganya, kerabatnya
atau orang yang lebih dikenalnya untuk
mendengarkan keluh kesahnya. Ayyas merasa
yang terbaik baginya adalah diam dan
mendengarkan.

Dan ia harus terus membentengi hatinya untuk
tidak tergelincir berhadapan dengan daya pikat
Anastasia sebagai perempuan muda dengan
kecantikan tidak biasa. Ia kembali teringat nasihat
Kiai Lukman saat masih di pesantren dulu,

"Eling-elingo yo Ngger, endahe ivanojo iku sing dadi
jalaran batale toponing poro santri lan satrio
agung!"

"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus
memilihmu untuk mendengarkan ceritaku. Yang
jelas aku sangat percaya padamu. Bahwa kamu
bisa menjaga apa yang harus dijaga. Dan aku percaya
kamu bisa memberi pendapat, jika merasa
kamu perlu memberi pendapat."

"Saya akan berusaha menjaga kepercayaan itu
sebaik yang saya mampu."

"Terima kasih. Tidak mudah mencari orang
yang bisa dipercaya. Dan baiklah, sambil
menunggu hidangan tersaji saya akan mulai bercerita."

Kata Doktor Anastasia seraya
membetulkan letak duduknya. Perempuan muda
jebolan Cambridge itu lalu menuturkan semua
kegundahan dan kejengkelan hatinya. Ia menjelaskan
bagaimana ibunya datang dengan tibatiba,
dan ia menyambutnya dengan bahagia. Sampai
pada permintaan ibunya agar dirinya menikah
dengan Boris Melnikov.

Anastasia kemudian menceritakan kejahatan-kejahatan
dan kezaliman-kezaliman yang diperbuat
oleh Boris Melnikov selama ini. Ia menceritakan
semuanya dengan runtut dan detil. Ayyas
mendengarkan dengan seksama. Ia tidak menyela
satu kalimat pun ketika Anastasia berbicara.

Hidangan yang dipesan datang tepat saat
Anastasia menyelesaikan ceritanya. Pelayan itu
meletakkan makanan yang masih mengepulkan
asap satu per satu di atas meja. Perut Ayyas langsung
bereaksi begitu hidungnya mencium mandi
yang menerbitkan nafsu makannya.

"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
Tanya Anastasia sambil menggigit sambosa yang
renyah.

"Menurutku masalah Doktor sangat remeh,
bukan masalah besar?"

"Masalah yang remeh? Apa maksudmu?"

"Doktor hanya perlu menikah segera dengan
lelaki yang Doktor pilih, maka masalah Doktor
selesai. Ibunda Doktor tidak akan meminta hal
yang macam-macam dan si Boris Melnikov dan
keluarganya juga tidak akan macam-macam.
Ibunda Doktor meminta Doktor menikah dengan
A atau B Atau C, itu karena melihat Doktor tidak
juga menikah, dan belum memiliki pilihan yang
jelas. Itu masalahnya."

"Jadi aku harus menikah?"

"Ya untuk kasus Doktor, saya katakan,
menikahlah sebelum Anda dipaksa menikah!"

"Jadi begitu menurutmu?"

"Ya."

"Akan aku renungkan dan aku pertimbangkan."
Gumam Doktor Anastasia.

Keduanya kemudian makan dengan khusyuk.
Ayyas nampak begitu menikmati menu yang
dipesannya, demikian juga Anastasia. Sambil
menikmati ayam panggang dan nasi bukharinya,
sesekali Anastasia melirik ke arah Ayyas. Sementara
Ayyas menikmati mandi-nya dengan
mata teduh tertunduk.

"Bagaimana dengan persiapan untuk
seminar?"

"Biasa saja. Saya tidak perlu khawatir. Karena,
pertama, saya hanyalah pembicara pengganti.
Kedua, bersama saya nanti ada Doktor
Anastasia Palazzo, yang tak lain adalah pembimbing
saya. Jadi apa yang perlu saya
khawatirkan, kalau saya nanti salah bicara kan
ada pembimbing saya, dia pasti akan
membetulkan."

"Kamu selalu saja menemukan bahan untuk
bicara."

"Asal Doktor tidak kesal saja."

"Ah tidak, aku justru senang."

OIga Nikolayenko terus memaksa Yelena untuk
kembali bekerja di dunia gelap Tveskaya.
Yelena berpura-pura mengiyakan, hanya saja ia
minta cuti dulu karena harus benar-benar memulihkan
kesehatannya. Sebenarnya Yelena sedang
mengulur waktu untuk berpikir jalan mana yang
terbaik untuk ditempuhnya.

Karena berpikir sendiri dan dipendam seorang diri Yelena tidak
menemukan jalan terang yang ia harapkan.

Nekat melawan Olga Nikolayenko sama saja
bunuh diri. Dan lari meninggalkan Moskwa, ia
belum menemukan tempat yang benar-benar ia
rasa aman. Apalagi Olga Nikolayenko juga punya
jaringan di beberapa kota. Jika ia bernegosiasi
baik-baik ingin berhenti, kemungkinan besar
Olga akan memerasnya dengan semena-mena. Ia
akan memerasnya sejadi-jadinya dan melepaskan
dirinya dalam keadaan miskin, dan diharapkan
akan kembali lagi kepada Olga ketika memerlukan
uang.

Yelena akhirnya mengambil keputusan untuk
meminta pendapat kepada teman satu apartemen,
yaitu Linor dan Ayyas.


Siapa tahu Linor memiliki ide yang cemerlang,
dan Ayyas siapa tahu punya saran yang bisa
membuatnya menapaki jalan keluar yang lapang.
Maka pagi itu kira-kira jam setengah delapan
ia mengetuk pintu kamar Ayyas dan Linor. Keduanya
keluar dari kamar masing-masing dalam
keadaan telah rapi. Ayyas nampak segar. Dan
Linor nampak lebih bugar.

"Bibi Margareta mana?" Tanya Ayyas.

"Dia masih tidur. Biarkan saja." Jawab
Yelena.

"Kau sudah benar-benar pulih?" Tanya Linor.

"Sudah. Tapi kini aku menghadapi ancaman
serius. Aku mau minta pendapat kalian."

"Ancaman bagaimana?" Linor penasaran.

"Baiklah, aku jelaskan. Tapi aku minta padamu
Linor. Agar apa yang kaudengar ini tidak
kautulis di koran. Jujur saja profesiku selama ini,
kalian mungkin sudah tahu baik langsung
maupun tidak langsung, adalah menjual diri,
melayani para hidung belang dari kalangan atas.

Selama ini ada manajemen rapi yang mengatur
semuanya. Manajemen itu di bawah kontrol seorang
perempuan Rusia berdarah Ukraina, namanya
Olga Nikolayenko. Dia seorang perempuan
tangan besi yang jelita. Dia memiliki kekuataan
yang tak bisa diremehkan. Di belakangnya ada
suaminya yang tak lain adalah seorang gembong
Mafia yang ditakuti di Moskwa ini.

"Yang kemarin ingin membunuhku adalah tiga
orang klien yang dibawa oleh Olga. Seharusnya
dia langsung mengusut tiga orang itu dan membinasakan
mereka. Tetapi hal itu kelihatannya
tidak dilakukan oleh Olga. Entah kenapa?

"Setelah peristiwa kemarin aku ingin berhenti
dari pekerjaan yang tidak menenteramkan hati
itu. Saya ingin bekerja yang normal saja,
meskipun mungkin pendapatannya tidak sebesar
sebelumnya. Saya sudah berniat kuat berhenti.
Tetapi masalahnya Olga Nikolayenko meminta
saya untuk segera kembali datang ke Tverskaya,
untuk kembali bekerja padanya. Saya sudah mengulur
waktu beberapa hari. Dan Olga Nikolayenko
sudah mulai mengancam, ia akan
menjemputku kalau aku tidak datang dalam tiga
hari ke depan.

"Aku minta saran pada kalian, apa yang harus
aku lakukan? Apakah aku sebaiknya bertahan,
dan meminta perlindungan polisi? Ataukah aku
lari saja dari sini sejauh-jauhnya, tapi ke mana?
Olga Nikolayenko juga memiliki jaringan di
hampir seluruh kota besar di Rusia. Aku tidak
tahu harus bagaimana?"

Yelena bercerita dengan berlinang airmata.
Ayyas mendengarkan dengan hati iba. Dan Linor
yang biasanya dingin dan tidak mudah kasihan,
kali ini dia agak tersentuh. Ia bisa membayangkan
betapa menderitanya Yelena selama ini.

Kelihatannya dia ceria, hidup glamour dan mewah.
Tetapi sesungguhnya ia bagai binatang piaraan
Olga Nikolayenko. Dan Yelena tidak bisa
berbuat sekehendak hatinya. Ia harus mengikuti
aturan main yang dibuat Olga. Yelena tidak berbeda
dengan sapi perah yang terus diperah
segala-galanya; susunya, keringatnya, darahnya,
dan dagingnya oleh Olga Nikolayenko.

"Terkadang hidup dengan suasana baru adalah
pilihan yang baik. Menurutku, Yelena bisa hidup
baru dengan suasana yang samasekali baru, di
tempat yang samasekali baru. Carilah tempat
baru yang paling aman di Rusia ini. Ini
pendapatku." Ayyas memberi masukan.

"Saya belum punya usul apa-apa. Tapi saya
akan berusaha membantu Yelena." Ucap Linor
singkat.

"Ini memang tidak mudah. Saya akan berusaha
mencari jalan keluar. Terima kasih atas
masukan dan dukungan kalian."

Lirih Yelena sambil mengusap kedua matanya
yang berkaca-kaca.

"Maaf Yelena, saya harus kembali ke kamar.
Saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi
pembicara seminar nanti. Percayalah kamu kepada
Tuhan, dan biarlah Tuhan yang menolongmu."

Ayyas bangkit kembali ke kamarnya.

"Ya. Spasiba balshoi."

Sebenarnya Linor langsung memiliki rancangan
untuk menyelamatkan Yelena dari
penindasan Olga Nikolayenko dan suaminya,
tetapi ia tidak mungkin menjelaskan ketika Ayyas
masih ada di situ. Maka begitu Ayyas masuk
ke dalam kamarnya, dan ia merasa yakin aman
menjelaskan rencananya kepada Yelena, ia langsung
berbisik pada Yelena,

"Aku punya jalan keluar untukmu. Tapi tidak
ada yang boleh tahu kecuali aku dan kau. Kau
mau?"

Yelena mengangguk.

"Kau tahu lelaki yang dihajar Ayyas tempo
hari, yang membikin onar di sini?" Tetap dengan
berbisik.

"Ya. Yang katamu namanya Sergei itu?"
Yelena ikut berbisik.

"Benar. Namanya Sergei Gadotov. Kau tahu
siapa dia?"

"Katamu dia anggota mafia
Voykovskaya Bratva."

"Benar. Kau tahu apa
yang terjadi padanya sebenarnya?"

"Tidak."

"Dia sudah mati beberapa jam setelah
dilumpuhkan Ayyas."

"Jadi Ayyas yang membunuhnya."

"Bisa jadi itu akibat berkelahi dengan Ayyas.
Tapi tidak ada yang tahu kalau ia sudah mati,
kecuali aku, dan kini kau."

"Kawan-kawannya apa tidak mencari dia?"

"Pasti. Mereka sekarang sedang mencari dia.
Boris Melnikov, Ketua Voykovskaya Bratva
sedang marah besar. Ia yakin Sergei sudah mati
dibunuh, dan sekarang ia sedang mencurigai banyak
orang sebagai pembunuh Sergei. Ia sangat
sayang kepada Sergei karena Sergei adalah tangan
kanan sekaligus calon adik iparnya."

"Kau termasuk yang dicurigai?"

"Pasti. Karena ada yang melihatku bersama
Sergei. Tapi aku bisa mematahkan segala tuduhan
mereka. Mereka tidak punya cukup bukti
untuk menganggap aku sebagai pembunuh
Sergei."

"Terus hubungannya Sergei dengan masalahku
apa?"

"Kalau kau mau sedikit bekerja, dan berhasil.
Kau bisa tetap tinggal di Moskwa ini dengan
tenang dan nyaman. Tidak akan lagi diganggu
oleh Olga Nikolayenko dan suaminya."

"Bekerja apa? Aku tidak paham maksudmu."

"Begini. Sergei Gadotov sudah mati. Aku
yang membuang mayatnya jauh di pinggir kota.
Aku sudah bakar semua barang yang melekat
padanya dan menggantinya dengan pakaian yang
lain. Identitasnya akan kabur. Tetapi aku masih
membawa ponsel milik Sergei Gadotov. Kalau
kau mau hidup nyaman. Kaubinasakan saja Olga
Nikolayenko dan suaminya itu dengan tangan
baja Boris Melnikov."

"Caranya?"

"Mudah sekali. Tetapi kau harus benar-benar
hati-hati dan berhasil. Jika tidak, nyawamu bisa
terancam. Kau bawa ponsel Sergei Gadotov, dan
kauletakkan di rumah atau di mobil Olga
Nikolayenko. Letakkan di tempat yang tidak
diketahui mereka. Boris Melnikov akan tahu keberadaan
ponsel itu, dan dia akan langsung
berkesimpulan, bahwa Olga Nikolayenko dan
suaminya yang membunuh calon adik iparnya.
Boris pasti membuat perhitungan. Jika itu terjadi,
kemungkinan besar Boris yang. akan menang.
Dan kau akan merdeka, jika Olga Nikolayenko
dan suaminya binasa. Bagaimana?"

"Bagaimana Boris Melnikov akan yakin Olga
Nikolayenko sebagai pembunuh Sergei hanya
dengan adanya ponsel?"

"Yang penting, ponsel itu harus ada di mobil
atau rumah Olga Nikolayenko. Dan harus ada di
sana saat Boris Melnikov memeriksanya. Itu saja.
Yang lain biar aku yang ngurus. Paham?"

"Baik. Aku siap bekerja. Biarlah orang jahat
berperang dengan orang jahat."

"Tapi ingat, apa pun yang terjadi ini cuma kita
berdua yang tahu. Kau harus bersumpah untuk
tidak membuka mulut kepada siapa pun. Jika kau
gagal pun kau harus tutup mulut, jangan sekalikali
menyebut namaku. Sekarang bersumpahlah."

"Aku bersumpah, dengan seluruh darah dan
nyawaku!"

"Baik. Kapan kau siap bekerja?"

"Besok." Mantap Yelena dengan berbisik.

"Bagus!" Mata Linor berbinar.

Pintu kamar Yelena tiba-tiba terbuka pelanpelan.
Seorang perempuan tua bertubuh gemuk
keluar sambil mengucek mata. Ia lalu membuka
mulutnya lebar-lebar dan menguap seenaknya.

"Hoh, kalian sudah bangun semua. Tapi kalian
tidak membuat teh panas ya? Mau Bibi buatkan
teh?" Kata perempuan tua itu yang tak lain
adalan Bibi Margareta.

"Mau Bibi." Sahut Yelena.

"Wah enak juga ada Bibi Margareta, ada yang
membuatkan teh. Ada yang bisa dimintai tolong
membelikan sesuatu."

"Iya, apalagi Bibi Margareta itu orangnya tulus
dan jujur."

"Berarti kau beruntung bertemu
dengannya."

"Ya, sangat beruntung. Aku masih
bisa bernafas ini juga di antaranya karena pertolongan
dia."

Salah saru tanda sukses di akhir perjalanan
adalah kembali kepada Allah di awal perjalanan.
Petuah indah Ibnu Athaillah itu senantiasa
terngiang-ngiang di relung-relung hati
Muhammad Ayyas setiap pagi. Juga pagi itu,
setelah ia mandi dan berpakaian rapi serta siap
berangkat ke kampus MGU, ia kembali teringat
kalimat indah Ibnu Athaillah yang sangat dahsyat
makna dan maksudnya. "Min alamatin nujhifin
ni-hayati ar rujuu ilallahi fil bidayati." Begitu kalimat
aslinya dalam bahasa Arab.

Ia ingat betul bagaimana Kiai Lukman Hakim
menjelaskan maksud petuah Ibnu Athaillah As
Sakandari itu,

"Bagi seorang yang mencari ridha Allah, ada
permulaan atau bidayah dan ada akhiran atau nihayah.
Permulaan orang yang mencari ridha Allah
adalah perjalanannya menapaki kehidupan,
dan akhirannya adalah sampainya di hadapan
Allah. Apabila sejak awal langkahnya memulai
perjalanan, orang itu sudah benar-benar kembali
kepada Allah, berjalan menuju Allah dengan total
maka peluang suksesnya untuk sampai kepada
ridha Allah sangat besar. Sebab Allah pasti menolongnya
sejak ia memulai langkahnya. Allah
akan menjaganya untuk tidak terputus dan jatuh
di tengah jalan. Akan tetapi jika di awal
langkahnya ia tidak kembali kepada Allah, tidak
meminta pertolongan Allah, ia akan terlempar
kembali ke tempat ia memulai perjalanan, dan ia
tidak akan sampai kepada Allah. Seorang ulama
yang hatinya diterangi cahaya Allah mengatakan,
'Siapa yang mengira dirinya bisa sampai kepada
Allah dengan pengantar selain Allah, maka Allah
memutus perjalanannya. Dan barang siapa
beribadah dengan mengandalkan kekuatannya
sendiri, maka Allah menyerahkan urusan
ibadahnya kepada kekuatannya, Allah tidak akan
menolongnya'."

Ayyas berusaha untuk kembali kepada Allah,
menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah
setiap kali memulai aktivitas apa saja. Ia merasa
dirinya lemah tiada berdaya, yang memberinya
kekuatan adalah Allah, yang memberinya
kemampuan berpikir juga Allah, dan yang menjaganya
dari segala yang tidak baik adalah Allah.
Allah. Allah. Allah. Semuanya adalah milik
Allah, dan bakal kembali kepada Allah.

Pagi itu setelah merasa rapi semua dan siap,
Ayya's menundukkan wajahnya di hadapan Allah.
Ia mengagungkan nama Allah. Ia tegakkan
shalat Dhuha. Ia rukuk dan sujud kepada Allah.
Airmatanya menetes ke lantai kamarnya, saat dirinya
tersungkur sujud kepada Allah Yang Maha
Kuasa.

Setelah itu ia membuka kamarnya dan siap
berangkat.

Di ruang tamu, Yelena dan Linor masih asyik
berbincang-bincang sambil minum teh panas.
Bibi Margareta nampak sibuk membuat omelet
di dapur.

"Pagi sekali kau berangkat. Minumlah teh
dulu, biar tubuhmu hangat." Ujar Yelena sambil
menyeruput teh panasnya.

"Iya. Itu Bibi Margareta sedang membuat omelet.
Teh hangat dan sepotong omelet, saya pikir
bagus untuk mengisi perut." Sahut Linor

"Kalian ada kesibukan hari ini?" Tukas Ayyas.

"Aku tidak ada kesibukan apa-apa. Paling
tidur-tiduran saja." Jawab Yelena.

"Kalau aku sebenarnya libur, tapi mungkin
aku ingin ke GUM beli sesuatu, tapi tidak begitu
penting. Ada apa?" Kata Linor.

"Hari ini aku jadi pembicara seminar di Fakultas
Kedokteran MGU. Bagaimana kalau sekali-kali
kalian ikut seminar. Ini seminarnya agak
menarik, temanya, 'Tuhan Bagi Manusia di Era
Modern.' Ya paling tidak melihat aku jadi pembicara
berdampingan dengan para doktor dan profesor.
Bagaimana?"

"Em bagaimana ya?" Yelena mengerutkan
keningnya.

"Em boleh juga! Biar otakku tidak beku. Siapa
tahu dari seminar itu ada yang bisa aku tulis jadi
berita. Baik aku ikut." Sahut Linor.

"Baik. Kalau Linor ikut, aku ikut juga." Ucap
Yelena sambil memandang ke arah Ayyas.

"Kalau begitu kita berangkat bersama. Aku
ikut minum teh dan mengganjal perut dengan
omelet dulu."

"Selesai menyantap omelet, kami bersiap-siap
dulu. Dan kautunggu kami sebentar. Kita berangkat
pakai mobilku saja." Hari itu entah
kenapa Linor tidak sedingin biasanya. Ia agak
sedikit membuka diri dan cair.

Bibi Margareta datang membawa dua piring
kecil berisi omelet. Yang satu untuk Yelena dan
yang satu untuk Linor."

"Bibi tolong buatkan satu lagi untuk Ayyas."
Pinta Yelena.

"Baik. Dengan senang hati." Jawab Bibi Margareta
dengan mata berbinar.
***

BMW SUV X5 hitam berjalan perlahan meninggalkan
Panvilovsky Pereulok. Mobil itu meluncur
ke selatan melalui jalan lingkar Sadovoe
Koltsoe. Lalu masuk ke Rossolimo Ulista, kemudian
belok kiri ke Kholzunova Pereulok. Melewati
kawasan Fruzenskaya, dan terus ke selatan.
Sampai akhirnya mendekati kampus MGU.

"Ini kali pertama kita jalan bertiga. Entah
kenapa aku merasa senang dengan kebersamaan
seperti ini. Seperti sebuah keluarga." Ujar Yelena
sambil memandang ke depan. Ke jalan yang
halus, yang kanan kirinya seperti dibungkus
salju. Yelena duduk di depan di samping Linor
yang mengemudikan mobil. Sementara Ayyas
duduk di belakang sendirian.

"Benar kau tidak punya keluarga?" Tanya
Ayyas pada Yelena.

"Dulu punya, tapi sekarang tidak. Nantilah
aku ceritakan. Kalau cerita sekarang waktunya
tidak akan cukup, sebentar lagi kita sampai di
pelataran kampus."

Mobil SUV hitam itu terus maju dengan tenang.
Lima menit kemudian sudah memasuki gerbang
belakang MGU. Seorang petugas keamanan
datang memeriksa. Ayyas menunjukkan kartu
visiting felbw-nya. Petugas itu mempersilakan
masuk.

Begitu turun dari mobil, Ayyas mengontak
Doktor Anastasia Palazzo, memberitahukan
kalau dirinya langsung ke Fakultas Kedokteran,
tidak mampir ke ruangan Profesor Tomskii seperti
yang disepakati.

Mereka bergegas ke auditorium utama Fakultas
Kedokteran, tempat di mana seminar
diadakan. Puluhan orang sudah datang, tetapi
semua pembicara belum datang kecuali Ayyas.
Yelena melihat pamflet yang ditempel di papan
pengumuman, ia menjerit lirih,

"Wah pembicaranya ada Victor Murasov.
Pasti nanti seru seminarnya. Tapi nama Ayyas
samasekali tidak tercantum di sini?

"Aku sebenarnya cuma pengganti salah satu
pembicara yang tidak datang. Coba saja kita lihat
di background itu!" Ayyas menunjuk ke panggung
utama para pembicara, namanya tertulis di
sana meskipun paling bawah sendiri.

"O ya itu namamu." Ujar Yelena.

"Kita menunggu di sini berdiri seperti patung
penjaga gedung ini, atau bagaimana?" Tanya
Linor sambil melirik Ayyas.

"Kita menunggu di stolovaya Fakultas Kedokteran
saja. Pasti tidak jauh dari sini. Biar aku
yang traktir, sebab aku yang mengajak kalian.
Begitu, baik?" Ayyas tahu diri.

"Sangat baik." Jawab Yelena dan Linor hampir
bersamaan. Mereka bertiga lantas bergegas
mencari stolovaya.

Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah duduk
di stolovaya Fakultas Kedokteran. Beberapa
kursi telah terisi mahasiswa dan mahasiswi.

Mereka mengambil tempat duduk tak jauh dari
kasir. Penampilan Yelena dan Linor tak berbeda
dengan mahasiswi. Linorlah yang mengatur penampilan
Yelena sehingga tidak berbeda dengan
mahasiswi. Keduanya juga membawa tas ransel
kecil layaknya mahasiswi. Linor mengeluarkan
buku saku yang tak lain adalah sebuah novel
karya Ian Fleming berjudul From Russia with
Love. Yelena mengeluarkan kumpulan cerita
pendek yang ditulis Leo Tolstoy berjudul
Sevastopol Sketches. Buku yang dipegang
Yelena itu sebenarnya milik Linor juga.

"Kenapa tidak ada petugas stolovaya yang
menghampiri kita?" Yelena merasa heran. Ia sudah
duduk beberapa saat tapi masih tidak dipedulikan
oleh petugas stolovaya.

Ayyas tersenyum mendengar kata-kata Yelena
itu. "Kalian sudah lama tidak ke stolovaya kampus
ya. Di sini kita mengambil makanan sendiri
lalu dibayar di kasir itu."

"Kau benar. Aku sudah lupa!" Jerit Yelena
sambil meletakkan telapak tangannya ke
keningnya.

"Aku juga lupa." Sahut Linor.

Mereka bertiga lalu mengambil menu yang
mereka inginkan. Mereka lalu makan sambil
berbincang-bincang.

"Pagi ini kita banyak makan." Kata Yelena.
"Bersyukurlah kepada Allah yang masih memberikan
kita rezeki dan kehidupan." Sahut Ayyas.

"Yelena tidak percaya pada Tuhan." Lirih
Linor.

"Aku masih merenung. Aku masih perlu
waktu untuk percaya lagi kepada Tuhan." Ujar
Yelena.

"Aku sangat heran pada orang yang hatinya telah
jadi batu. Dalam keadaan sekarat ia ditolong
oleh Tuhan, diberi kesempatan hidup, masih juga
tidak percaya kepada Tuhan!" Sahut Ayyas
dengan suara agak keras.

"Yang kau maksud itu aku?" Kata Yelena.

"Siapa lagi? Jawablah dengan jujur Yelena,
ketika kau dalam keadaan kritis, dalam keadaan
sekarat hampir mati saat itu. Apa yang kauingat?
Siapa yang kausebut namanya untuk kaumintai
pertolongan? Jawablah dengan jujur, Yelena!"

Yelena terdiam. Wajahnya berubah. Tubuhnya
bergetar. Ia teringat saat ia sekarat tiada berdaya
apa-apa, dan saat itu ia merasa nyawanya sudah
sampai di tenggorokan mau melayang. Ia
menyebut-nyebut Tuhan. Ia minta tolong kepada
Tuhan. Mata Yelena berkaca-kaca. Tapi mulutnya
bungkam tidak bicara.

"Kenapa kau diam saja Yelena? Jawablah
dengan jujur, sekali lagi dengan jujur di saat kau
sangat terpepet, sangat tidak berdaya, sangat kritis
dan hampir mati, siapa yang kauingat? Siapa
yang kausebut-sebut?"

Tanpa sadar Yelena menjawab terbata,

"Tu..han!"

"Subhanallah! Tuhan yang kau sebut. Jadi hati
kecilmu dan nuranimu yang paling dalam percaya
kepada Tuhan, tersambung dengan Tuhan.
Bagaimana mungkin kau tetap keras kepala mengingkarinya.
Apa itu tidak berarti hati dan akal
pikiranmu telah mati?

"Aku tidak tahu."

"Semua manusia yang paling anti kepada
Tuhan sekalipun ketika dia dalam keadaan sangat
kritis ia tetap ingat kepada Tuhan. Bahkan Fir'aun
yang mengaku Tuhan sekalipun ketika ia mau
mati karena tenggelam di Laut Merah ia tetap
menyebut-nyebut Tuhan. Kau boleh ingkar kepada
Tuhan, tapi keingkaranmu pasti berujung
sia-sia belaka. Hati nuranimu tidak pernah mengingkari
adanya Tuhan. Dan aku melihat sendiri
bagaimana Tuhan menolong nyawamu. Kau
harus tahu, begitu kau aku bawa ke rumah sakit
dan dokter yang bertugas di bagian gawat darurat
memeriksamu, dokter itu berkata padamu, 'Hanya
mukjizat yang bisa menyelamatkannya. Mukjizat
itu datangnya dari Tuhan. Dan kau kini selamat
berarti Tuhan telah mengulurkan tangan
pertolongan-Nya kepadamu."
Airmata Yelena perlahan meleleh.

"Setiap saat Tuhan membelai kita, menjaga
kita dan menolong kita tapi kita sering tidak
menyadarinya. Kalau boleh saya mau bercerita."
Sambung Ayyas.

"Boleh saja." Kata Linor.

"Baik." Lanjut Ayyas, "Ibnu Qudamah dalam
salah satu karyanya berjudul At Tawwabin, menuturkan
sebuah kisah menarik tentang kasih
sayang dan pertolongan Tuhan. Ibnu Qudamah
menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian
nyata yang menakjubkan. Orang itu
bernama Yusuf bin Husain. Dia menuturkan
kisahnya:

"Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun
Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai.
Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat
itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan,
dan kalajengking itu kemudian naik di
atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang
menyeberangi sungai.

"Dzun Nun Al Mishri berkata, Ada yang aneh
dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!'

"Maka kami lantas menyeberang mengikuti
kalajengking yang digendong katak itu. Kami
terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur
di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk.

Dan di sampingnya ada sesekor ular yang mulai
menjalar dari pusar kemudian ke dadanya, kiranya
ular tersebut hendak menggigit telinganya.

"Kami lalu menyaksikan kejadian yang luar
biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat
kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu
sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat
dan terkoyak-koyak tubuhnya.

"Dzun Nun lalu membangunkan anak muda
yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak
muda itu terjaga. Dzun Nun berkata, 'Hai anak
muda, lihatlah betapa besar kasih sayang
Allah yang telah menyelamatkan-Mu. Lihatlah
kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan
ular yang hendak membunuhmu!'

"Lalu Dzun Nun melanjutkan nasihatnya, 'Hai
orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari
marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh
aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan
Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya
berbagai nikmat.'

"Setelah itu pemabuk itu berkata, 'Duhai
Tuhanku, betapa agung kasih sayang-Mu
sekalipun terhadap diriku yang durhaka kepada-
Mu. Jika demikian, bagaimana dengan kasih
sayang-Mu kepada orang yang selalu taat
kepada-Mu?'

"Pemuda pemabuk itu lalu meniti jalan
menuju Allah. Ia seringkali menangis setiap kali
teringat masa lalunya yang sia-sia. Ia terus meniti
jalan Allah yang lurus, jalan untuk orang-orang
yang diberi nikmat sejati oleh Allah."

Ayyas berhenti sejenak, ia mengambil cangkir
teh panasnya dan menyeruputnya beberapa kali,
lalu kembali berkata,

"Kisah kalajengking yang diutus oleh Allah
sesungguhnya bisa terjadi pada siapa saja dan
kapan saja. Termasuk pada diri kita. Mungkin
kita tidak menyadari, Allah telah mengutus 'kalajengking'
untuk menyelamatkan kita dari bahaya
ular' yang hendak membinasakan kita.

"Kalajengking penyelamat itu bisa berbentuk
hal yang bermacam-macam, dan ular yang
hendak membinasakan kita juga bentuknya
bermacam-macam. Bahaya itu bisa jadi misalnya
berupa hutang yang menumpuk, yang sangat
mengancam, yang siap membinasakan.

Terkadang orang yang memiliki hutang menumpuk
malah terlena dan samasekali tidak sadar
kalau dia sedang dililit oleh ular yang sangat besar.
Persis seperti pemuda mabuk tadi. Atau ia
sadar dililit ular besar dan pasrah sepenuhnya
siap untuk binasa, sebab sudah tidak bisa berbuat
apa-apa.

"Dalam kondisi kritis, berulang kali Allah
menjaga hamba-Nya. Orang yang hutangnya
menumpuk itu diberi jalan keluar oleh Allah.
Berbagai macam caranya Allah mengirimkan
kalajengking' penyelamat itu. Bisa jadi ada teman
lama yang mendengar beritanya dan berkenan
membantu menyelesaikan hutang-hutangnya.
Bisa jadi Allah membukakan pintu bisnis yang
baru. Yang dengan itu ia bangkit lagi, bisa melunasi
hutangnya dan kembali hidup sentosa. Ada
bermacam-macam sebab, tetapi pada intinya Allahlah
yang mengatur semuanya.

"Cobalah sejenak kita ingat-ingat sejarah perjalanan
hidup kita. Berapa kali sudah Allah mengirimkan
kalajengking yang menyelamatkan
hidup kita? Berapa kali sudah Allah menolong
kita dalam kesusahan dan kesempitan yang
mendera? Kalau kita jujur, pastilah berkali-kali.
Bahkan kalau kita jujur, setiap saat Allah
melindungi kita dalam perlindungan yang kita
tidak menyadarinya.

"Kita tidak sadar bahwa setiap detik Allah
membersihkan darah kita dari pelbagai jenis
racun yang mematikan. Allahlah yang mengatur
pembersihan darah itu dengan membuatkan pabrik
yang memproduksi zat kimia alami untuk
membersihkan darah. Pabrik itu bekerja dua puluh
empat jam tanpa henti. Dan kita samasekali
tidak menyadarinya, atau kita malah ada yang
tidak mengetahuinya. Tapi dunia medis telah
menjelaskan semua.

"Di dalam tubuh kita, menurut keterangan
ilmu medis, Allah membuat satu pabrik ajaib
yang namanya hati. Hati bisa disebut organ terbesar
dalam tubuh manusia dengan berat sekitar 1,5
kg. Fungsinya sangat banyak, bahkan mencapai
lebih dari 500 fungsi yang bertalian erat dengan
fungsi organ tubuh lainnya. Dengan fungsi yang
begitu banyak dan rumit, hati ibarat pabrik kimia
serba guna dan paling canggih yang diciptakan
oleh Allah, dengan jumlah 300 miliar sel yang
tidak bisa ditiru oleh teknologi manusia secanggih
apa pun.

"Salah satu fungsi hati adalah menyaring dan
mengolah darah. Dalam keadaan normal, organ
hati dilintasi sedikitnya 1400 cc darah setiap
menitnya, atau hampir seperempat darah yang
ada dalam tubuh melintasi hati setiap menit. Ini
adalah cara tubuh untuk membersihkan darah.
Hati menyaring darah yang melewatinya, lalu
membersihkannya dari unsur-unsur yang mengotori
darah. Jika hati menyaring 1,4 liter darah setiap
menitnya, berarti dalam waktu satu tahun
hati telah menyaring lebih dari 525.000 liter
darah.

"Tanpa hati, manusia tidak akan bisa bertahan
hidup, bahkan akan mati terbunuh oleh pelbagai
racun yang masuk ke dalam tubuh, termasuk
obat-obatan kimia sintesis, seperti antibiotik yang
diresepkan oleh dokter di mana-mana.

"Dan Allahlah yang menjaga kehidupan seseorang
dengan menciptakan hati dan menjaganya
terus bekerja. Allah terus menjaga kita siang
malam, hanya saja kita yang sering lalai dan
samasekali tidak menyadarinya.

"Pertolongan dan kasih sayang Allah di dunia
ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja.
Orang yang bermaksiat sekalipun masih
mendapat cipratan kasih sayang Allah. Contohnya
adalah pemuda mabuk di atas. Dia tetap
diselamatkan oleh Allah. Semestinya kasih sayang
Allah yang sedemikian agungnya membuat
siapapun insaf dan terjaga. Yang taat kepada Allah
semakin taat. Karena ketaatan kepada Allah
itu sendiri adalah bentuk kasih sayang Allah. Dan
yang masih juga belum taat, masih suka bermaksiat
semestinya segera insaf, bahwa ia masih
hidup dan bisa bernafas di dunia ini karena
dilindungi oleh Allah."

Ayyas lalu mengakhiri kalimatnya dengan
mengulang syair yang dikatakan Dzun Nun pada
pemuda mabuk dalam ceritanya itu,

"Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga
dari marabahaya yang merayap di kala gulita.
Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap
meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya
berbagai nikmat."

Hati Yelena bergetar hebat mendengar katakata
yang disampaikan Ayyas dengan penuh keimanan.
Dan dengan suara agak serak Yelena
berkata, "Aku beriman bahwa Tuhan itu ada!"
Ayyas menyahut dengan dada haru,

"Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah."

Linor bertahan untuk seolah-olah tidak tersentuh
oleh penjelasan Ayyas, tapi sesungguhnya
hatinya juga basah. Harga diri dan kesombongan
yang masih bercokol kuat dalam hatinya telah
menghalanginya untuk ikut larut dalam keharuan
yang dirasakan Yelena. Ia menganggap apa yang
terjadi pada Yelena adalah hal yang biasa. Yelena
kini percaya kepada Tuhan itu biasa saja baginya.
Tetapi ia tidak mau kalau sampai Yelena mengikuti
agama primitif yang dipeluk oleh Ayyas,
yaitu Islam.

Auditorium Fakultas Kedokteran itu penuh sesak.
Sebagian orang tidak dapat kursi dan
terpaksa berdiri. Pihak panitia penyelenggara
menaksir peserta seminar yang terbuka untuk
umum itu lebih dari seribu dua ratus orang.
Penyebab membludaknya peserta seminar tak
lain adalah popularitas salah satu pembicaranya,
yaitu Victor Murasov, Ph.D, seorang intelektual
muda yang sering menulis artikel di koran
Pravda, yang sekaligus seorang bintang film yang
baru saja meraih penghargaan sebagai aktor terbaik
di Festival Film di Berlin, Jerman.

Victor Murasov, juga dikenal sebagai penulis
yang sering menyampaikan pandangan-pandangan
yang kontroversial. Yang paling-kontroversial
ketika ia mengatakan dalam sebuah
tulisannya, bahwa "Ia lebih mencintai Hitler daripada
Tuhan. Hitler menurutnya ada dan nyata,
dan karena Hitlerlah bangsa Yahudi menjadi
dikasihani dunia dan dapat mendirikan negara
Israel. Sedangkan Tuhan menurutnya tidak jelas
keberadaannya.

Tulisan Viktor Murasov itu memancing protes
banyak kalangan di Moskwa, tetapi selalu saja
Viktor Murasov bisa menghadapinya dengan
gaya orasinya yang memikat. Maka diskusi
tentang "Tuhan Bagi Manusia di Era Modern" itu
pasti akan sangat menarik dan seru, karena salah
satu pembicara utamanya adalah Viktor Murasov
yang berkali-kali mengikrarkan diri sebagai
hamba Ilmu Pengetahuan. Tuhannya adalah Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Agamanya adalah
agama Ilmu Pengetahuan atau scientologi. Kitab
sucinya adalah semua buku-buku sains dan
teknologi.

Selain Viktor Murasov, Ph.D, yang akan menjadi
pembicara pada seminar itu adalah Prof. Dr.
Lyudmila Nozdryova, Guru Besar Ilmu Bedah
Jantung Fakultas Kedokteran yang juga seorang
penganut Kristen Ortodoks yang taat. Kemudian
Dr. Anastasia Palazzo, seorang intelektual muda,
pakar sejarah yang juga penganut Katolik yang
taat. Dan Muhammad Ayyas, di situ disebutkan
sebagai seorang peneliti sosial dari Indonesia
yang menganut Islam. Dan moderator seminar
adalah seorang wartawati koran Pravda yang berwajah
Asia, bernama Oktayabrina Yew.

Seminar dimulai. Oktayabrina duduk di kursi
paling kiri, lalu Viktor Murasov, sebelahnya Lyudmila
Nozdryova, Anastasia Palazzo dan paling
kanan Muhammad Ayyas. Oktayabrina memberikan
pengantar seminar dengan sangat
meyakinkan, tidak lupa ia memperkenalkan pembicara
satu per satu. Dari biodata yang dibacakan
nampak sekali, bahwa Muhammad Ayyas paling
miskin prestasi akademik dan boleh dibilang paling
tidak meyakinkan, sebab dialah satu-satunya
pembicara yang tidak bergelar doktor.

Melihat kenyataan itu, Ayyas bersiap-siap
bahwa dirinya bisa jadi akan dipersilakan untuk
berbicara paling depan. Karena yang paling belakang
biasanya pakar yang dianggap paling
mumpuni sehingga bisa mengoreksi pembicara
sebelumnya. Tetapi ternyata dugaannya meleset.

Oktayabrina, menginginkan diskusi yang langsung
hangat. Maka ia langsung mempersilakan
Viktor Murasov untuk berbicara paling depan.
Oktayabrina kelihatannya berharap, Murasov
akan mengeluarkan statemen yang kontroversial
dan membuat suasana seminar panas. Statemen
yang akan membuat pembicara berikutnya
mengkritisinya dan membuat hidup suasananya.
Viktor Murasov berbicara dengan sangat percaya
diri. Baru beberapa kalimat ia lontarkan
suasana ruangan sudah segar, peserta seminar
dibuatnya terpingkal-pingkal dengan anekdot
yang ia lontarkan. Lalu pelan-pelan ia masuk ke
wilayah tema seminar. Ia menjelaskan kemajuankemajuan
teknologi yang dicapai manusia saat
ini.

"Dulu orang tidak pernah berpikir bahwa jantung
yang rusak bisa diganti. Sekarang teknologi
menunjukkan mukjizatnya kepada umat manusia.
Jantung yang rusak bisa diganti, bisa ditransplantasi,
bisa dicangkok dengan jantung lain
yang sehat. Bahkan tak lama lagi saya yakin.

Jantung manusia yang rusak bisa diganti dengan
jantung babi atau jantung sapi. Tinggal menunggu
waktu saja."

Viktor Murasov terus menyihir peserta seminar
dengan argumen-argumennya yang nampak
begitu meyakinkan. Ia lalu mulai masuk ke propaganda,
agama yang diyakininya yaitu agama
yang menuhankan Ilmu Pengetahuan. Dengan
sangat yakin Viktor Murasov mengatakan,

"Manusia modern tidak lagi memerlukan
Tuhan, seperti yang dijelaskan oleh agama-agama
seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu,
Budha dan sejenisnya. Manusia tidak lagi bergantung
pada Tuhan. Dengan kemajuan ilmu dan
teknologi yang mereka capai mereka mampu
mengatasi pelbagai macam persoalan. Mereka
bisa hidup tanpa bantuan Tuhan. Di dunia modern
yang serba canggih ini Tuhan telah sirna.
Karena Tuhan yang sesungguhnya adalah
kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang terbukti banyak menyelesaikan persoalanpersoalan
rumit yang dihadapi umat manusia!"

Viktor Murasov mengakhiri kalimatnya
dengan diiringi tepuk tangan sebagian besar
peserta seminar. Ayyas melirik ke arah Doktor
Anastasia Palazzo. Doktor muda itu nampak
menulis sesuatu di kertas dengan wajah memerah
tegang. Ayyas samasekali tidak menyangka bahwa
seminar ini sangat serius. Sebab yang dibicarakan
adalah masalah paling serius dalam
diskusi ilmu agama dan ilmu filsafat.

Di dalam Islam, yang diseminarkan ini adalah
masalah yang menyangkut akidah dan keyakinan.
Ayyas memohon kepada Allah agar diberi pertolongan.
Dulu waktu kuliah di Madinah ia pernah
membahas masalah seperti ini dengan sangat
detil, ia memohon kepada Allah agar ingatannya
pada materi yang pernah dibahasnya itu
dikembalikan.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada
Prof. Dr. Lyudmila Nozdryova. Guru Besar yang
sudah lebih separo baya itu berbicara dengan begitu
lembut. Sangat berbeda dengan Viktor
Murasov yang meledak-ledak dan bisa melucu.

Prof. Dr. Lyudmila menjelaskan bukti-bukti ilmiah
dari para ilmuwan dari pelbagai cabang ilmu
yang menegaskan keberadaan Tuhan.
Prof. Lyudmila dengan lemah lembut
mengatakan,

"Seorang pakar fisika dan biologi, Frank Alan,
membuktikan bahwa alam semesta ada Penciptanya.
Ia mengatakan, 'Seringkali dikatakan
bahwa alam material tidak memerlukan Pencipta.
Akan tetapi, jika kita menerima anggapan yang
menyatakan bahwa 'alam ada, terus bagaimana
kita menjelaskan awal keberadaannya dan
perkembangannya? Ada empat kemungkinan untuk
menjawab pertanyaan ini. Pertama, mungkin
alam ini hanyalah imajinasi belaka. Ini jelas bertentangan
dengan pendapat yang bisa kita terima
bahwa 'alam ini sungguh-sungguh ada'. Kedua,
mungkin alam ini terjadi dengan sendirinya begitu
saja dari tiada. Ketiga, mungkin ia eternal
tak bermula. Keempat, mungkin alam ada yang
menciptakan.

"Mengenai kemungkinan pertama, problemnya
hanyalah menyangkut kesesuaian antara
penginderaan dan imajinasi. Artinya, penginderaan
dan pengetahuan kita terhadap alam tidak
mendukung jika dikatakan, bahwa alam ini hanya
sekadar bayang-bayang, tidak nyata. Jadi
pendapat yang mengatakan, alam ini tidak mempunyai
wujud nyata dan semata-mata ada dalam
imajinasi belaka, tidak perlu didiskusikan.

"Pendapat yang menyatakan, bahwa alam
dengan segala materi dan potensi yang dikandungnya
terjadi dengan sendirinya dari ketiadaan,
ternyata sama saja dengan pendapat yang
pertama, absurd. Ini juga tidak perlu ditanggapi,
apalagi didiskusikan.

"Pendapat ketiga yang menyatakan, bahwa
alam adalah eternal tak bermula, ternyata mirip
dengan pendapat yang mengatakan, alam ada
yang menciptakan. Kemiripannya tersebut terletak
pada sifat eternalitasnya. Kita harus memilih
antara melekatkan sifat eternal kepada alam yang
mati atau kepada Tuhan Yang Maha Hidup dan
Menciptakan. Tidak ada kesulitan teoretis untuk
memilih satu dari dua kemungkinan ini.

"Hukum-hukum termodinamika membuktikan,
daya panas energi-energi alam secara perlahan
akan hilang, dan secara pasti berjalan sampai
pada suatu kondisi di mana bendabenda di alam
ini berada di bawah titik panas yang amat rendah,
yaitu nol mutlak. Pada waktu itulah, energi tidak
akan ada dan kehidupan menjadi mustahil. Dan,
ketika kondisi ini terjadi, tidak bisa dihindari
bahwa energi menjadi musnah:

"Matahari yang menyala, bintang-bintang
yang bercahaya, dan bumi yang penuh dengan
pelbagai kehidupan, masing-masing menjadi
bukti yang nyata bahwa alam bersifat temporal
dan dimulai dari detik tertentu. Jadi, alam
memang diciptakan, dan Penciptanya adalah Dzat
Yang Eternal, Yang Wajib Adanya, Tak Bermula,
Maha Mengetahui, lagi Maha Kuasa."

Prof. Dr. Lyudmila Nozdryova dengan sangat
halus sebenarnya membantah pendapat Viktor
Murasov yang terang-terangan meniadakan
Tuhan. Ayyas mendengarkan penjelasan Profesor
Lyudmila dengan seksama. Dalil yang disampaikan
sangat ilmiah dan kuat. Tapi ia merasa
kurang terang dalam mengoreksi pendapat Viktor
Murasov yang disampaikan dengan cara yang lugas,
dan terang-terangan. Ayyas berharap
Anastasia Palazzo akan mengoreksi pendapat
Viktor Murasov dengan serius. Sehingga dirinya
yang sebenarnya tidak penting karena sekadar
jadi pembicara pengganti tidak perlu banyak bicara.
Cukup beberapa kalimat saja.

Dan tibalah saatnya Dr. Anastasia Palazzo
menyampaikan pendapatnya. Doktor muda itu telah
membagikan makalah tujuh halaman tentang
bagaimana para pemikir memikirkan Tuhan. Inti
dari makalah Doktor Anastasia sebenarnya bermuara
pada hal yang sama, yaitu bahwa Tuhan
itu ada.

Dengan suara yang jernih, dan wajah yang
memikat siapa pun yang memandangnya, Doktor
Anastasia Palazzo mengatakan,

"Pemikir yang benar-benar berpijak pada teori
ilmiah ilmu pengetahuan tidak akan mengingkari
adanya Tuhan. Manusia modern sangat memerlukan
Tuhan, sama dengan manusia kuno memerlukan
Tuhan. Para filsuf modern yang cemerlang
memberikan bukti-bukti dan dalil-dalil filosofis
bahwa Tuhan itu ada. Contohnya Rene Descartes,
Braise Pascal, dan Immanuel Kant. Mereka
semua meyakini Tuhan itu ada.

"Rene Descartes misalnya, perkataannya yang
paling terkenal adalah: Je pense donc je suisl
Atau, Cogito ergo sum! I think hence I am!
Artinya: Aku berpikir maka aku ada!
Perkataannya itu, merupakan titik awal pembuktiannya
bahwa Tuhan itu ada. Setelah
mengatakan, aku berpikir maka aku ada, dia
lantas berkata: 'Aku ini ada. Maka siapakah yang
mengadakan aku dan menciptakan aku? Aku
tidak menciptakan diriku sendiri. Oleh karena itu
harus ada Dzat yang menjadikan aku. Dzat yang
menjadikan itu haruslah Dzat yang 'Wajib
Wujud'. Yaitu Dzat yang pasti adanya. Dzat yang

tidak mungkin tidak ada. Dzat yang ada dengan
sendirinya, dan tidak membutuhkan Dzat lain
untuk mengadakan-Nya, atau yang memelihara
wujud-Nya. Dzat itu juga harus selamanya ada,
tidak berkesudahan. Dan Dia harus pula memiliki
sifat-sifat kesempurnaan. Sungguh indah caranya
membuktikan adanya Tuhan!

"Kemudian Braise Pascal, kecerdasannya
mengantarkan pada kesimpulan bahwa Tuhan itu
ada. Ia mengatakan, 'Pengetahuan kita tentang
Tuhan termasuk salah satu pengetahuan pertama,
yang tidak memerlukan perdebatan dalil-dalil
pikiran. Karena aku bisa tidak ada, kalau ibuku
meninggal dunia terlebih dahulu sebelum aku dilahirkan
hidup. Jadi, aku bukan dzat yang wajib
wujud, dan aku bukan selamanya ada. Aku bukan
tidak berkesudahan. Karena itu harus ada dzat
yang wajib wujud, yang ada selamanya, dan yang
tidak berkesudahan, di mana wujudku bersandar
kepadanya. Yaitu Tuhan. Yang kita ketahui
wujud-Nya dengan pengetahuan pertama, tanpa
merepotkan diri dalam perdebatan bukti-bukti
alam pikiran!'

"Pengetahuan pertama yang dimaksud Pascal
adalah fitrah murni dalam diri manusia. Yaitu
pikiran-pikiran fitri yang terdapat dalam akal
manusia yang dapat dilihat dengan jelas dan terang
benderang tanpa membutuhkan pembuktian.
Ialah pikiran yang secara otomatis dapat membedakan
baik dan buruk, gelap dan terang, kebenaran
dan kebatilan.

"Sedangkan Immanuel Kant, setelah dia membeberkan
teorinya yang panjang, dia menyimpulkan
bahwa, kebenaran adanya Tuhan adalah
kebenaran postulat. Yaitu kebenaran tertinggi
dalam tingkatan kebenaran. Kebenaran tak terbantahkan.
Kebenaran yang berada di luar
jangkauan indera, akal dan ilmu pengetahuan.
Itulah yang disebut postulat, yaitu dalil teoretis
yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis,
yang oleh karenanya dapat disebut dalil
kepercayaan!"

Penjelasan Dr. Anastasia Palazzo cukup tajam
mengoreksi pendapat Viktor Murasov. Hanya
saja menurut Ayyas, belum benar-benar membantah
propaganda Viktor Murasov, bahwa di
dunia modern yang serba canggih ini Tuhan telah
sirna digantikan oleh Ilmu Pengetahuan. .

Ayyas menyebut asma Allah. Moderator
masih berbicara memuji Doktor Anastasia
Palazzo yang begitu rapi menyampaikan
pendapatnya. Sesaat kemudian sang moderator
Oktayabrina mempersilakan dirinya untuk angkat
bicara.

Ayyas langsung berdiri dari tempat duduk. Ia
berdiri dengan tenang, kedua matanya memandang
seluruh ruangan bagaikan seorang raja
memandang rakyatnya. Lalu ia berkata,

"Kalian ingat puisi Paulson yang dikutip Leo
Totstoy dalam cerpennya yang berjudul Tuhan
dan Manusia?"

Terdengarlah gemuruh dari seluruh peserta
bahwa mereka tidak ingat.

"Kalian mau aku bacakan puisi itu?" Serentak
mereka menjawab, "Ya bacakanlah!"

Ayyas langsung mendeklamasikan puisi itu
dengan lantang,

" Topan yang menyembunyikan langit, Angin
pusar membawa salju Sekarang ia mengaum bagai
hewan buas Sebentar kemudian bagai anak
kecil Ia merengut kelu"

Seketika ruangan seminar itu bergetar oleh
gemuruh tepuk tangan ketika Ayyas selesai membacakan
sajak Paulson dan menunduk hormat kepada
mereka. Ayyas lalu duduk dan mulai bicara.
Panggung sepenuhnya dalam kendalinya.

"Di dunia ini, Tuhan menyayangi orang-orang
yang mengimaninya juga menyayangi orang-orang
yang mengingkarinya. Sangat dahsyat kasih
sayang Tuhan, sehingga seorang manusia yang
lemah yang kalau sakit gigi sedikit saja
mengaduh siang malam, yang sedemikian
lemahnya manusia itu tapi berani menyatakan
bahwa Tuhan telah sirna karena ilmu pengetahuan.

Orang yang seperti itu pun di dunia ini
tetap disayang Tuhan. Diberi makan, diberi
pakaian, diberi penghasilan cukup, bahkan diberi
ketenaran yang luar biasa.

"Kita tadi mendengar bersama bagaimana
canggihnya Viktor Murasov menunjukkan kehebatannya.
Ia mengaum bagai hewan buas yang
begitu bernafsu mencabik-cabik Tuhan dan membinasakan
Tuhan dengan sebinasa-binasanya.

"Meskipun begitu Tuhan tetap masih sayang
padanya. Tuhan tidak memerintahkan kepada
jantung yang ada di dalamnya untuk berhenti berdetak.

Tidak. Tuhan tidak memerintahkan hati
yang ada di dalamnya berhenti menyaring racun.
Tidak. Tuhan masih memberinya kesempatan
hidup.

"Tuhan tidak juga mengirimkan topan dan badai
kemarahan kepadanya. Tidak. Kenapa? Sebab
Tuhan tahu kata-kata Viktor Murasov itu tak lebih
berharga dari sampah belaka. Tidak ada bobot
dan nilainya samasekali. Kata-katanya
samasekali tidak menggoyah sedikit pun keberadaan
Tuhan.

"Baiklah mari kita buktikan bersama bahwa
kata-kata Viktor Murasov tadi tak ada nilainya
sama-sekali. Itu hanya bagian dari cara dia agar
ditulis di koran-koran dan tetap terkenal saja.

"Bagi orang yang cermat dan paham filsafat.
Sebenarnya Viktor Murasov hanyalah burung
beo. Dia hanya ikut-ikutan saja. Apa yang
dikatakannya sebenarnya adalah apa yang pernah
dikatakan oleh Nietzsche. Siapa Nietzsche itu?
Dia adalah seorang pemikir dari Jerman yang
mengatakan Tuhan telah mati. Nietzsche adalah
seorang atheis. Dia mengingkari adanya Tuhan.
Dia pengusung paham athéisme optimisme. Jadi,
apa yang dikatakan Viktor Murasov adalah apa
yang ditulis Nietzsche yang pernah
menggegerkan Jerman, bahkan Eropa pada abad
ke-19 yang silam. Pembual itu hanya menyambung
lidah Nietzsche. Dia tak ubahnya seekor
burung beo yang mengoceh dan menirukan
pemikiran Nietzsche. Jujur, saya lebih salut pada
anak-anak kecil yang kreatif berpikir daripada
seorang yang mengaku intelektual tapi sejatinya
hanya seorang pengekor."

Ayyas berkata dengan ceplas-ceplos dengan
bahasa yang terus terang dan terkesan kasar.

Ruangan seminar hening dan tegang. Ketika
Ayyas hendak melanjutkan pembicaraannya,
moderator menyela, "Maaf, Tuan Ayyas, Anda
sudah terlalu panjang."

Tiba-tiba seorang peserta seminar, seorang
gadis berambut jagung berdiri dan bersuara
lantang, "Nyichego! Interesnor Tidak apa!
Menarik!"

Ratusan orang kemudian menyampaikan hal
yang sama. Mereka ingin agar Ayyas diberi
kesempatan melanjutkan pendapat yang ingin
disampaikannya. Moderator tidak bisa berbuat
apa-apa kecuali memberi kesempatan lagi kepada
Ayyas untuk melanjutkan pembicaraannya.

"Silakan dilanjutkan Tuan Ayyas!" Kata Oktayabrina
Yew.

Ayyas tersenyum lembut dan kembali melanjutkan
perkataannya yang sempat putus,

"Nietzsche termasuk pemikir yang terjebak
dalam athéisme, yaitu pemikiran yang mengingkari
adanya Tuhan. Sebelum masuk pemikiran
Nietzsche, kita harus tahu bahwa athéisme ini
banyak jenisnya. Namun intinya satu, yaitu tidak
mengakui keberadaan Tuhan. Ada yang disebut
athéisme materialisme. Ini adalah jenis athéisme
yang paling tua. Ada athéisme psikologi,
athéisme marxisme, athéisme eksistensialisme,
juga athéisme neo positivisme. Tapi mohon
maaf, saya tidak bisa menjelaskan detil jenisjenis
athéisme itu di forum ini karena waktu
yang terbatas. Kita akan sama-sama menguliti
pemikiran Nietzsche yang dibawa Viktor Murasov
ke tengah-tengah kita.

"Nietzsche menggegerkan Eropa karena menurutnya
Tuhan telah mati. Dalam bahasa Viktor
Murasov Tuhan telah sirna. Bagaimana runtutan
cara berpikir Nietzsche sampai dia meniadakan
Tuhan?

"Begini, menurut dia, manusia mengakui
adanya Tuhan karena tingkat ilmu dan teknologi
yang rendah. Manakala manusia telah mencapai
ilmu dan teknologi yang tinggi niscaya percaya
pada Tuhan tidak diperlukan lagi. Dahulu ketika
ilmu dan teknologi manusia masih rendah,
hidupnya masih tergantung pada belas kasihan
alam. Semua kekuatan alam didewakan. Ketika
manusia melihat banjir besar melanda pertanian
dan pemukimannya yang membawa penderitaan
luar biasa, ia merasa tidak mampu mengatasinya.
Ketika banjir reda dan sungai kembali jernih
manusia dapat memanfaatkan kebaikannya sebagai
sumber penghidupan. Ikan-ikannya yang
gemuk dan manfaat lainnya yang banyak. Agar
sungai tidak mengamuk dan tetap memberikan
berkah lalu disucikannya. Dianggap mempunyai
kekuatan raksasa yang gaib. Lalu diberi sesaji,
dihormati, dituhankan.

"Dalam masyarakat primitif muncul dewa,
sungai, dewa langit, dewa laut, dewa hujan, dewa
pertanian dan lain sebagainya yang itu semua
merupakan kekuatan alam. Tetapi ketika manusia
tidak lagi tergantung pada alam, dengan ilmu dan
teknologinya dapat mengendalikan banjir,
dengan ilmu pertanian melipatgandakan hasil
panen, dewa atau Tuhan sungai tidak ada lagi.
Kekuatan alam yang berupa banjir yang dulu diagungkan
dan disucikan diberi sesaji kini harus
sujud menyembah di telapak kaki manusia.
Dalam sejarah bangsa Yunani dikenal banyak
dewa-dewa yang diketuai oleh Tuhan Zeus.

"Kini manusia telah menguasai ilmu dan
Tuhan ataupun dewa-dewa yang dianggap sebagai
Tuhan, tinggal hanya dalam buku-buku di
perpustakaan. Nietzsche bertanya, ke mana
Tuhan-Tuhan itu pergi? Apakah 'dia lari atau bersembunyi
ataukah dia hilang seperti anak kecil?
Tidak! Tuhan itu telah mati! Kita yang membunuhnya,
demikian Nietzsche mengejek bahwa
Tuhan ditikam jantungnya dengan belati ilmu
pengetahuan. Ia sangat optimis bila manusia telah
mencapai kemajuan, sehingga ilmu pengetahuan
membebaskan manusia dari ketergantungannya
pada alam, maka Tuhan telah sempurna matinya.
Ia membutuhkan waktu sebagaimana kilat pun
membutuhkan waktu. Ia menganjurkan agar
manusia terus maju mengejar ilmu pengetahuan
dan teknologi sehingga ia, sendiri menjadi
pengatur alam, bukan tergantung pada alam.
Manusia dengan ilmu pengetahuannya harus
menggantikan dewa-dewa orang primitif, menjadi
penentu dan pengatur alam, ia harus menjadi
manusia atas atau manusia super. Jadi Viktor
Murasov hanyalah pembeo pemikiran Nietzsche.

"Dan tentu saja pemikiran Nietzsche
samasekali tidak benar. Bagaimana membuktikan
pemikiran Nietzsche samasekali tidak benar?

"Mudah saja, begini, Nietzsche begitu optimis
akan mukjizat ilmu pengetahuan yang dengan
kekuatannya manusia dapat menguasai alam, dan
bila demikian, maka Tuhan tidak diperlukan lagi.
Benarkah ilmu pengetahuan dapat menjanjikan
optimisme yang diyakininya bahwa manusia
akan dapat menguasai alam?

"Tidak diragukan lagi, manusia dengan ilmu
dan teknologinya telah mencapai kemajuan yang
luar biasa. Sekali peristiwa terjadi di ujung dunia,
pada saat yang sama dapat dimonitor pada ujung
dunia yang lain. Sekali gagang telpon diangkat,
komunikasi antarbenua dapat terlaksana.

Manusia telah berhasil melakukan cangkok ginjal,
cangkok jantung dan bahkan mampu menggandakan
makhluk hidup dengan cara cloning.

Berbagai penyakit berbahaya seperti TBC, infeksi,
raja singa bisa diatasi. Manusia merasa semakin
maju ilmu pengetahuan dan teknologinya,
semakin kecil masalah yang tidak bisa diatasinya,
sehingga pada suatu saat akan sampai pada batas
di mana semua masalah akan dapat diatasi.

"Tetapi apa yang terjadi tidaklah demikian.
Batas di mana manusia ingin mencapainya
ternyata selalu mundur sejalan dengan kemajuan
yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Suatu masalah
dapat ditangani, masalah lain muncul.

Demikianlah! Maka selamanya manusia tidak
akan dapat mencapai batas itu. Ilmu pengetahuan
tidak dapat mendeteksi kapan persisnya gempa
terjadi. Kalau pun bisa mendeteksi, tetap saja
ilmu pengetahuan tidak dapat menolak terjadinya
gempa. Demikian pula untuk selamanya manusia
tidak akan melepaskan diri dari ketuaan dan
kematian. Kenyataan ini menyadarkan dia sebagai
makhluk lemah. Membawa dia kepada keyakinan
akan adanya suatu Dzat yang kuasa sepenuhnya,
yang dapat mengobati segala penyakit.

Yang dapat menghidupkan dan mematikan. Yang
tidak terbatas kekuasaannya. Tidak terpengaruh
oleh waktu. Yang kekal abadi tidak terkalahkan
oleh kematian, sebab Dialah pencipta kematian.
Dialah Tuhan! Dialah Allah,Tuhan seru sekalian
alam.

"Jadi hanya orang gila yang mengatakan
Tuhan telah mati atau telah sirna. Sebagaimana
sejarah mencatat Nietzsche pada akhirnya adalah
gila. Dia mati mengenaskan dalam keadaan gila!
Tak ada yang membantah kenyataan ini. Maka
agar kalian tidak gila, kalian jangan mengikuti
Nietzsche!"

Mendengar penjelasan Ayyas, peserta seminar
terpana. Semuanya disihir suara Ayyas yang
runtut dan lantang.

"Dan camkanlah wahai hadirin sekalian yang
saya hormati," Ayyas melanjutkan penjelasannya
sebelum menutup kalimatnya,"camkanlah baik-baik,
dan ini yang terpenting untuk kita renungkan
bersama. Camkanlah! Benar bahwa beberapa
waktu yang lampau, si Gila Nietzsche
mengatakan, TUHAN TELAH MATI. Sekali 1
agi dia mengatakan, TUHAN TELAH MATI.

"Saat berkata, TUHAN TELAH MATI,
NIETZSCHE MASIH HIDUP. Tapi hari ini, saat
kita seminar di sini, bukti ilmiah telah kita saksikan,
ketahui dan rasakan sendiri, bahwa hari
ini, NIETZSCHE TELAH MATI,
SEDANGKAN
TUHAN MASIH HIDUP DAN MELIHAT
KITA SEMUA. Bahkan Tuhan masih melimpahkan
kasih sayang-Nya kepada kita semua
di sini, tak terkecuali kepada Victor Murasov
yang terang-terangan menghina dan
mengingkari-Nya!"

Tepuk tangan hadirin semakin bergemuruh.
Para panelis ikut bertepuk tangan, tanda setuju,
kagum dan terpana pada kalimat Ayyas yang begitu
menukik, lugas, tegas, dan... garang! Doktor
Anastasia Palazzo paling keras tepuk tangannya.
Pakai berdiri segala. Dan tanpa dikomando, seluruh
peserta seminar ikut bertepuk tangan dan
berdiri mengikuti Doktor Anastasia Palazzo.

Standing aplous yang panjang! Hanya Victor
Murasov yang tidak bertepuk tangan. Ia nampak
salah tingkah, akhirnya ia ikut berdiri dan bertepuk
tangan juga, meski itu pelan dan terpaksa.

Sementara Ayyas semakin bersemangat
mendapat apresiasi luar biasa seperti itu. Ia
samasekali tak menduganya. Ia tak mau menyianyiakan
momentum yang dahsyat itu. Ia segera
menutup kalimatnya dengan ujung puisi yang
dibaca dengan lantang dan bertenaga. Persis, seperti
saat ia membaca puisi di ajang pengucapan
puisi tingkat dunia atau worldpoetryreading, yang
pernah diikutinya di Kuala Lumpur, Australia,
Belanda dan Jerman,

"Sekarang ia mengaum bagai hewan buas
Sebentar kemudian bagai anak kecil
Ia merengut kelu."

Begitu Ayyas menyelesaikan huruf
terakhirnya. Hadirin semakin bergemuruh. Ruangan
itu bergetar. Forum itu sepenuhnya milik
Ayyas. Ia telah menaklukkannya dengan sempurna.

Standing aplous semakin panjang. Hati
Anastasia Palazzo bergetar hebat. Doktor muda
itu sampai berkaca-kaca. Yang paling merasa
kerdil dan ditelanjangi saat itu adalah Viktor
Murasov. Hatinya sangat marah pada makhluk
yang bernama Ayyas, yang entah datang dari
mana tiba-tiba membuatnya bagai anak kecil
yang merengut kelu.

Seminar berjalan hangat-hangat panas, namun
lancar, dan hidup. Banyak pertanyaan ditujukan
kepada Ayyas, dan Ayyas menjawab satu per
satu pertanyaan yang diajukan padanya dengan
baik. Viktor Murasov tidak lagi berani mengaum
penuh percaya diri. Ia penuh perhitungan
menyampaikan kata-katanya. Mentalnya telah
habis dibabat Ayyas yang datang sebagai pembicara
dengan tanpa beban apa pun.

Ketika seminar selesai. Ayyas berdiri hendak
meninggalkan tempat duduknya. Dan tanpa ia
duga samasekali. Doktor Anastasia Palazzo,
memeluk dan mencium pipi kiri dan pipi
kanannya dengan sangat cepat.

Kejadian itu terjadi begitu saja dengan sangat
cepat. Kecepatannya, bisa jadi melebihi kecepatan
kereta api paling cepat di dunia. Ayyas
samasekali tidak punya kesempatan menghindar
apalagi mencegahnya. Tahu-tahu, bibir Anastasia
sudah mendarat di pipinya. Beberapa orang
mengabadikan kejadian itu. Ia sangat malu dan
marah. Ia ingin marah sejadi-jadinya pada Doktor
Anastasia, tapi ratusan orang yang masih ada di
situ sedang memerhatikannya. Setelah menciumnya,
dengan sesungging senyum penuh arti,
Doktor Anastasia mengeloyor pergi begitu saja.

Sementara itu, Prof. Dr. Lyudmila juga mencium
pipi kanan dan pipi kiri Viktor Murasov. Bagi
orang Rusia, itu ciuman yang biasa saja, tidak
ada istimewanya. Tapi bagi Ayyas, itu sungguh
suatu petaka yang tidak diinginkannya. Petaka
yang akan terbawa hingga ke akhirat sana. Sebab,
Anastasia samasekali tidak halal baginya.
Anastasia bukan istrinya, juga bukan
mahramnya.

Malam itu, Ayyas tidak bisa tidur. Ciuman
Anastasia Palazzo terus terasa di pipinya. Bahkan
masih terasa hangatnya di seluruh syaraf dan hatinya.
Kejadian tadi siang benar-benar membuatnya
gelisah. Itu adalah untuk pertama kalinya ia
dicium oleh seorang perempuan yang bukan
mahramnya. Ia tidak merasa bahagia, tapi ia malah
merasa berdosa.

Ia merasa tidak hanya pipinya yang ternoda,
tapi seluruh tubuhnya ternoda. Sebab, ia merasakan
seluruh tubuhnya langsung bergetar saat
Anastasia tiba-tiba menceploskan ciumannya begitu
cepat. Dan ia merasa bahwa itu adalah getaran
dosa.

Ia berharap, perempuan bukan mahram yang
pertama kali menciumnya adalah istrinya. Ya, istrinya
yang sah. Dan ia berharap, yang jadi istrinya
adalah Ainal Muna yang pernah dipinangnya.

Begitu selesai masternya, ia akan
kembali mendatangi Ainal Muna, dan ia berharap
gadis itu tetap setia menunggunya. Meskipun ciuman
Anastasia itu bukan karena keinginannya,
dan mendarat begitu saja tanpa bisa ia antisipasi
sebelumnya. Toh, Ayyas tetap saja merasa dirinya
tidak suci lagi. Sudah ada yang menodai dirinya,
yaitu gadis Rusia bernama Anastasia.

Ia merasa telah mengkhianati Ainal Muna
dengan tidak sengaja. Ia tidak bisa membayangkan
jika Muna melihat kejadian itu, pasti
Muna akan sangat cemburu. Sama seperti dirinya
jika melihat Muna tiba-tiba dicium oleh lelaki
lain yang Muna juga tidak mengharapkannya
seperti dirinya, ia tetap akan cemburu.

Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah dirinya
masih layak menjadi pendamping Ainal Muna.
Dirinya yang selama ini hidup di Moskwa, satu
apartemen dengan Yelena dan Linor. Dirinya
yang pernah melihat aurat Linor saat berbuat zina
seperti binatang jalang dengan Sergei. Dirinya
yang pernah melihat Yelena yang seringkah berpakaian
terbuka di ruang tamu apartemen.

Meskipun semua itu tidak ia inginkan, dan
samasekali tidak ia nikmati. Apakah dirinya yang
penuh dosa ini tetap layak mendampingi Muna.
Ayyas meneteskan airmata. Ia teringat firman
Allah yang menegaskan, lelaki yang buruk untuk
perempuan yang buruk dan lelaki yang baik untuk
perempuan yang baik. Ia beristighfar berkalikali.
Ia lalu bangkit, mengambil wudhu, dan shalat.
Dalam sujudnya ia menangis sejadi-jadinya
kepada Allah. Ia meminta agar dosa-dosanya
diampuni semuanya, dan agar ia diberi kekuatan
untuk terus istiqamah mengamalkan ajaran Islam
yang mulia.

Tidak ada kesejukan yang ia rasakan dikala
susah dan gelisah, melebihi sejuknya jiwanya
tatkala menangis dalam sujud kepada Allah Yang
Maha Mengampuni segala dosa hamba-Nya.

***
Di apartemennya yang terletak tak jauh dari
Galeri Tretyakov, Anastasia Palazzo juga tidak
bisa tidur malam itu. Gadis yang sudah meraih
gelar doktor itu tiduran di atas kasurnya sambil

tersenyum sendiri. Ia merasa bahagia memiliki
keberanian itu. Ya, keberanian mencium pemuda
yang dikaguminya, yaitu Ayyas.

Meski mendarat dengan cepat, itulah ciuman
yang ia lakukan dengan penuh kesadaran akal
pikirannya. Itulah ciuman yang ia lakukan
dengan sepenuh jiwa dan perasaan. Ia merasa
tidak pernah melakukan ciuman sesadar dan
sepenuh jiwa seperti itu.

Dulu, ketika masih sekolah di sekolah menengah,
ia pernah memiliki teman lelaki yang
sangat akrab, yang kemudian menjadi kekasih
hatinya. Ia pernah berciuman dengannya. Tetapi
itu adalah ciuman cinta monyet. Ia merasa saat
itu tidak melakukan ciuman dengan segala
kesadaran, akal sehat, dan sepenuh rasa.

Tadi siang, ia telah mencium pemuda itu
dengan penuh kesadaran, dengan sepenuh jiwa
dan cintanya. Dan meski dilakukan dengan ekstra
cepat, ia yakin akibat yang ditimbulkannya tidaklah
biasa. "Entah apa yang dirasakan Ayyas sesudah
kucium dengan sepenuh jiwa. Aku yakin ia
akan mengingatnya sepanjang masa," gumamnya
dalam hati. Gumam kebahagiaan tiada tara, yang
hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan Sang
Pencipta manusia.

Amboi, sengaja memang Ananstasia melakukan
ciuman itu dengan cepat, agar Ayyas tidak
punya kesempatan berpikir menolaknya. Ketika
ciumannya telah dirasakan Ayyas,

Anastasia sangat yakin Ayyas akan terus mengingatnya,
tidak akan melupakannya. Ia juga
yakin, malam ini Ayyas takkan bisa tidur karenanya.

Ia yakin akan itu semua, karena ia merasa
telah menciumnya dengan sepenuh jiwa. Kata seorang
filsuf, sesuatu yang datangnya dari jiwa
akan sampai ke jiwa, dan akan diterima oleh
jiwa.

Ia akan melihat kebenaran apa yang ia yakini
besok pagi, ketika bertemu dengan Ayyas. Jika
pemuda itu bertemu dengannya dengan muka dan
tingkah laku biasa-biasa saja, seolah tidak ada sesuatu,
maka keyakinannya itu salah. Pemuda itu
hanya menganggap ciumannya tak ada arti
istimewanya, itu sama dengan ciuman yang
dilakukan banyak orang ketika bertemu dengan
teman atau kerabatnya.

Tetapi jika Ayyas menjadi gugup dan kikuk
padanya, dan mukanya memerah saat berhadapan
dengannya, maka ia bisa memastikan, ciumannya
memberikan pengaruh yang kuat dalam jiwanya.
Dan ia akan merasa tidak sia-sia memberikan
ciumannya.

Anastasia kembali tersenyum. Senyum
kemenangan yang tak terperikan. Ia kembali
teringat dialognya dengan Ayyas di stolovaya itu.
Saat ia menceritakan semua masalahnya berkenaan
dengan ibunya yang datang memintanya
menikah dengan Boris Melnikov. Ia teringat bagaimana
Ayyas begitu menganggap remeh masalahnya.
Ia ingat betul dialog itu.

"Menurutku masalah Doktor sangat remeh,
bukan masalah besar?" Kata Ayyas dengan tenang,
santai dan tanpa beban.

"Masalah yang remeh? Apa maksudmu?"

"Doktor hanya perlu menikah segera dengan
lelaki yang Doktor pilih, maka masalah Doktor
selesai. Ibunda Doktor tidak akan meminta hal
yang macam-macam dan si Boris
Melnikov dan keluarganya juga tidak akan
macam-macam. Ibunda Doktor meminta Doktor
menikah dengan A atau B atau C, itu karena melihat
Doktor tidak juga menikah, dan belum
memiliki pilihan yang jelas. Itu masalahnya."

"Jadi aku harus menikah?"

"Ya untuk kasus Doktor, saya katakan,
menikahlah sebelum Anda dipaksa menikah!"

"Jadi begitu menurutmu?"

"Ya." Ayyas menjawab dengan tegas.

"Ya, aku akan segera menikah. Dan aku akan
minta engkau menikahiku, agar semua orang di
dunia tahu, aku sudah punya suami. Sehingga
tidak ada lagi yang menggangguku. Ibuku tidak
akan bingung lagi mencarikan jodoh. Dan Boris
Melnikov tidak akan mengharapkan lagi aku
menjadi istrinya. Sebab aku sudah punya suami!"

Gumam Anastasia pada dirinya sendiri dengan
mata berbinar-binar.

"Bagaimana kalau pemuda itu tidak mau?"

Tiba-tiba ada suara dari relung hatinya yang lain.

"Ah aku tidak percaya kalau dia tidak mau.
Bukankah dia yang pernah memuji diriku dengan
mengatakan, diriku ini memiliki perpaduan
kecantikan Tsarina Rusia dan wibawa Kaisar
Roma. Dia bahkan mengatakan, jika aku gugup
mukaku memerah, sehingga kecantikan tsarina
tercantik pun lewat. Aku sangat yakin dia pasti
diam-diam telah jatuh hati padaku!" Gumam
Anastasia dengan bangga pada dirinya sendiri.

Anastasia merasa malam itu terasa indah,
sangat indah malahan. Sehingga ia susah
memejamkan mata. Ia ingin pagi hari segera tiba,
sehingga ia bisa segera bertemu dengan pemuda
yang memiliki karakter yang memikat hatinya
itu. Ia ingin segera bertemu Ayyas, dan menyampaikan
apa yang ia rasakan dengan penuh kejujuran.
Ia tidak ingin menutup-nutupi apa yang
dirasakannya.
Tika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir
apa yang harus dikerjakannya. Sedangkan
orang yang berakal akan berpikir apa yang akan
dilakukan Allah kepadanya." Kata-kata Ibnu
Athaillah itu kembali berdengung-dengung di
telinganya begitu ia terbangun dari tidurnya.

la melihat jam. Ia beristighfar. Waktu untuk
melaksanakan shalat Subuh tinggal seperempat
jam saja. Jika tidak cepat-cepat ia bisa kehilangan
waktu yang penuh barakah itu. Tadi malam, ia
akhirnya baru bisa tidur menjelang pukul tiga
dini hari. Ia merasa Allah menolongnya dengan
tetap bisa bangun dan masih bisa mengerjakan
shalat Subuh tepat pada waktunya, meskipun kali
ini tidak di awal waktu.

Usai shalat Subuh, seperti biasa, ia membaca
Al-Quran, zikir pagi, dan kali ini membaca kitab
kecil tipis berjudul "NahwalMdaali"'yang ditulis
dengan bahasa yang indah oleh Syaikh
Muhammad Ahmad Al Rasyid. Ada sebuah sajak
yang indah di sana:

Kuatkan ikatan tekad
angkat tinggi-tinggi bendera harapan
berjalanlah menuju Allah
dengan sungguh-sungguh, tanpa lelah
jika rasa lemah menyerangmu
isi jiwamu dengan kekuatan Al-Quran
libas nafsumu, jangan kasih ampun
nafsu selalu mengajakmu menuju kebinasaan.

Sajak pendek itu seolah memberinya harapan
dan kekuatan. Ia harus tegas menguatkan tekad.
Ia harus kembali mengangkat bendera pengembaraannya
menuju Allah. Ia tidak boleh lemah
hanya karena ciuman seorang Anastasia. Dan ia
tidak boleh memberi ampun sedikit pun kepada
hawa nafsunya. Ya hawa nafsunya yang telah
membuat seluruh syarafnya bereaksi ketika dicium
oleh seorang Anastasia Palazzo. Ia langsung
menguatkan azam dan berjanji akan melibas
habis nafsu yang hendak melemahkan jiwanya
dan menyeretnya ke jurang kebinasaan.

Langkah pertama kali yang ia tempuh adalah
tidak memberi harapan sedikit pun kepada nafsunya
untuk mengindera segala hal yang berkaitan
dengan Anastasia. Jika ia memberikan satu lubang
jarum saja kepada nafsunya untuk mengindera
segala hal yang ada hubungannya dengan
Anastasia, ia merasa nafsunya akan menang dan
ia akan melemah kalah.

Sebab, ciuman itu, meskipun tidak ia harapkan
dan samasekali tidak ia duga, telah meninggalkan
virus yang kini masih bercokol di dalam hatinya.
Dan istighfarnya yang beratus-ratus kali itu, ia rasakan
belum mampu membersihkan virus tersebut
di dalam hatinya. Tak ada jalan lain untuk
selamat baginya kecuali ia harus melibas habis
nafsunya, tanpa ampun.

Ayyas terus membaca baris demi baris dan
halaman demi halaman buku tipis itu. Hari ini ia
menjadwalkan untuk menghabiskan buku itu.
Setelah itu ia akan membaca ulang kitab Adabud
Dunya Wad Din yang tulis oleh Imam Al
Mawardi. Ia rindu sekali membaca kitab itu.

Kitab yang memang ia siapkan untuk menemaninya
selama di Moskwa. Ia rindu pada nasihat
dan pendapat brilian pakar fikih yang bijaksana
itu.

Pagi itu sampai agak siang Ayyas tidak keluar
dari kamarnya. Ia asyik membaca. Ketika alarm
di ponselnya berdengking-dengking, ia menutup
bukunya dan bangkit shalat. Itu adalah waktunya
shalat Dhuha. Setelah itu ia kembali membaca.
Ketika ia merasa agak jenuh, ia melakukan
olahraga ringan di kamarnya. Ia melakukan olah
pernafasan, lalu sedikit memainkan jurus Thifannya.
Ia samasekali tidak sadar, ada kamera yang
memantaunya, dan ada sepasang mata yang melihat
kegiatannya.

Ketika sedang asyik berolahraga dengan
memainkan jurus-jurus bela diri yang dikuasainya,
seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia
menghentikan kegiatannya dan membuka pintu
kamarnya. Wajah perempuan tua yang gemuk
muncul di hadapannya.

"Kau pasti belum makan pagi. Ayo makan
bersama kami. Aku sudah siapkan teh panas, sup
borsh, kentang rebus, dan cyorni khleb (roti
hitam). " Bibi Margareta berbicara dengan wajah
cerah, dan matanya.yang kebiruan nampak
berbinar.

"Dengan senang hati, Bibi." Jawab Ayyas.
Bibi Margareta kemudian melangkah mengetuk
pintu kamar Linor. Ia juga menawarkan hal yang
sama pada Linor. Nampaknya Linor juga tidak
keberatan. Ayyas membersihkan mukanya, dan
merapikan pakaiannya lalu keluar kamar. Linor
juga keluar dari kamarnya, dengan pakaian yang
sopan. Kaos lengan panjang berwarna coklat
muda, dan celana santai berwarna putih gading.
Linor berwajah cantik, hanya saja nampak dingin
dan keras. Jika ia membuang tampang dingin dan
kerasnya itu, maka mukanya adalah jenis muka
yang sangat sedap dipandang siapa saja.

"Bibi Margareta, Mana Yelena?" Tanya Linor
datar.

"Masih di kamarnya, mungkin masih mandi."
Jawab Bibi Margareta.

"Apa dia sudah benar-benar pulih?" Tanya
Ayyas.

"Aku rasa dia sudah benar-benar pulih. Hanya
tangannya yang patah itu kelihatannya masih
merasakan sedikit sakit. Ia sering mengeluh
tentang tangannya yang patah."

"Aku rasa tangannya sebentar lagi pulih. Ia
ditangani dokter bedah tulang terbaik yang biasa
menangani para pemain Spartak jika cedera patah
kaki atau lainnya." Sahut Linor.

"Kau tidak kerja hari ini?" Tanya Ayyas pada
Linor.

"Satu jam lagi aku berangkat. Aku ada rapat
redaksi."

"Kantormu di mana letaknya?"

"Di daerah Leninsky Prospekt. Ada gedung
berarsitektur metropolis, terlihat banyak kaca dan
tiang-tiangnya dilapisi stainless itu kantor saya.
Kau sudah baca koran hari ini?"

"Belum. Kau sudah?"

"Belum juga. Cuma aku sudah membaca sebagian
besar headline koran di internet. Seminarmu
kemarin dimuat di beberapa koran. Koran Pravda
sangat menyanjung kamu, dan mengkritik habis
Viktor Murasov."

"Seminar kemarin memang layak jadi berita
besar," tiba-tiba Yelena menyahut dari depan
pintu kamarnya. Ayyas tidak melihat kapan
Yelena membuka pintu dan keluar dari
kamarnya. "Victor Murasov yang diidolakan banyak
anak muda itu samasekali tak berkutik.

Bintangnya kalah terang dengan bintangmu."

Lanjut Yelena sambil memandang Ayyas.

"Bibi, kau masih sibuk apa di dapur?" Yelena
berkata lagi.

"Ini, membuat omelet." Sahut Bibi Margareta.

"Cepatlah sedikit Bibi, ayo kita makan bersama."
Kata Yelena.

"Kalian duluan saja. Mulai saja." "Ayo kita
mulai." Pelan Yelena.

Yelena mengambil cyorni khleb atau roti
hitam dan menyantapnya dengan sup borsh.

Linor memasukkan sekerat kentang rebus ke mulutnya.

Ayyas menyendok sup dari mangkuk kecil
di hadapannya dan menyeruputnya pelan. Sup
itu memang khas Rusia. Diseruput saat masih
panas di musim dingin sungguh nikmat.

"Kelihatannya kau sangat mengusai filsafat
dan sejarah filsafat?" Gumam Linor sambil
memandang Ayyas. "Hanya pernah belajar saja."
Jawab Ayyas.

"Argumentasimu kemarin semakin membuatku
percaya bahwa Tuhan itu ada. Selama ini
aku meyakini seperti yang diyakini oleh Viktor
Murasov. Dia termasuk orang yang pikiran-pikirannya
aku gemari, tetapi ternyata aku keliru
mengikuti pikirannya."

"Kalau Viktor Murasov benar mengagungkan
ilmu pengetahuan. Justru ilmu pengetahuan itu
mengukuhkan keberadaan Tuhan. Setiap saat
selalu ada penelitian ilmiah yang membuktikan
besarnya kekuasaan Allah. Bukti-bukti ilmiah
yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah
sudah tidak terhitung lagi." Ayyas menghentikan
aktivitas menyeruput sup itu demi merespons
kata-kata Yelena.

"Kemarin, kalau aku tidak salah menangkap,
kau menyinggung tentang jenis-jenis athéisme,
selain athéisme yang dibawa oleh Nietzsche
yang kemudian ditiru oleh Viktor Murasov. Benar?"
Ujar Yelena.

"Benar. Yang dikemukakan Nietzsche itu
jenis athéisme optimisme. Selain, itu ada
athéisme materialisme, athéisme psikologi,
athéisme marxisme, athéisme eksistensialisme,
dan athéisme neo positivisme."

"Aku perlu penjelasan tentang macam-macam
athéisme itu darimu, agar aku mengerti dan tidak
terjebak pada cara berpikir yang salah lagi. Bisa
kaujelaskan?"

"Bisa. Jadi, sebenarnya athéisme yang paling
kuno adalah..."

Tiba-tiba Linor memutus, "Tahan sebentar,
saya harus ke kamar sebentar. Tolong ditahan
sebentar saya juga ingin mendengar keterangan
itu. Sebentar saja ya!" Linor langsung bergegas
ke kamarnya. Ternyata di kamarnya, tanpa sepengetahuan
yang lain ia sedang mempertajam alat
sadapnya. Ia ingin merekam semua yang
dikatakan Ayyas untuk nanti bisa dianalisis orang
seperti apa Ayyas sebenarnya. Setelah yakin bahwa
ia akan bisa merekam dengan baik, ia kembali
ke ruang tamu.

"E, sudah bisa dilanjutkan." Ucap Linor sambil
duduk dan kembali mengambil kentang rebus.
Ayyas menarik nafas terus menjelaskan,

"Kemarin sudah saya jelaskan, Nietzsche termasuk
pemikir yang terjebak dalam athéisme,
yaitu pemikiran yang mengingkari adanya Tuhan.
Nietzsche mengatakan Tuhan telah mati. Saya
tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana Nietzsche
bisa sampai mengatakan begitu, kemarin sudah
saya jelaskan cukup panjang. Juga sudah
saya jelaskan kesalahan pemikiran dan keyakinan
seperti itu.

"Dan sebenarnya jenis atheisme yang paling
kuno adalah atheisme materialisme. Ini adalah
jenis atheisme yang paling tua. Sudah ada sejak
kuno dulu. Dan pernah berkembang di zaman
Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah.

"Menurut orang-orang atheisme materialisme,
wujud segala sesuatu didasarkan pada materi.
Materi adalah segala sesuatu yang bisa ditangkap
oleh indera manusia. Bisa diketahui adanya
dengan diraba, dipegang, disentuh, dicium, ditangkap,
dilihat dan seterusnya. Kursi itu ada karena
manusia bisa menyentuhnya, bisa merabanya.

Udara itu ada karena udara bisa dihirup dan
dirasakan gerakannya, semilirnya, hembusannya.
Cahaya itu ada karena bisa dilihat. Garam dalam
kuah bakso itu ada karena bisa dirasa oleh lidah.

"Menurut mereka, hakikat alam ini adalah materi
atau benda. Jiwa dan pikiran adalah materi
juga, hanya sangat halus berbeda dengan materi
yang lain. Dan menurut mereka segala yang tidak
materi itu tidak ada. Tuhan bukan materi, Tuhan
bukan benda jadi Tuhan tidak ada. Karena wujud
Tuhan tidak bisa dilihat, ditangkap, diraba, disentuh,
dirasa, dan diindera oleh manusia.

"Orang-orang yang berpikiran seperti itu sudah
ada sejak zaman Nabi Muhammad berdakwah
di Makkah. Al-Quran, dalam surat Al Jaatsiyah
menjelaskan, bahwa di Makkah ada
sekelompok golongan yang tidak percaya adanya
Tuhan dan hari kiamat. Mereka mengatakan: 'Kehidupan
ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada
yang membinasakan kita selain masa!”

"Perkataan mereka, 'Kehidupan ini tidak lain
hanyalah kehidupan di dunia saja,' adalah pengingkaran
kepada kehidupan hari kemudian, hari
di mana manusia dibangkitkan dari kematian.

Kenapa mereka tidak percaya? Karena itu tadi,
mereka berlandaskan pada materi yang bisa dilihat,
diraba dan diindera. Menurut mereka alam
itu ya alam dunia ini yang pada hakikatnya adalah
materi. Di dunia inilah terjadi kehidupan dan
kematian. Tidak ada alam selain dunia ini.

Kematian dan kehidupan menurut mereka terjadi
begitu saja sesuai hukum alam. Menurut
mereka, mereka mati begitu saja. Yang
mematikan adalah masa atau waktu. Mereka
mengatakan, 'Tidak ada yang membinasakan kita
selain masaV Ini berarti, secara terang-terangan
mereka tidak mengakui adanya Tuhan yang
berkuasa menghidupkan dan mematikan.

'Itulah atheisme materialisme. Paham atheisme
yang paling tua. Paham ini mencuat kembali pada
abad ke-17 dan ke-19. Di antara tokohnya yang
terkenal adalah Kari Vogt, Huxely, Lamettra.
Kart Vogt pernah berkata, otaklah yang melahirkan
kehidupan ini. Otak melahirkan pikiran
sebagaimana ginjal melahirkan air seni. Maksudnya,
tidak ada wujud selain daripada materi.
Tuhan bukan materi, kata Vogt. Jadi ia tidak
ada."

Ayyas berhenti sejenak. Yelena meneguk
tehnya, Linor mencelupkan kentang rebus ke
dalam sup borshnya.

"Ada lagi atheisme psikologi." Lanjut Ayyas.

"Atheisme psikologi? Agak aneh, baru kali ini
saya dengar? Di sastra Inggris dulu saya tidak
mempelajari hal seperti ini samasekali." Heran
Yelena.

"Bisa dikatakan aneh memang. Psikologi semestinya
menguatkan keimanan seseorang akan
keberadaan Tuhan. Karena psikologi adalah penjelajahan
perasaan, batin, dan jiwa manusia. Semakin
kenal manusia pada dirinya semestinya ia
semakin dekat dengan Tuhannya. Pepatah Arab
mengatakan, 'Man arofa nafsahu arofa Rabbahuf
Artinya, siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal
Tuhannya. Namun ternyata ada beberapa
ahli psikologi sesat yang menggunakan alasan
psikologi sebagai dalil mengingkari adanya
Tuhan."

"Misalnya siapa?" Sahut Yelena. Linor hanya
diam mendengarkan.

"Sigmund Freud dan Ludwig Van Feuerbach,"
jawab Ayyas.

"Itu nama yang tidak asing, sangat terkenal."
Gumam Yelena.

"Benar. Kita tahu keduanya ahli psikologi Jerman
pada abad ke-I9. Mereka berdua
mengingkari Tuhan dengan alasan psikologi.
Menurut mereka bertuhan adalah jiwa kekanakkanakan
yang dibawa hingga dewasa. Menurut
Freud, saat kecil manusia lemah. Ia mengalami
banyak kekurangan untuk memenuhi kebutuhannya.
Meja begitu tinggi bagi seorang bocah.

Ia tidak bisa menggapai benda di atasnya. Kursi
terasa berat, ia tidak kuat mengangkatnya. Ia melihat
ayahnya bisa melakukan apa saja. Mengambil
benda di atas meja. Mengangkat kursi. Begitu
mudah. Ia kagum pada ayahnya. Ayahnya ia lihat
mahakuasa. Ia menjadi sangat memerlukan ayah.

Ketika anak itu sudah dewasa ia menciptakan
Tuhan dalam benaknya. Tuhan yang ia sebut
dalam doanya untuk memenuhi keinginankeinginannya.
Persis waktu ia kecil dulu saat
minta ayahnya. Jadi Tuhan, menurut Freud, hanya
rekayasa manusia saja untuk ia jadikan tempat
bertumpu atas segala keinginannya. Freud mengingkari
adanya Tuhan dengan alasan seperti itu.
Agama menurut Freud dan Freuebach hanyalah
cerminan keinginan manusia."

"O, jadi Freud juga mengingkari adanya
Tuhan ternyata?"

"Ya, benar."

"Jenis atheisme berikutnya?

"Ini jenis atheisme yang tidak asing bagi kalian
orang Rusia, yaitu atheisme marxisme. Inilah
atheisme yang paling populer di abad modern ini.
Di negeri kalian inilah jenis atheisme ini pernah
jadi ideologi negara. Tentu saja kalian sangat
hafal pencetus atheisme ini adalah Karl Marx.
Kemudian diteruskan oleh Lenin, dikukuhkan
oleh Stalin, dan dilestarikan oleh para penerusnya.
Marxisme inilah yang melahirkan komunisme.

Dan pernah berkembang dengan kecepatan
luar biasa, sampai-sampai hampir sepertiga penduduk
dunia memeluknya. Di Indonesia ideologi
marxisme dan komunisme pernah hidup dan
berkembangan pesat. Ideologi itulah yang menjadi
jiwa Partai Komunis Indonesia atau PKI,
yang hampir meruntuhkan Republik Indonesia
dengan pemberontakan G 30/S PKI pada tahun
1965.

"Karl Marx membangun ideologinya yang
mengingkari Tuhan dengan menggabungkan
atheisme materialisme dan atheisme psikologi. Ia
terang-terangan memusuhi Tuhan dan memusuhi
agama. Ia mengatakan agama adalah candu
masyarakat. Ia menyerukan untuk memberantas
agama. Karena ia memandang agama adalah
khayalan manusia yang gagal membangun surga
di dunia, lalu ingin membangun surga di akhirat.
Surga di akhirat hanya khayalan belaka. Agama
merusak pikiran manusia. Begitu menurut dia.
Sebaliknya marxisme yang dia bawa mengajak
manusia mendirikan surga di dunia. Dunia adalah
segalanya, manusia harus membangun surganya
di dunia. Begitulah inti pemikiran Karl Marx."

"Masih ada dua macam ya kalau tidak salah?"
tanya Yelena.

"Ya, masih ada dua macam atheisme. Pertama
atheisme eksistensialisme, tokohnya bernama
Jean Paul Sartre dari Perancis, dan kedua atheisme
neo positivisme tokohnya Moritz
Schilck dan kawan-kawannya dari kelompok
pemikir Wina."

"Terus runtutan pemikiran atheisme eksistensialisme
dan atheisme neo positivisme seperti
apa?"

Ayyas mengerutkan keningnya. Ia diam
sebentar, kemudian berkata,

"Terus terang yang dua terakhir ini saya agak
lupa. Saya khawatir kalau menjelaskan nanti malah
salah. Saya tidak boleh asal bicara. Ini masalah
ilmiah, ada pertanggungjawaban ilmiahnya.
Untuk yang dua macam ini kaucari sendiri di
buku-buku bacaan. Yang jelas inti pemikiran
mereka sama dengan jenis atheisme yang
lainnya, yaitu tidak mengakui adanya Tuhan.
Tuhan dianggap khayalan manusia. Manusialah
yang menciptakan Tuhan dalam otaknya, bukan
Tuhan yang menciptakan manusia. Begitu
pemikiran dan keyakinan mereka!"

"Baiklah. Manusia memang terkadang lupa.
Tak apa. Sekarang kalau boleh, saya ingin tahu di
mana letak kesalahan masing-masing atheisme
itu? Kalau atheisme optimisme yang dicetuskan
oleh Nietzsche sudah runtuh, kauruntuhkan argumennya.
Dasar falsafahnya sangat lemah dan
jauh dari kebenaran. Sekarang bagaiman dengan
atheisme materialisme yang lain?" Yelena
menyela penjelasan Ayyas.

"Mari kita bahas satu per satu. Kita mulai dari
atheisme materialisme. Mereka meniadakan
Tuhan dengan alasan Tuhan bukan materi. Tuhan
tidak ada karena tidak bisa ditangkap panca indera,"
sahut Ayyas.

Ayyas kemudian melanjutkan penjelasannya,

"Alasan para penganut faham materialisme itu
sangat lemah. Pada kenyataannya manusia
mengakui adanya sesuatu yang bukan materi.
Misalnya hukum. Hukum itu non materi. Dan
hukum itu ada. Diakui semua manusia termasuk
para pengikut materialisme. Contoh lain adalah
ide. Siapa bisa mengindera ide? Ide diakui ada
begitu saja dalam pikiran manusia. Ide. Tapi ide
itu ada. Juga spirit. Spirit ada begitu saja, masuk
dalam jiwa manusia. Sama seperti ide, spirit tidak
bisa dilihat, disentuh, dicium atau dirasa dengan
panca indera. Tapi spirit itu ada, tak ada yang
mengingkarinya."

Yelena berhenti sejenak. Tangan kanannya
mencuil roti hitam dan memasukkan ke dalam
mulutnya. Sementara Linor tetap diam memerhatikan
dengan tetap menyantap hidangan makan
pagi itu pelan-pelan.

Ayyas menyambung,

"Contoh lainnya lagi 'waktu. Siapa bisa melihat
waktu? Waktu bukan benda. Bukan materi.

Tidak bisa ditangkap indera manusia. Dengan
kamera secanggih apa pun manusia tidak bisa
memotret waktu, bentuknya seperti apa. Sebab
waktu memang bukan benda, bukan materi. Tapi
waktu itu ada, tak ada yang menyangkalnya.
Otak manusia meyakini begitu saja waktu itu ada.
Jadi, banyak sekali hal-hal yang non materi yang
diakui keberadaannya oleh manusia. Jika mereka
bisa mengakui adanya hukum, ide, spirit dan
waktu yang bukan materi, yang tidak bisa ditangkap
panca indera, kenapa mereka
mengingkari adanya Tuhan? Jadi, alasan mereka
mengingkari adanya Tuhan itu sangat lemah.
Tuhan itu ada, sebagaimana waktu ada. Bahkan,
Tuhanlah yang menciptakan waktu dan segala
yang ada!"

"Kalau atheisme psikologi yang dibawa Freud
dan Feuerbach lemahnya dari sisi apanya, Ayyas?"
Gumam Yelena sambil mengunyah roti
hitam.

"Dari segala sisinya lemah. Dari awal sampai
akhir dasar falsafah mereka lemah. Kita tanya
pada anak-anak kecil di sekitar kita tentang
Tuhan, mereka akan menjawab Tuhan itu ada.
Jadi pengalaman psikologi seperti yang digambarkan
Freud sangat jauh dari kebenaran. Freud
menggambarkan, ketika orang sudah dewasa dia
menciptakan Tuhan dalam benaknya. Yaitu
Tuhan yang dia sebut dalam doanya untuk
memenuhi keinginan-keinginannya. Persis waktu
ia kecil dulu saat minta tolong ayahnya. Ini sungguh
gambaran yang sangat lucu sekali. Bagaimana
dengan orang yang sejak kecil telah
mengenal Tuhan, dan mengakui Tuhan itu ada?

Atau bagaimana dengan anak yatim piatu yang
tidak punya bapak dan tidak punya ibu. Hidup sebatangkara
sejak kecil, namun ketika dewasa
mengakui adanya Tuhan. Apakah Tuhan yang
diakuinya terlahir dalam benaknya sekadar untuk
memenuhi keinginan-keinginannya, persis waktu
ia kecil dulu saat minta tolong ayahnya. Bagaimana
ia punya pengalaman minta tolong pada
ayahnya padahal ia tidak punya ayah?"

Sampai di situ Ayyas berhenti sebentar. Ia
mengambil cangkirnya dan menyeruput tehnya
yang mulai dingin. Ia kembali angkat suara,

"Freud dan Feuerbach sama-sama meyakini
bahwa agama tak lain hanyalah cerminan
keinginan manusia. Karenanya, agama juga
khayalan otak manusia belaka. Pertanyaannya,
benarkah agama itu merupakan keinginankeinginan?
Kodrat manusia menghendaki terpenuhi
secara baik kebutuhan jasmani dan ruhaninya.
Nafsu seks manusia menghendaki perhenuhan
dengan wanita mana saja tanpa batasan
atau larangan. Demikian pula nafsu perutnya.

Tetapi agama melarang pemenuhan demikian.
Manusia wajib memenuhi tuntutan perut dan seksnya
dengan beberapa aturan. Manusia wajib
menjaga dorongan seksnya. Manusia tidak boleh
melampiaskan keinginan seksnya kecuali pada
pasangannya yang sah. Manusia tidak boleh mengisi
perutnya kecuali dengan yang halal. Manusia
harus mengerjakan shalat, puasa, membayar zakat,
shadaqah dan itu bukan suatu keinginan.
Tapi kewajiban dan tuntutan yang diajarkan
agama.

"Jika manusia merupakan keinginan, mengapa
banyak rasul yang membawa agama itu justru
menderita, disingkirkan, diteror, bahkan ada yang
dibunuh. Jika agama cerminan keinginan, seharusnya
semua rasul diterima dengan penuh
sukacita oleh kaumnya. Kenyataannya adalah sebaliknya.
Jadi tidak benar agama merupakan
keinginan-keinginan. Dan tidak benar anggapan
Tuhan hanya rekaan benak manusia. Tuhan
memang benar-benar ada. Dan agama yang benar
seperti Islam adalah agama yang diwahyukan
Tuhan. Bukan cermin keinginan-keinginan
manusia!"

"Berarti tinggal Karl Marx." Kata Yelena.

"Marx mendasarkan falsafahnya pada materialisme
dan pemikiran Freuerbach. Dan satu per
satu telah kita runtuhkan di depan. Kita tinggal
melihat alasan kebenciannya pada agama. Marx
mengatakan agama adalah candu yang meninabobokan
manusia kepada kehidupan khayali.

Pernyataannya itu tidak berlaku untuk semua
agama, terutama Islam. Islam itu tidak hanya
membangun kebahagiaan di akhirat, tetapi juga
kehidupan di dunia. Bahkan dunia ini dijadikan
sebagai ladang kebahagiaan akhirat.

"Rasul Islam yaitu Muhammad Saw. menyeru
kepada umatnya untuk bekerja keras membangun
kejayaan duniawi, sebagaimana menyeru umatnya
beribadah sebaik-baiknya untuk membangun
surga ukhrawi. Islam sendiri dengan terang dan
tegas memerintahkan pemeluknya agar berkerja
untuk dunianya seakan-akan mereka akan hidup
selamanya, dan beribadah untuk akhiratnya
seolah-olah^ mereka akan mati besok pagi!'

"Dalam hadis yang lain Rasul memberitahukan,
seseorang yang bekerja untuk anak-anaknya,
maka pahalanya sama dengan berjuang di
jalan Allah. Beliau juga menjelaskan, harta yang
diinfakkan untuk jihadfi sabilillah, harta yang digunakan
untuk memerdekakan budak, harta yang
diberikan pada fakir miskin dan harta yang dibelanjakan
untuk keluarga, di antara semua itu,
maka yang paling besar keutamaannya adalah
harta yang dibelanjakan untuk keluarga. Betapa
Islam mengajak manusia mencapai kebahagiaan
dunia.

"Lalu Rasulullah menegaskan, 'Dunia adalah
ladang akhirat!' Kaitan dunia dengan akhirat begitu
eratnya. Yang dipetik di akhirat adalah apa
yang ditanam di dunia. Tanpa keberhasilan seseorang
menempatkan dirinya di dunia ia tidak
akan berjaya di akhirat. Islam mengajarkan keseimbangan
dunia dan akhirat. Tidak boleh ada
yang timpang salah satunya. Begitu Islam
mengajarkan."

"Sudah cukup jelas. Penjelasanmu runtut dan
memaham-kan. Bahkan bisa membuat orang
terpana. Wajar kalau pembicara yang di sampingmu
yang cantik itu sampai menciummu begitu
kau selesai berbicara. Kelihatannya dia jatuh
cinta padamu. Siapa namanya? Anastasia Paz..
siapa... Pazzo?" Ujar Yelena sedikit meledek.

"Anastasia Palazzo." Linor membetulkan.

"Iya, Anastasia Palazzo! Kau dekat dengan dia
ya? Kau kelihatan akrab sama dia?" Goda
Yelena.

"Hanya kenal biasa saja." Jawab Ayyas.

"Kau suka sama dia?"

"Ah, itu bukan urusanmu. Iya kan?" Jawab
Ayyas sambil tersenyum. Tiba-tiba ia jadi ingat
pada Doktor Anastasia Palazzo. Dia mungkin
sedang menunggunya di ruang Profesor Torpskii
di kampus Universitas Negeri Moskwa atau biasa
disebut MGU.

Ayyas langsung ingat ikrarnya.

Ia harus menghajar nafsunya, dan melibasnya,
tanpa ampun. Ia tidak boleh memberi harapan
sedikit pun kepada nafsunya untuk mengindera
segala hal yang berkaitan dengan Anastasia.
Maka ia langsung mengalihkan pembicaraan
dengan menanyakan persoalan Yelena.

"Kau sudah menemukan jalan keluar untuk
persoalanmu?" Ayyas memandang Yelena
sekilas.

"Persoalan yang mana?" Yelena ganti
bertanya.

"Yang berkaitan dengan Olga Nikolayenko."
Yelena langsung ingat sesuatu. Ia hampir lupa.
Ia harus bergerak hari ini juga. Ia harus menjalankan
semua saran dan rencana Linor sebaikbaiknya.
Ia tidak boleh gagal jika ingin hidup
tenang dan merdeka di Moskwa. Maka dengan
mantap Yelena menjawab,

"Untuk persoalan itu, puji Tuhan, aku sudah
menemukan jalan keluar yang baik."

"Syukurlah jika demikian." Sahut Ayyas ikut
senang.

Siang itu Anastasia duduk termenung di stolovaya
Fakultas Sejarah. Ia duduk di kursi yang
biasa ia duduki jika makan siang bersama Ayyas.
Ia tidak mengambil makanan apa pun. Hanya
secangkir teh panas yang ada di hadapannya. Ia
kembali kecewa.

Siang itu adalah hari keempat Ayya.s tidak
datang ke MGU. Juga hari keempat Ayyas tidak
memberi kabar kepadanya, samasekali tidak
mengirim sms, tidak juga izin. Biasanya jika
tidak datang Ayyas memberitahunya, la sudah
mengirim sms, menanyakan kabar, dan tidak ada
balasan. Ia sudah berkali-kali menelpon tapi
nomor yang biasa Ayyas gunakan samasekali
tidak bisa dihubungi. Ia tidak tahu harus bagaimana
lagi. Ia ingin Ayyas datang dan ia ingin
menyampaikan apa yang telah membuncah
dalam hatinya dan ingin ia sampaikan kepada
Ayyas.

Tak jauh di depannya sepasang mahasiswa
makan berhadapan begitu mesra. Kelihatannya
mereka sepasang kekasih.

Sesekali bergurau dan tertawa. Anastasia ingin
Ayyas ada di hadapannya dan makan siang bersamanya.
Ia ingin melihat Ayyas tertawa. Ia baru
sadar selama ini ia belum pernah melihat Ayyas
tertawa lebar seperti dua mahasiswa itu. Yang ia
lihat dari Ayyas hanyalah senyum, atau tertawa
yang ditahan.

Anastasia mengambil cangkir tehnya. Ia hisap
teh yang masih hangat itu. Kehangatan teh itu
mengalir ke seluruh tubuhnya dan membuat
pikirannya terasa lebih hangat dan lebih terang.
Sekonyong-konyong ia melihat Bibi Parlova
datang. Pasti orang tua itu akan mengabarinya sesuatu.
Ia berharap memberi kabar, bahwa Ayyas
telah datang dan ada di ruang Profesor Tomskii.

"Masih mau berlama-lama di sini, Doktor?"
Tanya Bibi Parlova begitu ada di depan
Anastasia.

"Ada apa Bibi Parlova?" Anastasia balik
bertanya.

"Ada tamu penting."

"Siapa? Ayyas?"

"Doktor ini selalu saja tertuju pada anak muda
itu. Bukan. Bukan dia."

Jawaban Bibi Parlova membuat Anastasia kecewa
sekaligus malu. Ia jadi malu dianggap
selalu memikirkan anak muda itu. Sampai Bibi
Parlova mengatakan seperti itu. Tapi ia berusaha
bersikap biasa saja.

"Jadi siapa?"

"Dua orang lelaki dan perempuan. Mereka bilang
dari stasiun televisi pemerintah. Mereka saya
persilakan menunggu di ruang Profesor
Tomskii."

"Baik. Minta mereka menunggu sebentar. Aku
mau menghabiskan teh hangat ini dulu."

"Baik, Doktor." Ucap Bibi Parlova sambil
membenarkan letak kaca mata bundarnya. Perempuan
gemuk agak pendek itu lalu bergegas
meninggalkan stolovaya. Pakaiannya seperti
tidak pernah diganti. Ia memakai mantel tebal
cokelat tua, dan mengenakan kerudung kosinka
putih lazimnya perempuan tua di desa-desa
Rusia.

Anastasia Palazzo kembali meneguk teh
hangatnya. Ia masih bertanya-tanya kenapa Ayyas
tidak datang dan tidak memberinya kabar
samasekali? Apakah dia sakit? Kalau hanya sakit
kenapa tidak memberinya kabar seperti beberapa
waktu yang lalu? Atau sesuatu yang buruk telah
terjadi pada Ayyas yang menyebabkan dirinya
tidak sempat memberinya kabar? Ia berharap hal
itu tidak terjadi. Atau, dirinya tidak sengaja
melakukan kesalahan pada Ayyas dan Ayyas
marah padanya? Tapi kesalahan apa? Atau Ayyas
diam-diam juga jatuh hati padanya dan setelah ia
cium ia takut salah tingkah jika bertemu
dengannya?

Anastasia tersenyum, meskipun tidak yakin,
kemungkinan yang terakhir itulah yang kini terjadi
pada diri Ayyas. Ia pernah membaca sebuah
buku tentang tanda-tanda orang jatuh cinta, di
antaranya adalah berpura-pura menjauh tapi
sebenarnya ingin bertemu. Itulah yang kini terjadi
pada Ayyas, menurut analisis Doktor
Anastasia.

Ia memperkuat analisisnya itu dengan sebuah
keyakinan yang tumbuh di hatinya begitu saja,
bahwa pada saat cinta itu terbit di hatinya, cinta
itu juga terbit di hati Ayyas. Ia tidak mungkin
tidak jujur pada dirinya sendiri, bahwa ia entah
kenapa bisa jatuh cinta pada pemuda yang secara
fisik tidak istimewa itu. Tetapi ia mengakui, ia
jatuh cinta padanya. Dan ia yakin cintanya tidak
bertepuk sebelah tangan. Ia teringat puisi Jalaluddin
Rumi yang pernah dibacanya,

Apabila cinta ada di hati yang satu pasti juga
cinta itu ada di hati yang lain
karena tangan yang satu takkan bisa bertepuk
tanpa tangan yang lain.

Dengan mata berbinar dan hati berbunga
Anastasia bangkit dari kursinya. Ia sudah memutuskan,
jika sampai petang nanti Ayyas tidak
datang, ia akan mencari pemuda itu di
apartemennya. Ia memang belum pernah mengunjungi
aparteman Ayyas. Tapi ia yakin bisa
menemukannya. Alamat apartemen itu ada dalam
formulir resmi yang harus diisi Ayyas saat mengurus
administrasi pendaftarannya sebagai visiting
fellow.

Kini ia akan menemui orang-orang dari televisi
itu dulu. Ada apa, tiba-tiba mereka menemuinya?
Apakah akan ada wawancara seputar
sejarah? Atau pihak televisi mau membuat program
kerja sama dengan Fakultas Sejarah? Ada
banyak pertanyaan tiba-tiba keluar begitu saja
dari ubun-ubun kepalanya. Dan pertanyaan itu
akan segera terjawab ketika ia menemui dua orang
dari stasiun televisi itu.

"Dabro dent. (Selamat siang) Sapa Doktor
Anastasia begitu masuk ruangan Profesor Tomskii.
Dua orang dari sebuah stasiun televisi itu
langsung bangkit dari duduknya dan dengan
suara hampir bersamaan menjawab, "Dabro dent”
Setelah berjabat tangan mereka bertiga duduk.

"Yah kami dari stasiun televisi pemerintah.
Kenalkan saya Andreyev, dan ini teman saya
Mariana. Kami datang untuk sedikit merepotkan
Doktor Anastasia Palazzo." Lelaki muda
berbadan subur dan berkaca mata tebal memperkenalkan
dirinya dan temannya, seorang perempuan
yang juga muda bermuka lonjong, berhidung
mancung, tapi berbibir tebal.

"Apa yang bisa saya bantu?" Kata Anastasia
tenang.

"Kalau tidak salah Anda yang beberapa hari
lalu jadi pembicara di seminar tentang
ketuhanan?" Perempuan muda bernama Mariana
membuka suara.

"Benar. Saya salah satu pembicaranya."
"Pembicara yang lain kalau tidak salah dari Indonesia.
Dan dia jadi pembicara atas rekomendasi
Doktor Anastasia. Benar?" Tanya Mariana
lagi.

"Iya benar. Kenapa kalian menanyakan itu?"

"Tidak apa-apa. Hanya untuk meyakinkan
saja. Begini Doktor Anastasia Palazzo. Kami
mempunyai acara yang kami beri judul "Rusia
Berbicara". Doktor pasti tahu itu. Itu adalah acara
live berbentuk talk show membicarakan banyak
hal yang sedang hangat dan layak diperbincangkan
di Rusia. Acara seminar kemarin itu
ternyata mendapat pemberitaan yang luas di
koran-koran, dan banyak pemirsa meminta kami
menghadirkan para pembicara seminar dalam
acara talk show kami." Mariana menjelaskan
dengan kedua mata tidak lepas memandangi wajah
Doktor Anastasia.

"Ooo itu bagus." Anastasia merespons.

"Kedatangan kami ini, pertama kami minta
kesediaan Doktor Anastasia Palazzo menjadi
nara sumber di acara talk show itu. Dan yang kedua,
kami minta bantuan Doktor Anastasia
Palazzo untuk bisa menghadirkan pembicara dari
Indonesia itu. Sebab kami samasekali tidak tahu
kontak dan alamatnya. Atau Doktor Anastasia
membukakan jalan, nanti kami yang menindaklanjutinya
secara profesional."

"Boleh. Saya akan bantu. Kapan rencana
acaranya?"

"Tiga hari lagi."

"Mepet sekali."

"Untuk tema-tema hangat selalu begitu Doktor.
Kalau kita menunggu lebih lama lagi, sudah
terlanjur basi. Dan acara itu tidak akan
mendapatkan perhatian yang bagus dari
pemirsa." Kali ini Andreyev yang menjawab.
"Baik. Saya paham."

"Kami berharap besok siang semuanya sudah
pasti. Artinya kami sudah mendapat kejelasan
mengenai pembicara dari Indonesia itu."
Andreyev memberikan penegasan.

"Saya akan usahakan." Kata Anastasia mantap
dengan wajah cerah. Kini ia punya alasan yang
sangat kuat kenapa harus mendatangi apartemen
Ayyas, jika sampai nanti petang anak muda itu
tidak juga datang.

Ia yakin, Ayyas pasti akan sangat senang
mendengar berita yang akan disampaikannya.
Hati Anastasia bertambah harus dipenuhi bunga-
bunga kebahagiaan. Dalam hati ia mengucap puji
syukur kepada Tuhan. Ia semakin yakin bahwa
rasa cintanya ini memang dikaruniakan oleh
Tuhan. Dan Tuhan begitu indah mengaturnya.
Tuhan mendatangkan dua orang dari stasiun televisi
itu untuk memberikan jalan yang lebar dan
lurus baginya agar menemui Ayyas. Dalam hati
ia berdoa, "Semoga Tuhan terus menolong orangorang
yang sedang jatuh cinta seperti dirinya."

***

Siang itu Ayyas menemani Pak Joko Santoso
mengantarkan istrinya ke Bandara Internasional
Domodedovo. Ia ditelpon Pak Jako ketika sedang
asyik membaca kitab Adabud Din Wad Dunyanyz
Imam Al Mawardi. Saat itu Yelena sudah
pergi entah ke mana, dan Linor sudah berangkat
kerja. Jadwal kepulangan istri Pak Joko tiba-tiba
dimajukan sepuluh hari dari jadwal semula, jadi
Ayyas akan bisa lebih cepat pindah dari apartemen
yang selama ini ditinggalinya. Ia akan jauh
merasa lebih aman dan lebih nyaman tinggal bersama
Pak Joko Santoso yang sebangsa dan
setanah air dengannya. Juga seiman dan seakidah
tentunya.

Istri Pak Joko naik pesawat Emirates Airlines.
Dia akan melakukan perjalanan kurang lebih
delapan belas jam untuk sampai ke Jakarta.
Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Ayyas
melihat bagaimana Pak Joko meneteskan airmata
melepas sang istri tercinta. Bagitu juga sang istri,
nampak tidak kuat menahan isak tangisnya.
Tetapi begitulah, mereka berdua, suami istri itu
memilih untuk berpisah sementara.

Dalam perjalanan pulang dari bandara, Pak
Joko bercerita, istrinya terpaksa harus pulang untuk
menemani ibu sang istri yang kini sendirian
di Bandung. Ibu mertua Pak Joko sudah mulai
sakit-sakitan. Anak perempuan satu-satunya adalah
istri Pak Joko. Sang ibu mertua meminta istri
Pak Joko menemaninya di Bandung, karena adik
istri Pak Joko yang selama ini menemani sang
ibu mertua harus tugas ke luar Jawa bersama istri
dan anaknya. Ditambah lagi, ibu mertua Pak Joko
sudah mulai sakit-sakitan, sehingga tidak kuat
lagi mengasuh dan mengawasi dua anak Pak
Joko yang selama ini dititipkan di Bandung.

"Ini demi kebaikan bersama, harus ada pengorbanan
Mas Ayyas. Biarlah istri di Bandung
mengasuh anak dan merawat ibunya, sementara
saya di sini dulu mencari nafkah. Saya rencanakan
saya akan bertahan paling lama tiga tahun
saja di Moskwa ini. Tidak mudah hidup di sini
tanpa ditemani seorang istri. Semoga Allah senantiasa
memberi kekuatan, ketabahan, kesehatan
dan menjaga iman dan Islam saya." Kata Pak
Joko agak serak sambil terus mengemudikan mobil
Volga yang ia pinjam dari Pak Ismet. Dan
dengan khusyuk Ayyas menjawab, "Amin."

"Mas Ayyas belum menikah kan?"

"Belum Pak Joko."

"Sudah ada calon."

"Yang benar-benar pasti belum. Saya pernah
tertarik dengan seorang gadis. Saya langsung
mendatangi rumahnya. Kami bertunangan.
Kemudian suatu hari gadis itu membebaskan
saya dari ikatan pertunangan. Jadi, statusnya saya
ini tidak lagi bertunangan dengannya."

"Apa gadis itu kini sudah menikah?"

"Saya tidak tahu."

"Agak tidak jelas ya?"

"Tapi saya mengatakan akan setia padanya."

"Sebaiknya kau hubungi lagi keluarga gadis
itu. Kaupertegas, kalau iya ya iya, kalau tidak ya
tidak. Jangan hanya janji setia seperti itu yang
tidak jelas. Meskipun gadis itu yang membebaskan
ikatan pertunangan denganmu, tapi ketika
kau menjanjikan akan setia padanya seolah-olah
masih bertunangan. Padahal sebenarnya tidak.
Kau sendiri juga tidak jelas. Kalau kau
mengharapkan gadis itu, ternyata tiba-tiba dia
menikah kau tidak bisa menyalahkan dia. Kau
sendiri ketika suatu saat menemukan orang yang
menurutmu layak untuk kaunikahi bisa ragu, karena
harus setia padanya, sebab telah berjanji untuk
setia padanya. Saran saya, kau perjelas lagi
saja. Meskipun jauh, di era sekarang ini dunia
seperti dilipat jadi sangat dekat. Kau bisa menelpon,
bisa kirim sms atau email."

"Saran Pak Joko sangat berarti bagi saya."

"Oh ya, jadi kamu akan pindah menemani aku
kapan?"

"Paling cepat ya besok Pak. Tidak mungkin
malam ini."

"Tapi malam ini kalau mau menginap di
rumahku boleh saja.

"Iya Pak, saya pikirkan."

"Kau bisa masak?"

"Bisa Pak."

"Bagus. Kita akan punya kerja sedikit besar."

"Apa itu Pak?"

"KBRI akan kedatangan tamu-tamu pengusaha
dari Tanah Air. Ada tiga puluh orang. Lha
KBRI mau mengadakan jamuan makan. Sebagian
sudah pesan pada restoran Rusia yang halal. Tapi
untuk menambah lengkapnya KBRI mau menyediakan
juga menu Indonesia, atau paling tidak
yang pas untuk lidah Asia Tenggara. Soalnya
nanti duta-duta dari negara-negara Asia Tenggara
juga mau diundang di jamuan makan. Lha, saya
sudah menyanggupi untuk membuat rendang."

"Lha bumbunya ada Pak?"

"Belum ada."

"Terus bagaimana?"

"Saya sudah melihat jadwal keberangkatan
mereka dari Jakarta, dan saya sudah mendapat
nama dan alamat orang-orang itu. Salah seorang
di antaranya ada yang dari Bandung. Saya sudah
minta istri saya untuk nitip bumbu rendang ke orang
yang dari Bandung itu. Bumbu rendang yang
siap saji saja tidak apa-apa."

"Lha tamu kok malah dititipi tho Pak. Apa
mereka mau dititipi? Apalagi kalau ternyata
mereka bos perusahaan besar."

"Ya dicoba saja. Kalau tidak ada bumbunya ya
nanti kita ganti menu yang lainnya."

"Beberapa waktu yang lalu saya masuk restoran
Libanon. Enak lho Pak menunya. Itu lidah Indonesia
bisa masuk Pak."

"Apa namanya? Yang di mana?"

"Kalau tidak salah namanya Sindebad's. Di
daerah dekat-dekat Arbat."

"Wah saya belum pernah ke sana. Apa kita
makan malam di sana?"

"Jangan Pak. Lebih baik kita masak di rumah.
Saya yang masak. Nanti Pak Joko cicipin
rasanya."

"Boleh itu. O ya, kemarin Pak Kepala Sekolah
dan seluruh guru SIM rapat. Hasilnya kita akan
mengundang seorang penulis dari Tanah Air ke
Moskwa ini. Untuk memberikan pembekalan
menulis kepada murid-murid SIM, sampai
mereka benar-benar bisa menulis dengan baik.
Kita mencari penulis yang siap di sini paling
tidak satu bulan. Sekarang ini sedang mencari
kandidatnya. Kalau Mas Ayyas ada usulan, atau
Mas Ayyas punya kenalan seorang penulis andal,
boleh?"

Mendengar penjelasan Pak Joko tentang rencana
mendatangkan penulis itu, Ayyas langsung
teringat pada Ainal Muna yang telah
mendapatkan penghargaan tingkat nasional dari
pemerintah. Ayyas membayangkan, jika Muna
yang datang ke Moskwa terus bisa menikah
dengannya di Moskwa, sejarah hidupnya terasa
akan sangat indah. Ia hampir saja menyebut nama
Muna dan menjelaskan kelebihan-kelebihannya,
tapi entah kenapa ada yang menahan lidahnya
untuk mengucapkan nama itu. Justu yang keluar
dari mulutnya adalah jawaban yang biasa saja,

"Ya insya Allah Pak, saya akan coba ikut
mencari-cari."

Mobil Volga sederhana itu terus meluncur
menuju tengah kota Moskwa. Ayyas disajikan
pemandangan yang indah. Kota yang tertata rapi,
jalan yang lebar, bangunan zaman dulu yang
masih terawat baik dan masih dipakai,, seolah
tidak tergerus oleh modernisasi, dan salju yang
seolah membungkus semua benda, melahirkan
pesona yang berbeda di mata. Ayyas membayangkan
jika Muna yang diundang datang, dan ia
bisa menikah dengan gadis itu di KBRI lalu
menghabiskan akhir musim dingin dan melewati
musim bunga dengan seorang istri yang ia cinta.

"Ya Allah, kabulkan. Amin." Lirih Ayyas
dalam hati.

***

Sampai petang tiba Ayyas tidak juga datang.
Anastasia Palazzo mencoba menghubungi nomor
yang pernah digunakan Ayyas untuk mengirim
sms kepadanya. Tapi gagal. Nomor itu tidak bisa
dihubungi. Karenanya ia merasa tidak ada pilihan
lain kecuali langsung mendatangi Ayyas di
kwartira (Dalam bahasa Rusia, apartemen ini disebut
kwartira. Dan gedung bertingkat di mana
kwartira ini berada mereka namakan dom. Adapun
ruangan atau kamar-kamar dalam apartemen
itu disebut komtana) atau apartemennya.
Anastasia merasa tidak ragu untuk itu. Ia memiliki
alasan yang kuat yang samasekali tidak akan
membuatnya merasa malu.

Maka petang itu, diiringi salju yang turun tipis
bagai kapas, Anastasia mengemudikan mobilnya
ke arah Smolenskaya. Hari sudah benar-benar
gelap ketika ia merasa menemukan alamat di
mana Ayyas tinggal. Doktor muda itu turun di
depan dom tua yang terletak di Panvilovsky
Pereulok. Sebuah bangunan zaman Stalin yang
letaknya berhadapan dengan gedung mewah The
White House Residence. Apartemen itu bisa dihitung
dekat dengan stasiun metro Smolenskaya
dan tidak jauh dari kawasan sibuk Golden Ring.
Anastasia memasuki dom itu. Di bawah sinar
lampu lorong gedung apartemen itu ia melihat
catatan kecilnya. Kwartira yang ditinggali Ayyas
ada di lantai tiga. Ia naik ke atas dengan tidak
tergesa-gesa. Tak lama kemudian ia pun sampai
di depan pintu kwartira Ayyas. Anastasia menekan
tombol bel dua kali.

Pintu terbuka. Seorang wanita tua menyembulkan
mukanya dari balik pintu.

"Anda mau bertemu siapa?" Tanya perempuan
tua itu. "Maaf, saya mau bertemu dengan anak
muda yang bernama Ayyas. Benarkah ini tempat
tinggal Ayyas?"

"Ayyas yang dari Indonesia?" Perempuan itu
balik bertanya.

"Ya. Benar."

"Kalau begitu Anda tidak salah kwartira. Di
sini memang tempat tinggal Ayyas."

"Ayyas ada?"

"Dia sedang pergi, sejak tadi siang dan belum
pulang. Saat ini saya sendirian."

"Pergi sejak siang?" Gumam Anastasia agak
kecewa. Iya.

"Kau tahu dia pergi ke mana?"

"Tidak. Itu bukan urusanku. Dia juga tidak
memberitahukan kepadaku."

"Biasanya dia pulang pukul berapa?"

"Tidak bisa dipastikan. Dia pulang dan pergi
tidak tentu waktunya. Ayo silakan masuk. Kita
bisa berbincang-bincang sambil minum teh
seraya menunggu dia pulang."

"Tidak usah, Bibi. Karena dia tidak ada, saya
harus pergi. Saya tidak bisa menunggu sampai
dia pulang. Apalagi menunggu tanpa sebuah
kepastian."

"Kau ada pesan untuknya? Nanti bisa saya
sampaikan. Oh ya siapa namamu?"

"Maaf saya belum memperkenalkan diri saya.
Saya Anastasia Palazzo, temannya Ayyas di
MGU. Nanti sampaikan
saja bahwa Anastasia Palazzo mencarinya,
penting!" "Baiklah." "Saya minta diri." "Selamat
jalan. Hati-hati."

Anastasia Palazzo melangkah pergi dengan
dada agak sesak. Ia menuruni tangga dengan
pikiran samasekali tidak senang. Harapannya bertemu
Ayyas lagi-lagi tidak kesampaian. Ternyata
Ayyas tidak sakit, juga tidak ada sesuatu yang
menimpanya. Pemuda itu masih tetap beraktivitas
setiap hari seperti biasa. Hanya saja tidak ke
MGU. Terus ke mana saja dia selama ini?
Mengadakan penelitian di mana? Apakah dia
selama ini ke Perpustakaan Negara? Atau sedang
sibuk mengadakan wawancara? Atau sedang
menyelesaikan urusan penting lainnya?
Hati kecilnya sebenarnya memintanya untuk
menunggu saja sampai Ayyas pulang. Tetapi
harga dirinya mencegahnya. Apalagi ia tidak tahu
persisnya kapan Ayyas akan pulang. Jika ternyata
Ayyas pulang tengah malam misalnya, apa dia
harus menunggu pemuda itu sampai tengah
malam? Bagaimana dengan harga dirinya sebagai
perempuan terhormat kalau demikian?

Anastasia keluar dari dom tua itu. Ia hanya
berharap, perempuan tua itu menyampaikan pesannya
kepada Ayyas dengan baik. Dan setelah
Ayyas tahu bahwa ia sampai mendatangi apartemennya,
ia berharap Ayyas segera menemuinya
dengan kesadarannya sendiri. Ia berharap
pemuda itu paham, jika sampai ia bersusah payah
mendatangi apartemennya, berarti ada sesuatu
yang sangat penting yang harus dibicarakan.
Tetapi bagaimana jika Ayyas tidak juga
datang menemuinya?

Anastasia berpikir, dirinya mungkin terpaksa
harus sedikit nekat dan samasekali menanggalkan
keangkuhan dirinya. Ia akan kembali mencari
Ayyas ke apartemennya. Jika Ayyas pergi, ia
akan menunggu di apartemennya sampai ketemu.
Tak ada cara lain yang bisa ditempuhnya.

Anastasia menerobos salju tipis yang terus turun.
Ia langsung masuk ke Pradonya. Dan sebentar
kemudian ia meluncur pulang ke apartemennya
yang terletak tak jauh dari Galeri
Tretyakov yang terkenal itu.
Dua perempuan itu pulang hampir bersamaan.
Yelena lebih duluan datang. Begitu ia
menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, Linor
datang membuka pintu. Yelena merasa lega, ia
telah melaksanakan semua petunjuk Linor. Ia
berharap bahwa rencana Linor itu berjalan
dengan baik dan menjadi jalan keluar bagi permasalahannya.
Ia benar-benar ingin hidup merdeka.

Ia juga ingin agar Olga Nikolayenko dan
suaminya mendapat pelajaran setimpal agar tidak
semena-mena.

Linor berjalan mendekati Yelena yang tetap
merebahkan tubuhnya di sofa Linor duduk di
sofa sebelahnya. "Bagaimana, sudah
kaukerjakan?"

"Sudah. Aku kerjakan persis seperti saranmu."

"Jadi kauletakkan di mana ponsel Sergei itu?"

"Aku letakkan di kamar mandi yang ada di
dalam ruang pribadi Olga Nikolayenko, di
apartemennya yang ada di Tverskaya."

"Di tempat yang benar-benar aman?"

"Sangat aman. Aku berani menjamin seratus
persen. Sebab keamanannya adalah jaminan kemerdekaan
hidupku."

"Bagus. Kalau begitu sekarang giliranku untuk
menyempurnakan semuanya. Eh Yelena, aku bisa
minta tolong sedikit padamu?" Kata Linor
dengan kening sedikit berkerut.

"Pasti bisa. Apa yang harus aku lakukan
unt,ukmu?"

"Aku minta tolong, Bibi Margareta membelikan
sesuatu untukku di gastronom Itu yang pertama.

Yang kedua, aku minta kaucarikan untukku
penginapan yang layak di Kiev. Kaucarikan lewat
internet dari komputermu. Ini laptopku lagi
ada sedikit masalah. Bisa?"

"Itu tidak susah. Segera akan dikerjakan
dengan sempurna untukmu, Sahabatku."
Yelena bangkit dan memanggil Bibi Margareta
di kamarnya.

"Bibi minta tolong membantu Linor ya. Dia
ingin dibelikan sesuatu di gastronomi Ujar
Yelena pelan. Bibi Margareta mengangguk
dengan tersenyum. Orang tua itu lalu keluar dari
kamar Yelena dan menemui Linor yang masih
duduk di ruang tamu.

"Apa yang harus Bibi lakukan untukmu?"
Tanya Bibi Margareta kepada Linor.

"Saya kelaparan Bibi, belikan roti hitam,
trovog, kentang goreng, mayones, dan satu liter
susu segar ya." Kata Linor sambil memberikan
beberapa lembar rubel kepada Bibi Margareta.

"Baik."

"O ya. Bibi boleh membeli sesuatu dengan
sisa uang itu."

"Terima kasih, Anakku."

Linor meminta Bibi Margareta ke gastronom
sebenarnya ada tujuannya. Lebih dari sekadar untuk
membelikan makanan. Demikian juga ketika
ia meminta Yelena mencarikan penginapan di
Kiev lewat internet. Sebenarnya ia ingin mensterilkan
ruang tamu itu untuk satu aksinya yang
sangat penting. Yang hanya perlu waktu beberapa
detik saja. Aksinya itu tidak boleh
diketahui siapa pun, termasuk Yelena dan Bibi
Margareta.

Linor masih terganggu dengan pintu kamar
Yelena yang masih terbuka. Kelihatannya Yelena
sudah menghidupkan komputernya. Linor berdiri
dan berjalan melongok ke kamar Yelena.

"Bagaimana internetnya nyala?" Tanya Linor
dengan tetap berdiri di pintu.

"Ini baru aku hidupkan. Ayo masuklah. Nanti
bisa kita cari berdua."

"Ah tidak. Aku harus ke kamar. Aku tunggu
saja hasilnya."

"Baik. Aku akan carikan penginapan yang pas
untukmu. Percayalah padaku."

"Aku percaya. Aku tutup pintunya ya?"

"Ya boleh."

Linor menutup pintu kamar Yelena pelan. Ia
langsung bergerak cepat. Ia menuju pintu kamar
Ayyas. Ia periksa. Terkunci. Tanpa berpikir panjang
ia langsung membukanya dengan sebuah alat.
Dan klik! Pintu kamar Ayyas terbuka. Dengan
gerakan sangat cepat ia masuk ke kamarnya dan
mengambil tas ransel yang sudah lama dipersiapkannya.
Ia bawa tas ransel itu ke kamar Ayyas. Ia
melihat-lihat kondisi kamar sekilas. Ia mengambil
sebuah buku kecil berbahasa Arab. Ia masukkan
ke dalam tas ransel itu. Dan dengan cepat
ia meletakkan tas ransel itu di bawah kolong tempat
tidur Ayyas.

Ia meletakkannya di bagian paling pojok dan
menutupinya dengan selembar kain yang berwarna
biru tua, warna yang sama dengan karpet
yang membungkus seluruh lantai kamar itu.
Setelah itu Linor kembali ke ruang tamu. Ia
kembali mengunci pintu kamar Ayyas seperti sedia
kala. Ia merasa lega. Ia melihat jam tangannya.
Ia puas. Tak ada satu menit. Setelah itu
dia ke kamarnya. Menghempaskan tubuhnya di
atas kasur yang empuk dan bernafas lega. Ia
sangat yakin, seluruh rencana dan aksinya akan
berjalan dengan sempurna. Akan ada dua kejadian
yang menggemparkan Moskwa:

Pertama, pertempuran dua mafia Rusia. Yaitu
antara kelompok Voykovskaya Bratva67yang
dipimpin Boris Melnikov, dan kelompok Tushinskaya
Bratva yang dipimpin oleh Vladimir
Nikolayenko yang tak lain adalah suami Olga
Nikolayenko.

Linor sudah bisa membayangkan siapa yang
jadi pemenangnya. Ia sangat yakin Boris
Melkinovlah yang akan menang dan Vladimir
akan mengalami kerugian besar jika tidak kebinasaan.
Kecuali jika di antara mereka akan ada
perjanjian damai sebelum terjadi pertempuran.

Meskipun terjadi perdamaian, pasti Boris Melnikov
akan memberikan syarat yang sangat merendahkan
Vladimir. Dan tidak mudah bagi Vladimir
untuk menerimanya. Jika menerima syarat
itu, maka Vladimir tidak akan memiliki
kekuasaan apa-apa lagi. Dan itu tetap menjadi
jalan keluar yang baik bagi Yelena.

Dalam perhitungan Linor, keduanya
mengadakan perjanjian damai itu sangat kecil.
Sebab keduanya sudah akan disulut emosi yang
memuncak di awal. Pihak Boris Melnikov pasti
marah besar ketika menemukan bukti bahwa
ponsel Sergei Gadotov ditemukan di kamar
mandi-Olga Nikolayenko. Mereka akan langsung
mengambil kesimpulan, pembunuh orang penting
di kelompok Voykovskaya Bratva adalah Olga
Nikolayenko. Atau paling tidak Olga Nikolayenkolah
yang paling bertanggung jawab. Pihak Boris
Melnikov pasti akan minta supaya Olga
dikirimkan kepada mereka untuk dieksekusi.

Dan sebaliknya pihak Vladimir Nikolayenko
akan sangat marah dituduh melakukan sesuatu
yang tidak mereka lakukan samasekali. Apalagi
yang dituduh adalah Olga Nikolayenko, istri
pimpinan tertinggi kelompok mafia mereka.
Mereka tidak mungkin mau menyerahkan Olga
Nikolayenko begitu saja. Vladimir akan membela
mati-matian istri yang sangat dicintainya itu.

Linor sudah mengatur segalanya untuk
mengadu dua kelompok mafia yang sangat menjengkelkannya
itu. Di antaranya Linor mengirim
surat kaleng kepada Boris Melnikov yang isinya
memberitahukan pernah melihat Sergei Gadotov
berjalan bersama Olga Nikolayenko memasuki
sebuah apartemen di kawasan Tverskaya. Ia tahu
Boris Melnikov tidak akan percaya begitu saja
pada isi surat itu. Tapi tujuan Linor bukan untuk
membuat Boris Melnikov mempercayainya.

Tujuannya adalah agar Boris Melnikova
mengarahkan pandangannya ke Tverskaya, ke
tempat di mana Olga Nikolayenko menjalankan
bisnisnya. Dan pada saat Boris Melnikov
mengaktifkan pelacak sinyal untuk kembali mencari
keberadaan Sergei Gadotov, terompet perang
itu berbunyi dengan sendirinya, jika benar
Yelena telah meletakkan ponsel milik Sergei itu
di kamar mandi yang ada di dalam ruang pribadi
Olga Nikolayenko.

Kejadian kedua yang akan menggemparkan
Moskwa adalah pengeboman lobby Metropole
Hotel yang terletak di jantung kota Moskwa, tepatnya
di kawasan Teatralnaya, yang tak jauh
dari Kremlin. Lobby itu akan dibom bertepatan
dengan datangnya seorang pejabat penting Inggris
ke sana. Seorang anak buah Ben Solomon
akan masuk ke Metropole Hotel dengan
menyamar berpenampilan persis seperti Ayyas.

Dan opini dunia akan digiring untuk mengatakan
bahwa seorang pemuda Islam terpelajar terbukti
melakukan tindakan teroris. Sebagai bukti fisik
adalah ditemukannya bahan-bahan pembuat bom
di kamar Ayyas. Bahan-bahan itu sama persis
dengan bom yang diledakkan di Metropole Hotel.

Dengan adanya kejadian itu Rusia akan marah
dan mengambil jarak dengan negara-negara
Islam, negara-negara Arab utamanya. Itu karena
Ayyas diketahui adalah lulusan dari Arab, akan
sangat mudah Ayyas dikaitkan dengan jaringan
Al Qaeda. Dan keadaan itu akan digunakan oleh
Israel sebaik-baiknya. Israel bersama sekutunya
akan semakin mudah menggebuk Palestina dan
negara-negara Arab lainnya. Sebab Rusia yang
selama ini masih sering berhubungan dengan
negara-negara Arab diharapkan ikut aktif bersama
barisan pendukung Israel.

Tas ransel berisi bahan pembuat bom itu sudah
Linor masukkan di kamar Ayyas. Bahkan ia
juga memasukkan satu buku kecil yang ada di
meja Ayyas ke tas ransel itu. Pada saat polisi
Rusia menggeledah kamar Ayyas dan menemukan
tas itu, Ayyas sendiri akan terdiam
seribu bahasa, ia tidak akan bisa membantahnya
ketika ada bukunya yang juga didapati ada di
dalam tas itu.

Dua kejadian itu akan jadi berita hangat di
Moskwa. Bahkan di dunia. Dan sebenarnya akan
ada kejadian ketiga yang tidak kalah menggemparkan,
yaitu terbunuhnya putri salah seorang
diplomat Syiria. Ia telah ditugasi langsung oleh
Ben -Solomon untuk membunuhnya. Yang harus
ia bunuh adalah seorang gadis yang masih kuliah
semester dua di MGU. Gadis itu bernama Rihem.
Jika Rihem mati, menurut Ben
Solomon, hal itu bisa berpengaruh pada
hubungan Syiria-Rusia. Dan ia diminta agar pembunuhan
gadis itu sebagai kejadian kriminalitas
yang mengguncang dunia. Tetapi Linor agak
gamang melakukannya.

Ia tahu, gadis itu selain kuliah di MGU juga
belajar musik di Moscow State Conservatory. Ia
telah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri
betapa berbakatnya gadis itu memainkan biola.
Setiap kali mengawasi gadis itu dan melihat
gadis itu, ia seperti melihat dirinya sendiri saat
belajar bermain biola dengan didampingi oleh
ibunya. Ia tidak sampai hati membunuh gadis itu,
karena membunuh gadis itu seolah ia membunuh
dirinya sendiri.

Akan tetapi jika ia tidak melaksanakan tugasnya,
ia sendiri akan dieksekusi oleh Ben Solomon
atau agen lainnya. Maka kepada Ben Solomon
ia minta supaya diberi jeda waktu untuk
membunuh gadis itu. Ia memberi alasan, jika ada
banyak kejadian teror yang berturut-turut, ia
khawatir pihak Rusia akan mencium gerakan
mereka. Ben Solomon setuju dengan argumentasi
Linor. Sementara ia bisa mengulur waktu, ia akan
mencari cara supaya bukan dia yang membunuh
gadis itu, tapi agen lain.

***
Linor mendengar suara gaduh di ruang tamu.
Ia lihat layar laptopnya. Ia tersenyum dingin.
Yang datang adalah Bibi Margareta membawa
bungkusan besar yang ia yakin adalah pesanannya,
dan Ayyas yang juga membawa
bungkusan yang nampak kelelahan. Dalam hati
Linor berkata, "Sebentar lagi kau akan jauh lebih
lelah Ayyas. Rambutmu yang hitam itu akan
langsung beruban ketika kau digelandang polisi
dan dimasukkan ke dalam penjara tanpa tahu
dosa apa yang kaulakukan."

Bibi Margareta mengetuk pintu kamarnya.
Linor mengganti tampilan layar laptopnya
dengan gambar bunga yang dibasahi embun dari
wallpaper Windows Vista. Ia lalu beranjak membuka
pintu kamarnya.

"Sudah pulang Bibi?" Ramah Linor dengan
berusaha tersenyum.

"Sudah. Sudah dapat semua yang kaupesan."

"Spasiba Balshoi Bibi. Ayo kita makan malam
bersama lagi."

"Ayo. Kebetulan itu Ayyas sudah pulang. Tadi
kami bertemu di ujung Panvilovsky Pereulok."

Linor keluar dari kamarnya dan menutup pintu
kamarnya pelan. U memandang ke arah Ayyas.

Pada saat yang sama Ayyas sedang menoleh ke
arahnya. Pandangan mereka bertemu. Linor berusaha
tersenyum, tapi tetap terasa dingin.

"Hai, kak dela? (Apa kabar?)” Sapa Linor.

"Alhamdulillah, Ya Vso Kharasho! (Saya
baik-baik saja)” Jawab Ayyas.

"Bungkusan apa yang ada di depanmu itu?"

"Biasa roti pirozkhi."

"Aku minta Bibi Margareta membeli
makanan. Kita bisa makan bersama."

"Boleh. Mana Yelena?"

"Dia ada di kamarnya. Bibi tolong panggil
Yelena."

Bibi Margareta melangkah ke kamar Yelena,
tak lama kemudian Yelena datang.

"Linor, ini sudah aku temukan tempat menginap
yang nyaman untukmu. Letaknya di jantung
kota Kiev." Ujar Yelena dengan wajah
berseri-seri.

"Apa nama penginapannya?"

"Sunflower B&B Hotel. Letaknya di Kostolna
Street. Tak jauh dari stasiun metro Maydan Nezalezhnosti.
Di sebelah utaranya, tidak begitu jauh,
berdiri megah St. Michael's Monastery yang terkenal
dengan kubah emasnya itu."

"Baik itu tempat menginap yang tepat."

Tiba-tiba Ayyas menyela, "Kalian mau pergi
ke Kiev?"

"Hanya Linor, aku tidak." Jawab Yelena.

"Kapan kau berangkat ke Kiev Linor?" Tanya
Ayyas.

"Besok siang." Jawab Linor sambil mengunyah
kentang goreng yang telah ia celupkan ke
cairan moyones.

"Pakai pesawat?"

"Ya."

"Ada tugas liputan ya?" "Benar."

"Enak ya jadi wartawan, bisa ke mana-mana
dan bisa bertemu banyak orang penting."

"Ya semua pekerjaan ada enaknya ada tidak
enaknya."

"Berapa hari kau di sana?"

"Tiga atau empat hari. Kau sendiri bagaimana
penelitianmu?"

"Lumayan. Saya sudah mendapatkan tujuh puluh
lima persen dari data yang saya perlukan.
Masih dua puluh lima persen lagi. Satu bulan lagi
semoga sudah dapat seratus persen. Setelah itu
saya bisa jalan-jalan melihat-lihat semua sudut
kota Moskwa, bahkan ke kota-kota lain yang
tidak kalah pentingnya."

"Jangan lupa, kamu harus mengunjungi St.
Petersburg. Itu kota yang sangat indah. Pernah
menjadi ibukota Rusia sebelum revolusi 1917.
Pergilah ke sana dan kamu akan menemukan pemandangan
yang menakjubkan." Linor memberi
saran.

"Linor benar, kamu harus mengunjungi kotanya
para tsar Rusia itu. Banyak orang mengatakan,
bahwa seseorang belumlah dianggap menginjak
tanah Rusia jika belum menginjakkan kakinya di
kota St. Petersburg." Yelena menguatkan.

"Ya itu sudah saya rencanakan. Ada saran
kota mana lagi?"

"Kalau bisa mampirlah ke kota Novgorod, sebelum
ke St. Petersburg atau mungkin sesudah
dari sana. Kota Novgorod ini sangat bernilai sejarah,
ia termasuk kota tua yang juga memiliki
banyak peninggalan, ada kremlin juga di sana."
Kata Linor.

"Kalau saya menyarankan ke Smolensk. Sebuah
kota di dataran tinggi dengan pemandangan
yang menakjubkan. Kalau musim semi kau bisa
menyaksikan bunga-bunga yang indah
bermekaran."

"Ya nanti kalau cukup waktu dan cukup biava
saya akan mengunjungi tiga kota itu insya Allah

Mereka makan malam sambil berbincang-bincang
tentang banyak hal. Suasana bertambah
hangat ketika Bibi Margareta ikut serta dengan
membawa empat cangkir teh hangat. Bibi Margareta
banyak bercerita tentang masa mudanya,
juga percintaannya dan petualangannya sampai
ke Rusia. Bibi Margareta ternyata berasal dari desa
kecil di pinggir kota Voronezh, yang terletak
lebih dari 511 km di selatan Moskwa. Setelah
bercerita masa kecilnya Bibi Margareta banyak
bertanya kepada Ayyas tentang tempat di mana
Ayyas berasal. Tentang negaranya, desanya, orangtuanya
dan banyak hal.

Dengan santai dan dengan senang hati Ayyas
bercerita tentang Indonesia. Ayyas bercerita
tentang bagaimana Indonesia merdeka. Tentang
Indonesia yang terdiri atas ribuan suku dan bahasa.

Tentang Indonesia yang memiliki lebih dari
tiga belas ribu pulau. Ayyas juga bercerita
tentang indahnya pantai Parangtritis. Pesona
Gunung Merapi yang terus mengepulkan asap.
Pemandangan dataran tinggi Ketep, Dieng, yang
siapa pun yang berada di sana seolah sampai di
tangga langit. Ayyas juga menceritakan kehidupan
desanya yang damai. Sawah-sawah yang
menguning bagai taburan emas. Dan kopi tubruk
yang tidak ada tandingannya di dunia ketika di
minum di pagi hari dengan pisang goreng yang
masih panas.

Bibi Margareta mendengar cerita Ayyas
dengan mata berbinar dan mulut sedikit melongo.
Ketika Ayyas menyelesaikan ceritanya tentang
Indonesia. Bibi Margareta hanya mengucapkan
satu kalimat, "Interesno (Menarik)"
Malam itu berakhir dengan berakhirnya cerita
Ayyas tentang sebuah negeri yang indah bernama
Indonesia. Bibi Margareta sampai bermimpi
ingin ke sana. Ketika semuanya hendak bangkit
berdiri dan beranjak ke kamar masing-masing
Bibi Margareta berkata setengah berteriak, "Ada
sesuatu yang aku hampir lupa!"

"Apa itu?" Ayyas dan Yelena menyahut hampir
bersamaan.

"Tadi sebelum hari gelap ada perempuan
muda ke sini. Dia mencari Ayyas." Jawab Bibi
Margareta.

"Itu pasti dia." Sahut Yelena sambil mengedipkan
mata pada Linor.

"Iya." Sahut Linor biasa saja.

"Dia siapa?" Ayyas penasaran.

"Yang mencium kamu di acara seminar."

Jawab Yelena membuat muka Ayyas memerah.

"O jadi perempuan muda itu kekasih kamu?"

Tanya Bibi Margareta dengan wajah polos saja.

"Perempuan muda itu siapa Bibi? Saya tidak
tahu. Namanya siapa?" Gemas Ayyas.

"Namanya An.. Anas.. siapa ya aku agak lupa.
Maklum sudah tua."

"Anastasia!?" Ayyas mengingatkan.

"Ya benar. Itu dia. Anastasia. Dia gadis yang
cantik dan sopan." Puji Bibi Margareta.

"Benarkan dia yang datang?" Sahut Yelena
menggoda.

Ayyas tidak menanggapi, ia malah bertanya
pada Bibi, "Ada pesan darinya?"

"Kamu diminta menemuinya. Katanya penting."
Jawab Bibi Margareta.

"Segera temui dia. Dia telah menunggumu
dengan ciuman yang hangat. Lebih hangat dari
Vodka di musim dingin." Ledek Yelena.

"Sudahlah, kau ini berbicara apa Yelena.
Sudah, ayo kita istirahat. Jangan lupa berdoa
kepada Tuhan biar diberi mimpi yang indah."
Ujar Ayyas sambil berjalan ke kamarnya.

"Aku ingin malam ini bermimpi pergi jalan-jalan
ke Indonesia." Sahut Bibi Margareta dengan
wajah bahagia.

Ayyas menyahut, "Jangan lupa ajak serta
Linor dan Yelena. Dan jangan lupa mampir ke
rumahku ya Bibi. Aku menunggumu dengan
makanan paling enak yang telah disiapkan oleh
ibuku."

"Baik. Dengan senang hati." Bibi Margareta
tersenyum lebar.

Mendengar dialog itu, Yelena dan Linor juga
tersenyum tanpa komentar.

***
Sampai tengah malam Linor belum juga tidur.
Sesungguhnya nuraninya paling dalam tidak
menyetujui semua yang ia lakukan selama ini.
Tetapi akal pikirannya selalu melibas nuraninya
itu tanpa belas kasihan. Ia selalu teringat pesan
ayahnya untuk berjuang menegakkan kedaulatan
negeri yang dijanjikan dan memerangi kejahatan
yang mengancam. Ayahnya bahkan memaksanya
masuk ke dalam persaudaraan Gush Emunim.
Menurut ayahnya Gush Emunim yang artinya
adalah "Blok Kaum Beriman" merupakan
komunitas orang-orang yang menjalankan
keagamaan Yahudi paling benar. Ayahnya sangat
membanggakan Rabbi Simcha Hakohen Kook
sang pendiri Gush Emunim. Berkali-kali ayahnya
memintanya untuk mengulang-ulang ucapan
Rabbi Kook yang menegaskan, bahwa bangsa
Yahudi berperang melawan kekuatan jahat.

Tak ada yang diperangi oleh Yahudi kecuali
kejahatan. Orang-orang Palestina sampai anakanak
kecil Palestina yang ditembaki tanpa ampun
oleh Yahudi Israel adalah kekuatan jahat yang
memang harus dihapuskan. Seluruh orang
Palestina dan siapa saja yang mendukung
Palestina adalah kejahatan yang mengancam,
yang karenanya harus dihapuskan dengan segala
cara, tanpa kompromi dan tanpa ampun
Selama ini, setiap kali nuraninya yang paling
dalam memrotes apa yang dilakukannya, ia selalu
membungkamnya dengan doktrin-doktrin yang ia
terima dari Gush Emunim. Dengan mengingat
doktrin-doktrin itu, ia merasa segala tindakannya
benar. Apa pun yang ia lakukan tidak salah. Termasuk
ketika harus membunuh orang yang tidak
bersalah samasekali.

Malam itu nuraninya kembali bicara. Nuraninya
mengingatkan, Ayyas tidak seharusnya difitnah.
Ayyas orang yang baik. Yang kerjanya hanya
membaca, melakukan penelitian dan
beribadah. Dia tidak berhubungan dengan aktivitas
apa pun yang mengancam kedaulatan negeri
yang dijanjikan. Dia bahkan baik kepada siapa
pun yang ditemuinya. Bibi Margareta senang
padanya. Dia juga yang menolong Yelena. Dan
juga menolong dirinya ketika nyaris putus nafasnya
karena dicekik oleh Sergei Gadotov.

Linor langsung membungkam nuraninya, bahwa
salahnya Ayyas adalah satu; dia tidak Yahudi.
Karena tidak Yahudi maka tidak ada masalah
apapun jika dikorbankan untuk kepentingan
Yahudi. Doktrin Gush Emunim kembali ia
gumamkan. Nuraninya kembali ingin bicara tapi
cepat-cepat ia libas. Ada pergulatan dalam jiwa
Linor. Tetapi setan-setan yang mendukung doktrin
Gush Emunim tidak tinggal diam. Setansetan
itu samasekali tidak memberi kesempatan
bagi nurani dan akal sehat Linor untuk bersuara.

Setan-setan itu malah kemudian membisikkan
sesuatu yang mengusik nafsu Linor. Nafsu Linor
bergerak. Linor melihat di layar laptopnya.
Ruang tamu atau ruang tengah lengang. Pintu
kamar Yelena tertutup rapat. Pintu kamar Ayyas
juga tertutup rapat. Linor lalu melihat kamar
Ayyas. Nampak Ayyas sedang shalat.

"Inilah saatnya. Aku yakin dia belum pernah
menyentuh perempuan. Aku ingin aku adalah orang
yang pertama disentuhnya. Dan nanti jika dia
dipenjara dia bisa menghibur dirinya pernah merasakan
keindahan dengan aku. Dan dia
samasekali tidak tahu bahwa akulal yang sebenarnya
menjebloskannya ke penjara." Gumam
Linor sambil tersenyum tipis.

Linor mengganti pakaiannya. Ia ingin mengenakan
pakaian yang beberapa waktu yang lalu
gagal ia perlihatkan pada Ayyas. Ia mengenakan
gaun jersey putih halus berpayet. Dengan mengenakan
gaun itu ia yakin memiliki sihir yang
mampu meluluhkan iman lelaki mana pun yang
melihatnya. Barulah setelah itu ia menutupinya
dengan mantel tidurnya yang rapat. Tidak lupa ia
menggunakan parfum terbaiknya.

Linor menuju pintu kamar Ayyas. Terkunci.

Linor tersenyum. Kali ini ia tidak harus mengetuk
pintu. Ia membuka pintu kamar Ayyas
yang terkunci dengan alat andalannya. Perlahan
pintu kamar Ayyas terbuka. Ia memasukkan
kembali alat itu ke dalam mantelnya. Ayyas nampak
sedang sujud. Linor lalu mengunci pintu
kamar Ayyas dari dalam sehalus mungkin. Ia
melepas mantelnya dan meletakkannya di
sandaran kursi dan ia duduk di kursi yang berada
tepat di belakang Ayyas yang sedang shalat.
Linor menunggu Ayyas menyelesaikan
shalatnya.

Saat itu Ayyas sedang sujud di rakaat terakhir
dalam shalatnya. Ia merasakan ada yang memasuki
kamarnya. Ia menyabarkan dirinya untuk
menyelesaikan shalatnya yang tinggal ujungnya
saja. Begitu mengucapkan salam. Ayyas menengok
ke arah belakangnya, seketika ia terperanjat
kaget bukan kepalang.

"Astaghfirulloh?" Seru Ayyas.
Linor tetap duduk di tempatnya. Ia tersenyum
saja melihat Ayyas kaget melihatnya. Ia menunggu
Ayyas bangkit dari duduknya di lantai.

"Kau masuk kamarku tanpa izin!"

"Aku sudah izin, hanya kau tidak
mendengarnya. Dan aku percaya kau
mengijinkan!"

"Bagaimana kau masuk, padahal pintu itu terkunci!?"

"Kau tidak menguncinya. Atau kau lupa
menguncinya.

Aku masuk begitu saja!

"Dengan hormat aku minta kau keluar
sekarang!"

"Setelah kau membantuku. Aku perlu
bantuanmu!"

"Kau tidak harus memasuki kamarku kalau
ingin aku membantumu."

"Justru aku ingin kau membantuku di kamarmu
ini."

"Aku tidak paham maksudmu?"

"Dengan melihatku berpakaian seperti ini, kau
tidak juga paham?"

"Ya aku paham?"

"Apa aku juga harus melepas semua yang
kukenakan sampai kau paham?"

Ayyas terhenyak. Ia paham maksud Linor. Dia
juga lelaki normal. Jantungnya berdegup kencang.
Aliran darahnya menghangat. Tidak akan
ada orang yang melihat jika ia melakukan ajakan
Linor. Keluarganya juga tidak akan tahu kalau ia
melakukan itu.

Orang takut kehormatannya jatuh karena ketahuan
melakukan perbuatan yang diharamkan itu.
Tetapi kehormatannya tidak akan jatuh, ia rasa,
karena tidak akan ada yang mengetahuinya.

Ayyas melihat Linor yang perlahan bangkit dari
duduknya. Ayyas juga bergerak bangkit dari duduknya
di atas lantai. Saat itu akal sehat Ayyas
nyaris tertutupi oleh apa yang dilihatnya.
Ayyas hampir tergelincir dalam dosa besar.
Shalatnya hampir saja sia-sia belaka. Tiba-tiba ia
teringat bahwa tetap ada yang melihat, tetap saja
ada yang menyaksikan apa yang akan dilakukannya
dengan Linor, yaitu Allah Yang Maha
Melihat.

Allah Maha Melihat.

Alangkah celakanya dirinya jika sampai
melakukan dosa besar yang dilarang agama itu.
Alangkah meruginya, jika ia melakukannya, dan
kemudian semua amal-amal saleh yang ia jaga
mati-matian selama ini kemudian menjadi terhapus
dan sia-sia belaka.

Ayyas kembali memegang kendali akal
sehatnya.

"Jadi kau mau?" Lirih Linor dengan senyum
penuh kemenangan.

"Mendekatlah!" Jawab Ayyas dengan suara
bergetar. Linor mendekat.

"Berbaliklah, aku ingin melihat punggungmu!"
Ayyas semakin gemetar ketika Linor begitu
dekat dengannya. Linor mengikuti perintah Ayyas.

Perempuan muda itu membalikkan tubuhnya.
Begitu melihat punggung Linor, Ayyas langsung
mengetuk satu titik di punggung Linor dengan
pukulan cukup keras. Dan akibatnya, "Aaa!"
Linor menjerit keras lalu pingsan. Ayyas segera
menangkap tubuh Linor supaya tidak jatuh berdebam
ke lantai.

Ayyas menurunkan tubuh Linor perlahan ke
lantai. Ia lalu mengambil mantel Linor yang ada
di sandaran kursi. Ayyas berusaha memakaikan
mantel itu ke tubuh Linor. Setelah itu Ayyas
menuju pintu. Pintu itu terkunci. Kuncinya tidak
ada di tempatnya. Ia berpikir sejenak. Ia menduga
Linor memasukkan kunci pintu kamarnya
ke saku mantelnya. Ia cari kunci itu di saku mantel
Linor. Dan benar.

Ayyas membuka pintu kamarnya, lalu
menyeret tubuh Linor dan membiarkan tubuh itu
terkulai begitu saja di atas karpet ruang tamu.
Setelah itu ia menutup pintu kamarnya. Menguncinya.
Dan menggeser meja di kamarnya sebagai
pengganjal pintu kamarnya.

Setelah itu Ayyas menangis tersedu-sedu.

"Hampir saja ya Allah. Oh hampir saja ya Allah!"
Rintihnya sambil menangis. "Rabbana
zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna
lanakunanna minal khasiriin." Ayyas terus
mengulang-ulang doa itu dengan airmata terus
meleleh.

Ia sadar Allahlah yang menyelamatkan dirinya.
Imannya ternyata masih lemah. Kekuatan
imannya belum kuat untuk menghadapi godaan
setan yang tampil dalam pesona kemolekan perempuan
seperti Linor. Ia yang baru saja shalat,
yang baru saja mengisi kekuatan iman, begitu
setan mendatangkan Linor di kamarnya, ia langsung
tidak berdaya. Kalau bukan karena Allah,
maka dirinya akan benar-benar dihina oleh setan
untuk selama-lamanya.

Ia juga sadar, bahwa berhijrah ke tempat yang
lebih baik, harus dilakukan secepat mungkin.
Bahkan tidak boleh ditunda samasekali meskipun
cuma satu malam. Semestinya, jika ia tetap
bermalam di rumah Pak Joko setelah makan
malam, dan baru kembali ke apartemennya
keesokan harinya untuk merapikan dan
mengambil barang-barangnya, maka kejadiannya
akan berbeda. Ia akan lebih selamat dari tipu
daya setan.

Dengan adanya kejadian yang nyaris membuat
dirinya terhina seumur hidup itu, keputusannya
untuk segera meninggalkan tempat di mana
selama ini ia tinggal semakin bulat. Ia sudah bersumpah
mulai besok siang, ia tidak akan menginjakkan
kakinya di apartemen itu lagi.

Setelah airmatanya mulai berhenti meleleh, ia
mengambil air wudhu untuk kembali shalat dan
bersujud kepada Allah. Ia harus terus minta
pertolongan Allah. Ia teringat kalimat Ibnu
Athaillah,

"Kalau kamu tahu bahwa setan tidak pernah
melupakanmu dan terus berupaya membinasakan
kamu, maka kamu janganlah lupa kepada Tuhan
yang nasibmu berada di tangan-Nya."

***

Kira-kira tiga jam Linor pingsan. Menjelang
pukul empat dini hari, ia siuman. Awalnya ia
kaget tegeletak di lantai ruang tamu. Setelah
ingatannya benar-benar pulih, ia sadar apa yang
telah terjadi. Ia diminta membalikkan badan oleh
Ayyas dan tiba-tiba punggungnya disodok sangat
keras dan ia pingsan. Ia tidak tahu setelah itu apa
yang dilakukan Ayyas kepada dirinya.

Tiba-tiba ia sangat marah. Ia ingin tahu apa
yang telah diperlakukan Ayyas pada dirinya
ketika pingsan. Apakah pemuda itu memperkosanya?
Jika benar, ia akan menuntut
pemuda itu. Ia tidak mau hanya dijadikan boneka
oleh pemuda itu.

Linor bangkit. Punggungnya masih sedikit
sakit. Ia melangkah ke kamarnya. Ia buka
laptopnya. Dan ia putar ulang rekaman dari kamera
yang ia pasang di kamar Ayyas. Ia melihat
ulang apa yang terjadi. Mulai sejak ia masuk ke
kamar itu. Ia menguncinya dari dalam. Dan
seterusnya sampai ia membalikkan badan. Ayyas
ternyata menotok punggungnya dengan keras.
Ayyas menjaga tubuhnya agar tidak jatuh membentur
lantai. Ayyas lalu mengenakan mantel
yang ia letakkan di sandaran kursi. Lalu Ayyas
menyeretnya keluar.

Kemudian Linor melihat rekaman yang di ruang
tengah. Nampak dirinya diseret oleh Ayyas
dan dibiarkan telentang di atas lantai begitu saja.
Ayyas lalu masuk ke kamarnya.

Pemuda itu sama sekali tidak menodai dirinya.
Samasekali. Kecantikan dirinya yang ia banggakan
samasekali tidak menarik pemuda itu. Penampilannya
yang ia anggap akan meruntuhkan
semua iman lelaki yang melihatnya samasekali
tidak menggoyahkan iman pemuda itu. Ia nyaris
tidak percaya melihatnya. Ia juga nyaris tidak
percaya ada pemuda yang begitu teguh menjaga
kesuciannya.

Tiba-tiba ia merasa kerdil dan hina. Ia
merayu-rayu. Tapi rayuan itu samasekali tidak
ada gunanya. Ia bertanya pada dirinya, apa
sebenarnya tujuannya merayu pemuda itu. Kalau
mau bersenang-senang dengan lelaki bukankah ia
bisa ke klub-klub malam di Tverskaya? Kenapa
harus melakukan perbuatan konyol seperti itu?
Dan betapa memalukan dirinya diseret seperti
bangkai anjing penyakitan seperti itu. Lalu ditinggalkan
begitu saja. Ia merasa dihina. Dan ia
akan segera membalasnya. Tak lama lagi ia akan
membuat pemuda itu diseret bagai bangkai anjing
oleh para polisi yang menangkapnya. Ya, tak
lama lagi setelah bom meledak di Metropole
Hotel dan mengguncang kota Moskwa.
***
Pagi itu, tak ada tegur sapa antara Ayyas dan
Linor ketika bertemu. Ayyas telah rapi ia menenteng
tas ranselnya. Demikian juga Linor, juga telah
rapi dan siap pergi dengan membawa tas
ransel dan koper. Keduanya bertemu di ruang
tamu. Keduanya nampak sama-sama ingin keluar
pagi itu. Linor telah berjalan selangkah lebih
dulu. Ia mengenakan sepatu musim dinginnya.
Ayyas menunggu dengan wajah dingin. Setelah
Linor selesai memakai sepatunya, barulah Ayyas
bergegas mengambil sepatunya.

Itu masih pagi sekali. Belum jam tujuh.
Yelena dan Bibi Margareta belum terdengar
suaranya.

Linor melangkah membuka pintu. Sebelum
keluar, dengan muka marah dan dingin, Linor
berkata kepada Ayyas, "Hei bodoh, tunggu pembalasanku!
Ingat, tunggu pembalasanku!" Ia lalu
membanting pintu dan melangkah cepat.
Ayyas tersentak dengan ketidakramahan Linor
pagi itu. Ia menyerahkan semuanya kepada Allah.
Ia jadi teringat bagaimana marahnya Zulaikha
kepada Yusuf ketika Yusuf tidak
memenuhi keinginan Zulaikha. Yusuf sampai
menderita harus dipenjara bertahun-tahun.
Apakah dirinya akan mengalami nasib seperti
Yusuf, ia akan dipenjara di Moskwa ini karena
tidak mau memenuhi ajakan Linor? Hanya kepada
Allah ia kembalikan segala urusan.

Pagi itu tujuan Ayyas adalah rumah Pak Joko.
Ia ingin makan pagi dengan Pak Joko! Setelah
shalat Subuh ia di-sms oleh Pak Joko untuk
datang makan pagi bersama. Setelah itu ia akan
ke MGU menemui Doktor Anastasia Palazzo. Ia
merasa tidak bijak jika terus bersikap seperti
anak-anak pada Doktor Anastasia Palazzo. Ia
tetap harus menemui pembimbingnya itu. Dan ia
harus berterus terang bahwa ia tidak suka dengan
ciuman yang dilakukan Doktor itu setelah seminar
tentang Ketuhanan waktu itu. Ia harus menjelaskan
dengan detil apa yang menjadi prinsip
dan pegangan hidupnya yang akan ia pegang teguh
sampai ajal menjemput. Dengan penjelasan
yang luas ia berharap Doktor Anastasia akan
maklum dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan
yang sangat tidak diinginkannya itu.

Itu yang ia rasa harus ia lakukan.
Apalagi Doktor Anastasia Palazzo sampai
mendatangi apartemennya. Itu berarti ada hal
yang memang penting yang ingin disampaikan
doktor muda itu kepada dirinya. Walau bagaimana
pun, setelah ia menerima Doktor
Anastasia sebagai pembimbingnya selama di
Moskwa mewakili Profesor Abraham Tomskii, ia
telah mengakui doktor muda itu sebagai gurunya.
Guru yang memberikan bimbingan penelitiannya.
Dan sebagai santri yang pernah ngaji kitab
TalimulMutdallim, ia tetap harus menghormati
gurunya. Yang baik ia ambil darinya, yang tidak
baik ia buang saja.

Sementara Linor, pagi itu pergi untuk
mengamankan segala data yang berkaitan dengan
aktivitasnya sebagai agen Israel selama ini.

Segala data dan berkas itu telah ia masukkan ke
dalam koper yang dibawanya. Ia akan memindahkannya
ke sebuah tempat yang tidak ada
seorang pun yang tahu kecuali dirinya sendiri.

Ia harus mengamankan segala data dan segala
sesuatu yang memancing kecurigaan pihak
keamanan Rusia, karena tidak lama lagi akan ada
pemboman Metropole Hotel yang sudah dirancang
dengan detil oleh Ben Solomon dan anak
buahnya. Dan semua media, juga pihak keamanan
Rusia, dan nantinyal opini dunia akan digiring
bahwa pelakunya adalah seorang pemuda Indonesia
bernama Muhammad Ayyas, yang
ternyatai anggota jaringan Islam garis keras yang
berbahaya.

Pihak keamanan Rusia akan diarahkan untull
menggeledah tempat tinggal Ayyas. Dan di
kamar Ayyas akan] ditemukan ransel berisi bahan
peledak dan buku-buku Islam, j Tidak mustahil
pihak keamanan Rusia juga akan
menggeledah kamar Yelena dan Linor. Karena itulah
Linor sudah bersiap-1 siap dan
mengamankan semuanya. Ia hanya meninggalkan
barang-barang yang sama sekali tidak akan membuat
pihak keamanan curiga.

Setelah meletakkan kopernya di tempat yang
hanya ia yang tahu, Linor akan langsung terbang
ke Kiev, ibu kota Ukraina?! Sudah tiga kali
ibunya memintanya untuk datang. Ia tidak memberitahu
Ben Solomon bahwa dirinya terbang ke
Kiev. Ia hanya minta izin saat peristiwa pengeboman
itu terjadi. Ya, saat bom mengguncang Mokswa
ia akan berada di luar jauh sana. Ia baru akan
ke Moskwa ketika Ayyas sudah dipenjara-dan ia
akan menjenguk anak muda itu di saat anak muda
itu terlihat putus asa dengan nasibnya. Barulah ia
akan mengatakanj kepadanya, "Inilah
pembalasanku!"

***
Di ruang Profesor Tomskii, nampak Doktor
Anastasia sedang sibuk di depan laptopnya. Ia
sedang sibuk mengakses data ke beberapa perpustakaan
di dunia. Data-data itu ada yang bisa
dia down load, atau dia copy, ada juga yang
sifatnya hanya bisa ia baca. Ia sedang sibuk mendownload
dan sesekali menulis beberapa hal
penting dari data yang hanya bisa ia baca.
Meskipun sibuk seperti itu, ternyata konsentrasi
Doktor Anastasia sebenarnya tidak sepenuhnya
pada data-data yang sedang ia kumpulkan.
Sebagian pikirannya terus tidak lepas dari Ayyas.
Siang itu adalah batas waktu dia harus memberi
jawaban kepada pihak stasiun televisi tentang
kesediaan Ayyas dan dirinya. Untuk dirinya tidak
ada masalah, dia jelas bersedia. Sedangkan untuk
Ayyas, ia tidak tahu. Tidak ada kabar dari Ayyas.
Ia yakin ibu-ibu tua yang ada di apartemen Ayyas
itu pasti menyampaikan pesannya kepada Ayyas.
Jika pihak stasiun televisi menelponnya ia
akan mencoba minta tambahan waktu sampai
malam. Pagi-pagi sekali ia akan memberi kabar.
Ia sudah mengambil keputusan bulat, jika sampai
sore Ayyas tidak juga memberi kabar dan tidak
juga datang, ia akan kembali mendatangi apartemen
Ayyas. Jika bertemu di sana, dia bersyukur.

Jika ternyata Ayyas tidak ada di apartemen, ia
akan menunggu sampai Ayyas pulang.

"Doktor Anastasia, apa kabar?" Seseorang
menyapanya. Karena kedua matanya tertuju
sepenuhnya pada layar laptop, dan pikirannya
mengembara ke mana-mana, Anastasia
samasekali tidak sadar kalau ada seseorang
memasuki ruangan itu dan kini orang itu telah
berdiri tak jauh di hadapannya. Dokter Anastasia
mengangkat pandangannya dan ia terkesima
seketika.

"Oh kau!" Kata Doktor Anastasia Palazzo
setengah tidak percaya.

"Ya. Kenapa Doktor seperti kaget begitu?"
Jawab orang itu dengan tenang, yang tak lain
adalah Muhammad Ayyas.

"Aku kira kau tidak akan datang lagi? Aku
kira kau sudah pulang ke Indonesia atau ke India?"
Doktor Anastasia Palazzo menjawab sekenanya.

"Di mana saja kau selama ini? Kau tidak
memberi kabar, tidak sms, juga tidak menelpon.

Ditelpon tidak bisa, disms tidak dibalas. Ada apa
denganmu?" Lanjut Anastasia sambil bangkit
dari tempat duduknya. Doktor muda itu nampak
bahagia dengan kedatangan Ayyas.

"Maafkan saya Doktor, agak lama saya tidak
memberi kabar, saya ada sedikit masalah."
"Masalah apa?"

"Saya sedang marah kepada seseorang."

"Marah kepada seseorang? Apa hubungannya
dengan kehadiranmu ke sini?"

"Sangat berhubungan. Sebab, terus terang
saja, saya marah pada Anda, Doktor?"

"Marah pada saya? Apa yang saya lakukan sehingga
membuatmu marah?"

"Anda telah berlaku tidak patut pada saya."

"Apa itu? Saya tidak paham."

"Anda telah mencium saya dengan semena-mena."

"Jadi karena ciuman itu?!" Anastasia kaget.

"Ya."

"Itu biasa saja. Aku pikir kau suka."

"Aku tidak mau mendapat ciuman dari perempuan
yang tidak halal bagi saya. Anda bukan
siapa-siapa saya. Bukan ibu saya, bukan kakak
saya, dan bukan adik saya. Anda tidak halal bagi
saya. Anda tidak boleh mencium saya. Dan saya
tidak boleh mencium Anda. Kalau Anda mencium
saya atau saya mencium Anda, kita telah
menodai kesucian diri kita. Kita telah melakukan
dosa. Itu ajaran agama saya."

"Kalau istri mencium suaminya?"

"Boleh. Halal. Bahkan mendatangkan pahala
dari Tuhan."

"Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak tahu.
Aku tidak akan mengulanginya, kecuali nanti
kalau aku suatu saat halal bagimu." Kata Doktor
Anastasia Palazzo pelan.

Hati Ayyas bergetar mendengar kata-kata
Doktor Anastasia Palazzo. Kalimat terakhirlah
yang membuat hatinya bergetar. Seolah doktor
cantik itu berharap, suatu saat akan menjadi perempuan
yang halal baginya.

"Baiklah. Kita lupakan saja yang sudah berlalu.
Sekarang kalau boleh saya mau tanya, apa
benar kemarin petang Doktor mendatangi
apartemen saya? Dan berpesan pada Bibi Margareta
ada sesuatu yang penting yang ingin Doktor
sampaikan kepada saya?"

"Benar. Aku datang ke sana, karena aku tidak
menemukan cara lain untuk menghubungimu.
Memang ada hal sangat penting yang ingin aku
sampaikan. Ada stasiun televisi yang mengundang
kita. Mengundang aku dan kamu untuk talk
show di acara 'Rusia Berbicara' untuk membincangkan
masalah ketuhanan seperti yang ada di
seminar itu. Dua hari lagi acaranya. Kau bisa
ya?"

"Menurut Doktor saya harus bagaimana?"

"Datang. Nanti bersama saya."

"Si Viktor Murasov yang pembeo Nietzsche
itu datang juga?

"Mungkin. Saya tidak tahu persis. Yang jelas
kita berdua diundang untuk jadi narasumber."

"Baiklah Doktor. Saya siap."

"Terima kasih. Saya senang sekali. Saya akan
langsung memberitahu Direktur Programnya."

"Itu acaranya pagi, atau sore, siang atau
malam?"

"Kalau tidak salah siang. Tepat pas waktu
makan siang. Nanti saya pastikan."

"Baiklah."

"Ini sudah saatnya makan siang. Kau mau aku
traktir makan siang di stolovayaV Tanya
Anastasia dengan mata berbinar.

"Tidak. Terima kasih Doktor. Saya masih
kenyang. Sebelum ke sini tadi saya baru makan
di KBRI. Saya mau pesan teh panas pada Bibi
Parlova saja."

"O begitu. Kalau begitu biar saya yang pesan
pada Bibi Parlova. Kau duduk saja dan bisa mulai
melanjutkan penelitianmu."

"Baik. Terima kasih Doktor." Ayyas heran
dengan sikap Anastasia yang begitu ramah
padanya melebihi biasanya. Doktor itu bahkan
sampai meladeninya memesankan teh panas pada
Bibi Parlova. Apakah benar ledekan Yelena itu?
Ia jadi ingat setelah ia panjang lebar menjelaskan
tentang jenis-jenis atheisme, Yelena
berkomentar, "Penjelasanmu runtut dan memahamkan.
Bahkan bisa membuat orang terpana.

Wajar kalau pembicara yang di sampingmu yang
cantik itu sampai menciummu begitu kau selesai
berbicara. Kelihatannya dia jatuh cinta padamu.
Siapa namanya? Anastasia...?"

Apakah sikap Anastasia itu adalah tanda-tanda
bahwa dia jatuh cinta padanya?

Ayyas beristighfar. Ia memohon kepada Allah
agar dirinya dilindungi dari godaan setan yang
terkutuk. Juga memohon kepada Allah agar
dilindungi dari godaan perempuan yang sering
membuat tak berdaya kaum lelaki di mana saja.
Ia merasa, setelah lolos dari sergapan setan
melalui Linor, ujian berat berikutnya nampaknya
akan datang melalui Anastasia Palazzo yang tak
kalah jelita dan menariknya.

***
Salju baru berhenti turun ketika Linor tiba di
Bandara Internasional Boryspil. Hanya masih ada
satu dua butir salju yang jatuh melayang dari
langit. Linor langsung menaiki FM Taxi begitu
keluar dari bandara. Hari mulai gelap. FM Taxi
itu meluncur ke utara menuju tengah kota Kiev
yang jaraknya tidak kurang dari 40 km dari
Boryspil.

Linor tidak menuju Sunflowe B&B Hotel seperti
yang disarankan oleh Yelena. Hotel model itu
kurang cocok untuk seorang agen seperti dirinya.
Ia lebih suka untuk meletakkan tasnya di
Shreborne Guest House yang letaknya tak jauh
dari stasiun metro Arsenalna, dan dari sungai
Dnipro yang ada di sisi timur kota Kiev.

Tujuan Linor terbang ke ibu kota Ukraina
bukan untuk menginap di hotel, atau untuk sebuah
operasi intelijen. Samasekali tidak. Tujuan
sebenarnya adalah untuk menemui ibunya yang
sudah hampir satu tahun tidak bertemu
dengannya. Untuk menemui ibunya ia tidak mau
ada satu agen pun yang tahu, termasuk Ben
Solomon.

Ia memiliki lima paspor dari lima negara
dengan nama yang berbeda-beda, identitas yang
berbeda dan wajah yang sedikit berbeda. Agen
yang lain tahunya ia memiliki empat paspor, termasuk
paspor Rusia. Ada satu paspor yang
sangat ia rahasiakan, dan itu adalah paspor
yang ia gunakan untuk memasuki Ukraina
untuk menemui ibunya. Jika di paspor Rusia
namanya adalah Linor dan ia juga memiliki ID
Card resmi dari Pemerintah Rusia dengan nama
Linor, maka untuk paspor yang ia gunakan
memasuki Ukraina ia memilih nama Sofla Corsova,
berkebangsaan Belarusia.

Sofia adalah nama yang diberikan oleh ibunya
untuknya. Dan Corsov adalah nama kakeknya,
ayah ibunya. Nama ibunya sendiri sesungguhnya
adalah Ekaterina, yang lahir di kota Ratomka,
Belarusia. Lengkapnya Ekaterina Corsova Fyodorovna.
Tetapi oleh ayahnya nama ibunya itu
diganti menjadi Shim'ona Jelinek agar lebih nampak
kental Yahudinya.

Nama ayahnya sendiri adalah Eber Jelinek.
Dan namanya sendiri yang ada di dokumen sejak
kecil adalah Sarah Jelinek. Itu namanya yang
sebenarnya, karena itu adalah nama pemberian
ayahnya dan mengikut kepada nama keluarga
ayahnya. Dari lima paspor yang ia miliki, salah
satunya memakai nama Sarah Jelinek, berkebangsaan
Polandia.

Jadi dari data dan realitas yang ia tahu,
meskipun sejak usia dua belas tahun ia hidup di
Moskwa dan hidup sebagai orang Rusia serta
diakui sebagai warga Rusia, ia sesungguhnya
adalah berdarah Belarusia dan Polandia. Tepatnya
berdarah Yahudi Belarusia dan Polandia.

Ayahnya sering mengatakan, kalau darah
ayahnya adalah Yahudi tulen yang masih terjaga
darah ras Yahudinya. Dan karena ayahnya adalah
Yahudi tulen ia sangat bangga menjadi anak
ayahnya yang dengan sendirinya berarti ia
Yahudi tulen. Ia merasa menjadi manusia paling
beruntung karena ditakdirkan menjadi Yahudi,
yang menurut para rabi dan para hakhom, Yahudi
adalah manusia pilihan Tuhan di atas muka bumi
ini.

Setelah istirahat sebentar di kamar eksekutif
Shreborne Guest House, Linor menghubungi
penyewaan mobil. Ia menyewa mobil sedan
hitam untuk beberapa hari. Malam itu juga ia meluncur
ke arah selatan, meninggalkan kota Kiev.
Ia mengendarai mobil sedan hitam itu menuju sebuah
kawasan Pyrohovo yang terletak delapan
kilometer dari kota Kiev.

Sampai di Pyrohovo Linor membawa mobilnya
memasuki jalan Horodotska. Ia mencari
apartemen bernuansa Romawi. Tak lama kemudian
ia menemukan apartemen itu. Perlahan ia
mengarahkan mobilnya memasuki tempat parkir
dan ia langsung menuju lantai tujuh. Tepat di depan
pintu 7011 Linor menelpon ibunya. Ketika
ibunya menanyakan di mana keberadaannya,
Linor mengatakan, "Mama, bukalah pintu, aku
berada tepat di depan pintu apartemen Mama."
Pintu terbuka. Seorang perempuan yang belum
begitu tua muncul dari balik pintu. Sebagian
rambut perempuan tua itu telah memutih, tetapi
kulit wajahnya masih segar. Hidungnya
mancung, dan tatapan matanya tajam. Perempuan
itu langsung membuka tangannya lebar-lebar
sambil tersenyum. Linor menghambur ke pelukannya
dengan hati damai. Kini ia merasa damai
dalam dekapan ibunya.

Dulu saat masih remaja, ia selalu ingin lepas
dari ibunya, juga dari ayahnya. Setelah ia lepas
dan benar-benar hidup bebas, ia sering merasa
hatinya gelisah entah kenapa. Dan dalam
dekapan ibunya selalu merasa tenang. Seolaholah
dada ibunya itu telah menyedot seluruh
gelisahnya.

Setelah ayahnya meninggal dua tahun lalu
karena terkena kanker liver, ibunya hidup sendiri.
Ia memilih hidup di desa yang pernah menjadi
kenangan ibunya waktu remaja. Yaitu desa Pyrohovo,
yang berada di pinggir selatan ibu kota
Ukraina. Menurut cerita ibunya sendiri, ibunya
memang lahir di Ratomka, Belarusia, tahun 1957.

Kakeknya adalah seorang dokter gigi yang
bekerja pada dinas kesehatan pemerintah. Sebenarnya,
kakeknya mengawali kariernya di Minsk,
tetapi dalam perkembangan kariernya, dia ditugaskan
di Ratomka sebagai ketua pengawas
kesehatan di kota itu. Dalam kondisi yang cukup
baik itulah ibunya dilahirkan.

Kakeknya orang Belarusia biasa yang pada
waktu muda dulu belajar ilmu kedokteran di
Universitas Negeri Moskwa. Neneknyalah yang
masih memiliki aliran darah Yahudi. Neneknya,
konon, termasuk Yahudi yang melarikan diri dari
Polandia dan bisa sampai di Moskwa dengan
selamat ketika PD II berkecamuk dengan sengitnya.
Di Moskwa itulah neneknya bertemu dengan
kakeknya. Selanjutnya neneknya menikah
dengan kakeknya, dan terus ikut kakeknya ke
mana pun kakeknya pergi dan di mana pun
kakeknya berada.

Dari pernikahan kakek dan neneknya itu lahirlah
ibunya yang diberi nama Ekaterina. Dan tiga
tahun berikutnya, lahirlah bibinya yang diberi
nama Agneszka. Mereka berdua lahir di
Ratomka, tapi kemudian besar di Pyrohovo.

Menurut cerita ibunya, ketika ibunya memasuki
usia sebelas tahun, kakeknya pindah ke Ukraina
karena adanya perselisihan yang serius dengan
pegawai dinas kesehatan kota Ratomka yang lain.
Kakeknya tidak bisa tenang dengan perselisihan
itu, akhirnya memilih pindah ke Ukraina.

Kakeknya langsung mendapat kepercayaan memimpin
sebuah klinik kesehatan di Kiev, tetapi
'kakeknya memilih tinggal di luar kota Kiev. Tepatnya
di desa Pyrohovo. Sejak itu kakek, nenek,
ibu dan bibinya tinggal di desa Pyrohovo. Ibu
dan bibinya berkembang dan menghabiskan masa
remajanya di desa itu.

Sayangnya rumah yang dulu ditempati ibunya
ketika masa remaja sudah dijual oleh kakeknya
sebelum meninggal. Dan kini rumah itu sudah
diratakan dengan tanah. Di atasnya telah di bangun
toko swalayan serba ada, semacam universam
kalau di Moskwa.

Akhirnya ibunya memilih tinggal di apartemen
di jalan Horodotska. Apartemen itu ayahnya
yang membelikan, tapi diatasnamakan seorang
nenek tua penduduk Pyrohovo yang miskin dan
hidup sebatang kara. Nenek itu bernama Natasha,
dan kini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya
sudah menyegel bahwa begitu Natasha meninggal,
maka secara otomatis apartemen itu menjadi
milik ibunya yang dalam segel itu dianggap
sebagai satu-satunya pewaris nenek yang hidup
sebatang kara itu.

Ayahnya sampai melakukan hal rumit seperti
itu demi mengamankan ibunya dari musuhmusuh
ayahnya yang tidak sedikit. Ayahnya
ingin agar ibunya dan segala yang dimiliki oleh
ibunya tidak terlacak oleh para intelijen mana
pun. Setelah ayahnya meninggal, ibunya langsung
menghilang dari peredaran. Teman-teman
ayahnya di Moskwa bahkan tidak tahu di mana
ibunya berada. Banyak yang beranggapan ibunya
juga telah meninggal bunuh diri karena frustasi.
Padahal ibunya kini hidup tenang di daerah Pyrohovo
dengan harta peninggalan ayahnya yang
melimpah.

"Kau selalu mengejutkan Mama." Kata Madame
Ekaterina dengan mata berkaca-kaca karena
terharu bahagia. Madame Ekaterina
mengendorkan pelukannya tapi kedua tangannya
yang mulai keriput itu memegang kepala Linor
dan menghadapkan ke wajahnya dengan penuh
lembut.

"Aku ingin membuat Mama terkejut bahagia."

Jawab Linor sambil menatap mata ibunya dengan
penuh cinta.

"Dan kau sudah berhasil melakukannya."

"Mama sehat-sehat saja?"

"Ya. Seperti yang kaulihat. Kau- sendiri bagaimana,
Anakku?"

"Linor baik-baik saja, Mama."

"Ah kenapa masih juga kau pakai nama itu.
Mama lebih suka kau memakai nama Sofia."

"Baiklah kalau bersama Mama, aku akan memakai
nama Sofia." Kata Linor halus. Perangainya
sangat berbeda ketikal bersama orang
lain. Biasanya Linor selalu dingin dan kelihatan!
tidak peduli. Tetapi kepada ibunya Linor begitu
lembut dan J penuh perhatian.

Mereka berdua masuk ke dalam apartemen
dan menutup pintu. Ruang tamu apartemen itu
bernuansa Rusia klasik nanl mewah. Dindingnya
berwarna putih gading. Langit-langitnya^ berhias
ukiran khas Rusia yang berwarna keemasan.
Lampu | kristal yang indah menggantung di
tengah ruangan. Jendela j yang tertutup rapat dihiasi
gorden yang indah dari sutra yang1 disulam
dengan benang-benang emas. Siapa pun yang
memasuki ruang tamu itu akan merasa berada di
salah satu ruang pembesar kekaisaran Rusia abad
delapan belas. Itu juga yang dirasakan oleh
Linor.

"Istirahatlah di kamarmu. Mama sudah mempersiapkannya
sejak memintamu datang. Istirahatlah

"dulu. Nanti akan Mama panggil untuk
makan malam bersama."

"Baik Mama."

Linor langsung melangkah memasuki sebuah
kamar yang cukup besar. Itu adalah kamarnya.
Sudah beberapa kali ia tidur di kamar itu sejak
ibunya memutuskan untuk menghabiskan masa
tua di daerah Pyrohovo yang terletak di pinggir
kota Kiev itu. Linor merebahkan tubuhnya ke
kasur empuk. Tubuhnya terasa begitu dimanja
oleh kenyamanan kasur itu. Ia hampir terlelap, ia
teringat untuk mandi dengan air hangat.

Sudah tiga hari ia tidak mandi. Tidak mandi
beberapa hari adalah hal yang biasa ia lakukan di
musim dingin. Ia merasa cukup dengan membersihkan
muka dan memakai
bedak penyegar untuk tubuhnya, serta parfum
tubuh untuk pengharum. Itu sudah cukup. Tetapi
setelah tiga hari tidak mandi ia merasa harus
mandi agar tubuh terasa lebih segar. Maka Linor
pun hanyut dalam kenikmatan belaian air hangat
yang kesegarannya dapat ia rasakan sampai ke
seluruh tulang-tulang tubuhnya.

Selesai mandi dan berganti pakaian, Madame
Ekaterina memanggilnya untuk makan malam.
Linor menuju meja makan dengan nafsu makan
yang menyala. Ibunya sudah duduk menunggu,
juga seorang perempuan yang sudah renta
bernama Natasha.

Di atas meja nampak roti Ukraina yang masih
hangat. Di sampingnya ada sup jamur, ada
jugapay isi daging kelinci yang juga masih
hangat dan potongan-potongan keju keras yang
ditaburi merica ala Italia. Menu makan malam itu
dilengkapi salad yang terdiri atas pelbagai jenis
sayuran dan buah yang dicampur dengan minyak
Zaitun yang harum. Linor juga mencium aroma
segar teh Long Jing. Teh termahal di dunia yang
dipetik dari perkebunan teh Long Jing di daerah
Hang Zhou, China.

Ibunya memang memiliki selera minum teh
yang sangat tinggi. Ia punya daftar puluhan jenis
teh paling enak di dunia. Selain teh Long Jing,
teh paling enak di atas muka bumi ini adalah teh
hijau dari perkebunan teh Solok, Sumatera Barat,
Indonesia. Ibunya biasa mendapatkan teh itu
tidak dari Indonesia, tapi justru dari Amsterdam,
Belanda.

Linor makan malam dengan sangat bersemangat.
Ia menyantap habis pay isi daging
kelinci yang masih hangat itu. Pay buatan ibunya
itu memang salah satu makanan kesukaannya sejak
kecil. Sup jamur yang masih panas itu membuat
badannya terasa hangat. Dan kehangatan itu
disempurnakan oleh segarnya teh Long Jing.
Madam Ekaterina, nampak sangat bahagia melihat
Linor makan seumpama orang yang berharihari
tidak makan. Hampir semua hidangan yang
tersaji di atas meja, Linorlah yang menyantapnya.
Setelah makan malam, Madame Ekaterina
Corsova Fyodorovna mengajak Linor ke
kamarnya yang luas. Kamar itu tertata dengan
sangat mengagumkan. Tiga tirai keemasan
melindungi jendela-jendela kaca-gandanya.

Langit-langitnya dihiasi ornamen keemasan. Di
salah satu dindingnya nampak rak buku yang
membuat kamar itu jika dilihat dari sudut itu,
seumpama perpustakaan yang memiliki koleksi
buku klasik dan kontemporer sama banyaknya.
Di atas tempat tidur yang nampak elegan itu
ada lukisan besar cat minyak yang menghidupkan
kamar mewah itu. Yaitu lukisan bunga mawar
putih yang begitu segar. Jika dilihat dari jarak
agak jauh sambil sedikit melangkahkan kaki,
bunga mawar itu bisa nampak seperti bergerak
pelan seperti tertiup angin.

Madame Ekaterina meminta Linor duduk di
sofa yang empuk. Sofa itu menghadap ke layar
televisi flat yang sangat besar. Madame Ekaterina
duduk dengan tenang. Ia memandangi Linor yang
malam itu nampak sangat anggun dalam balutan
gaun merah tua berlengan panjang yang nampak
klasik sekaligus modern.

"Kau semakin cantik, Anakku." Puji Madame
Ekaterina sambil tersenyum pada Linor.

"Karena Mama cantik."

"Jadi kau merasa cantik karena kecantikanmu
itu menurun dari Mama?"

“Iya.”

"Apa kau masih lelah, Anakku?"

"Tidak Mama. Rasa lelah itu sudah hilang begitu
Sofia bertemu Mama." Linor sudah menyebut
dirinya sebagai Sofia. Nama yang dicintai
oleh ibunya.

"Bolehkah Mama mengajakmu bicara panjang
lebar sampai larut malam?"

"Dengan senang hati Mama."

"Aku ingin kau mengetahui siapa kau
sebenarnya?"

"Mengetahui siapa aku sebenarnya? Apa maksud
Mama?"

"Mama merasa ini sudah waktunya. Kau harus
tahu siapa kau sebenarnya, sehingga kau benarbenar
akan mendapatkan kemerdekaanmu yang
sebenarnya. Mama ingin kau benar-benar merdeka
menentukan jalan hidupmu, setelah kau
mengetahui jatidirimu yang sesungguhnya.
Mama tidak ingin kau dijajah oleh siapapun dan
apapun, termasuk dijajah oleh kenyataan yang
selama ini Mama tutup rapat-rapat darimu." Madame
Ekaterina bangkit menuju layar televisi.

"Tetap duduklah di situ. Mama ingin kau melihat
dokumen sejarah ini." Kata Madame Ekaterina
sambil membuka rak kaca berisi kaset-kaset
video.

Tak berapa lama Madame Eketerina sudah
berhasil memutar sebuah kaset dengan pemutar
kaset video yang terletak di bawah layar televisi
yang lebar itu. Di layar nampak keterangan yang
menjelaskan bahwa video itu adalah dokumen sejarah
nyata yang direkam oleh seorang wartawan
dari Kanada. Lalu keluarlah judul "Dokumentasi
Pembantaian Sabra dan Shatila 1982."

"Apa hubungan diriku dengan pembantaian
Sabra dan Shatila?" Tanya Linor agak penasaran.

"Duduklah dan lihatlah dengan baik-baik.
Nanti Mama akan jelaskan semuanya."

Dilayar kaca nampak dari jarak yang agak
jauh, seorang tentara berseragam hijau menembak
tubuh seorang anak kecil yang tangan dan
kakinya terikat dengan kabel listrik. Terakhir
tentara itu memecahkan kepala anak kecil itu
dengan senjata1 otomatisnya. Kamera kemudian
mengambil middle close up dari dada hingga
muka anak kecil itu. Layar kaca itu seperti merah
kehitaman. Muka itu sudah tidak berbentuk.
Sepenuhnya darah. Benar-benar hancur.
Kamera lalu bergerak menyusuri jalan. Tertulis
di layar, itu adalah sebuah jalan di Sabra. Di
jalan itu terlihat mayat-mayat bergelimpangan
dan bertumpuk-tumpuk. Lalu nampak mayat seorang
pria tua. Ia mengenakan baju panjang berwarna
cokelat muda dan kopiah putih. Pria tua itu
ditembak di kepalanya dan kedua matanya telah
dicungkil.

Di layar kaca kemudian nampak rumah-rumah
yang dirobohkan, bangunan-bangunan yang
hancur, puing-puing, wajah-wajah yang ketakutan,
dan seorang perempuan muda yang membawa
bayi dengan wajah putus asa. Dua orang
tentara mendekati perempuan muda itu dan merebut
bayinya. Perempuan muda itu mati-matian
mempertahankan bayinya. Tetapi beberapa detik
kemudian darah muncrat dari jilbab putih yang
menutupi kepalanya. Beberapa butir peluru menembus
kepalanya. Bayinya juga mengalami nasib
yang sama. Mayat perempuan muda dan anaknya
itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
Adegan penembakan lainnya di jalan utama
kamp Sabra dan Shatila terekam jelas. Kemudiam
nampak di layar kaca tumpukan mayat terlihat
di kedua sisi jalan. Lalu nampak mayat-mayat
yang tergeletak di gang-gang kecil di kamp,
mayat-mayat yang ditumpuk di atas mayat-mayat
lainnya, tubuh-tubuh yang terpotong, dengan
tangan-tangan yang terlepas, tubuh-tubuh yang
membusuk dan membengkak yang pastinya telah
mati sehari atau dua hari sebelumnya.

Kamera kemudian mengambil close up mayat
seorang perempuan muda setengah telanjang
yang berlumuran darah. Kerudung putih penutup
kepalanya lepas tak jauh dari tubuh. Gamisnya
nampak terkoyak-koyak. Perutnya sobek, dan
isinya terurai. Dahinya nampak lebam oleh
pukulan benda keras. Yang membuat bulu kuduk
tambah berdiri dada perempuan itu rusak, payudaranya
seperti disayat-sayat sampai hancur.

Melihat pemandangan itu, Linor yang biasanya
dingin . dan sering tidak memiliki rasa kasihan
kepada korban yang harus dibunuhnya, kali ini
Linor merasakan kengerian dalam dirinya. Ia
tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi
pada dirinya.

Di layar kemudian nampak mayat-mayat yang
tangan dan kakinya diikat dengan kabel listrik
dan mayat-mayat yang dipenuhi tanda bekas
habis dipukuli sebelum akhirnya dibunuh. Mayat
anak-anak, bocah perempuan dan laki-laki serta
wanita dan pria yang sudah renta. Beberapa mayat
masih digenangi merahnya darah, lainnya tergenang
dalam cairan darah yang kecoklatan,
bahkan menghitam.

Dan kembali nampak mayat-mayat wanita
yang bajunya terlepas dari dari tubuhnya, tetapi
kondisi tubuhnya terlalu rusak sehingga susah
untuk mengatakan apakah mereka habis '
diperkosa atau disiksa sampai mati.
Linor kembali merasakan kengerian menyusup
ke dalam hatinya.

Layar kaca kemudian menampilkan sebuah
stadion yang dipenuhi mayat yang bertumpuktumpuk
dan bergelimpangan. Di sekitar stadion
nampak banyak pakaian wanita. Kamera lalu
mengambil close up beberapa mayat wanita yang
binasa tanpa pakaian. Lalu nampaklah seorang
lelaki setengah baya yang wajahnya mengguratkan
ketakutan, kecemasan sekaligus
kemarahan.

Orang setengah baya itu adalah orang Libanon
yang tinggal di dekat Sabra dan Shatila yang
selamat dari pembantaian. Dengan marah lelaki
setengah baya itu memberikan kesaksian bahwa
banyak wanita dipaksa bertelanjang bulat, lalu
diperkosa para tentara sebelum akhirnya dibunuh.
Setelah itu nampak seorang wanita Libanon
yang selamat dari pembantaian. Ia memperlihatkan
rumahnya yang sebagian telah hancur,
dan memberikan sebuah kesaksian, bahwa ia
tinggal dekat stadion itu dan dari tempat persembunyiannya
ia dapat melihat apa yang terjadi.

Ia merasa geram karena ada manusia yang tega berbuat
seperti itu kepada sesamanya, la mengakhiri
kesaksiannya seraya berteriak, "Jangan sampai
ada lagi! Bahkan seorang nenek tujuh puluh
tahun pun diperkosa tanpa ampun dan dibunuh
dengan kejam."

Wanita itu gemetaran saking marahnya. Linor
ikut gemetar. Dan Madame Ekaterina sejak awal
telah meneteskan airmata karena sedih yang luar
biasa. Perempuan yang rambutnya sudah memutih
itu seolah-olah kembali berada di tengahtengah
kamp Sabra dan Shatila yang mencekam.
Ia seolah-olah kembali mencium anyir darah.
Ia kembali teringat ketika seorang wanita tua
Libanon menyerahkan seorang bayi kepadanya
untuk diselamatkan. Ia diminta untuk membawa
pergi sejauh-jauhnya dari Sabra dan Shatila.

"Bawalah pergi, selamatkanlah nyawanya.
Ibunya telah diambil para milisi itu. Bawalah dia,
aku percayakan padamu. Cepatlah pergi, tak ada
waktu lagi. Tak lama lagi milisi-milisi itu akan
kembali mengadakan operasi. Mungkin akan tiba
giliranku menyusul saudara-saudaraku yang telah
terbunuh. Cepat bawalah bayi ini pergi. Hanya
pintaku, suatu saat tolong beritahu dirinya, siapa
sesungguhnya dirinya. Dirinya adalah orang
Palestina. Ibunya Palestina. Ayahnya orang
Libanon. Ayah dan ibunya sudah gugur bertemu
Allah di kamp Sabra dan Shatila."

Kata-kata wanita tua Libanon itu kembali
terngiang-ngiang di telinganya. Seolah-olah ia
baru saja mendengarnya. Madame Ekaterina tibatiba
terisak-isak, airmatanya meleleh. Linor melihat
sesuatu yang tidak biasanya pada ibunya.
Tidak biasanya ibunya menangis menyaksikan
orang-orang Palestina dibantai. Meskipun ibunya
tidak pernah ikut membantai, tetapi selama ini ia
tahu ibunya selalu mendukung ayahnya yang sering
melakukan operasi intelijen untuk
kepentingan Israel.

Berkali-kali ayahnya menjadi dalang pembunuhan
siapa saja yang mendukung perjuangan
orang Palestina, dan ibunya tahu itu. Tapi ibunya
tidak pernah menangis. Ibunya selama ini, sepengetahuan
dirinya selalu mendukung ayahnya.

Tetapi kenapa kali ini menyaksikan pembantaian
Sabra dan Shatila ibunya menangis. Kenapa?

"Ibu menangisi apa? Menangisi orang-orang
Palestina yang mati itu?" Tanya Linor dengan ekspresi
dingin.

"Anakku, cobalah kauputar ulang bagian perempuan
muda yang gamisnya terkoyak-koyak,
payudaranya hancur tersayat-sayat tak berbentuk,
perutnya sobek, dan isinya terurai. Cobalah putar
ulang di bagian itu, Anakku." Kata Madame Ekaterina
pelan.

Linor beranjak dari duduknya dan memenuhi
permintaan ibunya. Ia memutar balik kaset video
itu. Kemudian ia kembali memutar adegan pembantaian
Sabra dan Shatila. Di layar kaca yang
lebar itu langsung nampak gambar yang
mengerikan. Mayat-mayat yang tergeletak di
gang-gang kecil di kamp, mayat-mayat yang
ditumpuk di atas mayat-mayat lainnya, tubuh-tubuh
yang terpotong, dengan tangan-tangan yang
terlepas, tubuh-tubuh yang membusuk dan membengkak
yang pastinya telah mati sehari atau dua
hari sebelumnya.

Lalu nampak mayat seorang perempuan muda
setengah telanjang yang berlumuran darah. Kerudung
putih penutup kepalanya lepas tak jauh dari
tubuh. Gamisnya nampak terkoyak-koyak. Perutnya
sobek, dan isinya terurai. Dahinya nampak
lebam oleh pukulan benda keras. Yang membuat
bulu kuduk tambah berdiri, dada perempuan itu
rusak, payudaranya seperti disayat-sayat sampai
hancur. Kamera meng-close up mayat perempuan
muda yang mati dengan cara sangat mengenaskan
itu dengan sangat jelas. Siapa pun yang
menyaksikan gambar itu, jika masih memiliki
hati dan nurani yang sehat pasti akan merinding
dan gemetar karena dicekam rasa ngeri sekaligus
marah, marah sekaligus ngeri. Bagaimana
mungkin ada manusia yang tega melakukan
tindakan yang sedemikian keji kepada sesama
manusia.
"Tolong dï-pause, Anakku!" Kata Madame
Ekaterina kepada Linor. Di layar kaca nampak
gambar midle close up perempuan itu dari dadanya
yang rusak sampai kepalanya. Dahinya lebam
membiru. Mata kanannya seperti telah dicukil.
Ada darah mengalir di pojok bibirnya. Pipinya
kotor oleh tanah dan bercak darah. Rambutnya
yang pirang kecoklatan nampak awut-awutan. Jilbabnya
lepas tak jauh dari kepalanya.

"Lihatlah gambar perempuan yang mati
dengan sangat tragis itu, Anakku! Apa yang
kaurasakan, Anakku?" bibir Madame Ekaterina
bergetar, airmatanya meleleh.

"Aku tidak merasakan apa-apa Mama." Jawab
Linor dingin.

"Kau tidak merasakan apa-apa? Tidak ada
sedikit pun di hatimu rasa kasihan? Atau rasa
marah pada orang yang berbuat keji pada
perempuan itu?!" Sahut Madame Ekaterina
dengan mata menyala.

"Tidak perlu kasihan. Kenapa harus kasihan
pada orang bodoh seperti perempuan Palestina
itu?" Jawab Linor sinis.

Airmata Madame Ekaterina meleleh semakin
deras. Ingin rasanya ia menampar muka Linor
sejadi-jadinya dan memarahi Linor semarahmarahnya,
tetapi ia segera sadar bahwa Linor sedemikian
benci pada orang Palestina karena
memang selama ini dia didoktrin untuk itu.

Bukankah Linor kini adalah agen rahasia Israel?

"Anakku Linor, bukan salahmu kalau kau
sangat tidak menyukai orang Palestina. Tetapi
Mama minta cobalah kaulihat baik-baik perempuan
yang ada di layar kaca itu. Lihatlah baik-baik.
Rasakanlah getaran-getaran halus nuranimu
paling dalam. Tolong!"

Linor diam. Kedua matanya memandangi
gambar perempuan Paletina yang mati mengenaskan
itu. Sesaat lamanya Linor memandangi
gambar itu. Hatinya sama sekali tidak tersentuh
olehnya. Tak ada perubahan apa-apa di wajahnya.
Madame Ekaterina juga diam dengan airmata
terus meleleh. Sesaat keheningan menyelimuti
ruangan itu.

"Anakku." Suara Madame Ekaterina memecah
kesunyian.

"Sebenarnya Mama ingin bercerita panjang
kepadamu. Cerita nyata yang sangat penting untuk
kaudengar. Tetapi kurasa kau perlu istirahat
setelah perjalanan jauh. Istirahatlah di kamarmu.
Mama juga perlu istirahat. Besok pagi setelah
sarapan pagi, Mama akan bercerita kepadamu."

"Baiklah Mama."

"Hanya Mama minta, sebelum tidur bayangkanlah
wajah perempuan yang ada di layar
itu. Bayangkanlah meskipun cuma sekejap."

"Mama ini minta yang aneh-aneh. Kenapa aku
harus membayangkan wajah perempuan itu?
Kenapa tidak harus membayangkan wajah Mania
saja?"

"Besok akan Mama ceritakan semuanya. Setelah
Mama ceritakan semuanya, Mama berharap
kau tidak lagi membenci perempuan yang kaulihat
di layar kaca itu. Mama sangat berharap."

"Aku benar-benar tidak paham dengan apa
yang Mama ucapkan. Tetapi baiklah aku akan
menunggu sampai besok. Sampai Mama menceritakan
apa yang perlu Mama ceritakan. Dan aku
tidak yakin bisa memenuhi harapan Mama."

"Mama sangat berharap."
Linor baru bangun dari tidurnya. Pagi itu salju
turun perlahan di seantero kota Kiev. Salju juga
turun seolah membungkus segala benda yang ada
di Pyrohovo. Linor bangkit dan menuju ruang
tamu. Linor melihat Madame Ekaterina sedang
duduk di sofa sedang membaca buku tebal. Dan
Bibi Natasha sedang menata makanan di meja
makan untuk sarapan.

Linor duduk di samping Madame Ekaterina. Ia
memerhatikan apa yang dibaca oleh ibunya.
Linor agak terkejut melihat buku yang dipegang
ibunya.

"Bukankah yang Mama baca itu kitab sucinya
orang Islam?" Tanya Linor dengan wajah mengguratkan
keheranan sekaligus rasa tidak suka.
Madame Ekaterina, mengangkat mukanya dan
memandang Linor dengan penuh kasih sayang
dan tersenyum.

Ia menjawab pelan, "Iya. Kenapa? Apa salah
kalau aku membaca kitab sucinya orang Islam?"

"Tidak Mama. Cuma, Mama hanya akan
melakukan hal yang sia-sia. Lebih baik Mama
membaca talmud, itu jauh lebih bermanfaat. Jauh
lebih mengukuhkan jatidiri Mama sebagai: orang
Yahudi."

"Itu doktrin ayahmu ya?"

Iya.

"Sudah saatnya kau memiliki wawasan yang
lebih luas. Tidak terbatas pada talmud. Sudah
saatnya kau meluaskan bahan bacaan, Anakku.
Dan menurutku kitab suci orang Islam ini, layak
untuk kaubaca. Siapa tahu kau akan menemukan
kebaikan di sana."

"Mama harus hati-hati, membaca kitab suci
orang Islam itu bisa membuat Mama tersesat."

"Kau memandang Mamamu ini seperti anak
kecil saja, Anakku. Ingatlah, Anakku yang
mengajari kamu membaca dan menulis pertama
kali adalah Mamamu ini. Yang mengajari kamu
pertama kali bagaimana bermain biola dengan
baik juga Mamamu. Mamamu ini pernah kuliah
di London, jadi jangan kauremehkan seperti itu."
Kata Madame Ekaterina dengan tegas.
tapi bisa saja..

"Sudahlah Anakku," Madame Ekaterina
memotong perkataan Linor, "kita tidak usah berdebat
tentang hal-hal seperti ini, mari kita makan
pagi, setelah itu aku akan bercerita panjang kepadamu.
Tentang banyak hal yang harus kamu
ketahui sebelum nanti Mama keburu mati. Sebab
kita tidak tahu kapan kematian itu akan datang
menjemput. Sebab kematian itu selalu mengintai
kita dari waktu ke waktu. Ayo kita sarapan. Bibi
Natasha sudah menatanya di atas meja makan.
Ayo kita ke sana!"

Linor mengikuti ajakan Madame Ekaterina.
Mereka berdua beranjak ke meja makan yang tak
jauh dari sofa tamu. Bibi Natasha sudah duduk
tenang di sana. Melihat menu yang dihidangkan
mata Linor langsung berbinar bahagia. Ada tiga
piring trovog. Ada cyorni khleb atau roti hitam
yang bergelimangan di sebuah piring besar. Ada
panci berisi sup ukha yang masih mengepul,
menyebarkan aroma yang khas. Juga ada kentang
kukus yang nampak kuning keemasan. Ada salad
sayur dan buah yang diaduk dengan maionez dan
minyak olive. Juga ada buah-buahan segar, anggur,
pir dan apel.

"Wah, ini pesta Mama!" Seru Linor.

"Ya, keberadaanmu di sini adalah hari raya,
Anakku."

"Siapa yang membuat sup ukha-nya?"

"Ciumlah aromanya, kau akan tahu khasnya
dan kau akan tahu siapa pembuatnya."
Linor tersenyum. Ia lalu mendekatkan
hidungnya ke dekat panci di mana sup ukha
masih mengepulkan asap. Ia memejamkan mata
dan menghirupnya dengan bibir tersenyum.

"Mmm, dicium dari aromanya, ini buatan
Mama." Kata Linor sambil tetap memejamkan
mata dan menghirup aroma sup ukha.

"Ya, begitu bangun dari tidur Mama langsung
menyiapkan sup ini untukmu."

"Spasiba balshoi, Mama."

Mereka bertiga lalu menikmati makan pagi itu
dengan penuh semangat. Linor sampai menyeruput
empat mangkuk sup ukha. Madame Ekaterina
melihatnya dengan senyum bahagia. Sementara
Bibi Natasha nampak sangat menikmati roti
hitam yang ia makan dengan trovogyang juga
masih hangat. Madame Ekaterina sendiri
mengambil roti hitam dan memakannya bersama
dengan sup ukha.

Di apartemen itu, Linor merasa sangat lapang
dada dan pikirannya. Ia terbebas dari banyak
tekanan. Terutama tekanan tugas dari Ben Solomon
yang menjadi pimpinan seluruh agen rahasia
Israel di Rusia. Sarapan pagi itu ditutup
dengan makan buah-buahan dan minum teh Long
Jing kesukaan Madame Ekaterina.

Selesai sarapan Madame Ekaterina mengajak
Linor ke kamarnya. Ia ingin bercerita banyak hal
kepada Linor. Dengan hati diliputi penasaran
Linor mengikuti ibunya ke kamar. Ia merasa
ibunya kali ini berlaku sangat aneh. Memintanya
menonton film dokumenter tentang pembantaian
orang Palestina di kamp pengungsian Sabra dan
Shatila. Memintanya untuk melihat ulang perempuan
muda Palestina yang dibantai dan mati
mengenaskan.

Dan lebih aneh lagi, ibunya itu meminta
supaya mengingat perempuan muda yang mati
mengenaskan itu sebelum tidur. Dan tadi ia baru
saja melihat ibunya itu membaca Al-Quran yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Ia jadi
bertanya-tanya, kenapa ibunya jadi bertingkah
laku aneh seperti itu?

"Duduklah, Anakku. Kita akan menonton film
dokumenter itu sekali lagi. Baru setelah itu
Mama akan bercerita panjang lebar, tentang hal
yang harus kamu ketahui. Sebuah rahasia besar
yang harus kamu ketahui. Mamamu ini tidak mau
membawa rahasia itu sampai mati."

Linor diam saja, dan duduk tenang di samping
ibunya. Madame Ekaterina menyalakan kaset
video yang telah diputar tadi malam. Sejurus
kemudian Linor dan Madame Ekaterina kembali
menyaksikan pembantaian Sabra dan Shatila di
layar kaca. Linor sudah setengah hafal dengan
alur yang ditampilkan di layar kaca itu. Ia kembali
menyaksikan gambar mengambil close up
mayat seorang perempuan muda setengah telanjang
yang berlumuran darah. Kerudung putih
penutup kepalanya lepas tak jauh dari tubuh.

Gamisnya nampak terkoyak-koyak. Perutnya
sobek, dan isinya terurai. Dahinya nampak lebam
oleh pukulan benda keras. Dada perempuan
Palestina itu rusak, payudaranya seperti disayatsayat
sampai hancur. Sepanjang film dokumenter
itu diputar, Linor diam tidak berkomentar.
Begitu film habis, Madame Ekaterina berkata,

"Dengarkan baik-baik, Anakku. Mama akan
bercerita. Setelah bercerita Mama berharap kamu
tetap mencintai Mama. Kamu tetap menyayangi
Mama. Sebab di dunia ini, sekarang ini kamulah
yang paling berharga bagi Mama. Kau mau berjanji
Anakku?"

Linor mengangguk dan berkata, "Iya Mama,
Linor berjanji akan tetap mencintai dan menyayangi
Mama."

"Sungguh, Anakku?"

"Sungguh Mama. Nyawa Linor taruhannya."

"Terima kasih, Anakku. Mama bahagia
mendengarnya. Mama sekarang akan cerita. Sesungguhnya
Mama melihat langsung
pembantaian orang-orang Palestina di kamp pengungsian
Sabra dan Shatila pada bulan September
1982 itu. Mama ada di sana. Saat itu Mama
menjadi relawan tim medis dari London. Seperti
yang kamu ketahui Mama kuliah di Fakultas Kedokteran
University of London. Setelah resmi
disumpah menjadi dokter Mama bekerja di sebuah
rumah sakit swasta di London. Mama mempunyai
banyak teman yang baik dan peduli pada
kemanusiaan. Di antaranya adalah dr. Jeane
Croft, dr. Alison Harowth, dan John Trondike.

"Suatu hari mereka bertiga mengajak Mama
untuk menjadi sukarelawan ke Beirut. Tepatnya
ke kamp pengungsian Palestina di Beirut Barat.

Awalnya Mama menolak, tetapi Jeane Crofit
meyakinkan Mama dengan memberikan kepada
Mama data-data tentang kehidupan orang-orang
Palestina yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Mama akhirnya ikut terbang ke Beirut.

"Saat itu Beirut baru selesai perang. Kota yang
pernah mendapat sebutan pengantin timur tengah
itu dalam keadaan porak poranda.

"Di Beirut Mama bertemu dengan banyak relawan
dari pelbagai negara. Ada dr. Rio Spirugi,
pria berkebangsaan Swiss-Italia, ada Ben Alofs
dari Belanda, ada Ellen Spigel dan dr. Jill Drew
dari Amerika, ada dr. Ang Swee Chai dari
Singapura, dan banyak lainnya. Para relawan itu
orang yang sangat tulus menolong sesama
manusia dan sangat teguh memperjuangkan
harga diri sesama manusia.

"Bersama beberapa relawan Mama bekerja di
bawah payung PRCS atau Palestine Red Crescent
Society sebuah organisasi kemanusiaan
yang sangat tidak disukai Israel. PRCS saat itu
punya program menghidupkan kembali rumah
sakit-rumah sakit milik orang-orang Palestina
yang hancur karena dibombardir Israel. Salah
satu rumah sakit itu adalah Rumah Sakit Gaza
yang terletak berhimpitan dengan kamp pengungsian
Sabra dan Shatila. Mama bertugas di Rumah
Sakit Gaza bersama enam relawan.

"Di Rumah Sakit Gaza itu Mama bertemu
dengan perempuan-perempuan Palestina yang
sangat baik hati. Ada Ummu Khalid, ada Azizah
Abbas, ada Nahla, dan ada dokter muda yang
cantik bernama Salma Abdul Aziz. Mama sangat
dekat dengan Salma. Mama kagum kepada
Salma. Ia masih muda, umurnya baru dua puluh
enam tahun tapi sudah menyelesaikan spesialisasinya
di bidang bedah tulang, dan telah meraih
gelar master di bidang jurnalistik dari Glasgow.
Saat itu ia sedang hamil tua, mengandung anaknya
yang kedua.

"Tidak mudah bekerja sebagai relawan di
bawah payung organisasi kemanusiaan Palestina,
apalagi PRCS yang saat itu dijuluki sebagai organisasi
'para teroris' oleh Israel dan dunia internasional
yang mendukung Israel. Tetapi kami
tetap maju menolong anak-anak tak berdaya yang
sekarat karena kena bom fosfor Israel, atau kena
cluster bomb yang sengaja dijatuhkan oleh Israel
di kawasan-kawasan padat penduduk.

"Kau tentu tahu apa itu cluster bomb atau
fargmentation bomb. Kau pasti sudah diajari oleh
Mosad saat kau dididik satu tahun di Tel Aviv.
Ah, bom jenis itu sangat mengerikan. Bom jenis
itu kalau dijatuhkan di suatu tempat akan
meledak dan tersebar luas dalam bentuk
kepingan-kepingan kecil. Lalu kepingankepingan
itu akan diam, sampai datang anakanak
yang tak sengaja menyentuh atau mencungkilnya
karena rasa ingin tahu. Begitu tersentuh,
kepingan-kepingan itu akan meledak menjadi
pecahan-pecahan kecil yang tajam dan membinasakan
dalam jumlah yang tidak terhitung jumlahnya.

Siapa yang kena bom ini akan tewas atau
mengalami luka yang sangat serius di wajah,
mata, tulang dan organ-organ tubuh lainnya. Bom
jenis ini sering dijatuhkan oleh Israel di daerah
padat penduduk Palestina. Tak terkecuali Sabra
dan Shatila juga Bour El Brajneh.

"Hampir setiap hari Mama melakukan operasi
ringan maupun berat bersama dr. Salma Abdul
Aziz. Kami menolong siapa saja yang perlu pertolongan.
Kami tidak memandang ras, warna
kulit, dan agama. Meskipun rumah sakit itu di
bawah payung PRCS tetapi banyak juga penduduk
Libanon yang kami tolong, apa pun agamanya,
termasuk Yahudi Libanon juga kami tolong.

"Salma orangnya sangat terbuka, berwawasan,
dan memiliki rasa tanggung jawab yang luar biasa.
Ia pernah menemani seorang perempuan
Yahudi Libanon yang tinggal di dekat Sabra
semalam penuh karena perempuan itu mau melahirkan.
Padahal saat itu Salma sendiri sedang
hamil tua. Ia menemani perempuan itu dan membantunya
melahirkan anaknya dengan selamat.
Bahkan ketika ternyata perempuan itu kekurangan
darah setelah melahirkan, Salma tidak ragu
mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan
nyawa perempuan itu setelah melihat golongan
darahnya ternyata cocok dengan perempuan itu.

"Mama tahu Salma sangat membenci kezaliman
Zionis Israel. Salma tidak bisa menerima
dan tidak bisa memaafkan kejahatan Yahudi Israel
yang telah menghabisi ayah, ibu dan kedua
kakaknya. Ia selamat karena saat itu sedang tidak
ada di rumah. Ia sedang ada di rumah pamannya.
Tetapi sebagai dokter Salma tetap berjiwa besar.

Ia benar-benar berhati malaikat, ia menolong
siapa saja, tidak memandang apa agamanya. Ia
benar-benar mengamalkan sumpah yang telah
diucapkannya ketika menjadi dokter, bahwa seorang
dokter itu bersumpah untuk merawat para
pasien tanpa memandang ras, agama, warna kulit
maupun keturunan.

"Salma tidak ragu untuk menolong perempuan
Yahudi Libanon, dan menyelamatkan nyawa perempuan
itu dengan mendonorkan darahnya. Sejak
itu Mama sangat kagum pada Salma. Mama
sempat bertanya kepada Salma, bagaimana dia
bisa berbuat sedemikian tinggi menjunjung nilai
kemanusiaan. Salma menjawab bahwa di dalam
kitab suci yang diyakininya, yaitu Al-Quran,
dijelaskan bahwa menolong satu nyawa untuk
tetap bisa hidup itu seolah menolong seluruh
umat manusia untuk tetap hidup.

"Sejak itu ibu dekat sekali dengan Salma Abdul
Aziz. Akhirnya ibu tahu perjalanan hidup
Salma yang berdarah-darah. Salma lahir di pinggir
selatan kota Akka, Palestina. Kampungnya
diduduki oleh Israel, banyak orang Palestina
yang dibantai. Termasuk keluarganya. Sejak keluarganya
dibantai tentara Israel, ia ikut keluarga
pamannya yang membawanya mengungsi ke
Libanon. Sang paman membawanya ke daerah
Shatila, Beirut Barat dan bergabung dengan banyak
pengungsi Palestina di sana.

"Kau harus tahu, Linor, bagaimana sejarah orang
Palestina membuat kamp pengungsian di
Libanon, khususnya di Sabra dan Shatila. Dan
bagaimana mereka hidup di sana. Pada tahun
1948 Zionis Israel mengusir orang-orang
Palestina yang tinggal di sebelah utara Galilea.
Banyak di antara orang Palestina yang menyeberang
perbatasan utara menuju Libanon. Orang-
orang dari Galilea tersebut menjadi pengungsi di
Libanon. Sebagian lainnya melarikan diri ke
Yordania, Mesir, Suriah, Irak dan seluruh jazirah
Arab. Atlas dunia tidak lagi memuat peta
Palestina, tetapi hal itu tidak menyurutkan
semangat orang-orang terbuang yang berjumlah
750 ribu orang ketika itu untuk mengingat Tanah
Air mereka.

"Pada mulanya para pengungsi Palestina diharapkan
akan membaur ke dalam komunitas
negara-negara tetangga sesama bangsa Arab, sehingga
akhirnya mereka mengikuti jejak bangsabangsa
lain yang tak terhitung jumlahnya yang
telah terhapus dari sejarah. PBB, bersama-sama
dengan organisasi kemanusiaan dan pemberi bantuan,
memasok tenda-tenda dan mendirikan
kamp-kamp bagi rakyat Palestina yang kini telah
kehilangan tempat tinggal. Orang-orang Palestina
dari daerah Galilea menghuni beberapa 'tenda sementara'
ini di Sabra,

Shatila, dan Bourj El Brajneh di pinggiran
Beirut Selatan.

"Para penghuni ini tidak mau kehilangan identitas
mereka sebagai orang Palestina. Mereka
ingin Palestina tidak hilang dari sejarah. Maka
mereka tidak bisa benar-benar berbaur karena
mereka bukanlah pengungsi sungguhan. Mereka
lebih tepat dikatakan orang-orang buangan, dan
ada perbedaan antara dua hal itu. Sebagai orangorang
buangan, mereka selalu ingin pulang ke
rumah. Tenda-tenda yang disediakan PBB itu
segera dirobohkan oleh orang-orang Galilea
sendiri.

"Selanjutnya, di tempat-tempat pembuangan,
berdasarkan kenangan dan sedikit foto rumah
mereka, mereka kembali membangun komunitas
sendiri. Komunitas orang Palestina. Banyak dari
rumah-rumah itu dibangun sedemikian rupa agar
nampak sama dengan rumah di kampung halaman
mereka.

"Setelah tenda-tenda itu digantikan dengan
rumah-rumah dan flat-flat dari batu bata, kampkamp
tersebut menjadi kota-kota orang buangan,
dengan masjid, taman kanak-kanak, sekolah-
sekolah, bengkel-bengkel, klinik-klinik dan
rumah sakit-rumah sakit. Mereka menamakan
rumah sakit mereka dengan Rumah Sakit Gaza,
Haifa dan Akka, seperti nama-nama kota
Palestina supaya mereka tidak pernah lupa
dengan akar mereka.

"Meskipun kamp-kamp itu awalnya dibangun
untuk orang Palestina. Namun orang-orang
Palestina itu telah mengambil pelajaran dari
kesengsaraan mereka dan menerapkan sebuah
prinsip nondiskriminatif yang meliputi seluruh
institusinya, sehingga tidak pernah kamp itu
khusus diperuntukkan orang-orang Palestina
semata.

"Rumah sakit-rumah sakit yang dikelola
PRCS misalnya, memberikan perawatan gratis
bagi semua orang yang membutuhkan. Mereka
tidak mempermasalahkan negara asal, ras,
ataupun agama. Sekolah-sekolah yang dikelola
oleh orang-orang Palestina memberikan pendidikan
gratis bagi semua orang. Institusi-institusi
kejuruan dan organisasi-organisasi wanita
yang mereka kelola menjalankan kebijakan pintu
terbuka. Hasilnya lebih dari sepertiga penduduk
Sabra dan Shatila bukan bangsa Palestina,
melainkan orang-orang Libanon yang berpihak
kepada rakyat Palestina atas dasar persamaan
nasib, yaitu kemiskinan dan persamaan hak.

"Salma hidup sebagai orang buangan layaknya
orang Palestina yang lain. Ia begitu bangga menjadi
orang Palestina. Rasa bangganya sebagai orang
Palestina samasekali tidak luntur meskipun ia
hidup tidak di tanah kelahirannya sendiri.

"Kata Salma, menjadi perempuan Palestina
hanya punya dua pilihan, tidak ada pilihan ketiga,
yaitu hidup mulia sebagai pejuang yang teguh
berjuang di jalan Allah, atau mati mulia sebagai
syuhada yang dicintai oleh Allah.

"Sejak kecil dan remaja, sang paman sudah
menggemblengnya sebagai seorang pejuang.
Salma sangat cerdas. Di sekolah ia sering loncat
kelas. Dengan kerja kerasnya dan bantuan
pamannya ia bisa menyelesaikan pendidikannya
menjadi seorang dokter dari American University
in Beirut pada usia belum genap dua puluh satu
tahun. Setelah itu seorang dosennya merekomendasikan
namanya untuk mendapat beasiswa ke
Glasgow. Ia mengambil spesialisasi bedah tulang.
Dan Salma menyelesaikan studinya dengan
gemilang.

"Pulang dari Glasgow Salma langsung
mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk rakyat
Palestina. Ia terlibat di banyak organisasi kewanitaan
yang memperjuangkan bangsa Palestina.
Meskipun usianya sangat muda, tetapi ia sangat
diperhitungkan. Ia disegani oleh kawan maupun
lawan.

"Ketika umurnya memasuki dua puluh empat
tahun ia menikah dengan seorang pemuda
berdarah Palestina-Libanon bernama Ezzuddin.
Paman Salmalah yang mengenalkan dan
menikahkan mereka berdua. Salma sangat hormat
pada pamannya. Ezzuddin, seorang pemuda yang
gagah, yang juga terlibat sebagai pejuang
Palestina. Selain itu ia juga mengajar di sebuah
sekolah menengah di Bour El Brajneh yang terletak
di Beirut Selatan.

"Satu tahun menikah ia dikaruniai seorang
anak lelaki yang ia beri nama Khalid. Satu
setengah tahun berikutnya ia hamil anak yang kedua.
Hidup Salma penuh liku dan tidak mudah.
Ujian datang silih berganti. Toh begitu, ia tetap
sabar. Ketika usia kehamilan anak keduanya
memasuki bulan ke empat, Ezzuddin gugur bersama
puluhan muridnya. Gedung sekolah tempat
Ezzuddin mengajar dibom oleh Israel. Puluhan
orang tewas dan puluhan lainnya luka berat dan
ringan. Ezzuddin termasuk yang tewas.

"Salma tetap tegar. Ia tetap berjiwa mulia. Ia
tidak membenci kecuali kepada kezaliman dan
kejahatan. Ia tetap menolong siapa saja dengan
ilmu kedokteran yang dikuasainya, termasuk
menolong perempuan Yahudi Libanon itu saat
usia kehamilan Salma memasuki bulan ke sembilan.
Mama semakin dekat dengan Salma.
Bahkan Mama banyak belajar ketulusan dan kebesaran
jiwa pada Salma.

"Sampai akhirnya, pada tanggal 10 September
1982, pagi-pagi sekali Mama dibangunkan oleh
Alison Harowth untuk bergegas ke Rumah Sakit
Gaza, karena Salma sedang berjuang untuk melahirkan
anaknya di sana. Kami bergerak dengan
cepat. Ketika sampai di Rumah Sakit Gaza,
Salma sudah bukaan enam. Mama ikut membantu
Salma. Setengah jam kemudian Salma melahirkan
bayi perempuannya. Salma langsung
meminta bayinya itu dan mengumandangkan sesuatu
di telinga kanan dan telinga kiri anak itu.
Dan Salma memberi nama putrinya itu, Sofia.
Mama sangat bahagia melihat Salma berhasil melahirkan
anaknya dengan selamat. Si bayi Sofia
begitu cantik, seumpama malaikat. Rambutnya
halus pirang kecoklatan. Hidungnya indah.
Matanya jeli. Dan pipinya bagai pualam.

"Salma perempuan yang tangguh. Selesai melahirkan
ia minta diantarkan pulang ke rumah ibu
mertuanya yang tinggal di sebuah rumah susun
tak jauh dari kawasan Sabra dan Shatila. Salma
memang tinggal bersama ibu mertuanya. Mereka
hanya tinggal berdua. Karena semua lelaki di
rumah itu telah gugur sebagai pejuang Palestina
yang tidak mau hidup kecuali harus merebut
kembali tanah Palestina dari penjajah Israel.

"Ibu mertua Salma adalah perempuan Libanon
asli yang halus budi. Namanya Zaenab. Dia sudah
tujuh puluh tahun lebih. Ia menikah dengan
seorang lelaki Palestina bernama Yaser. Dari
perkawinan itu lahir tujuh anak manusia yang
semuanya laki-laki dan semuanya telah gugur membela Palestina.

"Karena ibu mertua Salma sudah tua, dan
Salma sendiri masih lemah, Mama menyempatkan
untuk menemani Salma barang satu atau
dua hari. Dan Salma menyambutnya dengan hati
gembira. Mama benar-benar seperti adik atau
kakak bagi Salma. Mama seolah menjadi bagian
dari keluarga Palestina yang terbuang di Libanon
itu.

"Pada hari kedLia setelah melahirkan, Salma
masih istirahat di rumahnya, tetapi pada hari
ketiga ia sudah bangkit dan kembali bekerja di
Rumah Sakit Gaza yang dikelilingi oleh
bangunan-bangunan kamp Shatila. Ia jtidak bisa
tenang beristirahat sementara masih banyak pasien
yang menunggu uluran tangannya.

"Dalam keadaan belum pulih benar dari melahirkan,
Salma sudah harus melakukan operasi
bedah ortopedis terhadap anak Palestina berusia
delapan tahun bernama Fatimah. Si Kecil
Fatimah, menderita luka bakar karena terkena
cluster bomb yang menewaskan kedua orangtuanya.

Kedua kakinya yang mungil patah di banyak
tempat karena terkena pecahan bom. Banyak
luka Fatimah yang telah membusuk, sehingga
diperlukan operasi ortopedis untuk mengangkat
tulang yang telah mati dan membusuk. Setelah
operasi selesai, flaktura-flakturanya harus diluruskan
agar tidak bengkok. Salma menjalankan
tugasnya sebagai dokter dengan kesabaran dan
profesionalitas yang mengagumkan.

"Rabu, 14 September adalah hari yang melelahkan
sekaligus membahagiakan bagi Salma.
Pada hari itu, enam belas jam penuh ia bekerja di
rumah sakit. Mama melihat wajah Salma yang
pucat karena kelelahan. Tetapi Salma tersenyum
bahagia karena pada hari itu ia berhasil
menyelamatkan dua anak Palestina yang sekarat.
Dua anak Palestina itu dengan sangat terpaksa
harus diamputasi kakinya, karena luka akibat terkena
pecahan bom Israel telah membuat kaki
mereka membusuk. Salma pulang agak larut
malam. Kami berjalan kaki bersama. Melewati
jalan-jalan kamp Shatila yang lengang. Masih
ada satu dua orang yang terjaga. Tetapi kebanyakan
penghuni kamp Shatila sedang terlelap
dalam impian mendapatkan kembali Tanah Air
mereka, yaitu bumi Palestina.

"Malam itu, sebelum berpisah, entah kenapa
Salma berpesan kepada Mama, kalau terjadi apaapa
pada dirinya ia minta agar bayinya Mama
selamatkan dan Mama besarkan sebagai orang
Palestina. Mama menyanggupi permintaan
Salma. Di perempatan jalan kami berpisah.
Salma berjalan lurus menuju apartemen di mana
ia tinggal bersama ibu mertuanya yang sudah tua.

Dan Mama belok kanan menuju apartemen
Hamra, di mana Mama tinggal bersama para dokter
relawan dari pelbagai negara. Sebelum tidur,
entah kenapa Mama merasa sangat tidak tenang.
Rasanya Mama ingin bangun dan berlari menuju
apartemen Salma lalu membawa Salma dan keluarganya
meninggalkan Libanon.

"Mama membuang jauh-jauh perasaan tidak
enak itu. Mama berusaha menenangkan dalam
hati, bahwa akan ada kedamaian di Libanon.
Sudah ada kesepakatan damai yang difasilitasi
oleh PBB. Para pejuang Palestina yang sebelumnya
bermarkas di Sabra dan Shatila telah
bersedia dipindahkan ke luar Libanon oleh keputusan
PBB. Israel dan milisi Libanon penentang
Palestina telah bersedia menjaga kedamaian dan
keamanan setelah para pejuang Palestina dikeluarkan
dari Libanon. Yang tinggal di Sabra dan
Shatila tinggal anak-anak, kaum perempuan, dan
lelaki yang sudah tua renta. Karena yang menjadi
mediator kesepakatan damai adalah PBB pastilah
PBB akan bertanggung jawab menjaga keamanan
di kawasan Beirut itu, terutama Sabra dan Shatila.
Mengingat hal itu Mama sedikit tenang.

Malam itu Mama tidur dengan pulas.

"Pagi harinya, tanggal 15 September 1982,
Mama dibangunkan oleh deru pesawat tempur
yang terbang rendah. Pesawat-pesawat tempur itu
datang dari arah laut tengah menuju selatan, ke
arah Beirut Barat di mana terdapat kamp-kamp
pengungsi Sabra dan Shatila. Mama langsung
teringat rumah sakit Gaza. Tanpa berpikir panjang
Mama meluncur ke rumah sakit Gaza. Begitu
sampai di rumah sakit, Mama mendengar
dentuman bom menggelegar bertubi-tubi.

Ternyata itu adalah bom yang ditembakkan oleh
serangan darat, bukan serangan udara. Mama dan
para dokter yang lain naik ke lantai paling atas
dan melihat betapa rumah sakit dan kamp Sabra
dan Shatila telah dikepung oleh serangan darat
yang hebat. Bom-bom terus berjatuhan.

"Tengah hari, bom-bom itu sudah sangat dekat
dengan rumah sakit. Lalu terdengar suara meriam
dan suara tembakan yang seolah tidak pernah
berhenti. Sore hari, belasan orang Palestina
korban peluru-peluru tajam berdatangan ke
rumah sakit. Ada yang perutnya robek dari depan
sampai belakang, tapi belum juga mati. Ada yang
pahanya hancur. Ada perempuan muda yang siku
lengannya hancur. Ia ditembak di ruang tamu
rumahnya sendiri yang ada di pinggir kamp
Sabra.

"Malam tiba, dan serangan itu semakin
menjadi-jadi. Kami terkepung. Langit Sabra dan
Shatila dipenuhi desingan peluru-peluru militer.
Suara tembakan senapan mesin tidak juga berhenti.
Mama teringat Salma. Sejak pagi Mama
tidak melihat Salma. Mama sangat cemas. Tetapi
saat itu Mama tidak bisa berbuat apa-apa karena
Mama harus terus bekerja memberikan pertolongan
darurat pada orang-orang Palestina yang
terluka, yang terus membanjiri Rumah Sakit
Gaza. Jam tiga malam Mama tertidur kelelahan.

"Pagi sekali, hari Kamis 16 September 1982,
Mama tergerak untuk menelusup ke rumah
Salma. Ternyata suasananya jauh dari yang
Mama bayangkan. Suasananya sangat mengerikan.
Mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Dan
pembantaian terus berjalan. Orang-orang
Palestina yang membuka rumahnya diberondong
tembakan senapan mesin. Mama nyaris tertangkap
tentara pembantai, tetapi Tuhan
menyelamatkan Mama. Tiba-tiba dari tempat
persembunyian, Mama mendengar jeritan perempuan.
Mama melihat seorang perempuan
Palestina sedang jadi bulan-bulanan tentaratentara
durjana itu. Perempuan itu terus melawan.
Dan akhirnya ia ditembak mati setelah
mengalami penyiksaan yang tidak ringan. Mayat
perempuan itu tergeletak begitu saja di pinggir
jalan.

"Setelah para tentara itu pergi untuk mencari
korban lain,
Mama merangkak perlahan mendekati mayat
itu. Mama penasaran, sebab dari kejauhan Mama
seperti mengenal suara perempuan itu. Ternyata
benar Mama mengenalnya. Perempuan itu adalah
Salma. Mama menangis, tiba-tiba Mama teringat
pesan terakhir Salma sebelum berpisah malam
itu. Mama teringat bayi Salma, Mama langsung
bergerak untuk bisa keluar dari kamp Sabra dan
Shatila. Saat Mama berjalan sambil mengendapendap
Mama tertangkap oleh tentara. Mama
dipukul dengan popor senapan. Mama langsung
pingsan, tidak tahu apa yang terjadi.

"Ketika bangun Mama sudah berada di bangunan
seperti gudang. Mama melihat banyak majalah
dan koran berbahasa Ibrani di tempat itu.
Juga kaleng-kaleng makanan dan minuman
dengan label Israel. Para tentara di situ juga menerima
perintah langsung dari pejabat militer Israel.

Di situ Mama tidak sendirian, para dokter
relawan dari pelbagai negara banyak yang ditawan
di situ. Kami diinterogasi dan dihina. Kami
ditakut-takuti mau dibunuh. Satu hari penuh kami
ditahan, dan akhirnya kami dibebaskan dengan
syarat harus segera angkat kaki dari Beirut dan
tidak boleh lagi membantu orang-orang Palestina.

"Begitu bebas, Mama langsung berlari ke
apartemen Salma. Mama merasa bayi Salma
dalam bahaya besar. Apartemen Salma ada di luar
kamp Sabra dan Shatila tetapi tidak begitu jauh
dari kedua kamp itu. Sampai di apartemen Salma,
ibu mertua Salma langsung menyerahkan bayi
Salma kepadaku, dan memintaku untuk langsung
pergi. 'Segera pergi, satu detik sangat berarti untuk
selamat. Cepat selamatkanlah anak Salma
ini.' Kata Ibu mertua Salma dengan hati bergetar.

Saat itu Mama minta supaya orang tua itti ikut
pergi, tetapi ia tidak mau. Dengan tegas ibu mertua
Salma itu berkata, 'Ini adalah tanah tumpah
darahku. Di sini aku lahir. Di sini aku tumbuh.
Dan di sirii juga aku akan mati dan dikuburkan.
Aku tidak akan meninggalkan tanah kelahiranku
ini, apa pun yang akan terjadi. Termasuk jika aku
harus mati karenanya.'

"Mama tidak bisa memaksanya. Maka Mama
terpaksa pergi hanya dengan membawa bayi itu,
anak Salma. Sementara itu pembantaian di Sabra
dan Shatila terus berlangsung. Selama tujuh puluh
jam lebih, dari tanggal 15 sampai tanggal 18
September, kamp Sabra dan Shatila jadi ladang
pembantaian. Mama kira, pembantaian Sabra dan
Shatila, adalah tragedi kemanusiaan terbesar, terkejam,
terberingas, dan terbiadab sepanjang
sejarah.

"Seorang koresponden BBC yang datang ke
kamp Sabra dan Shatila pada tanggal 19,
mengatakan di Rumah Sakit Gaza ia melihat
mayat yang ditumpuk-tumpuk. Dalam satu tumpukan
ada sepuluh mayat bahkan lebih. Wartawan
itu sampai menangis melihat kebiadaban
itu. Wartawan itu sampai mengatakan, bahwa
seekor kucing pun tidak luput dari pembantaian
yang dikendalikan sepenuhnya oleh Israel,
meskipun yang melakukan pembantaian di lapangan
adalah milisi Falangis yang tulang punggungnya
adalah orang-orang dari Suku Haddad
yang sangat memusuhi Palestina dan Islam.

"Kau pasti tahu, Anakku. Israel menggunakan
tangan milisi Falangis untuk membantai orang-orang
Palestina di Sabra dan Shatila, bukan tanpa
tujuan. Ada beberapa tujuan. Dan tujuan terpentingnya
menurut Mama ada dua. Pertama, dengan
menggunakan tangan milisi Falangis yang jelasjelas
beragama Kristen, Israel ingin melanggengkan
permusuhan umat Islam dan Kristen di
Libanon dan di mana saja. Yang kedua, Israel
ingin agar Libanon terus terguncang dan terintimidasi.
Mereka, tentara-tentara Israel yang merencanakan
pembantaian itu, sangat sadar bahwa
mereka pasti akan pergi. Akan tetapi suku Haddad
dan Kata'eb adalah orang asli Libanon yang
akan tetap tinggal di Libanon. Mereka tidak akan
pergi. Mereka akan menjadi monster yang terus
mengintimidasi orang-orang Palestina yang
selamat dari pembantaian. Orang-orang Palestina
akan terus ketakutan, bahkan setelah Israel mundur
dari Libanon.

"Masih pada tanggal 19 September 1982,seorang
wartawan yang juga kru film asal Kanada
berhasil mengambil gambar mengerikan yang
terjadi di Sabra dan Shatila. Termasuk gambar
Salma yang berlumuran darah, dengan isi perut
terburai keluar, dan dada hancur.

"Anakku, gambar mayat seorang perempuan
muda setengah telanjang yang berlumuran darah,
dengan kerudung putih penutup kepalanya lepas
tak jauh dari tubuh, yang perutnya sobek, dan
isinya teruarai. Gambar yang baru saja kaulihat
berulang-ulang itu, adalah gambar mayat Salma,
Anakku. Salma yang berhati malaikat itu harus
mati dengan cara yang sangat tragis dan mengenaskan.
Mama selalu menangis setiap kali
mengingat Salma dan apa yang terjadi padanya.

"Yang sedikit membuat Mama terhibur adalah
bahwa Mama berhasil menyelamatkan anak
Salma. Kalau Mama terlambat pergi dari apartemen
Salma saat itu, kemungkinan besar Mama
tidak akan bisa menyelamatkan anak Salma.

Bahkan bisa jadi Mama juga akan terbunuh. Sebab,
setelah melakukan pembantaian habis-habisan
dai Sabra dan Shatila, milisi Falangis dan
tentara Israel mengadakan penyisiran di Beirut
Barat. Setiap kali menemukan orang Palestina,
pastilah orang Palestina itu dihabisi.

"Dalam pembantaian Sabra dan Shatila itu,
orang-orang Palestina tidak bisa melakukan perlawanan
apa pun. Sebab para pejuang mereka telah
disingkirkan oleh PBB dari Beirut.

Dan segala senjata yang mereka miliki telah
diserahkan kepada pasukan penjaga perdamaian.
Dalam kondisi tanpa senjata apa-apa itulah Israel
memanfaatkan situasi. Israel menghabisi orangorang
Palestina yang ada di Sabra dan Shatila
tanpa ampun. Genjatan senjata dan perdamaian
yang disepakati dilanggar di depan hidung pasukan
perdamaian PBB yang tidak berkutik apa-apa.

"Pada tanggal 22 September 1982, Palang
Merah Internasional mengumumkan jumlah mayat
korban pembantaian Sabra dan Shatila sebanyak
2400, berdasarkan jumlah mayat yang
mereka temukan. Menurut Mama jumlah korban
sesungguhnya jauh lebih banyak dari itu. Sebab,
ada wartawan yang melihat stadion yang penuh
dengan mayat yang bertumpuk. Dan ada satu
kenyataan penting bahwa setelah mereka selesai
melakukan pembantaian, mereka membawa buldoser
dan menghancurkan bangunan-banguan
yang ada di Sabra dan Shatila demi menimbun
mayat-mayat yang berserakan di mana-mana itu.
Jadi banyak sekali mayat yang tertimbun yang
tidak terhitung oleh tim Palang Merah
Internasional."

"Terus bayi anak Salma itu, Mama bawa ke
mana dan Mama apakan?" Tanya Linor
penasaran.

"Bayi itu Mama bawa ke Londoft, dan ke
mana saja Mama pergi. Mama rawat dengan penuh
kasih sayang sampai besar layaknya anak
Mama sendiri." Jawab Madame Ekaterina.

"Sekarang di mana dia? Apa aku pernah bertemu
dengannya?" Linor penasaran.

"Ini yang kau harus tahu Anakku. Bayi yang
Mama selamatkan itu adalah kamu. Kamulah
anak Salma itu. Perempuan muda yang dibantai
dengan cara sangat sadis itu adalah ibu kandungmu,
Anakku!"

"Bayi itu adalah aku?!"

"Ya. Benar. Kaulah bayi Palestina itu."

Mata Linor tiba-tiba berkaca-kaca. Hatinya
yang selama ini keras bagai batu jika melihat orang
Palestina atau mendengar nama Palestina,
kini tiba-tiba melunak.

"Dan perempuan Palestina yang terbunuh itu
adalah ibuku?!"

"Benar."

"Mama jangan mengada-ada!"

"Mama tidak mengada-ada. Inilah yang sesungguhnya
terjadi. Kalau kau tidak percaya kau
bisa test DNA. Mama punya beberapa lembar
rambut Salma dan contoh darah Salma yang pernah
Mama ambil beberapa saat sebelum dia melahirkan.
Mama hanya menyampaikan kebenaran
yang tidak boleh Mama tutup-tutupi. Mama tidak
mau mengkhianati Salma. Apa kata Salma kepada
Mama, jika dia bisa hidup kembali melihat
Mama menyembunyikan sejarah hidupmu dan
membiarkan dirimu menjadi agen Zionis yang
terus membunuhi orang-orang Palestina setiap
hari, padahal kau sejatinya adalah orang
Palestina. Sekali lagi Mama katakan sebenarnya
kau bukan anak Mama, kau anak Salma. Tidak
ada darah Yahudi yang mengalir dalam tubuhmu,
yang ada sesungguhnya adalah darah Muslim
Palestina."

"O tidaaak!" Tiba-tiba Linor menjerit dan
menangis pilu. Pikirannya langsung teringat perempuan
muda Palestina yang tewas dengan perut
sobek dan dada rusak. Perempuan muda itu adalah
Salma, ibunya. Ia merasa betapa jahatnya ia
selama ini karena menjadi agen rahasia Israel,
dan betapa jahatnya ia telah menjadi bagian dari
penyebab hilangnya nyawa orang-orang Palestina
yang ternyata adalah saudaranya sendiri, bangsanya
sendiri. Linor menjerit dalam batin sesak
antara percaya dan tidak percaya. Sebutir airmata
tiba-tiba jatuh dari pipinya. Ya, hanya sebutir.
***
Sementara itu, di belahan bumi Allah yang
lain, pada waktu bersamaan, saat Linor masih
basah oleh airmata, Ayyas nampak bahagia. Ia
merasa menemukan kembali dunianya yang
selama ini hilang. Ia kembali merasa berjalan di
jalan yang lapang. Meskipun lebih sederhana dan
lebih sempit, apartemen Pak Joko terasa lebih
nyaman dan lebih lapang bagi Ayyas. Ia merasa
seumpama ikan yang kembali menemukan air
yang jernih dan sehat. Malam itu, untuk pertama
kalinya sejak berada di Moskwa ia merasa tidur
di tempat yang tepat.

Sejak sore Ayyas sudah resmi meninggalkan
apartemennya di Panvilovsky Pereulok. Ia sudah
pamit kepada Yelena dan Bibi Margareta. Hanya
kepada Linor ia tidak sempat memberitahu. Ia
merasa Linor sudah ada di Ukraina dan ia tidak
perlu berpamitan padanya. Pada akhirnya nanti
Linor juga akan tahu. Ia sudah nitip salam pada
Yelena untuk Linor. Kepada mereka semua ia
meminta maaf, jika selama berada di apartemen
itu dan selama berinteraksi dengan mereka, mungkin
dirinya melakukan banyak kesalahan.

Yelena sungguh-sungguh menahan Ayyas supaya
tetap tinggal di apartemen itu. Bahkan Yelena
tidak kuasa untuk menahan lelehan airmatanya.

Tetapi niat Ayyas sudah teguh dan bulat.
Yelena minta kepada Ayyas untuk tetap bisa
berkomunikasi dan bersahabat. Ayyas tidak keberatan.
Yelena dengan jujur mengatakan kebaikan
Ayyas tidak akan terlupakan, dan ketulusan jiwa
orang Indonesia akan terus dikenangnya.
Ketika Ayyas ditanya mau pindah ke mana.

Ayyas hanya menjawab, "Kalau ada perlu
denganku kalian bisa sms aku atau datanglah ke
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskwa,
di Novokuznetskaya Ulitsa. Kalau aku kebetulan
tidak ada di sana, kalian bisa nitip pesan."
Bibi Margareta juga meneteskan airmata haru
mengetahui Ayyas akan pindah.

"Entah kenapa, mekipun kebersamaan kita
tidak lama aku merasa engkau telah menjadi
bagian dari keluargaku, Malcishka (Panggilan
penuh kasih sayang pada anak lelaki, lebih halus
dari malcik). Ucap Bibi Margareta dengan penuh
kasih sayang. "Aku doakan semoga Tuhan selalu
menyertai langkahmu, Malcishka."

Ayyas mengamini dalam hati. Ia menjelaskan
kepada Yelena dan Bibi Margareta, bahwa
kamarnya bisa ditempati oleh Bibi Margareta,
tanpa harus mengganti uang sewanya. Ia berharap
Yelena bisa menata hidupnya lebih baik
bersama Bibi Margareta yang kini telah dianggap
sebagai ibunya sendiri oleh Yelena.

Dengan sekali angkut saja, barang-barang milik
Ayyas sudah berpindah dari Panvilosky
Pereulok yang berada di kawasan Smolenskaya
ke Aptekarsky Pereulok yang berada di kawasan
Baumanskaya. Jika sebelumnya Ayyas tinggal tepat
di jantung kota, kini ia tinggal agak di pinggir
kota, tepatnya agak jauh di sebelah timur jalan
lingkar dalam. Jika sebelumnya ia tinggal di
apartemen yang terkesan mewah, kini ia tinggal
di gedung tua yang lebih sederhana. Tetapi ia
merasa lebih bahagia.

Malam itu, Ayyas menata kamarnya. Apartemen
itu hanya memiliki dua kamar dan satu
kamar mandi bersama. Dapur menyatu dengan
kamar tamu yang sekaligus jadi kamar keluarga.

Ayyas menempati kamar yang agak sempit,
tigaYneter kali dua setengah meter. Tempat
tidurnya hanya cukup untuk satu orang saja.
Tetapi bagi Ayyas itu sudah sangat cukup. Yang
paling penting adalah semua sarana vital di musim
dingin di rumah itu berfungsi dengan baik.

Pemanas ruangan berfungsi, air tidak ada masalah,
dapur berfungsi dengan baik. Itu sudah lebih
dari cukup.

Ayyas menata kamarnya dengan hati gembira.
Ia mengatur ulang tata letak meja dan lemari kecil.
Untuk posisi tempat tidur ia rasa sudah tepat.
Tempat tidur itu sudah berada di posisi terbaiknya.
Setelah itu barulah ia menata
pakaiannya ke dalam lemari. Dan menata beberapa
bukunya di atas meja. Ia nyalakan laptop
dan mencoba mengetik beberapa kalimat. Ia merasa
nyaman.

Sementara Ayyas sibuk di kamarnya, Pak
Joko nampak asyik di ruang tamu memeriksa
buku PR para siswa Sekolah Indonesia Moskwa.
Dengan sabar Pak Joko membaca dan meneliti
kerjaan para muridnya. Satu per satu. Kalimat per
kalimat. Terkadang ia mencoret. Terkadang menambahkan
sesuatu. Dan terkadang membetulkan
yang kurang betul. Tidak jarang ia memberi
saran.

"Kita makan apa malam ini Pak Joko?" Kata
Ayyas dari dalam kamarnya sambil memasukkan
kopernya ke kolong tempat tidurnya.

"Setelah aku selesai memeriksa pekerjaan
anak-anak, kita turun cari makanan. Di ujung
timur Aptekarsky Pereulok ada restoran Pakistan.
Kita makan di sana saja, bagaimana?"

"Mahal tidak Pak?"

"Biasa saja. Tidak mahal."

"Setuju kalau begitu." .

Setelah Pak Joko menyelesaikan tugasnya, ia
memanggil Ayyas untuk mencari makan malam.
Mereka berjalan ke timur menyusuri Aptekarsky
Pereulok. Udara dingin berhembus pelan. Pohonpohon
bereozka bergoyang, butir-butir salju
terpelanting dari dahan dan rantingnya.

Kendaraan masih ramai berlalu lalang. Ponsel
Ayyas berdering ketika mereka sudah berada di
depan restoran.

"Ya. Siapa?"

"Ini Yelena." Jawab suara dari seberang. "O
ya ada apa?"

"Tas kamu ada yang ketinggalan ya?" "Kurasa
tidak."

"Ini di bawah kolong tidur kamarmu ada tas
ransel hitam."

"Maaf aku tidak punya ras ransel hitam. Aku
punya tas hitam, tapi bukan ransel. Tas hitam untuk
laptopku dan untuk membawa beberapa
buku."

"Jadi ini milik siapa?"

"Aku tidak tahu, apa mereknya?"

"Samsonite."

"Mungkin milik penghuni sebelum aku."

"Bisa jadi. Berarti sama dia sengaja ditinggal.
Padahal masih bagus. Kalau begitu biar aku gunakan
saja ya."

"Terserah kamu."

"Sekali lagi benar ini bukan milik kamu." "Ya
benar."

"Ini sedang aku buka tas itu. Isinya bukan
buku. Isinya agak aneh. Ya ini pasti bukan milik
kamu. Baik, terima kasih. Maaf mengganggu."

"Salam buat Bibi Margareta."

"Ya pasti saya sampaikan. Spakoinoi Nochi
(Selamat tidur/malam)“

"Aku belum mau tidur. Ini baru makan
malam."

"Kalau begitu selamat makan."
Angin dingin kembali berhembus, kali ini
agak kencang. Ayyas mengatupkan rahangnya
kuat-kuat menahan dingin. Ia cepat-cepat bergegas
memasuki restoran mengejar Pak Joko yang
ada di depan. Malam itu Ayyas memilih makan
dengan menu nasi Biryani, dengan lauk daging
kambing, dan minum teh syahrazad yang lezat.

***

Pagi sekali sebelum matahari terbit Ayyas telah
rapi. Dengan agak tergesa-gesa ia keluar dari
apartemen dan berjalan menembus dinginnya
udara pagi. Ia berjalan ke timur menyusuri
Aptekarsky Pereulok, sampai di Baumanskaya
Ulitsa ia belok kanan. Jalan-jalan masih dipenuhi
kabut yang cukup tebal. Para petugas pembersih
salju masih ada yang bertugas di beberapa titik
jalan. Sesekali Ayyas melihat jam tangannya. Ia
telah terlambat dua menit. Ia mempercepat
langkahnya.

Ayyas berjanji akan bertemu dengan Doktor
Anastasia Palazzo di bawah lambang metro yang
ada di dekat stasiun Baumanskaya. Tepatnya di
bawah lambang metro yang ada di Baumanskaya
Ulitsa, yang letaknya paling selatan. Setelah bertemu,
Doktor Anastasia Palazzo akan membawanya
ke stasiun televisi untuk menjadi
pembicara dalam acara talk show "Rusia Berbicara"
yang akan disiarkan secara live.

Doktor Anastasia memberitahukan kepadanya,
ada perubahan jam tayang talk show tersebut.
Yang biasanya tayang di siang hari jam satu siang
sampai jam dua, kini diajukan di waktu pagi
dari jam tujuh tiga puluh pagi sampai jam
delapan tiga puluh. Dan satu jam sebelum acara
dimulai, semua pembicara harus sudah ada di studio
untuk persiapan.

Ayyas berjalan secepat yang ia mampu. Dari
kejauhan nampak mobil Prado putih milik Doktor
Anastasia sudah menunggu. Dua menit kemudian
Ayyas sudah sampai. Doktor Anastasia mempersilakan
Ayyas untuk masuk ke mobilnya dan
duduk di sampingnya. Sekilas Ayyas melihat penampilan
Doktor Anastasia yang nampak lebih
segar dan lebih cantik dari biasanya. Ayyas merasa
bahwa doktor muda itu sangat memerhatikan
penampilannya, sebab dia akan tampil di layar
televisi yang disaksikan jutaan mata umat
manusia.

Mobil bergerak ke utara, sebentar kemudian
belok ke barat menyusuri Spartakovskaya Ulitsa,
dan terus melaju ke barat melewati Staraya Brasmannaya
Ulitsa, lalu belok kiri memasuki jalan
lingkar Sadovoe Koltso. Doktor Anastasia mengendari
mobilnya dengan tenang dan anggun.

Ayyas merasakan aroma parfum yang dipakai
Doktor Anastasia yang begitu segar. Mobil terus
melaju ke selatan, memasuki kawasan Markistskaya,
dan terus menyusuri lingkar dalam yang
mulai miring ke arah timur. Sampai di kawasan
Sepukhovskaya, Doktor Anastasia belok kiri, dan
kembali mengambil jalan lurus ke selatan. Dan
mobil itu akhirnya berhenti di sebuah gedung
megah dan tinggi di daerah Nakhimovsky
Prospekt.

"Ayo kita turun. Kita akan masuk ke salah
satu studio milik televisi yang mengundang kita.
Studio itu katanya ada di lantai empat belas."
Ucap Doktor Anastasia kepada Ayyas.

"Tema kita masih sama dengan seminar itu?
Tidak ada perubahan?" Tanya Ayyas.

"Ya masih sama. Tetapi bisa jadi nanti pemandu
acara akan memperlebar permasalahan.
Atau akan ada respons dari pemirsa yang memperluas
pembahasan. Kau siap kan?"

"Siap. Saya tidak perlu khawatir selama
diskusi bersama Doktor Anastasia Palazzo."

"Kau selalu memuji."

"Benarkah? Aku merasa tidak memuji Doktor,
kenapa Doktor merasa dipuji?"

Wajah Doktor Anastasia seketika memerah, ia
berusaha mengendalikan diri.

"Sudahlah ayo kita masuk. Kita sudah ditunggu
oleh Direktur Program."
Bagaimana Mama bisa menyembunyikan
kenyataan ini sedemikian rapat? Apakah ayah
juga tahu siapa aku ini sebenarnya? Kenapa ayah
begitu membanggakan diriku, dan menganggap
dalam diriku mengalir darah Yahudi yang kental?"
Linor bertanya dengan bibir bergetar dan
mata berkaca-kaca. Ia masih belum bisa percaya
sepenuhnya pada apa yang didengarnya dari mulut
Madame Ekaterina yang selama ini ia anggap
sebagai ibu kandungnya.

Madame Ekaterina menjawab, "Sebelum
membawamu keluar dari Beirut. Mama membuat
surat keterangan kelahiran di rumah sakit American
University, bahwa kau adalah anakku. Ada
seorang relawan dari Amerika yang membantu
mengurus surat itu. Dengan bekal surat itu, aku
bisa membawamu masuk London. Dan selanjutnya
kepada siapa pun aku mengaku bahwa kau
adalah anak kandungku. Dan tidak ada yang
menanyakan siapa ayahmu sebenarnya. Kau tahu
sendiri, hal seperti itu biasa saja di Eropa ini.

Mama juga memberi kabar kepada keluarga
Mama di Ukraina bahwa Mama sudah memiliki
seorang anak perempuan. Dan mereka menyambutnya
dengan suka cita. Mama memberimu
nama Sofia. Sama dengan nama yang diberi oleh
Salma kepadamu. Hanya saja namamu berubah
jadi Sofia Corsova, karena Corsov adalah nama
ayah Mama, orang yang selama ini kau kenal sebagai
kakekmu. Padahal sebenarnya nama kakekmu
adalah Abdul Aziz, sebab nama ibu kandungmu
yang sesungguhnya adalah Salma Abdul
Aziz.

"Ketika umurmu belum genap satu tahun,
Mama membawamu berlibur ke sebuah pantai
yang indah di Barcelona. Di sana Mama berkenalan
dengan seorang pengusaha muda yang tampan,
namanya Eber Jelinek. Dia mengaku berasal
dari Rusia dan memiliki beberapa rumah penginapan
di Spanyol, Yunani dan Rusia. Dalam
waktu yang tidak lama kami sangat akrab. Eber,
Mama rasa sangat terbuka dan cerdas, maka
Mama sangat terbuka kepadanya. Hampir semua
yang ada dalam diri Mama diketahui olehnya
kecuali satu hal, yaitu rahasia siapa sebenarnya
dirimu.

Eber hanya tahu bahwa kau anak kandungku
dari hubungan gelap dengan seorang teman
kuliah yang tidak bertanggung jawab dan kau
lahir di Beirut saat Mama bertugas menjadi relawan.
Itu saja. Eber sebenarnya sangat kritis, ia
sempat bertanya bagaimana mungkin seorang
wanita hamil diijinkan jadi relawan. Mama menjawab
saat memasuki Beirut kehamilan Mama
baru dua bulan dan belum nampak. Mama mampu
menyembunyikan kehamilan itu. Dan dia
percaya.

"Singkat cerita Eber jatuh cinta dan tergilagila
pada Mama. Dan sebaliknya Mama juga
suka padanya. Eber semakin gila dalam menginginkan
diri Mama menjadi istrinya setelah tahu
bahwa ibu Mama adalah seorang Yahudi. Eber
memiliki darah Yahudi yang kental. Singkat
cerita kami kemudian menikah. Pernikahan kami
diadakan besar-besaran di Rusia, dan Mama
akhirnya pindah ke Rusia.

"Setengah tahun menikah barulah Mama tahu
kalau Eber ternyata seorang agen Zionis. Jujur,
Mama tidak suka dengan Zionis. Dengan baikbaik
Mama sampaikan agar dia meninggalkan
profesinya sebagai agen rahasia Zionis Israel,
atau kalau tidak, maka Klama minta cerai. Kau
tahu apa reaksi Eber? Ia sangat marah. Ia menangkap
kamu dan mengangkat tinggi-tinggi
kamu, dan dia mengancam, 'Berani kau minta
cerai, maka anak ini akan aku remukkan tulangnya
dan mencincangnya seperti tukang
daging mencincang hewan sembelihannya.
Tetapi sebaliknya jika kau setia, maka aku akan
memuliakanmu dan memuliakan anak perempuanmu
ini semulia-mulianya.'

"Bulu Mama sampai berdiri mendengar ancaman
itu. Maka tidak ada pilihan bagi Mama
kecuali meneruskan hidup bersama Eber. Ini
demi menjaga dirimu.

"Satu tahun menikah, kami belum juga memiliki
keturunan. Dua tahun menikah juga demikian.
Eber mengajak Mama periksa kesehatan.
Mama tidak mau, Mama menjawab, anak ini adalah
bukti bahwa Mama sehat dan subur. Akhirnya
Eber periksa kesehatan, dan benar, ia ternyata
mandul. Pelbagai terapi ia coba, tetapi tetap saja
mandul. Akhirnya diam-diam Mama juga
memeriksakan diri Mama, ternyata Mama juga
sama, yaitu mandul. Apa yang terjadi pada Mama
tidak Mama sampaikan kepada Eber. Dengan begitu
Mama masih memiliki posisi tawar yang
kuat di hadapannya.

"Karena merasa bersalah dirinya mandul, Eber
minta agar kamu dianggap saja sebagai anak
kandung dirinya. Ini demi menjaga kehormatannya
di hadapan kawan dan kenalannya.

Mama setuju saja. Akhirnya entah bagaimana
caranya ia merubah nama Mama menjadi
Shim'ona Jelinek. Dan namamu ia rubah menjadi
Linor Jelinek. Itulah nama yang kemudian kita
pakai selama hidup di Moskwa. Kau seolah-olah
adalah anak Mama dan Eber. Kau mengenal Eber
sebagai ayah yang sangat menyayangi dan membanggakan
kamu. Eber juga yang mendidik kamu
sejak kecil bagaimana menjadi seorang Yahudi,
dan bahkan memasukkan kamu menjadi agen
Zionis Israel. Eber juga yang membuat kamu
sampai sekolah intelijen di Tel Aviv.

"Sampai akhir hayat, Eber hanya tahu bahwa
kamu adalah anak Mama, dalam darahmu ada
mengalir darah Yahudi. Meskipun menurut
tradisi Yahudi, darah Yahudi dari garis ibu kurang
diakui, tetapi kepada kawan-kawannya Eber
mengaku bahwa sebelum menikah denganku ia
telah menghamiliku. Jadi darahmu adalah darah
Yahudi yang kental. Karena ayah dan ibumu adalah
Yahudi. Itu yang selalu dikatakan Eber kepadamu
dan kepada semua orang Yahudi di mana
saja. Dia sampai berbohong seperti itu, karena
dia ingin menutupi aibnya sendiri, dan sekaligus
dia ingin memuliakan dirimu sesuai janjinya.
Memuliakan dirimu menurutnya adalah dengan
menjadikanmu seorang perempuan terhormat dari
trah Yahudi yang murni. Begitu menurutnya.

"Itulah kenyataan yang sesungguhnya tentang
dirimu, tentang Mama yang selama ini kauanggap
ibu kandungmu ini, dan tentang Eber yang
kauanggap sebagai ayah kandungmu selama ini.
Kau boleh percaya boleh tidak. Kau boleh
meyakini boleh juga mengingkari. Yang jelas
dengan menyampaikan semua ini Mama merasa
tidak lagi menanggung beban berat yang terus
menghimpit dada. Mama tidak mungkin menceritakan
siapa sesungguhnya dirimu selama Eber
masih hidup. Jika Mama menceritakannya saat
dia masih hidup, kemungkinan besar nyawa
Mama dan nyawamu akan melayang karena
kemurkaannya."

Linor mendengar penjelasan Madame Ekaterina
dengan perasaan tidak menentu. Tubuhnya
menggigil. Ada rasa kaget berselimut percaya
dan tidak percaya, ada rasa haru, ada rasa sedih,
juga ada rasa marah. Ia tidak tahu harus bersikap
bagaimana.

"Aku tahu ini pasti membuatmu kaget bukan
kepalang. Tetapi Mama berharap kau tetap
menganggap Mama sebagai ibumu sendiri dan
kau bisa berempati kepada ibu kandungmu yang
sebenarnya, yaitu Salma Abdul Aziz yang berhati
bagai malaikat. Kau mau melihat foto Salma beberapa
hari sebelum melahirkan kamu? Wajahnya
persis seperti dirimu. Kecantikan yang
mengalir di wajahmu adalah titisan kecantikan
Salma yang berwajah putih bersih. Kau mau
Mama tunjukkan fotonya?"

Linor mengangguk. Tenggorokannya seperti
kering dan mulutnya begitu berat untuk dibuka.

"Tunggu sebentar. Mama akan ambil foto itu."
Madame Ekaterina beranjak menuju almari
besar. Perempuan setengah baya itu membuka almari.
Di dalam almari ada koper hitam terletak di
bawah pakaian yang bergelantungan. Madame
Ekaterina membuka koper itu dan mengambil sebuah
buku agenda yang nampak sudah tua. Ia
membawa buku agenda itu dan membukanya
sambil duduk di samping Linor.

Madame Ekaterina mengeluarkan amplop dari
buku agenda itu dan membukanya. Di tangannya
ada foto perempuan berjilbab yang jelita. Paras
wajahnya mirip sekali dengan Linor.

"Ini foto ibumu beberapa hari sebelum melahirkan
kamu." Ujar Madame Ekaterina sambil
menyerahkan foto itu kepada Linor. Seketika
Linor terperanjat melihat foto itu. Ia seolah melihat
dirinya dalam foto itu. Ada perasaan sedih
yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Bayangan
perempuan yang sobek perutnya dan foto
itu silih berganti hadir dalam kepalanya.

Rasa haru Linor perlahan membulat di dalam
dada. Setetes airmatanya jatuh membasahi foto
itu. Airmatanya terus meleleh. Dan tanpa sadar
tangannya mengangkat foto itu dan mendekatkan
ke mukanya, dengan suara lirih ia mengatakan,

"Oh ibu." Linor lalu menangis tersedu-sedu.
Dalam tangisnya ia mulai membayangkan
semua operasi yang ia jalankan selama ini. Entah
sudah berapa ribu nyawa perempuan Palestina
yang ia saksikan tewas diterjang peluru dan bom
pasukan Israel. Setiap kali terbayang peluru menembus
tubuh perempuan Palestina dan perempuan
itu tumbang bersimbah darah, ia langsung
teringat bahwa yang tumbang itu adalah ibunya.
Hatinya terasa sakit sekali. Ia merasa telah membunuh
ibu kandungnya beribu kali.

"Oh ibu, maafkan Linor." Bibirnya bergetar
disela isak tangisnya.

Madame Ekaterina juga menangis di
sampingnya.

Tak ada suara apa-apa di kamar itu, kecuali
isak tangis dua perempuan itu. Linor dan Madame
Ekaterina. Linor menangis karena haru,
sedih, dan pelbagai perasaan yang bercampur
aduk di dadanya. Sementara Madame Ekaterina
menangis teringat Salma, dan teringat pesan
Salma. Ada perasaan lega dalam dada Madame
Ekaterina, karena ia akhirnya bisa menyampaikan
kebenaran yang selama ini ia sembunyikan rapatrapat
dari siapa saja.
Sementara itu di kota Moskwa, Ayyas dan
Doktor Anastasia Palazzo sedang siaran langsung
acara talk show "Rusia Berbicara." Setelah Doktor
Anastasia menjawab semua pertanyaan yang
diajukan kepadanya oleh dua orang pemirsa yang
ada di studio, kini giliran Ayyas yang
mendapatkan pertanyaan. Seorang gadis muda
berambut pirang menyala dan berjaket biru muda
mengacungkan tangan kanannya dan berkata,

"Kalau boleh saya mau bertanya kepada Ayyas."
Kata gadis itu.

Sang pembawa acara mempersilakan sambil
tersenyum ramah.

"Baik, saya mau bertanya kepada Tuan Ayyas
yang duduk sebagai seorang intelektual Muslim.
Saat ini saya percaya bahwa Tuhan itu ada, hanya
saja saya masih bingung agama mana yang harus
saya anut. Saya masih dalam pencarian. Tolong
yakinkan saya secara ilmiah bahwa Al-Quran itu
adalah benarbenar firman Tuhan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Menurut saya agama
yang benar adalah agama yang kitab sucinya
benar-benar berasal dari Tuhan. Bukan karangan
manusia. Terima kasih."

"Silakan Tuan Ayyas." Kata pembawa acara
yang tampil anggun dengan jas putih gading.
Setelah membaca basmalah dalam hati, Ayyas
menjawab,

"Seandainya saya diberi waktu satu hari penuh
untuk memaparkan bukti ilmiah keaslian Al-Quran
sebagai firman Tuhan, pastilah waktu satu hari
penuh itu tidak akan cukup. Ratusan ribu buku
telah menulis bukti ilmiah itu. Setiap saat para
ilmuwan menemukan bukti baru yang ilmiah
tentang kemukjizatan AJ-Quran.

"Baiklah, di waktu yang singkat ini, akan saya
gunakan bercerita singkat tentang bukti keaslian
Al-Quran sebagai firman Tuhan. Bukti ilmiah
yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
Saya akan bercerita tentang tiga ilmuwan terkemuka
di zamannya yang telah membuktikan
Al-Quran sebagai kalam Tuhan yang tidak
terbantahkan.

"Pertama, adalah Dr. Gary Miller. Ilmuwan
terkenal ini mengatakan, bahwa sebelum Al-Quran
diturunkan dan Muhammad Saw. diangkat
menjadi rasul, seorang filsuf Yunani Democritus
telah menyampaikan pendapatnya tentang atom.
Democritus dan para filsuf berkata, 'Materi terdiri
atas partikel-partikel yang sangat kecil yang tidak
terlihat dan tidak bisa dibagi, partikel-partikel itu
disebut atom.' Itulah definisi atom secara ilmiah
yang diketahui manusia selama ribuan tahun.

"Orang Arab telah mengetahui definisi ini
jauh sebelum Islam datang. Buktinya, kata 'dzarrah'
atau atom' menurut orang Arab adalah bagian
terkecil yang diketahui oleh manusia. Namun
sekarang ini, ilmu pengetahuan modern menemukan
bahwa atom yang dianggap bagian terkecil
dari materi ternyata masih bisa dibagi lagi.
Hal itu dianggap sebagai penemuan baru dalam
science modern. Yang sangat mengherankan, Al-
Quran yang diturunkan empat belas abad yang
lalu ternyata telah lebih dulu memberikan informasi
ilmiah ini. Allah berfirman di dalam Al-
Quran,

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan
tidak membaca suatu ayat dariAl-Quran dan
kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan
melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu
kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan
Tuhanmu biar pun sebesar zarrah (atom) di
bumi maupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil
dan tidak ada yang lebih besar dari itu
melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang
nyata (lauhul mahfudz).

"Tidak diragukan lagi penjelasan bahwa ada
yang lebih kecil dari atom seperti yang ada dalam
ayat di atas adalah hal yang samasekali tidak
populer ketika Al-Quran diturunkan. Yang diketahui
manusia saat itu materi terkecil adalah atom,
dan atom tidak bisa dibagi, artinya tidak ada yang
lebih kecil dari atom. Dari manakah Al-Quran
bisa memberikan informasi ilmiah yang jauh
melampaui apa yang ditemukan manusia saat itu.
Tak lain dan tak bukan adalah dari Allah Swt. Ini
membuktikan bahwa Al-Quran adalah firman Allah
yang tidak lekang oleh zaman.

"Kedua, adalah Dr. Maurice Bucaille. Dia adalah
seorang dokter ahli bedah terkenal di Perancis.
Seperti dimaklumi bersama, salah satu negara
yang memiliki perhatian besar pada peninggalanpeninggalan
purbakala adalah Perancis. Saat
Presiden Francois Mitterand terpilih menjadi
presiden Perancis tahun 1981, pemerintah Perancis
di penghujung tahun delapan puluhan
meminta kepada pemerintah Mesir untuk melakukan
penelitian terhadap mumi Fir'aun di Perancis.

Untuk itu dipindahkanlah untuk sementara
tubuh Mumi itu ke Perancis.

"Mumi itu disambut dengan upacara kenegaraan
yang meriah setibanya di Perancis. Dia disambut
bahkan oleh presiden seolah-olah masih
hidup. Mumi itu lalu diletakkan di dalam ruangan
khusus di Musium Pusat Perancis untuk diteliti
oleh para pakar arkeologi dan dokter ahli bedah
agar mistri seputar mumi Fir'aun itu terungkap.
Dan yang menjadi ketua dari para pakar dan ahli
bedah dalam penelitian terhadap mumi itu adalah
dokter bedah paling cemerlang saat itu, yaitu Dr.
Maurice Bucaille. Para peneliti itu ingin mengetahui
apa sesungguhnya yang menyebabkan
kematian Fir'aun.

"Setelah melakukan penelitian dengan seksama,
mereka pun menemukan jawaban ilmiah,
kenapa Fir'aun mati. Sisa-sisa garam yang
lengket pada tubuhnya, juga sebagian ada di
tenggorokan dan alat pencernaan merupakan
bukti kuat bahwa Fir'aun mati di laut. Ketika
orang-orang saat itu menemukan jasad Fir'aun di
laut, mereka langsung memurnikannya agar awet.
Akan tetapi yang menjadi pertanyaan besar di
benak Dr. Maurice Bucaille adalah bagaimana
jasad Fir'aun tetap bisa utuh ketika ia ditemukan
di laut?

"Saat itu ada seorang anggota tim yang ia
pimpin berbisik padanya, 'Sebenarnya umat Islam
sudah membicarakan mengenai tenggelamnya
jasad ini dan keutuhan tubuhnya setelah
tenggelam.' Namun Dr. Maurice Bucaille saat itu
mengacuhkan informasi itu dan menganggapnya
sebagai angin lalu. Dia meyakini bahwa
penemuan baru mengenai apa yang terjadi pada
mumi Fir'aun itu tidak akan terjadi kecuali
melaluiserangkaian penelitian dengan menggunakan
metode dan alat pendukung yang canggih.

"Lalu dokter ahli bedah yang lain yang memiliki
tanggung jawab yang sama dalam penelitian
mumi itu mengatakan, 'Benar, sungguh, Al-Quran,
kitab suci yang dipercayai kaum Muslim itu
telah menceritakan bagaimana Fir'aun mati
tenggelam dan memastikan keutuhan tubuhnya
setelah tenggelam.'

"Dr. Maurice Bucaille tercengang tidak percaya,
dia merasa itu hal yang aneh. Bagaimana
bisa terjadi. Mumi itu belum ditemukan hingga
tahun 1898 M atau baru ditemukan dua ratus
tahun yang lalu, sementara kitab Al-Quran sudah
ada sejak seribu empat ratus tahun yang silam.
Bagaimana kitab suci Al-Quran bisa memberikan
informasi itu, padahal seluruh manusia termasuk
juga bangsa Arab tidak mengetahui apa pun
tentang kehidupan Mesir kuno. Manusia baru
tahu setelah jasad mumi itu ditemukan bersama
peninggalan Mesir kuno lainnya.

"Pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran
ahli bedah dari Perancis ini. Ia mulai berpikir
tentang kemukjizatan Al-Quran. Ia duduk
merenung di hadapan jasad mumi Fir'aun. Kitab
suci umat Kristiani memang juga menceritakan
tenggelamnya Fir'aun ketika mengejar Musa,
tetapi Injil Matius dan Lukas itu tidak menceritakan
sedikit pun keutuhan jasadnya setelah
tenggelam. Apakah logis mumi itu adalah Fir'aun
yang dikejar Musa? Apakah logis Al-Quran
benar-benar menceritakan jasadnya utuh setelah
tenggelam? Dr. Maurice Bucaille terus gelisah.

"Hari berikutnya ia minta kepada beberapa
ahli bedah untuk membawa taurat, kitab suci orang
Yahudi. Dia membaca kitab keluaran. Ia kecewa
karena Kitab Keluaran samasekali tidak
menceritakan jasadnya akan utuh, yang diceritakan
hanyalah Fir'aun mati tenggelam. Kitab
Keluaran itu hanya mengabarkan, 'Kemudian
berbaliklah air laut itu, lalu menutupi kereta dan
orang berkuda dari seluruh pasukan Fir'aun, yang
telah menyusul orang Israel itu ke laut, hingga
tak tersisa seorang pun dari mereka.'

"Setelah Dr. Maurice membaca Kitab Keluaran
itu tetap bingung sekaligus penasaran dengan
apa yang dikatakan rekannya mengenai informasi
yang sudah ada di dalam Al-Quran itu. Setelah
jasad mumi dikembalikan ke Mesir, Dr. Maurice
menghadiri konferensi kedokteran di Saudi Arabia.
Ia ingin bertemu dengan para dokter Muslim
dan menanyakan benar tidaknya apa yang disampaikan
rekannya itu. Konferensi itu memang
membahas keutuhan jasad Fir'aun setelah
tenggelam.

"Di tengah acara, seorang ilmuwan Muslim
membuka hati Dr. Maurice Bucaille yang sedang
mencari hakikat Al-Quran. Ilmuwan Muslim itu
membacakan ayat suci Al-Quran, 'Maka pada
hari itu Kami selamatkan badanmu supaya kamu
dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang
datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan
manusia lalai dari tanda-tanda kekuasaan
Kami.’

"Ayat suci itu membuat tubuh Dr. Maurice
Bucaille bergetar, seketika ia berkata dengan
suara lantang, 'Aku masuk Islam dan aku beriman
pada Al-Quran ini.' Ia sangat yakin bahwa Al-
Quran benar-benar firman Allah, Tuhan Yang
Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tuhan yang menjadi sumber ilmu
pengetahuan.

Ketiga, apa yang terjadi pada Dr. Keith L.
Moore, seorang ilmuwan ahli Embriologi terkenal
dari Amerika. Suatu hari iamembaca artikel
bahwa Al-Quran menjelaskan ihwal pertumbuhan
janin dari masa pembuahan sampai lahir. Saat itu
Dr. Keith L. Moore hampir tidak percaya. Sebab
menurutnya, pengetahuan Embriologi baru diketahui
oleh manusia belakangan ini, terutama sejak
diketemukannya mikroskop dan piranti-piranti
canggih ilmu kedokteran modern lainnya.

"Untuk membuktikan kebenaran tulisan itu,
Dr. Keith L. Moore lalu membaca dan
mempelajari Al-Quran. Dan akhirnya, mau tidak
mau ia harus terkagum-kagum kepada Al-Quran.
Ternyata benar, Al-Quran memuat ayat-ayat yang
menjelaskan tentang Embriologi secara lengkap
dan tuntas.

"Dr. Keith L. Moore, mengatakan, Apa yang
tercantum dalam Al-Quran itu sungguh tidak
mungkin terjangkau oleh pengetahuan medis
pada abad ke-7 Masehi, ketika Nabi Muhammad
menyebarkan Islam. Ini suatu mukjizat.

"Berdasarkan temuan ilmiah itulah Dr. Keith
L. Moore kemudian masuk Islam dan menjadi seorang
Muslim yang saleh. Dr. Keith L. Moore
kemudian aktif menangani publikasi Perhimpunan
Medika Islam Amerika Utara, Downers'
Grove, Illinois, USA. Dengan tanpa keraguan
sedikit pun Dr. Keith L. Moore mengatakan, bahwa
rujukan ilmiah tentang perkembangan dan
proses reproduksi manusia tersebar di pelbagai
ayat Al-Quran. Diawali dari QS. Az Zumar ayat
6, keyakinan Dr. Keith L. Moore mendapatkan
pondasi ilmiah yang kukuh. Ditambah dengan
QS. Al Mu'minun ayat 13-14. Lalu, ia menelusuri
QS. Al Hajj ayat 5.

"Menurut Dr. Keith Moore, penggambaran
tentang fetus, yaitu embrio yang telah berkembang
di dalam uterus atau peranakan, baru muncul
pertama kali pada abad ke- 15 oleh Leonardo
da Vinci. Memang jauh sebelumnya pada abad
ke-2, Galen pernah menggambarkan plasenta dan
selaput-selaput janin dalam buku, On The Formation
ofThe Foetus. Tetapi itu jauh berbeda
dengan yang diuraikan pada abad ke-7. Ketika itu
para ahli medis sudah tahu bahwa embrio
manusia berkembang di dalam uretus, hanya saja
tak seorang pun yang mengetahui bahwa perkembangan
itu berlangsung secara bertahap. Bahkan
pada abad ke-15 pun belum didiskusikan, apalagi
digambarkan. Setelah mikroskop ditemukan oleh
Leeuwenhook pada abad ke-16, barulah penjelasan
tentang tahapan permulaan embrio ayam diselidiki
para ahli.

"Pengetahuan tentang penahapan embrio
manusia dan bentuknya setiap tahap tidak terbayangkan
hingga abad ke-20 ketika Streeter (1941)
dan O'Rahilly (1972) mengembangkan sistem penahapan
yang pertama kali. Apalagi tentang tiga
lipat kegelapan yang ternyata maksudnya adalah
tiga lapisan, yaitu dalam lapisan dinding perut,
dinding rahim, dan selaput janin.

"Al-Quran menjelaskan, Kemudian Kami
menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu
Kami jadikan alaqah (sesuatu yang melekat), lalu
sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya
makhluk yang (berbentuk) lain. Maha
Suci Allah, Pencipta yang paling baik."

"Jika kita cermati lebih dalam, sebenarnya
alaqah dalam pengertian etimologis yang biasa
diterjemahkan dengan segumpal darah juga bermakna
kepada penghisap darah, yaitu lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat
ketika embrio berada pada tahap itu, yaitu
7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat
dan menggelantung dikulit.

Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding
uretus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya
terjadi, embrio itu makan melalui
aliran darah. Itu persis seperti lintah yang
menghisap darah. Janin juga begitu, sumber
makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat
dalam darah sang ibu. Ajaibnya, embrio
janin dalam tahap itu jika diperbesar dengan mikroskop
bentuknya benar-benar seperti lintah.

"Bisakah kita membayangkan bahwa saat itu
Muhammad sudah memiliki pengetahuan sedemikian
dahsyat tentang bentuk janin yang seperti
lintah, lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Padahal saat itu belum ditemukan mikroskop dan
lensa. Kita tidak akan bisa membayangkannya.
Karenanya pengetahuan tentang embrio manusia
yang mirip lintah, yang dijelaskan oleh Al-Quran
tidak mungkin bersumber dari akal manusia.

Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu
wahyu dari Allah, Tuhan seru sekalian, yang
Maha Mengetahui segala sesuatu.

"Masih ada bukti ilmiah lainnya, dari sudut
pandang pelbagai bidang ilmu tentang
kemukjizatan Al-Quran sebagai firman Allah.
Akan tetapi rasanya saya sudah mengambil
waktu yang cukup panjang. Tiga kisah ilmiah di
atas kiranya sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan
tentang keaslian Al-Quran sebagai wahyu
dari Allah, Tuhan seru sekalian alam.

"Para pemirsa menjadi saksi, bahwa saya sudah
menyampaikan kebenaran tak terbantahkan
ini. Anda boleh percaya, boleh juga tidak percaya.
Tidak ada paksaan untuk mengimani Al-
Quran sebagai firman Allah. Dr. Gary Miller, Dr.
Maurice Bucaille, dan Dr. Keith L. Moore mengimani
isi Al-Quran dan masuk Islam samasekali
bukan karena ada paksaan. Mereka mengimani
Al-Quran dan memeluk Islam karena alasan-alasan
yang sangat ilmiah. Tidak ada paksaan dalam
(menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah
jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan
jalan yang sesat?1* Ayyas mengakhiri kalimatnya.
Gadis itu nampak berubah mukanya.

Tubuhnya bergetar mendengar penjelasan Ayyas.
Seorang pemirsa di studio, seorang ibu setengah
baya bermantel cokelat muda mengangkat tangannya.
Pembawa acara hampir mempersilakan
ibu-ibu itu untuk berbicara, tetapi tiba-tiba Direktur
Program memberi isyarat agar acara disela
dengan iklan.

Direktur Program lalu mendekati pembawa
acara dan minta disudahi saat itu juga. Sebab ada
kejadian luar biasa di Moskwa, yang memerlukan
liputan khusus.

Direktur itu menjelaskan, bahwa ada bom
meledak di lobby Metropole Hotel! Puluhan orang
tewas dan puluhan lainnya terluka. "Reporter
kita sudah ada di sana. Pimpinan minta supaya
kita harus menyiarkan kejadian besar ini secara
live! Kita harus paling dulu menyiarkan pengeboman
ini!" Ucap Direktur Program dengan muka
agak tegang.

Dr. Anastasia Palazzo, Ayyas dan pembawa
acara serta siapa pun yang mendengar kabar itu
kaget dan tercengang. Bagaimana mungkin hotel
legendaris itu bisa dibom? Bukankah penjagaan
di sana sangat ketat? Siapa yang tega melakukan
tindakan keji itu? Apa tujuannya?

Ada banyak tanda tanya dalam benak mereka.
Setelah jeda iklan, pembawa acara menyudahi
talk show pagi itu. Selanjutnya tayangan diganti
laporan langsung dari Metropole Hotel, tempat
pengeboman yang mengguncang Moskwa.


"Kenapa Anda nampak tegang?" Tanya Ayyas
kepada Direktur Program sebelum pamitan minta
diri.

"Adik kandung saya baru datang dari Saratov,
tadi malam. Ia menginap di Metropole. Saya
kontak berkali-kali tidak bisa. Saya
mengkhawatirkan adik saya." Jawab Direktur
Program dengan wajah cemas.

"Saya doakan, semoga adik Anda selamat."

"Terima kasih. Penjelasan Anda tentang Al-
Quran sedikit banyak telah membukakan mata
saya. Jujur, saya baru tahu kalau Al-Quran sedahsyat
itu."

"Akan lebih baik, jika Anda menilai Al-Quran
setelah benar-benar membaca dan mempelajarinya
dengan seksama."

"Saya berniat untuk itu."

"Itu niat yang baik sekali."

Siang itu mentari musim dingin menyibak tebalnya
kabut kota Moskwa. Mentari itu nampak
indah memendarkan cahaya. Sinarnya menerpa
hamparan putih salju, pantulannya menyilaukan
mata. Pantulan cahaya yang menusuk mata itu
bisa menyulitkan pandangan. Bahkan bagi sebagian
orang bisa membuat kepala pusing. Tak heran
jika mentari yang menyilaukan itu sampai
menjadi sebab terjadinya banyak kecelakaan di
musim salju.

Ayyas merasa heran dengan suasana seaneh
itu. Sebenarnya Moskwa musim dingin dengan
salju bertumpuk-tumpuk dan langit biru terang
disinari mentari luar biasa indah. Hanya saja, ada
yang terasa aneh. Yaitu pantulan cahaya yang
menyilaukan mata dan suhu udara yang tetap di
bawah titik beku.

Dalam benaknya ia berpikir, jika mentari seterang
itu, dan dari salju berpantulan cahaya semestinya
udara menjadi hangat. Akan tetapi
kenyataan yang dirasakannya sungguh aneh-
Angin yang berhembus justru semakin dingin
seiring dengan semakin teriknya mentari. Ia bingung,
kenapa bisa terjadi demikian.

Ayyas melangkahkan kakinya melewati taman
Fakultas Sejarah MGU yang sepenuhnya
dibungkus salju. Doktor Anastasia berjalan mengikuti
tak jauh di belakangnya. Ayyas membayangkan
jika musim semi tiba taman itu pastilah
akan nampak indah oleh bunga-bunga yang
bermekaran warna-warni dan hamparan rumput
yang hijau.

Dengan berjalan sedikit lebih cepat, Doktor
Anastasia kini berjalan sejajar dengan Ayyas.
Doktor muda itu nampak berseri-seri. Hatinya
berbunga-bunga berjalan di samping Ayyas.
Setelah acara talk show di stasiun televisi,
mereka berdua sepakat untuk langsung ke kampus
MGU. Ayyas ingin meminjam beberapa
buku di perpustakaan, dan juga yang ada di ruangan
koleksi Profesor Tomskii untuk ia bawa pulang
dan ia baca di apartemennya. Sementara
Doktor Anastasia harus mengajar mata kuliah
penelitian sejarah untuk mahasiswa pasca
sarjana.

"Talk show tadi terasa hangat, sayang ada
pemboman sehingga terpaksa diputus di tengah
jalan." Gumam Doktor Anastasia sambil menengok
ke arah Ayyas.

"Menurut Doktor, siapa pelaku pengeboman
yang biadab itu?" Sahut Ayyas dengan tetap
mengarahkan pandangannya ke depan.

"Bisa jadi itu kerjaan mafia."

"Mafia?""

"Ya."

"Sedemikian gilanyakah mereka?" "Kurasa
mereka lebih gila dari yang kita ketahui." "Apa
Doktor tidak terlalu subyektif karena Doktor
tidak suka pada Melnikov, bos mafia yang menginginkan
Doktor menjadi istrinya."

"Ah kamu ini, terlalu kritis."

"Jadi benar?"

"Tak tahulah."

Beberapa kali mereka berpapasan dengan mahasiswa
yang sudah mulai banyak hadir di kampus.
Mereka berdua memasuki ruangan Profesor
Abramov Tomskii.

Ayyas mengeluarkan laptopnya dan
menyalakannya. Ia ingin memberikan laporan
perkembangan penelitiannya kepada Profesor
Najmuddin di India, dan ia forward ke Profesor
Abramov Tomskii di Istanbul. Ia tidak lagi bisa
mengakses internet dari apartemen Pak Joko.
Maka ketika berada di ruangan Profesor Tomskii
yang dilengkapi fasilitas wi-fi ia memanfaatkan
kesempatan mengakses internet sebaik-baiknya.
Ayyas juga membaca berita-berita yang terjadi
di Tanah Air. Ia membaca analisis para pakar
tentang perkembangan demokrasi di Indonesia.
Para pakar hampir semuanya sepakat bahwa demokrasi
di Indonesia membaik, tetapi belum
memiliki irah dan sistem yang sehat. Politik uang
masih mewarnai pemilihan umum di Indonesia.
Penentu kualitas demokrasi di Indonesia ternyata
bukan akal sehat dan nurani rakyat, akan tetapi
penentunya adalah uang. Boleh dibilang, demokrasi
di Indonesia adalah demokrasi uang.

Samasekali bukan demokrasi suara nurani rakyat.
Rakyat kecil sendiri yang tidak tahu bagaimana
harus hidup dan bersikap di bumi
bernama Indonesia, kini hampir-hampir tidak
memiliki kepedulian besar siapa yang mereka pilih
menjadi wakilnya, dan siapa yang mereka pilih
menjadi pemimpin negerinya. Mereka tidak
lagi menggunakan akal sehat dan nurani yang
bersih dalam menentukan pikiran. Yang mereka
lakukan adalah siapa yang memberi uang paling
banyak, maka mereka pilih, meskipun itu adalah
orang yang paling bejat yang mereka kenal.
Akibatnya banyak wakil rakyat diisi oleh para
penjahat. Dan para penjahat itu yang kini sering
nampak di layar kaca sebagai pembuat undangundang
penentu masa depan bangsa dan lain
sebagainya.

Ayyas begitu asyik dengan layar laptopnya. Ia
samasekali tidak memedulikan Doktor Anastasia
yang sedang membaca tak jauh dari tempatnya
duduk. Doktor Anastasia sudah lama menutup
buku yang ia baca. Kedua matanya kini terus
memandangi wajah Ayyas yang serius membaca
berita di laptopnya.

Suatu ketika Ayyas mengambil nafas dan
menoleh ke arah Doktor Anastasia. Pandangan
keduanya bertemu. Ayyas tidak memedulikannya,
ia kembali membaca berita. Seperempat
jam kemudian Ayyas kembali mengambil nafas
dan menengok ke arah Doktor Anastasia. Ia
kaget, Doktor Anastasia masih memandangi dirinya
sehingga pandangan keduanya kembali bertemu.
Ayyas menghentikan aktivitas membacanya
dan menghadap wajahnya ke arah Doktor
Anastasia.

"Kenapa Doktor memandangi saya dengan aneh
begitu? Ada yang salah den'gan saya?"

Doktor Anastasia tergagap mendengar pertanyaan
Ayyas. Ia berusaha mengendalikan dirinya.

"Tidak. Saya hanya menyayangkan orang secerdas
kamu dan sebaik kamu, tetapi pada
akhirnya tidak akan selamat di hari akhir nanti."

Jawab Doktor Anastasia setenang mungkin. Doktor
muda itu berusaha keras menenangkan degup
jantungnya yang mengencang.

"Apa maksud Doktor?"

Doktor Anastasia kembali tergagap. Ia baru
menyadari apa yang telah diucapkannya. Ia terlalu
terbawa oleh perasaan sayangnya kepada
Ayyas. Perasaan itu membuat dirinya merasa
harus menyelamatkan Ayyas dari kesesatan yang
akan berujung kepada kecelakaan di hari pembalasan
kelak. Seharusnya ia tidak mengucapkan
kalimat itu, tetapi sudah terlanjur ia ucapkan.
Ayyas pasti langsung mengerti apa maksudnya.
Ayyas orang yang cerdas.

"Kau cerdas dan baik, sayang kau masih
menganut kepercayaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Sebaiknya kau mengikuti jalan
keselamatan seperti yang aku ikuti. Maka kau
akan selamat dan bahagia." Kata Doktor Anastasia
menjelaskan dengan suara agak bergetar. Doktor
muda itu sampai tidak percaya bahwa dia berani
mengatakan hal itu.

Ayyas tersentak sesaat mendengarnya. Setelah
mengambil nafas panjang Ayyas menjawab,

"Terima kasih Doktor sudah memerhatikan
saya sedemikian serius, sampai keselamatan saya
di hari kemudian pun tidak luput dari perhatian
Doktor. Sungguh saya sangat menghormati Doktor.
Saya tidak ingin sedikit pun mengecewakan
atau melukai hati Doktor. Tetapi ketahuilah Doktor,
jika agama yang Doktor anut memberikan
doktrin bahwa jalan keselamatan itu harus mengikuti
ajaran agama yang Doktor anut. Dan itu
yang kini Doktor yakini. Maka saya juga sangat
meyakini, bahwa satu-satunya jalan selamat di
dunia dan di akhirat adalah dengan memeluk
Islam.

"Dalam pandangan agama saya, maaf, orang
seperti Doktor justru termasuk menyekutukan Allah,
termasuk orang yang menghina Allah. Dalam
ajaran yang saya yakini, Tuhan itu hanya satu
yaitu Allah. Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tuhan yang menciptakan langit dan" bumi.
Tuhan yang menciptakan manusia. Dialah tempat
bergantung yang sesungguhnya. Dia tidak memiliki
anak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada
di jagad raya ini yang menyerupainya. Jika Doktor
merasa kasihan kepada saya, saya pun memiliki
perasaan yang sama, saya merasa kasihan kepada
Doktor.

"Orang secerdas Doktor bagaimana bisa
meyakini bahwa Tuhan memiliki anak? Anaknya
itu berbentuk manusia, yang juga jadi Tuhan. Bagaimana
mungkin pakar sejarah secerdas Doktor
masih juga dibohongi oleh para teolog yang
sangat dipengaruhi filsafat klasik Yunani, terutama
dari mazhab STOA yang pantheitis,
menganggap Tuhan dan makhluk merupakan satu
kesatuan atau satu substansi, hanya berbeda
dalam penglihatan bentuk. Sungguh.saya sangat
kasihan kepada Doktor. Tetapi sudahlah, Doktor
pasti sangat meyakini kebenaran ajaran agama
yang Doktor peluk. Demikian juga saya.

"Saya pun sangat meyakini ajaran agama yang
saya peluk. Saya akan mempertaruhkan apa saja
yang saya miliki untuk mempertahankan
keyakinan saya, termasuk nyawa saya. Sungguh
saya rela kalau sampai saya harus kehilangan
nyawa saya demi mempertahankan keyakinan
Tauhid yang ada di hati saya. Karena itu sebaiknya
kita saling menghormati. Bagimu
agamamu dan bagiku agamaku."

Jawaban Ayyas itu membuat Doktor Anastasia
tertunduk. Ia sudah menduga Ayyas pasti akan
teguh membela keyakinannya. Ia tidak tahu harus
bagaimana meruntuhkan batu karang yang bercokol
teguh di hati Ayyas. Yang membuatnya
sedikit terhibur adalah, bahwa ia sudah merasa
menyampaikan kebenaran kepada Ayyas.

Sebaliknya Ayyas sebenarnya merasa sangat
terkejut melihat betapa beraninya Doktor
Anastasia mengatakan hal itu kepadanya. Ia
sangat menghormati doktor muda itu. Ia tidak
berharap bahwa doktor muda itu akan berpindah
keyakinan. Sebab ia yakin, keyakinan yang dipeluk
doktor muda itu sudah mengurat akar di
dalam jiwa dan pikirannya sejak kecil. Tidak
mudah untuk dirubah. Yang jelas, ia sudah
menyampaikan apa yang harus ia sampaikan sebagai
penyeru di jalan Allah. Ia sudah menyampaikan
ajaran Tauhid bahwa Tuhan itu hanya
satu, yaitu Allah. Terserah doktor muda itu mau
percaya atau tidak.

Tidak ada paksaan samasekali dalam memeluk
agama Islam. Sebenarnya ia juga tidak ingin
menyampaikan kalimat-kalimat itu kepada Doktor
Anastasia. Sebab ia yakin Doktor Anastasia
yang kutu buku itu pasti sudah banyak membaca
tentang ajaran Islam. Jadi ia tidak perlu lagi
mengajaknya berislam. Di hari akhir kelak, doktor
muda itu akan mempertanggungjawabkan
sendiri kenapa tidak berislam, padahal telah
mendengar seruan. Yang membuatnya harus
menyampaikan kalimat-kalimat itu karena Doktor
Anastasia yang memulai. Doktor muda itu
yang memaksanya untuk memberikan garis tegas
yang tidak boleh dilanggar.

"Kalimatmu bagus. Bagimu agamamu dan bagiku
agamaku. Kalimat yang adil, terkandung di
dalamnya rasa menghargai dan toleransi yang
tegas." Gumam Doktor Anastasia.

"Itu bukan kalimat saya. Itu cuplikan dari terjemahan
sebuah ayat di dalam Al-Quran," jawab
Ayyas tenang.

"O ya? Saya tidak pernah mendengarnya
sebelumnya."

"Kalimat itu ada di surat Al-Kaafiruun. Di bagian
juz tiga puluh. Bagian agak akhir dalam Al-
Quran."

"O ya?"

"Ya. Benar."

Tiba-tiba ponsel Doktor Anastasia berdering.
Ada telpon dari Prof. Dr. Lyudmila Nozdryova,
Guru Besar Ilmu Bedah
Jantung Fakultas Kedokteran.

"Doktor Anastasia?" Tanya suara dari seberang,
begitu telpon diangkat.

"Iya Profesor Lyudmila. Ada apa?"

"Coba lihatlah siaran televisi sekarang. Penting.

Kelihatannya ada yang salah di sana. Aku
yakin ada yang salah di sana. Mana mungkin,
mahasiswa dari Indonesia yang kau bimbing itu
yang melakukan pemboman di Metropole Hotel."

"Apa? Siarannya seperti itu?"

"Makanya segera kamu lihat layar televisi."

"Baik."

Anastasia menutup ponselnya dan berpaling
kepada Ayyas. "Ayo ikut aku ke tempat Bibi Parlova."
Seru Anastasia kepada Ayyas. "Ada apa?"

"Cepatlah. Ini penting." Kata Anastasia
dengan tegas setengah memaksa.

Anastasia melangkah keluar diikuti Ayyas
yang meninggalkan laptopnya yang masih hidup
begitu saja. Tak lama kemudian mereka sampai
di ruang kerja Bibi Parlova yang tak lain adalah
dapur kecil yang menempel di gedung itu. Di pojok
dapur itu ada televisi kecil yang biasa digunakan
Bibi Parlova menonton acara-acara televisi
sambil memasak atau meracik makanan.
Bibi Parlova sedang tidak ada di ruangan itu,
tetapi pintu ruangan itu terbuka begitu saja.
Anastasia langsung menyalakan televisi dan memutar
cannel yang dimaksud oleh Prof. Dr. Lyudmila.
Ayyas masih belum tahu kenapa
Anastasia membawanya ke ruangan itu dengan
setengah memaksa.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Ayyas.

"Kita lihat siaran tentang pemboman Metropole
Hotel. Kata Profesor Lyudmila pemboman
itu dikaitkan dengan dirimu."

"Apa maksudnya dikaitkan dengan diriku?
Aku tidak paham."

"Makanya kita akan lihat siaran itu. Biar kita
tahu apa yang terjadi." Tukas Anastasia sambil
membenarkan antena televisi untuk mencari
gambar yang jelas. Setelah jelas ia mundur. Nampak
di layar televisi lobby Hotel Metropole yang
porak-poranda. Lalu kamera mengambil midle
close up korban-korban yang tewas dengan tubuh
hancur dan muka berdarah-darah. Sang penyiar
menjelaskan runtutan kejadian terjadinya pemboman.
Keterangan beberapa saksi mata dihadirkan.
Lalu seorang saksi menjelaskan ciri-ciri lelaki
yang diyakini membawa bom itu dan meledakkan
bom itu. Pihak kepolisian sementara ini menduga
pemboman dilakukan oleh seorang pemuda
Muslim Asia Tenggara yang berinisial MA. Pihak
kepolisian mendasarkan dugaannya dari keterangan
dua orang saksi mata, dan dari rekaman
kamera hotel. Setelah itu sketsa wajah orang
yang diduga sebagai pelaku pemboman dinampakkan.
Dan wajah itu mirip sekali dengan
Ayyas.

Melihat tayangan itu tubuh Ayyas bergetar. Ia
kaget bukan kepalang.

"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa diriku
yang dituduh? Bagaimana mereka mendapatkan
fotoku?" Tanya Ayyas yang diliputi rasa cemas
dan bingung.

"Ini jelas ada suatu skenario yang kita tidak
tahu. Tetapi kau tenanglah, aku dan Profesor Lyudmila
akan menjadi orang yang pertama membelamu.
Kau punya alibi yang sangat kuat. Saat
pemboman itu terjadi kau sedang siaran langsung
bersamaku. Tidak mungkin kau berada di dua
tempat dalam satu waktu."

Setelah menonton acara itu, Anastasia. mengajak
Ayyas menemui direktur program talk show.

Sebelum menemui direktur program talk show
Ayyas mengajak Anastasia ke KBRI untuk
menyampaikan apa yang terjadi. Begitu Ayyas
dan Anastasia sampai di sana, Pak Joko menyambut
mereka berdua. Pak Joko menemani mereka
menghadap Bapak Duta Besar.

"Untung kamu memberitahu KBRI tentang
acara talk show itu, sehingga KBRI merekam
acara live itu dan menyimpan rekamannya. KBRI
juga telah memberitahu kepada kedutaan negaranegara
Asia Tenggara untuk menonton acaramu.

Bahkan KBRI juga memberitahu kedutaan
negara-negara Arab di Moskwa ini untuk menontonnya.
KBRI sempat kaget ketika kamu disebut
sebagai pelaku pemboman. Padahal saat bom itu
meledak kau sedang live di acara talk show
"Rusia Berbicara." Kau tidak usah cemas, KBRI
sudah mengirim nota protes ke stasiun yang
memberitakan dirimu dengan tidak benar. KBRI
juga melayangkan nota protes kepada pihak Kementerian
Luar Negeri Rusia. Tenanglah seluruh
dunia akan membelamu. Sebab, kau memiliki
alibi yang seterang matahari di siang bolong."

Bapak Duta Besar menenteramkan Ayyas
dengan kata-katanya yang berwibawa dan
meyakinkan. Mendengar penjelasan Bapak Duta
Besar, Ayyas merasa senang dan tenang. Ia kini
tidak sendirian. Kini negara Republik Indonesia
sepenuhnya berada di belakang dirinya. Dan baru
kali ini Ayyas merasa bangga menjadi warga
negara Indonesia, lantaran negaranya secara penuh
siap membelanya hingga titik darah
penghabisan, di forum pengadilan-massa internasional.
Baru kali ini ia merasa Indonesia memiliki
keberanian luar biasa layaknya negara-negara
adikuasa seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris,
dan Perancis.

"Jika sampai dua jam ke depan pihak stasiun
yang menuduhmu itu tidak meralat keterangannya,
maka kita akan mengadakan konferensi
pers untuk mensomasi dan seterusnya menggugat
stasiun televisi itu secara hukum. KBRI berani
menjamin kita yang menang. Apalagi stasiun
yang menyiarkan dirimu talk show dengan live
itu bersaing dengan stasiun yang menuduhmu sebagai
pelaku pemboman. Jadi stasiun yang mengundangmu
acara live akan membela dirimu
mati-matian," tambah Pak Duta Besar
meyakinkan.

Setelah itu Ayyas dan Anastasia meluncur ke
stasiun yang menyiarkan acara talk show-nya secara
live. Direktur Program acara talk show
menyatakan siap membela Ayyas mati-matian.

"Kami justru akan menjadikan kecerobohan
stasiun saingan kami dengan menuduh Ayyas
seenaknya itu sebagai bumerang yang akan
menghantamnya habis-habisan. Kau jangan
cemas kawan," kata Direktur Program sambil
menepuk pundak Ayyas.

"Terima kasih," lirih Ayyas.

"Kami yang harus berterima kasih kepadamu."

***
Sampai malam tiba, belum ada ralat dari pihak
stasiun televisi yang menuduh Ayyas sebagai
pelaku pemboman. Pihak KBRI bergerak dengan
cepat. Pihak KBRI mengontak Kementerian Luar
Negeri Rusia untuk menandaskan protesnya
sekali lagi. Kementerian Luar Negeri Rusia
mengatakan bahwa pihaknya sudah menegur pihak
kepolisian dan stasiun televisi tersebut. Hari
berikutnya segalanya akan diurus. Tetapi pihak
KBRI tidak bisa menunggu lama, khawatir opini
akan berkembang dengan cepat. Yang dirugikan
adalah citra Indonesia. Dengan tegas pihak KBRI
akan menggelar konferensi pers sebagai pelurusan
berita yang telah berkembang.

Pukul sembilan malam, pihak KBRI mengundang
wartawan media cetak dan elektronik terkemuka
dan menggelar konferensi pers di auditorium
KBRI. Bapak Duta Besar langsung menjadi
juru bicara. Setelah itu dihadirkan kesaksian
dari Direktur Produksi talk shoiv "Rusia Berbicara".
Direktur itu memutar ulang siaran langsung
talkshow tersebut. Setelah itu Sang Direktur
Program berkata,

"Saat pemboman terjadi, kami masih siaran.
Ayyas masih on air di studio. Karena pemboman
itulah siaran kami percepat, dan kami potong di
tengah jalan. Jadi menuduh pelaku pemboman itu
adalah seorang pemuda Muslim ekstremis asal
Indonesia bernama Ayyas adalah sebuah fitnah
dan kebohongan publik yang tidak bisa diterima
akal sehat. Anda juga silakan cermati dialog talk
show itu, Muhammad Ayyas sangat educated,
dan open mind. Samasekali tidak ada tanda-tanda
sebagai seorang ekstremis. Stasiun televisi yang
menuduh Ayyas sebagai pelaku pemboman harus
segera minta maaf dan mencabut beritanya. Jika
tidak ini akan menjadi bencana besar bagi dunia
jurnalistik Rusia. Dunia akan menuduh Rusia
tidak mengenal kode etik jurnalistik. Bahkan
dunia bisa menuduh dunia jurnalistik Rusia
sangat purba dan tidak beretika. Ini sungguh
gawat!"

Setelah itu giliran Doktor Anastasia Palazzo
memberikan kesaksian dan jaminan bahwa Ayyas
samasekali jauh dari tuduhan itu. "Semuanya
sudah jelas. Siapa pun yang berakal akan
menolak tuduhan itu. Apakah mungkin seseorang
berada di dua tempat di waktu yang sama?"

Prof. Dr. Lyudmila juga memberikan komentar
yang membela Ayyas. "Dia sangat moderat.
Datang ke Moskwa ini sebagai visiting fellow, di
bawah persetujuan dan bimbingan Prof. Dr.
Abramov Tomskii, pakar sejarah terkemuka yang
dimiliki Rusia. Prof. Dr. Abramov Tomskii tidak
sembarangan memberikan rekomendasi. Dari beberapa
kali diskusi dengan Ayyas, saya tidak menemukan
cara berpikirnya yang mengarah sebagai
seorang teroris, samasekali tidak ada. Pagi
tadi saat terjadi pemboman, saya sedang asyik
menyaksikan acara talk show yang disiarkan secara
live. Ayyas menjadi salah satu nara sumber
di acara itu. Tidak mungkin dia berada di Metropole
Hotel dan melakukan aksi teror itu. Ya, benar
kata Doktor Anastasia Palazzo, akal sehat
mana pun tidak akan bisa menerima tuduhan itu.

Tidak mungkin Ayyas ada di dua tempat pada
saat yang sama. Itu hanya terjadi jika Ayyas
memiliki saudara kembar, dan saudaranya itu ada
di sini, dan yang melakukan pengeboman itu
tetap bukan Ayyas tetapi saudara kembarnya
Ayyas."

Pagi harinya Moskwa geger oleh berita yang
terjadi karena konferensi pers yang diadakan oleh
KBRI. Banyak koran dan media cetak yang mengutuk
pemberitaan tidak benar yang dilakukan
oleh stasiun televisi yang menuduh Ayyas melakukan
pemboman.

"Teroris Harus Diberantas Tetapi Jangan Menuduh
Sembarangan." Demikian headline sebuah
koran ternama di Rusia. Kini opini yang mendukung
Ayyas sangat kuat dan besar. Pihak Kementerian
Luar Negeri Rusia pun buru-buru
meminta maaf kepada Ayyas, KBRI, dan kepada
bangsa Indonesia secara lebih luas, atas tuduhan
yang tidak memiliki bukti apa pun yang disiarkan
oleh salah satu stasiun televisi Rusia. Pihak kepolisian
juga langsung meralat dugaan mereka
yang salah.

"Kami mendapat informasi dari sumber yang
salah, jadinya dugaan kami pun salah. Kami
terlalu tergesa-gesa. Kami mohon maaf. Kami
akan segera mencari pelaku pemboman itu dan
menangkapnya, dan kami akan menindak tegas
orang-orang kami yang bertindak tidak profesional
dan tidak akurat."

Demikian juru bicara kepolisian Rusia memberikan
keterangan kepada pers. Dengan begitu
Ayyas terbebas dari segala macam tuduhan yang
mengancam jiwanya tersebut. Dan Ayyas bisa
melanjutkan aktivitasnya melakukan penelitian
dengan tenang di Moskwa. Lewat telpon Ayyas
menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak
Duta Besar yang sangat perhatian kepada warga
negara Indonesia, terutama kepada kasus yang
menimpanya. Dengan penanganan Bapak Duta
Besar yang cepat, masalahnya tidak berlarut dan
berkembang ke mana-mana. Ayyas juga
menyampaikan rasa terima kasih, tentu saja kepada
Doktor Anastasia Palazzo, Prof. Dr. Lyudmila,
dan Direktur Program Talk Show "Rusia
Berbicara."

Sementara itu pihak kepolisian Rusia terus
bekerja keras. Mereka sesungguhnya sangat malu
pada kecerobohan mereka. Seandainya Ayyas
tidak sedang siaran live di acara talk show itu,
polisi masih akan bisa membuat rekayasa dan
memaksakan opininya. Tetapi alibi Ayyas terlalu
kuat. Jika tetap dipaksakan Ayyas sebagai pelakunya,
maka pihak kepolisian akan dituduh sebagai
kumpulan orang-orang paling pandir di
Rusia.
Bahkan pihak kepolisian tidak memiliki bukti
samasekali untuk mengaitkan Muhammad Ayyas
dengan jaringan teroris. Informasi yang diterima
pihak kepolisian, bahwa di tempat tinggal Ayyas
ada bahan-bahan peledak yang siap dirakit juga
tidak benar. Polisi sudah memeriksa kamar Ayyas
di apartemen tua di daerah Panvilovsky Pereulok,
dan polisi tidak menemukan benda apa pun
yang mencurigakan. Kamar itu kini dihuni seorang
nenek tua bernama Margareta. Dan nenek tua
itu memberikan kesaksian yang justru menguntungkan
Ayyas. Nenek tua itu mengatakan,
Ayyas adalah anak muda yang baik budi
pekertinya. Yelena yang juga tinggal di rumah itu
juga mengatakan, tidak mungkin Ayyas yang
melakukan pemboman yang biadab itu.

"Saya tahu persis siapa Ayyas. Dia orang baik,
saya berani menjamin. Dia tidak mungkin berbuat
sekejam itu. Tidak mungkin. Siaran di televisi
yang menuduh Ayyas itu sungguh ceroboh."
Kata Yelena kepada penyidik dari kepolisian
Rusia.

Setelah tidak menemukan bukti apa pun di bekas
tempat tinggal Ayyas, maka pihak kepolisian
tidak ada jalan untuk selamat, kecuali harus tegas
berani minta maaf kepada publik dan kepada
Ayyas khususnya. Pihak stasiun yang menuduh
Ayyas juga segera menyiarkan permohonan maaf
atas pemberitaannya yang tidak akurat.

"Khusus untuk kasus ini, karena kami panik
dan tidak bisa menerima adanya teror di Moskwa
ini, sampai kami kurang teliti melakukan analisis.
Kami menerima berita yang sangat mentah dan
tidak akurat yang itu datang dari pihak
kepolisian. Karena pihak kepolisian sudah mencabut
dugaannya, maka tidak ada alasan bagi
kami untuk tidak mencabutnya. Kami minta maaf
atas pemberitaan yang tidak nyaman ini.

Khususnya bagi pemuda Indonesia yang sedang
menjadi visiting fellow di MGU bernama
Muhammad Ayyas. Kami juga minta maaf kepada
Bangsa Indonesia. Semoga kejadian kecil
ini tidak memengaruhi persahabatan kedua
bangsa besar ini, yaitu Rusia dan Indonesia."

Demikian juru bicara pihak stasiun televisi itu
menyampaikan permohonan maafnya. Kini
Ayyas benar-benar bisa bernafas lega. Malam itu
Ayyas bisa tidur dengan tenang dan nyaman di
kamarnya yang sederhana, di Aptekarsky Pereulok
yang berada di kawasan Baumanskaya. Sebelum
tidur Ayyas menyempatkan diri untuk
rukuk dan sujud kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang. Ayyas menutup
ibadahnya malam itu sebelum tidur dengan shalat
Witir.. Ayyas sangat yakin yang
menyelamatkannya dari marabahaya
sesungguhnya adalah Allah, Tuhan seru sekalian
alam.

Yang masih mengganjal di kepalanya adalah
ada skenario dan rekayasa apa sebenarnya di balik
pengeboman itu. Siapa sebenarnya pelaku dan
dalang pengeboman itu? Kenapa orang Indonesia
yang sengaja diopinikan sebagai pelaku pengeboman
itu? Dan orang Indonesia yang dituduh itu
adalah dirinya, kenapa dirinya?

Mereka membuat rekayasa, tetapi rekayasa
Allah mengatasi segalanya.

Tiga hari berlalu sejak Madame Ekaterina
membeberkan semua rahasia Linor. Sejak itu
Linor bergulat dengan batin dan jiwanya sendiri.
Pikirannya masih menginginkan dirinya menjadi
orang Yahudi, bahkan menjadi agen Zionis.

Darahnya sesungguhnya memang bukan darah
Yahudi, tetapi tidak ada yang tahu itu kecuali
Madame Ekaterina yang selama ini ia anggap sebagai
ibu kandungnya. Bahkan Ben Solomon atasannya
sangat membanggakan dirinya sebagai
gadis Yahudi tulen yang berprestasi bagi Zionis
Israel. Ben Solomon sampai menginginkan agar
dirinya nanti menikah dengan putra sulungnya
yang kini menjadi tentara Israel dan bertugas di
daratan Sinai, tepatnya di perbatasan Gaza.
Akan tetapi nuraninya yang paling dalam
mengingkari segala yang ia pikirkan. Nuraninya
terus mengajaknya untuk menjadi anak perempuan
yang mengandung dan melahirkannya, yaitu
menjadi perempuan Palestina. Sebab dia
adalah keturunan orang Palestina yang tulen.

Darah yang mengalir dalam tubuhnya sesungguhnya
adalah darah Palestina. Dan perempuan
yang menjadi sebab dirinya hadir di dunia adalah
Salma Abdul Aziz, perempuan Palestina.
Dan wajah perempuan Palestina itu begitu
mirip dirinya.

Ya, wajah Salma Abdul Aziz, ibu
kandungnya, begitu mirip dirinya. Airmata Linor
meleleh setiap kali mengingat wajah itu, dan setiap
kali mengingat kematiannya yang tragis dan
menyedihkan. Yang robek perutnya dan hancur
dadanya, dan yang pakaiannya terkoyak-koyak
itu adalah ibu kandungnya. Ibunya mati beberapa
hari setelah melahirkannya karena dibantai oleh
Zionis Israel melalui tangan milisi Falangis
dalam pembantaian Sabra dan Shatila.

Sejak ada di Ukraina Linor tidak melakukan
kontak dengan markas agen di Moskwa. Ia masih
bergulat dengan dirinya sendiri. Linor tahu bahwa
telah ada peristiwa besar di Moskwa. Lewat
siaran televisi ia tahu, Metropole Hotel telah
dibom, dan seperti skenario yang disepakati para
agen zionis, Ayyaslah yang akan dijadikan kambing
hitam. Ternyata skenario itu gagal. Di saat
bom meletus, Ayyas sedang siaran live di sebuah
stasiun televisi, jadi tidak mungkin bahwa dia
pelakunya. Pihak kepolisian, Kementerian Luar
Negeri Rusia dan pihak stasiun televisi yang
menduga Ayyas sebagai pelaku pemboman sudah
meminta maaf dan mencabut dugaan tak berdasar
itu.

Linor tahu, para agen Zionis di Rusia dan di
Eropa Timur kini sedang mencari dirinya. Sebab,
kesalahan itu ada pada dirinya. Mereka pasti
menyalahkan dirinya kenapa sampai tidak tahu
bahwa di jam yang sama dengan rencana
peledakan, Ayyas ada acara siaran live. Mereka
juga pasti menyalahkan dirinya, kenapa tas ransel
berisi bahan peledak itu tidak ditemukan di
kamar Ayyas. Linor sendiri tidak tahu kenapa
bisa gagal. Sebenarnya ia sendiri penasaran, apa
yang sedang terjadi di apartemennya di Panvilosky
Pereulok. Bagaimana tas ransel itu tidak
ditemukan di kamar Ayyas? Apakah Ayyas mengetahui
ada benda aneh di kamarnya dan membuangnya?
Atau para polisi itu yang bodoh yang
tidak bisa menemukan tas itu di bawah kolong
tempat tidur Ayyas?

Ia jarang gagal. Tetapi kali ini gagal. Biasanya
ia sangat sedih ketika gagal. Kali ini justru ia
agak bahagia ketika gagal. Bahagia karena Ayyas
tidak jadi celaka karena perbuatannya.

Linor memprediksi satu minggu ke depan keberadaannya
akan diketahui oleh Ben Solomon.

Maka ia harus melakukan sesuatu kalau memang
tidak ingin lagi bergabung dengan agen Zionis.

Linor memerlukan satu hari lagi untuk berpikir.
Ia masih bimbang antara tetap beridentitas
Yahudi meskipun sesungguhnya dirinya bukan
Yahudi, atau menanggalkan identitas Yahudi
yang melekat pada dirinya selama ini dan bergabung
dengan ibu kandungnya, yaitu menjadi
perempuan Palestina.

Siang itu sebelum makan siang, Linor masuk
ke kamar Madame Ekaterina. Diam-diam dan
tanpa mengetuk pintu seperti biasanya. Ia sendiri
tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin memasuki
kamar orang yang selama ini ia anggap sebagai
ibunya sendiri itu. Ia hanya ingin membuka almari
besar, dan mengambil buku dari koper tua
milik Madame Ekaterina. Buku yang dipegang
oleh Madame Ekaterina ketika memperlihatkan
foto Salma Abdul Aziz yang mirip dirinya. Ia
berharap dari buku itu ia mendapatkan informasi
lebih tentang ibu kandungnya.

Salma menyelinap masuk. Ia berharap ibunya
sedang tidur. Ternyata dugaannya meleset. Ia melihat
Madame Ekaterina sedang tersungkur sujud
di atas selembar kain. Linor kaget bukan kepalang.

Madame Ekaterina melakukan ritual ibadah
seperti orang-orang Islam. Linor berdiri mematung
di tempatnya. Kakinya seperti terpajang di
atas lantai tidak bisa digerakkan. Madame Ekaterina
kini duduk dengan khusyuk. Kedua matanya
tertuju ke tempat dia sujud. Tangan kanannya
memberi isyarat dengan mengacungkan jari
telunjuknya. Bibirnya bergetar melafalkan
tahiyyat dan syahadat. Beberapa detik kemudian
Madame Ekaterina menengok ke kanan dan ke
kiri sambil mengucapkan salam.

Linor masih berdiri mematung di depan pintu.
Selain kaget ia dicekam pelbagai perasaan yang
menyerang kesadarannya. Ada perasaan marah
dan cemburu, seolah ia belum rela melihat Madame
Ekaterina melakukan ritual ibadah seperti
orang Islam. Juga ada perasaan penasaran,
apakah orang yang selama ini ia anggap sebagai
ibunya sendiri itu masih dalam taraf coba-coba
atau telah benar-benar menjadi penganut Islam.

Kalau benar telah menjadi penganut Islam, sejak
kapan itu terjadi. Ada juga perasaan yang aneh
yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya,
yaitu perasaan haru. Ia yakin ibu kandungnya
adalah seorang penganut Islam, dan Madame
Ekaterina melakukan 'ritual ibadah orang Islam
itu, mungkin karena rasa sayang dan cinta kepada
ibu kandungnya, yaitu Salma Abdul Aziz.

Alangkah kuat ikatan persahabatan keduanya.

Selesai shalat Madame Ekaterina membaca
zikir kemudian mengangkat kedua tangannya dan
berdoa kepada Allah. Dengan mata meleleh, Madame
Ekaterina meminta kepada Allah agar menurunkan
hidayah kepada orang yang sangat
disayanginya yaitu Linor. Ia menangis kepada
Allah agar Linor dikembalikan kepada
fitrahnya,'yaitu menjadi seorang Muslimah seperti
ibu kandungnya. Madame Ekaterina merasa
hanya dengan kekuatan doa ia bisa berikhtiar,
hanya kepada
Allah ia mengadu dan memohon pertolongan.
Sesaat lamanya Madame Ekaterina menangis
tersedu-sedu. Dan Linor tetap tidak beranjak dari
tempatnya. Mendengar tangis Madame Ekaterina,
Linor merasa ada sesuatu yang menyusup halus
ke dalam nuraninya. Entah kenapa ia tiba-tiba
dicekam rasa haru. Mata lalu berkaca-kaca dan
airmatanya tak kuasa ia tahan. Akhirnya meleleh
dan tumpah.

Selesai menangis kepada Allah, Madame Ekaterina
berdiri dan membalikkan tubuhnya.

Alangkah terkejutnya Madame Ekaterina, ketika
melihat Linor berdiri mematung dengan airmata
meleleh.

"Kau melihat aku shalat, Anakku?" Tanya
Madame Ekaterina dengan suara parau dan tubuh
bergetar.

Linor menganggukkan kepala.

"Ya memang sudah saatnya kau mengetahuinya.
Kini kau sudah tahu, bahwa aku adalah
seorang Muslimah. Aku sudah menanggalkan
agama Yahudiku dan sudah menjadi pengikut
Nabi paling mulia yaitu Muhammad Saw.
Apakah kau marah atau kecewa mengetahui
Mamamu ini telah pindah agama?"

Linor tidak menjawab. Ia hanya diam mematung.
Airmatanya terus meleleh.

"Sejak kapan Mama berpindah agama?" Tanya
Linor dengan dada bergetar.

"Sudah lama. Kira-kira satu tahun sebelum
Eber Jelinek meninggal dunia."

"Apakah dia tahu kalau Mama sudah menjadi
seorang penganut Islam?"

"Tentu saja tidak. Dia tidak boleh tahu. Mama
menyembunyikan keislaman Mama darinya.
Kalau dia tahu mungkin Mama lebih dulu meninggal
dunia. Dan Mama tidak akan memiliki
kesempatan untuk menjelaskan sejarah ibu
kandungmu yang sebenarnya."

"Kenapa Mama sampai memilih memeluk
Islam?"

"Bacalah riwayat Maryam Jameela. Kira-kira
penyebab keislaman Mama hampir sama dengan
Maryam Jameela."

"Siapa itu Maryam Jameela?"

"Kau telah mendapat pendidikan untuk menelusuri
data seseorang sampai ke akar-akarnya.
Tidak susah bagimu untuk mengetahui siapa
Maryam Jameela. Mama tidak perlu menjelaskannya
kepadamu."

"Baiklah Linor akan mencari data perempuan
itu."

"Linor, Anakku."

"Iya, Mama."

"Apakah kau marah, Mama masuk Islam?"

"Linor tidak tahu Mama. Linor akan mencari
tahu kenapa Maryam Jameela masuk Islam, baru
Linor akan bisa berpikir lebih baik, apakah keputusan
Mama itu masuk akal ataukah tidak."

"Ketahuilah Linor, Salma Abdul Aziz, ibu
kandungmu adalah seorang Muslimah."

"Linor sudah menduga, sebab dia adalah perempuan
Palestina."

"Apa kau tidak tertarik mengikuti jejak ibu
kandungmu?"

"Linor tidak tahu Mama."

"Sungguh akan lengkap kebahagiaan Mama
jika kau mengikuti jejak ibu kandungmu. Mama
yakin jika ibu kandungmu masih hidup dan kau
diasuh oleh ibu kandungmu, kemungkinan besar
kau akan menjadi seorang Muslimah yang tangguh,
layaknya Muslimah Palestina yang
menyerahkan seluruh umurnya untuk berjuang di
jalan Allah."

"Tuhan pasti punya rencana untuk Linor sehingga
Linor kehilangan ibu kandung sejak kecil
dan Linor jadi seperti ini. Terus terang saat ini
Linor sedang di persimpangan jalan. Berilah
kesempatan bagi Linor untuk berpikir menentukan
arah hidup Linor. Dan Linor minta Mama
tidak usah bersedih atau merasa berdosa, jika
ternyata Linor tidak mengikuti jalan hidup Mama
atau jalan hidup ibu kandung Linor."

"Mama akan berdoa semoga Allah menunjukkan
jalan terbaik untukmu, Anakku."

***
Sejak itu Linor rajin mencari informasi
tentang Islam di internet. Ia juga terus mencari
data dalam versi yang berbeda tentang Palestina.
Ia membaca artikel-artikel tentang Palestina yang
ditulis oleh sarjana Muslim. Linor berusaha untuk
membuka pikirannya lebih luas, tidak terbatas
pada doktrin yang ditanamkan oleh sekte
Yahudi Gush Emunim yang sangat radikal.

Linor akhirnya mendapatkan data yang
lengkap tentang Maryam Jameela. Ia membaca
dengan detil kenapa ia memilih Islam dan meninggalkan
agama Yahudinya. Linor cukup
mendapat pencerahan dari membaca surat menyurat
Maryam Jameela dengan Abui A'la Al
Maududi. Linor tidak hanya membatasi membaca
biografi Maryam Jameela, ia juga membaca biografi
para limuwan dan pemikir yang memeluk
Islam justru di puncak karier ilmiah mereka, seperti
Dr. Keith L. Moore, Dr. Gary Miller, Dr.
Roger Garaudy, Dr. Murod Hofmann, dr.
Maurice Bucaille, Dr. Jefery Lang. Dan yang
paling menarik baginya adalah pengalaman seorang
Yvonne Ridley, wartawan Sunday Express,
koran terbitan Inggris.

Yvonne Ridley pada bulan September 2001
diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan
untuk melakukan tugas jurnalistik. Ia
menuturkan pengalamannya di Afghanistan saat
ditangkap Taliban yang justru membuatnya masuk
Islam, bahkan menyebutnya sebagai keluarga
terbesar dan terbaik di dunia.

Yvonne ternyata mendapatkan kesan yang
berbeda tentang orang-orang Islam yang selama
ini dituding sebagai sumber kekacauan dunia
oleh Amerika. Yvonne menemukan penghormatan
yang tulus dari orang-orang Taliban
yang menahannya, yang awalnya ia sudah berburuk
sangka pasti akan diperlakukan dengan
tidak manusiawi. Ternyata kenyataan yang dialaminya
sungguh berbeda dari purba sangkanya.

Linor mencari data lebih lengkap tentang
Yvonne Ridley, Linor mendapati kalimat Yvonne
yang menyentak dadanya,

"Aku luluh dengan apa yang kubaca. Tak ada
satu pun yang berubah dari isi kitab ini, tak satu
titik pun, sejak 1400 tahun yang lalu. Aku bergabung
dengan apa yang kuanggap sebagai keluarga
terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini.
Kalau kami bersatu, kami betul-betul tak
tertahankan."

Di tempat yang lain, Yvonne mengakui Islam
sangat memuliakan perempuan, jauh dari anggapan
yang dipublikasikan di dunia Barat yang
mencitrakan Islam sebagai agama yang menindas
kaum perempuan. Yvonne Ridley mengatakan,
"Islam ternyata memanjakan perempuan. Perempuan
tak perlu dipaksa bekerja agar dapat
mendidik anak-anaknya, agar terhindar dari
minum-minuman keras, pornografi, dan hal-hal
lain yang dapat menghambat pertumbuhan remaja
seperti yang tengah dikhawatirkan pemerintah
Inggris. Bahkan ditegaskan di dalam Islam,
perempuan merupakan tiang negara dan sesungguhnya
surga berada di bawah telapak kaki ibu.

"Memang ada perempuan-perempuan tertindas
di negara-negara Muslim, tapi perempuan-perempuan
tertindas juga ada di tepi jalan di Tyneside,
Inggris. Penindasan itu berasal dari kultur, bukan
dari ajaran Islam. Al-Quran menyatakan dengan
sangat jelas bahwa perempuan itu setara dengan
kaum laki-laki.

"Melalui tulisan tentang isu-isu kultural seperti
pernikahan di bawah umur, praktik sunat terhadap
perempuan, pembunuhan atas nama kehormatan
keluarga, dan kawin paksa, mereka salah
menilai ajaran Islam dengan aspek kultural
para pemeluk agama Islam. Lebih buruk lagi,
Arab Saudi mereka jadikan contoh sebuah negeri
Muslim, dimana kaum perempuan dipinggirkan
karena di sana perempuan dilarang menyetir. Isu-
isu di atas tak ada hubungannya dengan Islam,
tapi kebanyakan orang Barat masih menulis dan
membicarakan tentang hal-hal semacam itu
dengan nada angkuh dan sok kuasa seraya
menyalah-nyalahkan Islam. Padahal, ada beda
mendasar antara tingkah laku kultural dan ajaran
Islam."

Kemudian mengenai tuduhan bahwa Islam
mengizinkan laki-laki memukul istri mereka,
Yvonne mengatakan bahwa itu tidak benar.
Orang-orang yang senang mengkritik Islam tentu
mendasari anggapan itu dengan mengutip Al-
Quran dan hadis secara acak, tapi biasanya dikutip
di luar konteksnya. Dalam Islam, jika seorang
laki-laki menyentuh istrinya, ia tak diizinkan
meninggalkan bekas apa pun di tubuhnya. Ini
sebenarnya cara lain Al-Quran mengatakan, Jangan
kau pukul istrimu, tolol!

Linor mendapatkan keterangan yang indah
tentang Islam, tetapi Linor seperti biasa ia tidak
mau memercayainya begitu saja. Ia bahkan tidak
akan percaya begitu saja pada obyektivitas
wartawan kelas dunia dari Sunday Express
sekelas Yvonne Ridley. Linor memutuskan untuk
mempelajari sendiri ajaran
Islam, baru nanti ia bisa memutuskan langkah
hidupnya.

Keputusannya untuk mengkaji Islam membuatnya
harus memutus rantai komunikasi
dengan para agen Zionis. Jika tidak, maka
nyawanya dan nyawa Madame Ekaterina berada
di ujung tanduk, bisa melayang kapan saja. Ia
akan terus diburu oleh agen Mosad sampai ujung
dunia.

Maka suatu hari, ia menyamar dan duduk di
sebuah kawasan paling ramai di kota Kiev. Linor
mencari seseorang yang ia anggap paling mirip
dengan dirinya, atau paling tidak mendekati
serupa dengan ciri-ciri fisik dirinya. Hari pertama
ia tidak mendapatkan targetnya. Juga pada hari
kedua. Pada hari ketiga, ia menemukan targetnya.
Seorang gadis yang kelihatannya masih berada di
bangku kuliah. Linor mengikuti gadis itu diam-
diam sampai ia masuk ke dalam apartemennya di
pinggir utara kota Kiev.

Dengan kesabaran luar biasa, Linor menunggu
gadis itu sampai keluar lagi dari apartemennya, ia
terus mengikutinya. Gadis itu ternyata bekerja di
sebuah toko sepatu sebagai penjaga toko. Linor
terus mengawasi sampai akhirnya tahu aktivitas
harian gadis itu. Nalurinya sebagai agen rahasia
Mosad masih tertanam kuat. Demikian juga jiwa
kejamnya.

Akhirnya pada suatu senja, saat gadis itu berjalan
sendirian di sebuah jalan sepi dekat toko
sepatunya, Linor melumpuhkan gadis itu dengan
cepat, lalu memasukkan ke dalam mobil sedan
yang ia sewa dengan sangat cepat dan tenang.
Linor membawa gadis itu ke sebuah villa
yang ia sewa di tepi sungai Dnipro. Setelah
mengambil segala identitas gadis itu dan setelah
menganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang
biasa ia pakai kalau rapat dengan Ben Solomon,
Linor menembak gadis itu dengan tiga tembakan.

Dua di dada dan satu di keningnya. Linor menembaknya
dari jarak enam meter.

Gadis itu tergeletak begitu saja di lantai ruang
tengah villa itu. Darahnya mengaliri lantai
marmernya yang licin.

Linor lalu meletakkan barang-barangnya termasuk
dua paspornya di salah satu kamar villa
itu. Linor telah merencanakan operasinya itu
dengan sangat detil. Dan ia meninggalkan villa
itu tanpa ada seorang pun yang mengetahui.

Hari berikutnya beberapa media nasional
Ukraina memberitakan tewasnya seorang gadis
muda berkebangsaan Rusia bernama Linor di sebuah
villa di tepi sungai Dnipro. Motif pembunuhan
belum bisa dipastikan oleh pihak kepolisian.

Hanya saja pihak kepolisian menduga bahwa
gadis itu adalah seorang pelacur kelas atas.

Sebab villa itu biasa disewa oleh pelacur
berkelas. Dan ada satu media yang menganalisis
bahwa gadis yang mati ditembak itu adalah seorang
agen intelijen yang menyamar sebagai
pelacur.

Meskipun belum yakin betul operasinya itu
bisa meyakinkan agen Mosad bahwa dirinya telah
mati. Akan tetapi paling tidak ia merasa tujuh
puluh persen operasinya itu bisa menjamin keleluasaan
geraknya di beberapa kota besar Eropa.

Untuk sementara ia tidak akan memasuki Rusia.
Ia akan memasuki Rusia setelah merasa dirinya
benar-benar telah dianggap sirna di muka bumi
ini, meskipun itu tidak mudah.

Setelah melakukan operasi itu ia menemui
Madame Ekaterina dan mohon pamit untuk
mengkaji Islam lebih dalam. Untuk itu ia akan
pergi ke Berlin. Dari data yang ia peroleh di internet
ada komunitas Muslim cukup kuat di Jerman,
termasuk di kota Berlin. Ia merasa Berlin
adalah tempat yang cukup aman baginya untuk
menyembunyikan identitasnya. Ketika ia
mengemukakan niatnya ke Berlin, Madame Ekaterina
memberinya sebuah nama untuk dikunjungi.
Sebuah keluarga Turki-Syiria yang sudah
lama menetap di Berlin.

"Mereka adalah teman baik Mama di London.
Mereka Muslim yang taat dan baik. Mama minta
kau jujurlah pada mereka. Insya Allah mereka
akan sangat menyukaimu." Ujar Madame Ekaterina
saat melepas Linor di depan pintu apartemen.
Dengan menggunakan kereta Linor pergi meninggalkan
Kiev menuju Berlin. Identitas yang ia
pakai adalah identitas seorang gadis berkebangsaan
Belarusia bernama Sofia Corsova. Di dalam
kereta Linor duduk di samping seorang lelaki
setengah baya yang membaca koran Pravda.

Linor menduga lelaki itu berasal dari Rusia. Selesai
membaca koran lelaki itu lalu tidur dengan
nyenyaknya sampai mendengkur. Koran Pravda
yang dipangku lelaki itu jatuh ke lantai. Linor
tidak bisa menahan untuk tidak mengambil koran
itu.

Tanpa berpikir panjang Linor memungut koran
Pravda itu dan membacanya dengan seksama.
Mulanya ia agak kecewa bahwa koran itu sudah
kadaluarsa tiga hari. Tetapi Linor tetap saja
membacanya sambil mendengarkan dengkuran
lelaki setengah baya itu.

Di halaman lima Linor tersentak. Ada peristiwa
yang kembali mengguncang Moskwa. Dua
geng Mafia terlibat dalam perang terbuka.

Dengan kekuatan penuh geng Voykovskaya
Bratva yang dipimpin Boris Melnikov menyerang
markas geng Tushinskaya Bratva yang
dipimpin oleh Vladimir Nikolayenko yang tak
lain adalah suami Olga Nikolayenko. Terjadi
kekacauan di jantung kota Moskwa. Enam orang
tewas dalam pertikaian berdarah itu, termasuk
dua pimpinan geng yaitu Boris Melnikov yang
jantungnya robek tertembus peluru dan Vladimir
Nikolayenko yang kepalanya pecah dihantam
tiga peluru AK 47. Olga Nikolayenko, istri
Vladimir Nikolayenko, luka parah dan kemungkinan
cacat seumur hidup.

Linor tersenyum dingin, rencananya berhasil
seratus persen kali ini. Ia membayangkan bahwa
Yelena dan Bibi Margareta pasti sedang bahagia
di Moskwa sana. Yelena pasti merasa telah
merdeka dari cengkeraman Olga Nikolayenko
dan Vladimir Nikolayenko. Jika Yelena konsisten
dengan yang diucapkannya, maka Yelena akan
memulai lembaran hidup baru dan meninggalkan
dunia pelacuran yang selama ini menjeratnya. Ia
senang jika itu terjadi pada Yelena.

Kereta terus berjalan, dan Linor mulai
mengantuk. Ia meletakkan koran Pravda di
pangkuan lelaki setengah baya itu. Dari jendela
Linor melihat ada salju yang mulai mencair.
Pohon-pohon cemara bergoyang tertiup angin.
Sesekali nampak hamparan kebun-kebun gandum
yang telah tertutup salju.

Linor akhirnya terlelap. Dalam tidurnya ia
bermimpi didatangi ibunya, Salma Abdul Aziz.

Ibunya nampak begitu cantik, anggun dan
memesona. Sementara dirinya kusut, wajahnya
bopeng menjijikkan, kulitnya penuh nanah dan
mengeluarkan lendir yang sangat anyir baunya.
Dengan sabar ibunya menuntunnya menuju sebuah
telaga yang sangat jernih airnya. Telaga itu
dijaga oleh orang-orang suci yang bercahaya.

Ketika ia dan ibunya mendekat, seorang penjaga
meminta agar Linor dijauhkan dari telaga. Ibunya
sampai menangis meminta agar anaknya diizinkan
disiram dengan air telaga itu agar lukalukanya
sembuh. Tetapi tetap saja penjaga telaga
itu tidak memberi izin.

Akhirnya ibu kandungnya itu berkata kepada
Linor dengan berderai airmata,

"Anakku, sesungguhnya yang kini nempel di
tubuhmu adalah amal perbuatanmu sendiri. Kau
sendiri yang harus membersihkannya dengan
amal saleh. Tubuhmu akan benarbenar suci dan
bersih, jika kau membersihkannya minimal lima
kali sehari. Sujudlah kepada Allah lima kali sehari,
maka Allah akan menyayangimu dan melimpahkan
rahmat dan kesejahteraan kepadamu
di dunia dan di akhirat. Dan jika kau sudah bisa
sujud lima kali sehari carilah pendamping hidup
yang memiliki keteguhan iman mirip Yusuf
alazhissalam"

Setelah itu ibunya pergi. Linor terbangun dari
mimpinya. Hari masih siang. Kereta melaju
menyibak kabut dan sesekali bergoyang. Linor
meraba wajahnya. Masih halus. Ia lihat kedua
tangannya masih halus. Meski demikian wajahnya
nampak pucat. Ia sangat ketakutan dengan
mimpi yang baru saja dialaminya. Ia sungguh
takur memiliki wajah dan tubuh seburuk itu.

Linor terus merenungkan mimpi yang dialaminya.

Mimpi itu seperti nyata. Ada satu hal yang
membuat hatinya merasakan kebahagiaan yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya, ibunya begitu
sangat mencintai dan menyayanginya. Tangis
ibunya yang penuh cinta kepada dirinya, apa
pun keadaan dirinya, benar-benar membuat hatinya
bergetar. Entah kenapa mata Linor tiba-tiba
berkaca-kaca. Ia merasakan 'kerinduan untuk bertemu
dengan ibu kandungnya. Dan karena ia
tahu, ibu kandungnya telah gugur dalam pembantaian
Sabra dan Shatila, maka airmatanya semakin
deras meleleh.

Kereta terus berjalan menembus udara musim
dingin. Rasa haru dan rindu kepada ibu
kandungnya hadir begitu saja seolah berhembus
menembus dada Linor sampai relung hati paling
dalam. Airmatanya terus melelah tanpa bisa
ditahan.

Kereta terus berjalan membawa seribu kisah
hidup para penumpangnya. Ada yang bahagia,
ada yang sedang berduka. Ada yang dadanya
dipenuhi kemantapan, dan ada yang hanya berisi
kebimbangan. Kereta terus berjalan tak peduli
apa , sedang terjadi dalam jiwa para penumpangnya.

Kereta hanya mengantarkan sampai
pada stasiun tujuan, perjalanan selanjutnya para
penumpangnyalah yang memutuskan.

Tidak terasa sudah dua bulan lebih Ayyas
tinggal di Aptekarsky Pereulok. Sejak tinggal di
Aptekarsky itulah Ayyas bisa merasakan
kenyamanan hidup di Moskwa. Ia bisa merasakan
indahnya salju yang turun, atau pohon-pohon
bereozka yang bergoyang mengagungkan
asma Allah. Ia juga benar-benar menikmati
hangatnya minum teh sambil membaca buku di
sofa tanpa khawatir melihat aurat perempuan.

Bersama Pak Joko yang rajin puasa sunnah,
Ayyas benar-benar bisa hidup tenang dalam suasana
penuh keimanan dan kedekatan dengan Sang
Khalik. Di dalam apartemen tua yang sederhana
di Aptekarsky, tak ada lagi godaan perempuan
yang sedemikian dekatnya seperti saat tinggal
bersama Linor dan Yelena.

Di Aptekarsky ia merasa lebih nyaman. Bersama
Pak Joko ia saling menolong dalam kebaikan
dan kesabaran. Shalat terjaga tepat pada waktunya.
Setiap malam selalu bangun dan shalat
Tahajud bersama. Dan selesai shalat Subuh ia
mengaji hadis-hadis Nabi bersama Pak Joko yang
haus agama memang meminta dijelaskan satu
hadis dari kumpulan hadis Arbdin Nawaivi setiap
pagi.

Tak terasa hadis Arba'in Nawawi sudah
dikhatamkan. Dan kini Ayyas menjelaskan hadishadis
yang ia pilih dari kitab Riyadhush Shalihin.
Ayyas tidak membawa kitab hadis itu tetapi file
kitab itu ada di dalam laptopnya bersama dengan
ribuan kitab penting lainnya. Ketika menjelaskan
satu hadis, Ayyas membacanya lewat laptop. Kitab
itu sudah tersimpan dalam bentuk digital,
bukan lagi tertulis di dalam lembaran kertas.
Ayyas tidak lagi merasa asing di Moskwa. Ia
seolah telah menjadi penduduk kota Moskwa
yang sibuk dengan urusannya tanpa tekanan dari
siapapun juga. Ayyas sibuk dengan kegiatannya
siang dan malam, baik kegiatan untuk dirinya
maupun untuk orang lain. Musim dingin tidak
lagi ia rasakan sebagai penghalang untuk melakukan
aktivitas yang luas.

Siang hari Ayyas lebih suka mengadakan
penelitian di perpustakaan negara, meskipun sesekali
tetap ke kampus MG U dan berdiskusi
seperlunya dengan Doktor Anastasia Palazzo.
Tak jarang Ayyas ada di masjid Prospek Mira
berdiskusi dengan Imam Hasan Sadulayev
tentang banyak masalah. Dari Imam Hasan Sadulayev
ia banyak mendapatkan data-data penting
tentang kehidupan umat Islam yang tidak ia
temukan di perpustakan juga tidak ia dapatkan
ketika berdiskusi dengan Doktor Anastasia.
Kini, Ayyas jauh lebih merasa tenang dan tenteram
dibandingkan ketika hidup satu rumah
dengan Linor dan Yelena di Smolenskaya.

Yang lebih membuat Ayyas semakin kerasan
tinggal di
Moskwa, kini Ayyas merasa menemukan sesuatu
yang membahagiakan hatinya. Bahwa
ternyata di ibu kota Rusia yang berpenduduk dua
belas juta jiwa, lebih dari satu juta penduduknya
adalah Muslim. Siapa tahu bahwa di kota yang
pernah menjadi pusat kaum komunis itu ada
hamba-hamba Allah yang masih memegang teguh
kalimat syahadat.

Dari satu juta lebih itu separonya berasal dari
suku bangsa Tatar yang telah berabad-abad bermukim
di Moskwa. Selebihnya adalah para
pendatang dari selatan yang rata-rata pedagang
dan buruh kasar, menambah banyak komunitas
Muslim Moskwa. Mereka adalah suku bangsa
dari Asia Tengah dan Kausasus. Suku bangsa
dari Asia Tengah meliputi Kazakh, Uzbek, Kirgiz,
Turkmen dan Tajik. Sedangkan dari Kausasus
meliputi Chechnya, Ingusetia, Dagestan, dan
Azerbaijan. Mereka dengan mudah dijumpai di
pasar-pasar tradisional seperti Donilovsi,
Kievskaya, dan Tyopli Stan.

Ayyas mengenal baik beberapa di antara
mereka. Selain Imam Hasan Sadulayev, salah
satu kenalan Ayyas yang langsung terasa akrab
bagai keluarga sendiri adalah keluarga Aliyev
dari Chechnya. Mereka tinggal di gedung sebelah.
Aliyev sudah berumur enam puluh tahun lebih,
tetapi masih kelihatan segar dan tidak ada
tanda-tanda pikun. Aliyev tinggal bersama istrinya
yang juga sudah tua bernama, Zenab dan
dua orang cucunya yang sudah yatim piatu
bernama Shamil dan Sarah.

Shamil berumur kira-kira dua belas tahun,
sedangkan Sarah berumur kira-kira sembilan
tahun. Mereka berdua sudah yatim piatu. Kedua
orangtua Shamil dan Sarah gugur saat Rusia
membumihanguskan kota Grozni, ibu kota
Chechnya.

"Rumah kami di Grozni sudah hancur lebur.
Karenanya kami mengadu nasib ke sini." Kata
Aliyev suatu ketika kepada Ayyas. Mendengar
perkataan itu Ayyas sebenarnya ingin bertanya
kenapa memilih mengadu nasib di Moskwa,
kenapa tidak memilih tempat lain yang lebih
ramah kepada kaum Muslimin, tetapi Ayyas urung
menanyakan. Ia khawatir kalau pertanyaannya
itu menyinggung perasaan Aliyev. Ia
percaya, Aliyev pasti sudah memiliki pertimbangan
yang matang.

Ayyas mengenal keluarga Aliyev sejak awal-awal
tinggal di Aptekarsky. Pakjokolah yang
mengenalkan. Pak Joko minta agar Ayyas sedikit
memberikan sentuhan kepada keluarga Aliyev.

"Meskipun mengaku Islam dan berakar keluarga
Islam, tetapi mereka tidak bisa membaca Al-
Quran. Mereka bahkan belum mengerjakan shalat
lengkap lima kali sehari. Ajarilah mereka
membaca Al-Quran dan cara beribadah yang benar."

Kata Pak Joko selesai mengunjungi keluarga
Aliyev bersama Ayyas. Saat itu adalah hari kedua
Ayyas tinggal bersama Pak Joko. Keluarga Aliyev
adalah tetangga Pak Joko yang dekat secara
emosional.

Sejak itu Ayyas dekat dengan mereka. Shamil
dan Sarah sangat antusias mendengar penjelasan
Ayyas tentang Islam. Mereka berdua sangat bersemangat
belajar membaca Al-Quran kepada
Ayyas. Aliyev sangat senang kedua cucunya bisa
belajar dengan tanpa membayar sepeser pun kepada
Ayyas.

Setiap malam, setelah shalat Isya' Ayyas
menyempatkan diri ke rumah Aliyev untuk
mengajari Shamil dan Sarah bagaimana
membaca Al-Quran dan bagaimana shalat dengan
benar. Aliyev mengakui, dirinya tidak bisa
membaca Al-Quran. Aliyev pernah bercerita, saat
komunis berkuasa segala bentuk aktivitas
keagamaan dilarang. Masjid-masjid ditutup dijadikan
gudang. Madrasah dirobohkan.

Al-Quran tidak boleh diajarkan. Orang-orang menurunkan
Islam kepada anaknya dengan cara sembunyi-sembunyi,
tidak ada yang berani terang-terangan.
Jika ketahuan shalat, membaca Al-Quran dan
aktivitas keagamaan lainnya, maka bisa dipastikan
nyawanya melayang diterjang peluru tajam.
Para orangtua yang ingin anak-anaknya tetap
Islam, mengajarkan membaca Al-Quran dengan
bekal hafalan yang melekat di kepala. Tidak ada
buku, tidak ada catatan. Semua lewat lisan. Para
orangtua menyampaikan secara lisan di tempat
yang terlindung dan tersembunyi, anak-anak mereka mendengarkan dan diminta untuk
menghafal apa yang didengar.

Aliyev pernah berkata,
"Selama ini kami shalat dan berdoa hanya berdasarkan
hafalan turun temurun. Kami hanya
mengingatnya setelah mendengarnya, bukan karena
membaca tulisan Arab langsung. Karena itu
mungkin sekali terjadi kesalahan dalam bacaan
kami. Untuk itu saya sangat berterima kasih kepada
Tuan, karena telah bersedia mengajar kedua
cucu saya. Saya berharap mereka berdua bisa
memahami Islam jauh lebih baik dari saya."

Ayyas bertekad kuat, ia harus meninggalkan
jejak amal saleh di Moskwa. Ia ingin meninggalkan
bekas baik pada Shamil dan Sarah. Karenanya
ia bertekad tidak akan meninggalkan
Moskwa sebelum kedua anak Chechnya itu bisa
membaca Al-Quran dengan baik, memahami
akidah dengan benar, dan mampu menjalankan
ibadah sesuai dengan tuntunan Baginda Nabi
Saw.

Sebenarnya, jika ia mengingat rencana awal,
keberadaannya di Moskwa tinggal tiga minggu
lagi. Akan tetapi demi mengingat keluarga Aliyev,
terutama Shamil dan Sarah, ia memutuskan
memperpanjang keberadaannya di Moskwa dua
bulan lagi. Ketika musim semi terbit ia akan
meninggalkan Moskwa. Mungkin hanya beberapa
hari saja ia akan merasakan musim semi
di Moskwa.

Keputusannya itu ia sampaikan kepada Doktor
Anastasia
Palazzo. Seketika, doktor muda kepercayaan
Prof. Dr. Abramov Tomskii itu menyambutnya
dengan wajah berseri. Kepada Ayyas, Anastasia
menjanjikan akan mengajaknya ke danau Limen,
tak jauh dari tempat kelahirannya di daerah
Novgorod. Ayyas tidak mengiyakan, juga tidak
menolak ajakan Doktor Anastasia itu.

Malam itu, Ayyas baru pulang dari mengajar
Shamil dan Sarah membaca Al-Quran. Dua cucu
Aliyev sudah mulai bisa membaca surat-surat
pendek meskipun dengan terbata. Shamil dengan
bangga menyetor hafalan surat Al-Kaafiruun. Sementara
Sarah tak mau kalah dengan kakaknya,
ia menyetor hafalan surat Al-Ikhlas. Ayyas bahagia
dengan kemajuan mereka berdua. Ia berharap
ketika nanti meninggalkan Moskwa mereka telah
bisa membaca Al-Quran dengan mandiri lengkap
dengan tajwidnya. Dan ia berharap mereka berdua
akan bisa mengajari teman-teman mereka
yang ingin bisa membaca Al-Quran dengan baik
dan benar.

Pak Joko telah menunggu Ayyas untuk makan
malam bersama. Malam itu memang giliran Pak
Joko yang menyiapkan makan malam. Pak Joko
menyiapkan nasi, ikan tuna yang ditumis dengan
lombok hijau. Serta telur dadar. Ayyas makan
dengan lahap. Ketika mereka tengah asyik
menyantap hidangan, tiba-tiba bel berbunyi.
Ayyas menghentikan makannya dan beranjak
menuju pintu. Begitu pintu dibuka, nampaklah
sosok anak muda yang tidak asing baginya. Ayyas
sangat terkejut melihat sosok gemuk berkaca
mata yang ada di hadapannya.

"Devid! Masya Allah, kau dari mana? Bagaimana
kau tahu aku ada di sini?" Sapa Ayyas
sambil maju memeluk sahabat lamanya.

"Aku dari tempat Yelena. Dari dia aku tahu
kau ada di sini bersama Pak Joko. Sebenarnya sudah
lama aku mendengar kau pindah dari
Smolenskaya ke sini. Tetapi aku belum bisa mengunjungimu.
Aku banyak kerjaan di kampus.

Baru hari ini aku bisa kemari." Jawab Devid
dengan wajah berseri.

"O begitu. Ayo masuk. Kebetulan kita baru
makan malam."

"Aku sudah kenyang. Tadi Yelena memaksa
aku makan malam di sana. Perempuan tua yang
bersama Yelena itu menghidangkan kentang rebus,
sup ikan lecsh, roti hitam, dan keju putih asin,
serta segelas teh panas."

"Dari Smolenskaya ke Baumanskaya tidak
dekat. Sup yang kaumakan itu pasti sudah menguap.
Ayolah. Yang masak Pak Joko sedap
sekali. Nasi dengan ikan tuna yang ditumis
dengan lombok hijau. Ayolah."

"Aku tak bisa menolak kalau kau sudah
memaksa."

Mereka berdua masuk dan langsung ke meja
makan. Ayyas mengenalkan Devid kepa4a Pak
Joko. Pak Joko menyambut Devid dengan senyum
mengembang.

"Rasanya saya tidak asing dengan wajah
kamu." Sapa Pak Joko.

"Saya sudah mengenal Pak Joko, hanya Pak
Joko mungkin belum mengenal saya dengan
baik. Kita memang sudah beberapa kali bertemu
di KBRI, hanya saja saat itu urusan saya tidak
dengan Pak Joko, tetapi dengan bagian konsuler
atau pendidikan KBRI."

"Jadi kau sudah lama di Moskwa."

"Saya tinggal di St. Petersburg dan kuliah di
sana."

"O bagus. Ayo makan malam dulu."

"Ayo Dev, tidak usah malu." Timpal Ayyas
menguatkan ajakan Pak Joko.

"Baik."

Devid mengambil nasi dan ikan tuna tumis
lombok hijau. Mereka bertiga makan malam
dengan lahap penuh kekeluargaan. Ayyas merasa
bahagia mendapat kunjungan teman lamanya. Selesai
makan Ayyas mengajak Devid beristirahat
dan berbincang-bincang di kamarnya. Cukup
lama mereka ngobrol, banyak hal yang mereka
bicarakan. Termasuk kegundahan Devid dengan
cara hidup bebasnya selama ini.

"Saat segala keinginan nafsu aku penuhi, jiwaku
terasa semakin kering. Aku harus bagaimana
Yas?" Keluh Devid.

"Kau bukan orang bodoh Dev. Kau tahu apa
yang harus kaulakukan. Kau juga tahu apa yang.
menjadi sebab tenteramnya jiwamu. Apa aku
harus menceramahimu? Tanyakan pada nuranimu
paling dalam, kau akan mendapatkan jawaban
dari kebutuhan jiwamu sekarang."

Devid menginap di kamar Ayyas. Tempat
tidur yang sempit itu digunakan tidur untuk dua
orang. Sepertiga malam terakhir Ayyas bangun,
seperti biasa untuk shalat malam bersama Pak
Joko. Mereka shalat di ruang tamu. Ayyas yang
menjadi imam.

Sayup-sayup Devid mendengar suara Ayyas
membaca Al-Quran dalam shalatnya. Ia
menikmati suara itu. Sudah lama sekali ia tidak
merasakan suasana tenang seperti itu. Dulu
ketika masih kecil, saat ia masih tinggal satu
rumah dengan kakeknya yang rajin ke masjid, ia
sering mendengar suara kakeknya membaca Al-
Quran di tengah malam. Ia teringat suasana itu.
Pagi harinya Devid berkata kepada Ayyas,

"Kenapa kau tidak membangunkan aku untuk
shalat tadi malam, juga kenapa kau tidak membangunkan
aku untuk shalat Subuh?"

"Apa aku tidak salah dengar Dev?"

"Tidak. Apa salahnya kau membangunkan aku
dan mengajakku shalat?"

Ayyas tersentak. Devid benar, seharusnya
memang ia membangunkan Devid untuk shalat,
terutama shalat Subuh. Meskipun ia mengenal
Devid yang mengaku hidup bebas dan pernah
mengaku atheis, tetapi dulu saat masih di SMP
Devid dan keluarganya tertulis di KTP beragama
Islam. Kenapa ia tidak mengingatkan Devid untuk
kembali ke jalan yang lurus. Kenapa ia hanya
berbaik sangka bahwa Devid adalah anak cerdas
yang bisa berpikir sendiri dan menemukan jalan
lurus sendiri? Kenapa ia tidak berpikir bahwa
sahabatnya itu perlu dibantu untuk menemukan
jalan yang lurus?

"Mungkin aku harus kembali shalat agar jiwaku
tidak kering kerontang." Gumam Devid
dengan mata menerawang kosong.

"Shalat memang salah satu nutrisi jiwa paling
penting." Sahut Ayyas.

"Kalau begitu ajarilah aku shalat."

"Apakah kau sudah benar-benar lupa bagaimana
caranya shalat?"

"Ya aku sudah lupa. Sejak SMA aku sudah
meninggalkan shalat. Aku bahkan hampir lupa
bahwa aku ini masih tertulis beragama Islam,
meskipun akhir-akhir ini aku tidak percaya kepada
Tuhan. Kalau aku shalat berarti aku harus
percaya kepada Tuhan ya?"

Airmata Ayyas meleleh mendengar perkataan
sahabatnya itu. Betapa kacaunya cara berpikir
sahabatnya itu. Sahabatnya itu benar-benar telah
tersesat sangat jauh. Sahabatnya itu tidak hanya
harus belajar shalat, sebelum itu ia harus belajar
mengucapkan kalimat syahadat. Ia harus kembali
mengikrarkan kalimat syahadat, tanda bahwa ia
telah kembali masuk Islam. Sebab mengingkari
adanya Tuhan adalah bentuk kekafiran yang keluar
dari ajaran Islam.

"Sebelum belajar shalat, kau harus belajar
mengucapkan kalimat syahadat. Kau harus bersyahadat
lagi, masuk Islam lagi. Pengingkaranmu
akan adanya Tuhan telah mengeluarkan kamu
dari Islam. Itulah yang menyebabkan aku selama
ini tidak pernah mengajakmu shalat. Maaf, aku
merasa kau tidak lagi seorang Muslim. Dan aku
berusaha menghormati jalan hidup yang
kaupilih."

"Ternyata aku tidak menemukan kebahagiaan
jiwa dalam jalan yang aku lalui selama ini. Aku
seperti seorang pengembara di tengah padang
pasir mahaluas yang tidak tahu aku harus ke
mana. Aku merasa tidak tahu jalan. Aku berjalan
asal jalan. Aku perlu petunjuk. Aku perlu peta
yang bisa membawaku ke tempat yang seharusnya
aku tuju. Ketika tadi malam sayup-sayup
aku mendengar kau membaca Al-Quran dalam
shalatmu, jiwaku seperti tertarik ke sana. Aku
teringat masa kecilku saat mendengar kakek
membaca Al-Quran malam-malam. Kakek nampak
begitu bahagia dengan jalan hidup yang
ditempuhnya. Mungkin itu jalan yang harus aku
tempuh agar jiwaku menemukan apa yang
dicarinya."

"Tinggallah di sini sementara waktu selama
kau merasa perlu. Kau tidak perlu belajar. Kau
dulu pernah belajar membaca Al-Quran dan shalat.
Kau hanya perlu membuka kembali ingatanmu
yang tertutupi oleh kerak-kerak nafsumu. Begitu
ingatanmu akan shalat itu terbuka, kau akan
bisa melakukannya. Sambil berusaha membuka
ingatanmu perlahan-lahan, kau akan belajar mengucapkan
kalimat syahadat. Kau harus menghafalnya, mengakrabinya, menghayatinya,
dan menjadikannya bagian dari aliran darahmu.
Itu jika kau ingin bisa hidup bahagia seperti
kakekmu."

"Baiklah aku ikuti saranmu. Aku sudah benarbenar
bosan dengan cara hidupku yang serba bebas.
Aku ingin hidup yang membahagiakan
jiwa."

Pagi itu juga Ayyas membimbing sahabatnya
itu mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan
oleh Pak Joko. Sejak hari itu Devid tinggal
bersama Ayyas. Setelah membaca kalimat
syahadat Ayyas langsung mengenalkan Devid
kepada Imam Hasan Sadulayev.

Kepada Imam Hasan, Ayyas menjelaskan
semuanya tentang sahabatnya Devid. Ayyas
meminta kepada Imam Hasan agar berkenan
membimbing sahabatnya itu. Dengan begitu,
ketika nanti Ayyas pulang, Devid masih memiliki
tempat untuk belajar dan meminta pendapat. Dan
jika imannya goyang, Imam Hasan Sadulayev
akan bisa mengukuhkannya.

Ayyas merasa Devid akan memerlukan proses
yang panjang itu sampai pada taraf memahami
Islam dengan baik dan benar. Waktu satu minggu
tidak akan cukup bagi Devid untuk mendapatkan
kebahagiaan jiwa yang dicarinya. Ayyas merasa
hanya mampu mengantarkan Devid di tepi jalan
yang lurus, selanjutnya Devid sendirilah yang
harus berusaha dan berikhtiar untuk melanjutkan
perjalanan sampai di tujuan yang sebenarnya.

Akhirnya, setiap malam Devid ikut shalat
malam, ikut kajian hadis setiap pagi dan setiap
menjelang tidur, Ayyas menjelaskan makna kalimat
syahadat sambil tiduran selama tak lebih
dari tujuh menit. Dan siang hari ketika Ayyas
harus pergi ke perpustakaan, ia meminta kepada
Devid untuk pergi ke masjd Prospek Mira menemui
Imam Hasan Sadulayev.

Sekeras-keras batu jika terus ditetesi air akan
berlubang juga bahkan bisa hancur akhirnya. Begitu
juga hati dan jiwa Devid. Setelah terus
ditetesi dengan hikmat dan disinari pancaran
ayat-ayat suci Al-Quran, ditambah doa dari
Ayyas dan Imam Hasan Sadulayev, Devid pelanpelan
berubah. Ia mulai meninggalkan minuman
keras. Ia mulai berusaha untuk shalat lima waktu.
Akan tetapi, suatu malam menjelang tidur,
Ayyas dikagetkan oleh kejujuran Devid.

"Apa yang harus aku lakukan Yas. Aku sudah
tidak kuat menahan lagi. Kau tahu sendiri selama
ini aku tidak lepas dari perempuan. Dulu hidup
satu rumah dengan Eva. Lalu bergonta-ganti
hidup dengan perempuan Rusia. Sejak aku ada di
rumah ini, aku tidak menyentuh perempuan
samasekali. Tetapi aku rasanya tidak kuat lagi.

Aku perlu hidup bersama perempuan. Aku harus
bagaimana?" Devid mengatakan apa yang dirasakannya
kepada Ayyas. Tak ada yang ditutuptutupi.
Devid perlu solusi.

"Islam memiliki solusi untuk masalahmu itu.
Lelaki memang fitrahnya memerlukan perempuan
dan sebaliknya. Dua makhluk Allah lain
jenis itu memang diciptakan untuk bertemu dan
hidup bersama dalam kasih sayang. Jalan paling
suci bertemunya lelaki dan perempuan adalah
dengan menikah. Maka menikahlah Dev, dan kau
akan mendapatkan yang lebih membahagiakan
daripada hidup dengan perempuan tidak halal."

"Dengan siapa aku harus menikah? Aku perlu
waktu cepat. Kau harus tahu, jika l<au pernah
hidup bebas dengan perempuan seperti aku, kau
seperti makan ganja atau narkoba, kau akan
kecanduan dan ketagihan. Aku nyaris sudah tidak
bisa bersabar lagi Yas."

"Sabarlah beberapa hari saja. Datanglah kepada
Imam Hasan Saduleyev. Sampaikan masalahmu
ini kepada beliau apa adanya. Insya Allah
beliau akan ada solusi."

"Baiklah."

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Devid pergi
ke rumah Imam Hasan Sadulayev. Ia tidak bisa
menunggu sampai siang untuk bertemu sang
Imam di masjid. Devid menjelaskan panjang lebar
masalahnya kepada Imam Hasan Sadulayev.
Anehnya Sang Imam menanggapinya dengan
tersenyum, dan sedikit pun tidak mencela Devid.

"Apa yang dikatakan Ayyas benar. Solusi
masalahmu cuma satu, yaitu menikah." Kata
Imam Hasan.

"Menikah?"

"Ya."

"Saya sudah tidak kuat. Kalau begitu saya
harus menikah besok. Atau paling lambat besok
lusa. Terus saya harus menikah dengan siapa?"

"Aku bisa membantu, aku bisa menunjukkan
siapa calon pengantinmu kalau kau mau."

"Aku percayakan pada Imam."

"Baik. Tetapi kau harus berjanji."

"Berjanji apa?"

"Sungguh-sungguh mentaati perintah Allah
dan menjauhi larangan-Nya. Dan kau harus berjanji
tidak akan lagi menyentuh perempuan mana
pun yang tidak halal bagimu."

"Aku berani berjanji Imam. Allah yang jadi
saksinya."

"Baiklah. Kalau kau mau aku akan
menikahkan kau dengan adikku sendiri. Namanya
Aminet Sadulayevna, bagaimana?"

Tubuh Devid bergetar mendengarnya. Ia pernah
bertatapan wajah dengan adik Imam Hasan
Sadulayev itu di jalan depan masjid Prospek
Mira. Adik Imam Hasan Sadulayev itu begitu
anggun, hanya lelaki tidak normal yang akan
menolaknya. Jujur, nafsunya sangat menginginkan
adik Imam Hasan Sadulayev. Akan tetapi
nuraninya yang paling dalam mengingatkannya,
apakah pantas seorang pemuda yang sedemikian
kotor seperti dirinya menikahi seorang perempuan
yang sangat menjaga diri seperti Aminet
Sadulayevna.

Ia tidak mau mencemari kesucian adik Imam
Hasan Sadulayev. Meskipun ia pernah mendapat
nasihat dari Ayyas, bahwa orang yang telah bertobat
dengan sebenar tobat itu sama dengan orang
yang tidak memiliki dosa. Dosanya telah
diampuni oleh Allah. Ia tetap merasa dirinya
masih sangat kotor dan tidak pantas diganjar
dengan mendapatkan gadis secantik dan sesalehah
Aminet Sadulayevna. Kalau ia boleh jujur,

Aminet lebih pantas untuk seorang yang juga
menjaga dirinya seperti Ayyas.

Maka mendengar tawaran Imam Hasan Sadulayev
itu, Devid tak kuasa menahan airmatanya.
Dan dengan suara terbata-bata ia mengatakan kepada
Imam Hasan Sadulayev, bahwa dirinya
akan berpikir dan meminta petunjuk Allah. Imam
Hasan memaklumi keputusan Devid. "Memang
kita disunnahkan untuk shalat Istikharah. Lakukanlah
itu Devid, sebelum kau mengambil keputusan
apa pun. Termasuk saat harus menentukan
siapa yang akan kaunikahi."

Devid menceritakan apa yang dialaminya
dengan airmata berderai. Ayyas sangat mendukung
jika Devid menikahi Aminet Sadulayena.
Imam Hasan pasti tidak sembrono menawarkan
adiknya kepada Devid. Pasti Imam Hasan melihat
ada kebaikan di sana. Kebaikan untuk Devid,
Aminet, dan banyak pihak. Imam Hasan mungkin
melihat potensi besar yang ada dalam diri Devid,
yang jika didampingi oleh perempuan salehah
seperti Aminet Sadulayevna pastilah akan terjadi
lipatan potensi yang luar biasa.
Sayangnya Devid belum bisa menerima hal
itu.

"Diriku terlalu kotor Yas untuk menikahi
Aminet. Aku sendiri tidak rela, diriku yang kotor
ini akan menjamah gadis salehah itu. Aku sendiri
jika punya anak gadis seperti Aminet
Sadulayevna tidak akan aku nikahkan dengan
pemuda yang sekotor diriku ini. Aku tidak bisa
menikahi Aminet, bantulah aku menemukan orang
yang bisa segera aku nikahi. Orang yang sepadan
dengan diriku."

Ayyas tidak bisa berbuat apa-apa dengan
keteguhan Devid, Menurutnya, sebenarnya Devid
mendapatkan karunia luar biasa jika memiliki istri
Seperti Aminet Sadulayevna. Akan tetapi pernikahan
tidak bisa dipaksakan. Allah sudah mencatat
siapa yang akan dinikahi oleh Devid, dan
siapa yang akan menjadi suami Aminet
Sadulayevna.

"Kau tentu tahu, aku tidak banyak mengenal
perempuan di sini. Hanya beberapa gelintir saya
yang kukenal, itu pun sebagian telah kaukenal.
Misalnya Yelena, Linor, dan beberapa nama yang
bekerja di KBRI. Yelena memang sendiri. Mungkin
jika kau minta untuk kaunikahi, dia mau.
Sebab dia pernah cerita ingin hidup sebagai
perempuan baik-baik, tidak sebagai pelacur lagi.

Tetapi masalahnya apa ya Yelena
cocok'untukmu. Sekarang ini kau seorang
Muslim yang menurutku sudah bersih, meskipun
menurutmu masih kotor. Setiap malam kau shalat
malam. Sedangkan Yelena aku tidak tahu lagi
seperti apa kini hidupnya. Setelah kematian Olga
Nikolayenko yang menjadi induk semangnya,
apakah ia benar-benar telah berhenti sebagai
pelacur. Atau tetap meneruskan profesi lamanya.
Kalau misalnya ia telah berhenti, apakah ia bersedia
mengikuti jalan hidupmu. Kau tidak akan
mendapatkan kebahagiaan jiwa, jika pendamping
hidupmu tidak satu iman dan satu langkah
denganmu." Jawab Ayyas panjang lebar.

Devid menghela nafasnya. Keduanya diam
sesaat. Devid lalu berkata, "Aku akan mencoba
melamar Yelena. Kalau dia mau bersama hidup
di jalan yang lurus yang aku lalui, aku akan
menikahinya. Aku tahu dia pelacur, tetapi jika
dia mau bertobat, itu sama persis dengan diriku."

"Terserah kau Dev. Yang jelas setelah kau
merasa menemukan jalan yang baik jangan sampai
tergoda untuk keluar dari jalan itu. Hati-hatilah
setan menyerang dari depan, belakang, kanan,
dan kiri."

"Aku camkan betul nasihatmu, Yas."

Devid benar-benar tak mau membuang waktu.
Selesai bertukar pikiran dengan Ayyas, ia langsung
meluncur ke Smolenskaya, tujuannya adalah
apartemen dimana Yelena berada. Apartemen
yang pernah menjadi tempat tinggal Ayyas cukup
lama di Moskwa. Devidlah yang memilihkan
apartemen itu untuk Ayyas.

Ketika Devid memenjet bel, Yelena sedang
duduk santai di sofa menonton acara televisi bersama
Bibi Margareta. Yelena bangkit dan
membuka pintu. Perempuan muda itu tersenyum
begitu yang ada di hadapannya adalah Devid.

Yelena yang memakai kaos panjang hijau muda
nampak begitu anggun. David sempat salah
tingkah dibuatnya. Kondisi jiwanya yang sudah
berbeda warna yang membuatnya salah tingkah.
David berusaha mengendalikan dirinya.

"Sudah ketemu Ayyas?" Sapa Yelena.

"Sudah."

"Ayo masuk dulu. Apa kabarnya?"

"Dia baik-baik saja. Penelitiannya sudah hampir
tuntas."

"Puji Tuhan."

Devid masuk dan duduk di sofa berhadapan
dengan Yelena. Bibi Margareta membuatkan dua
cangkir teh panas. Keduanya berbincang tentang
banyak hal. Tentang musim dingin, tentang St.
Petersburg tempat dimana Devid sedang belajar
dan tempat dimana Yelena pernah belajar menyelesaikan
sarjana sastra Inggrisnya. Setelah cukup
lama berbincangbincang, Devid akhirnya
menyampaikan maksud inti kedatangannya.

"Aku sedang memiliki masalah dan lilau
berkenan aku ingin meminta bantuanmu." Kata
Devid dengan dada bergetar.

"Dengan senang hati. Aku pasti alfm membantumu.
Kaulah yang mengirim sahabatmu Ajyas
kemari. Dan sahabatmu itulah yang
menyelamatkan nyavaku. Berarti secara tidak
langsung aku juga berhutang budi padamu. Apa
yang bisa aku bantu."

"Kau tahu selama aku hidup bebas, bergontaganti
pasangan. Aku pernah cerita padamu."

"Ya. Terus apa masalahnya."

"Aku ingin hidup yang lebih manusiawi.

Hidup yang lebih bermakna. Aku ingin meninggalkan
cara hidup yang bertentangan dengan nuraniku
itu. Jujur altu tidak bisa hidup tanpa seorang
perempuan yang menemaniku. Karenanya
aku sedang mencari perempuan yang mau hidup
bersama, hidup dalam tali pernikahan yang suci.
Perempuan yang bersedia menjaga kesuciannya,
dan setia kepadaku. Aku pun akan menjaga diriku
dan akan setia padanya. Jika berkenan,
mohon maaf jika ini dianggap lancang, maukah
kau membantuku. Kau menjadi perempuan yang
aku cari itu, Kita menikah dan hidup bersama
dalam kesucian dan kesetiaan."

Devid mengucapkan kalimatnya itu dengan
muka tertunduk. Ia samasekali tidak berani tnemandang
wajah Yelena. Sementara Yelena tidak
menduga kalau Devid akan mengatakan hal itu
kepadanya. Sudah lama Yelena ingin hidup sebagai
manusia yang terhormat, sudah lartia ia mendambakan
seorang teman hidup yang setia. Dan
ia belum juga menemukannya. Kini Devid datang
dan menawarkan hal yang sudah lama didambakannya.
Ia tidak lagi melihat fisik, jika fisik
yang jadi ukuran, Devid masih kalah dengan
pemuda-pemuda Rusia yang dikenalnya. Tetapi
ia mendambakan kesetiaan, kasih sayang dan
ketulusan nurani. Dan Devid telah menawarkan
itu semua kepadanya.

Dengan airmata hampir meleleh, Yelena menjawab,

"Apa kau tahu siapa diriku sebenarnya?"

"Ya aku tahu. Kau adalah Yelena yang baik."

"Salah. Kau salah. Aku bukan Yelena yang
baik. Kau harus tahu aku adalah seorang pelacur.

Aku perempuan bejat. Kau salah kalau kau
memintaku menjadi istrimu. Carilah perempuan
baik-baik."

"Aku tidak salah. Jika kau mau tobat seperti
aku, maka kau adalah orang yang aku cari. Aku
juga bukan lelaki yang suci, aku adalah juga
lelaki bejat. Hanya saja aku tidak mau selamanya
bejat. Aku ingin jadi manusia yang sesungguhnya.
Aku rasa kita sama jika kau mau bertobat
dan mengikuti jalan hidupku."

Mereka berdua lalu berbincang dari hati ke
hati. Semua dibuka begitu saja. Tak ada yang ditutupi.
Keduanya menemukan muara yang sama,
yaitu muara ingin hidup sesuai dengan fitrah
manusia diciptakan oleh Allah Ta'ala. Akhirnya,
di akhir pertemuan Yelena mengatakan,

"Baiklah aku bersedia menjadi istrimu. Dan
aku akan mengikuti jalan yang kautempuh,
selama jalan itu memanusiakan diriku."

"Terima kasih Yelena. Kita tidak perlu
menunda niat baik kita. Dua hari lagi kita
menikah sesuai dengan syariah, sambil kita urus
peresmian pernikahan kita sesuai hukum positif
di Rusia."

"Aku setuju."

Hari itu hari Jumat. Musim dingin masih bertahan.
Salju sudah dua hari tidak turun, tetapi di
mana-mana salju masih nampak membungkus
apa saja. Masjid Prospek Mira penuh sesak oleh
jamaah shalat Jumat. Nampak wajah-wajah dari
pelbagai bangsa. Ada Rusia, Tatar, Kazakh, Kirgis,
Turkmen, Chechnya, Azerbaijan, Kirgish,
Melayu, dan Arab.

Sebelum khutbah Jumat dimulai, takmir
masjid mengumumkan akan adanya seorang perempuan
muda Rusia yang akan mengucapkan
dua kalimat syahadat siang itu. Prosesi pengucapan
kalimat syahadat akan dipimpin oleh Imam
Hasan Sadulayev. Juga diumumkan setelah shalat
Jumat akan ada prosesi akad nikah antara perempuan
Rusia yang baru masuk Islam dengan seorang
pemuda Muslim dari Indonesia. Jamaah diminta
untuk tidak bubar dulu setelah shalat Jumat.
Kumandang takbir dan tahmid seketika
membahana di dalam masjid setelah jamaah
mendengar pengumuman itu.

Takmir masjid juga mengumumkan hal-hal
penting lainnya. Setelah itu sang takmir mempersilakan
perempuan muda Rusia bernama
Yelena Aleksandrovna untuk maju ke barisan
paling depan di bagian shaf perempuan.
Seorang perempuan muda bergerak maju dari
barisan ketiga menuju barisan pertama di bagian
perempuan. Kaum perempuan yang mengikuti
shalat Jumat memang tidak terlalu banyak. Perempuan
muda itu nampak anggun dibalut oleh
pakaian serba putih, juga jilbab putih. Imam Hasan
Sadulayev memberikan pidato singkat sebelum
membimbing Yelena mengucapkan dua
kalimat syahadat.

Setelah pidato Imam Hasan Sadulayev menanyakan
kepada Yelena, untuk meyakinkan bahwa
dia masuk Islam bukan karena ada paksaan atau
karen'a keadaan yang memaksanya masuk Islam.
Yelena menjawab bahwa dia masuk Islam
samasekali bukan dipaksa seseorang, bukan juga
karena ada keadaan tertentu yang memaksanya
masuk Islam. Ia masuk Islam sungguh-sungguh
karena kesadaran dan keinsyafan, serta karena
panggilan-jiwanya yang cenderung kepada Islam.
Mendengar jawaban Yelena, takbir dan tahmid
kembali menggema di dalam masjid.

Di bagian pria, tepatnya di barisan pertama
tidak jauh dari Imam Sadulayev berdiri, seorang
pemuda berkaca mata dan berwajah Asia Tenggara
nampak duduk menunduk dengan mata
berkaca-kaca. Teringat masa lalunya yang kelam
ia menangis dalam istighfar. Dan teringat akan
kasih sayang Allah yang memberinya petunjuk
untuk bertobat dan membersihkan jiwanya
dengan ibadah. Ia terisak dalam keharuan dan
kesyukuran. Allah kembali melimpahinya dengan
kasih sayang tiada terkira. Sebentar lagi ia akan
mendengar perempuan yang telah dilamarnya untuk
dijadikan pendamping hidupnya mengucapkan
kalimat syahadat.

Imam Hasan Sadulayev, kemudian meminta
kepada adiknya yaitu Aminet Sadulayevna untuk
membimbing Yelena Aleksandrovna mengucapkan
dua kalimat syahadat. Seluruh jamaah yang
hadir shalat Jumat akan menjadi saksi masuk
Islamnya Yelena. Dengan suara yang jernih dan
berwibawa Aminet membimbing Yelena mengucapkan
kalimat syahadat kata per kata.

"Asyahadu an laa ilaaha illallaah w a asyhadu
anna Muhammadan Rasuulullaah."
Aminet membimbing Yelena mengucapkan
dua kalimat syahadat itu tiga kali. Setelah itu
Aminet membimbing Yelena untuk mengucapkan
arti dua kalimat syahadat itu dalam bahasa
Rusia.

Begitu Yelena selesai mengucapkan syahadatnya.
Imam Hasan Sadulayev seketika bertahmid
dan mengumandangkan takbir dengan kedua
mata basah oleh airmata. Seluruh jamaah mengikutinya.
Tak sedikit di antara mereka yang meneteskan
airmata karena tersentuh suasana yang
agung itu. Prosesi seseorang mengucapkan dua
kalimat syahadat adalah prosesi yang sangat
agung, lebih agung dari terbitnya matahari menyinari
dunia.

Imam Hasan kemudian mengajak jamaah berdoa
bersama untuk Yelena yang baru masuk
Islam, agar diberi tambahan kekuatan oleh Allah
untuk teguh memegang hidayah yang telah
diberikan oleh Allah Jcepadanya.
Pemuda berkaca mata yang tak lain adalah
Devid, mengangkat kedua tangannya dan
mengamini setiap kalimat yang diucapkan Imam
Hasan Sadulayev dengan airmata terus meleleh di
pipinya. Di sampingnya, Ayyas juga tidak bisa
menahan harunya. Ia tahu persis siapa Devid dan
siapa Yelena sebelumnya. Devid kini telah menjadi
ahli rukuk dan sujud.

Dan Yelena yang pernah tidak mengakui
adanya Tuhan, kini bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah. Yelena menjadi manusia baru yang
bersih dan fitri. Seluruh dosa dan masa lalunya
yang kelam terhapus oleh dua kalimat syahadat
yang ia ucapkan dengan tubuh bergetar.

Selesai berdoa, Imam Hasan Sadulayev naik
ke mimbar. Azan dikumandangkan. Lalu khotbah
Jumat dimulai. Sang Imam menjelaskan tentang
keajaiban tobat. Menurut Sang Imam, setiap anak
manusia pasti pernah melakukan dosa, baik dosa
kecil maupun dosa besar, kecuali para nabi dan
rasul yang sudah pasti dijaga oleh Allah dari dosa
dan kesalahan. Dan jalan terbaik bagi orang yang
memiliki dosa adalah bertobat, memohon ampun
kepada Allah. Orang-orang yang mau bertobat
dengan sebenar-benar tobat adalah manusiamanusia
yang dipilih dan dikasihi oleh Allah.

Imam Hasan Sadulayev kemudian menceritakan
seorang pendosa yang ada pada umat terdahulu,
yang mendapat kemuliaan dari Allah
yang luar biasa karena mau bertobat. Imam Hasan
Sadulayev menjelaskan,

"Termasuk dosa besar yang sangat dimurkai
oleh Allah adalah perbuatan zina. Para nabi dan
rasul juga murka pada orang-orang yang melakukan
perbuatan keji itu. Alkisah, pada umat terdahulu
ada seorang perempuan yang menjadikan
zina sebagai profesinya. Dia mendapatkan uang
dengan melacurkan dirinya. Kecantikannya yang
menawan sangat terkenal dan membuat dirinya
terkenal ke pelbagai daerah. Banyak lelaki yang
tergila-gila padanya dan ingin menikmati
kecantikannya. Di saat yang sama ada seorang
pemuda ahli ibadah. Pemuda itu juga mendengar
pesona perempuan itu dan hati pemuda itu juga
condong kepadanya. Pemuda itu juga beranganangan
ingin menikmati kecantikan perempuan
itu. Karena bayaran perempuan itu sangat mahal,
pemuda itu bekerja keras siang malam demi
mendapatkan uang agar nanti bisa membayar perempuan
itu. Setelah berbulan-bulan bekerja
pemuda itu mendapatkan uang yang cukup banyak.
Uang yang cukup untuk membayar
kecantikan perempuan itu. Pemuda itu lalu
mendatangi perempuan itu.

"Tentu saja perempuan itu senang didatangi
pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tampan. Ia
merasa bangga bahwa kecantikan dan pesona dirinya
ternyata mampu mengalahkan kezuhudan
dan keteguhan iman seorang pemuda ahli ibadah.

Ia menyambut pemuda itu dengan sebaik-baik
sambutan. Ketika mereka berdua sudah berada di
sebuah ruang yang sangat nyaman. Jendela telah
ditutup dan pintu telah terkunci rapat, dan
pemuda itu bisa melakukan apa yang telah dilakukan
banyak lelaki pada perempuan itu, tiba-tiba
pemuda itu teringat kepada Allah. Bahwa Allah
melihatnya. Bahwa Allah memurkai perbuatan
maksiat yang sedang dan yang akan dilakukannya.
Wajahnya tiba-tiba pucat. Ia sangat takut
kepada Allah. Perempuan itu kaget melihat
wajah pemuda itu yang tiba-tiba pucat pasi seperti
tidak dialiri darah. Perempuan itu menduga
bahwa pemuda itu sangat'gugup karena tidak pernah
memiliki pengalaman berduaan dengan seorang
perempuan. Maka perempuan itu berusaha
menenangkan pemuda itu.

"Akan tetapi pemuda itu justru semakin pucat,
tubuhnya mengigil dan bergetar hebat. Dengan
terbata-bata pemuda itu berkata kepada perempuan
itu, 'Ini, di kantong ini ada ratusan dinar,
yang aku kumpulkan dengan bekerja mati-matian
berbulan-bulan. Aku bekerja keras demi bisa
menikmati dirimu. Kini aku sudah ada di
hadapanmu, kalau aku mau aku bisa
mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini.

Akan tetapi jika aku melakukannya maka Allah
akan murka kepadaku, dan Allah pasti menyiapkan
nerakanya yang menyala-nyala untukku. Aku
takut kepada Allah. Aku tidak mau kenikmatan
sesaat yang semu akan menghancurkan
kenikmatan abadi di surganya Allah. Ini ambillah
uang ini. Dan biarkan aku meninggalkan tempat
ini sebelum Allah murka dan mencabut nyawaku
dalam keadaan syuul khatimah'

"Pemuda itu meletakkan kantong uangnya di
hadapan perempuan jelita itu, lalu melangkah ke
pintu. Sang perempuan duduk terpaku di pinggir
ranjangnya. Ia kaget bercampur takjub dengan
sikap dan apa yang didengarnya. Selama ini tidak
ada lelaki yang bisa mengendalikan
kesadarannya jika sudah berduaan dengannya.
Tetapi pemuda itu bisa bersikap dan berkata
setegar itu. Rasa takut pemuda itu kepada Allah
mengalahkan segala sihir pesona kecantikan yang
dimilikinya. Dirinya samasekali tidak ada harganya
di mata pemuda itu.

"Sang pemuda melangkah meninggalkan tempat
itu dengan airmata berderjinlerai. Ia menangis
takut kepada Allah. Pemuda itu malu pada dirinya
sendiri. Ia lalu pergi meninggalkan kota itu
dan kembali ke kampung asalnya. Di kampungnya
siang malam ia beribadah, karena merasa
telah melakukan dosa besar meskipun belum
sampai zina. Tetapi ia merasa telah melakukan
dosa yang sangat besar, sebab telah mendekati
zina. Bahkan ia sempat berazam untuk zina
dengan pelacur cantik itu. Ia bahkan sampai
bekerja berbulan-bulan demi mendapatkan uang
agar bisa berzina dengan perempuan itu. Pemuda
itu terus menangis penuh penyesalan. Ia
beribadah sebanyak-banyaknya karena ingin
menghapus dosanya. Dan pemuda itu akhirnya
meninggal dunia dalam keadaan menangis dan
beribadah kepada Allah Swt.

"Perempuan itu, sejak kejadian itu ia sadar.
Bahwa dirinya selama ini telah melakukan dosa
besar yang dimurkai oleh Allah. Pemuda itu
menyadarkan dirinya akan adanya Allah yang
memurkai orang-orang yang berbuat maksiat.
Pemuda itu menyadarkan dirinya bahwa ada
neraka yang disediakan untuk orang-orang yang
menantang Allah. Pemuda itu menyadarkan bahwa
ada kehidupan yang sesungguhnya setelah kehidupan
di dunia ini. Perempuan itu sejak itu bertobat.
Siang malam ia menangis kepada Allah. Ia
lalu berazam dan bertekad kuat untuk mencari
pemuda itu. Ia ingin menjadikan pemuda itu sebagai
suaminya yang akan membimbingnya
beribadah kepada Allah.

"Berbulan-bulan ia mencari pemuda itu, tapi
tidak bertemu. Setelah sekian lama ia akhirnya
tahu bahwa pemuda itu telah pulang ke kampung
halamannya. Perempuan itu langsung menyusulnya.
Dan alangkah sedihnya ketika ia tahu
bahwa pemuda itu telah meninggal dunia dalam
keadaan bertobat penuh penyesalan kepada
Allah.

"Pemuda itu memiliki saudara yang juga ahli
ibadah. Perempuan bekas pelacur yang kini telah
jadi ahli ibadah itu akhirnya menikah dengan ahli
ibadah, saudara pemuda tadi. Perempuan itu telah
melakukan tobat yang sungguh-sungguh tobat.
Tobat yang mampu membuat pintu langit terbuka
untuk doa dan zikirnya. Dari pernikahan dengan
ahli ibadah itu, perempuan bekas pelacur itu melahirkan
banyak anak yang semuanya diangkat
oleh Allah menjadi nabi. Dari rahim perempuan
itu yang kini berisi kalimat-kalimat thayyibah
lahir manusia-manusia mulia yang dipilih oleh
Allah sebagai nabinya.

"Ini adalah kisah nyata yang terjadi pada umat
terdahulu. Menjelaskan kepada kita bahwa sebesar
apa pun dosa seseorang, jika ia mau bertobat
dengan sungguh-sungguh seperti perempuan
itu, maka Allah akan menerima orang itu dengan
penuh pengampunan dan kasih sayang. Bahkan
Allah akan tetap memuliakan hamba-hamba-Nya
yang mau bertobat kepadanya.

"Maka kepada siapapun yang merasa pernah
melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa
besar, juga kepada diri saya sendiri, saya wasiatkan
untuk segera bertobat dengan sebenar-benar
tobat. Dengan tobat dan kembali kepada Allah
sepenuh jiwa dan raga, kita berharap Allah senantiasa
menyelimuti kita dengan selimut rahmat
dan kasih sayang-Nya. Amin"
Khutbah Imam Hasan Sadulayev sangat
menyentuh. Terutama bagi Devid dan Yelena.
Juga bagi banyak orang yang merasa sedang
memikul dosa yang tidak ringan. Bagi mereka,
khutbah itu seperti air penyejuk bagi orang yang
kehausan di padang sahara. Dengan airmata
meleleh Devid berdoa agar tobatnya diterima Allah
dan agar dirinya diberi keberkahan seperti keluarga
perempuan yang jadi ahli ibadah setelah
bertobat itu. Yelena lebih deras airmatanya, ia
merasa dirinya nyaris sama dengan perempuan
yang dikisahkan oleh Imam Hasan Sadulayev. Ia
bertekad dalam hati akan berislam sebaikbaiknya.

Ia akan belajar tentang Islam sekuat
tenaga, dan ia akan menjaga kesuciannya dan terus
beribadah kepada Allah seperti perempuan itu,
agar kelak anak-anak yang ia lahirkan dari
rahimnya jika dikehendaki oleh Allah menjadi
manusia-manusia yang baik dan dikasihi Allah.
Selesai shalat Jumat, akad pernikahan dilangsungkan.
Yang dinikahkan adalah Devid
mendapatkan Yelena. Ayyas dan beberapa pejabat
KBRI Moskwa menyaksikan prosesi akad
pernikahan itu. Ayyas tidak kuasa menahan airmatanya
ketika melihat Devid menangis tersedusedu
dalam pelukan Imam Hasan Sadulayev setelah
akad. Ayyas mendoakan teman lamanya itu
agar benar-benar menjadi orang beriman sejati. Ia
juga mendoakan agar dosa teman lamanya itu
benar-benar diampuni oleh Allah.

Ayyas juga terharu ketika sekilas melihat
Yelena dengan penampilan yang jauh berbeda
dengan yang pernah dilihatnya dulu. Yelena kini
berpakaian putih anggun tertutup auratnya.

Samasekali tidak ada bekas atau kesan bahwa
Yelena pernah menjadi pelacur kelas atas di
Moskwa. Kini Yelena nampak bercahaya
seumpama kapas putih yang tidak dinodai apaapa.
Ayyas berdoa agar Yelena yang pernah menjadi
tetangga kamarnya itu benar-benar mampu
menjadi Muslimah yang baik, dan menjadi ibu
yang salehah yang nanti akan melahirkan keturunan
yang saleh,- keturunan yang meninggikan
kalimat Allah di atas bumi Allah, bumi cinta
orang-orang saleh yang menjadikan hidupnya
sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah.

***

Untuk sementara Devid tinggal bersama
Yelena di apartemen Yelena. Bibi Margareta
masih menyertai mereka. Mereka tetap memperlakukan
Bibi Margareta layaknya bibi sendiri.
Keyakinan yang berbeda samasekali tidak
memengaruhi keharmonisan hubungan mereka
dengan Bibi Margareta.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Yelena
merasakan keindahan menghirup udaja sebagai
manusia. Ia merasa benar-benar terlepas dari
belenggu-belenggu berhala dan perbudakan yang
selama ini menjeratnya. Ia merasa benar-benar
merdeka. Ia merasa menjadi manusia yang sempurna
kemanusiaannya dengan hanya menyembah
kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Ia
telah menemukan jalan hidup yang dicarinya.
Dan kini, dengan statusnya sebagai seorang istri,
ia mendapatkan kehormatannya kembali sebagai
perempuan yang memiliki harga dan nilai
yang sesungguhnya. Lebih dari itu ia seperti orang
yang baru pertama kali jatuh cinta. Bungabunga
kini bermekaran di dalam hatinya. Musim
semi belum tiba, tetapi ia merasa suasana yang ia
rasakan adalah suasana musim semi paling indah
yang belum pernah ia rasakan. Setiap kali shalat
bersama suaminya, lalu ia mencium tangan
suaminya, ia merasakan kenikmatan cinta yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Untuk sementara sampai Devid menyelesaikan
kuliahnya mereka berdua akan tinggal di Rusia.
Bisa di Moskwa bisa juga di St. Petersburg. Akan
tetapi setelah Devid menyelesaikan kuliahnya ia
berjanji dalam hati akan mengikuti suaminya ke
mana pun ia pergi. Ia rela jika kemudian suaminya
memutuskan harus hidup di Indonesia.

Bagi orang-orang yang beriman, di mana pun ia
bisa rukuk dan sujud kepada Allah, maka ia menemukan
bumi cinta. Dan sesungguhnya dunia
ini adalah bumi cinta bagi para pecinta Allah Ta
ala. Bumi cinta yang akan mengantarkan kepada
bumi cinta yang lebih abadi dan lebih mulia yaitu
surganya Allah.

Sementara Devid juga merasakan hal yang
hampir sama dengan yang dirasakan Yelena.
Mendapatkan istri seperti Yelena, ia seumpama
mendapatkan bidadari yang selalu merindukannya
dan selalu tersenyum kepadanya. Ia telah
melupakan semua masa lalunya dan masa lalu
istrinya. Dengan menggenggam erat tangan istrinya,
ia ingin terus maju melangkah dalam
pengembaraan mencapai ridha Allah yang tertinggi
di bumi cinta ini.

Ia tahu bahwa Yelena telah memiliki seorang
anak dengan suami terdahulunya. Ia tahu bahwa
istrinya sangat merindukan anaknya itu. Maka ia
tidak segan untuk membahagiakan istrinya,
dengan mengantarkannya menemui anaknya
yang ada di kota Kazan, yang letaknya ribuan
kilometer di sebelah timur kota Moskwa.

Yang membuat Devid bahagia, anak istrinya
itu ternyata , juga Muslim. Setelah tahu persis
kisah hidup Yelena, ia semakin bertambah keimanannya
akan kekuasaan Allah. Suami Yelena
yang pertama ternyata adalah seorang Muslim
yang baik. Yelenalah yang sebenarnya tidak baik
sampai harus diusir suami yang pertama.

Setelah menyelesaikan S1 Sastra Inggris dari
St. Petersburg, Yelena bekerja di sebuah agen
wisata di kota Kazan, ibu kota Tatarstan yang
masih dalam kekuasaan Rusia. Di sana Yelena
berkenalan dengan seorang anak muda pemilik
sebuah restoran. Anak muda itu bernama
Majidov. Singkat cerita Yelena menikah dengan
Majidov. Saat itu Yelena mengaku bdrjanji siap
mengikuti keyakinan Majidov setelah menikah.
Ternyata Yelena mengingkari janjinya, ia tetap
tidak mau mengikuti keyakinan Majidov. Bahkan
Yelena malah mau masuk agama Budha.
Berkali-kali Majidov mengingatkan janjinya.
Yelena tetap saja mengingkari janjinya.

Bahkan Yelena akhirnya suatu pagi
mengatakan kepada suaminya bahwa ia mulai
meragukan adanya Tuhan. Suaminya kaget dan
marah. Yelena tidak mau mengalah, ia lalu
berterus terang bahwa ia merasa dikungkung oleh
banyak aturan yang dibuat suaminya. Suaminya
kemudian memberinya pilihan yang tidak bisa
ditawar, yaitu mengikuti aturan mainnya dan
Yelena memenuhi janjinya, atau Yelena keluar
dari rumahnya yang berarti telah diceraikannya
dan boleh hidup semaunya. Yelena memilih cerai
dan keluar dari rumah itu.

Yelena merasa seperti diusir suaminya, padahal
sesungguhnya ia sendiri yang menentukan
pilihannya.

Yelena mengadu nasib ke Moskwa, dan sejak
itu Yelena hidup dengan memperturutkan hawa
nafsunya. Sampai akhirnya ia hidup dalam genggaman
Olga Nikolayenko dan tidak bisa keluar
darinya sampai Olga Nikolayenko binasa. Yelena
merasa ada yang salah dalam hidupnya. Dan ia
mulai mendapatkan pencerahan pelan-pelan secara
tidak langsung dengan datangnya Ayyas
yang tinggal satu apartemen dengannya. Puncaknya
adalah ketika ia nyaris mati kedinginan
dan ditolong Ayyas.

Sejak itu ia merasakan kasih sayang Tuhan,
dan ia mulai mencari tahu cara terbaik berbakti
kepada Tuhan. Ia terus merenung dan mengumpulkan
informasi, juga banyak belajar diamdiam.

Sampai akhirnya ia yakin cara terbaik adalah
dengan berislam. Hanya ia belum menemukan
waktu yang tepat. Ia sempat kembali ke
Kazan dan diam-diam mencari tahu keadaan
mantan suami dan anaknya. Ternyata suaminya
telah menikah lagi dengan putri seorang imam
masjid kota Kazan, maka ia merasa tidak mungkin
lagi kembali kepada suaminya.

Yelena sempat bingung harus bagaimana menentukan
langkah. Ia sempat berpikiran mau menemui
Ayyas dan meminta saran darinya. Belum
sampai ia menemui Ayyas Devid datang mengulurkan
tangannya untuk menikah dan berjalan
bersama di jalan yang lurus. Maka tak ada keraguan
sedikit pun bagi Yelena untuk
menyetujuinya.

Devid tidak ragu mengajak Yelena menemui
keluarga mantan suaminya. Devid datang sebagai
seorang Muslim yang terhormat dan disambut
oleh Majidov, mantan suami Yelena dengan penuh
penghormatan. Majidov nampak kaget dengan
penampilan dan perubahan Yelena. Majidov
nampak menjaga sekali pandangannya. Demikian
juga Yelena. Di ruang tamu rumah Majidov,
Devid duduk di samping Yelena dan Majidov duduk
di samping istrinya yang bernama Fatheya.

Kepada Devid, Majidov berkata, "Tuan Devid,
Anda sungguh lelaki yang beruntung. Tidak
seberuntung diri saya. Dulu saya menikahi
Yelena dengan tujuan bisa mendapat pahala karena
akan bisa mengajaknya berjalan di jalan yang
diridhai Allah, yaitu memeluk Islam. Saya berani
menikahinya sampai saya menolak tawaran guru
saya untuk menikahi putrinya karena saya yakin
bisa mendapatkan pahala agung itu, apalagi
Yelena berjanji akan mengikuti jalan hidup saya
sepenuhnya setelah menikah. Ternyata saya
gagal.

"Sampai punya anak satu, tetap saja saya tidak
bisa mengajaknya berjalan di jalan yang benar.
Setelah beberapa tahun bersabar saya tetap juga
gagal. Akhirnya, karena ditambah sebab lain
yang tidak termaafkan, saya bersikap tegas memberinya
dua pilihan. Bertobat dan mengikuti aturan
main saya atau cerai dan keluar dari rumah.
Dia memilih yang kedua. Saya sangat sedih karena
merasa gagal berumah tangga dan
berdakwah.

"Setelah sekian lama-terpuruk dalam kesedihan,
guru saya membangkitkan semangat hidup
saya, bahkan tetap menawari saya untuk
menikahi putrinya. Bagi saya tak ada pilihan lain
kecuali menuruti nasihat dan tawaran guru saya.
Ternyata jodoh saya adalah putri guru saya.

"Dan sungguh di luar prasangka saya,
akhirnya Yelena menemukan jalan yang lurus itu,
justru di tangan orang asing, yaitu di tangan
Anda Tuan Devid. Sungguh Anda sangat beruntung.
Hidayah Allah memang mutlak wewenang
Allah untuk diberikan kepada siapa, dan
dengan cara bagaimana. Hanya Allah yang tahu.

"Saya turut bahagia atas pernikahan kalian di
jalan Allah, semoga Allah senantiasa memberkahi
rumah tangga kalian. Adapun Omarov,
setelah saya mengetahui ibu kandungnya kini
mengagungkan nama Allah, maka saya tidak
khawatir jika Omarov akan memilih tinggal
dengan ibu kandungnya yaitu Yelena."

Kalimat Majidov sangat menyejukkan Devid
dan Yelena. Tak lama kemudian si kecil Omarov
yang lahir dari perkawinan Yelena dengan
Majidov pulang dari sekolah. Anak kecil itu tidak
begitu memerhatikan siapa yang ada di ruang
tamu. Ia kelihatannya sudah mulai lupa dengan
ibu kandungnya. Akan tetapi dengan sangat bijak
Majidov menjelaskan kepada Omarov bahwa ibu
kandungnya, yaitu Yelena, datang
menjenguknya.

Omarov nampak agak bingung. Ia memerhatikan
Yelena dengan seksama dari ujung kepala
dari ujung kaki. Yelena memandangi anaknya
dengan mata berkaca-kaca. Tiga tahun lebih
ia berpisah dengan Omarov. Saat Omarov masih
bingung, Yelena tidak kuasa untuk tidak
menghambur dan memeluk anaknya itu dengan
penuh kasih sayang dan dengan deraian airmata.
Semua yang ada di ruangan itu melihat kejadian
itu dengan hati basah dan mata berkaca-kaca.

Awalnya Fatheya, istri Majidov agak cemburu
mengetahui yang datang Yelena. Akan
tetapi kelembutan dan ketulusan sikap Yelena telah
menyingkirkan rasa cemburu Fatheya dan
menggantinya dengan simpati yang mendalam.
Keberadaan Yelena bukan untuk dicemburui,
apalagi Yelena sudah menikah dan punya suami.
Keberadaan Yelena justru untuk didukung dan
disambut hangat sebagai saudara dan keluarga.
Karena dipeluk Yelena dengan sepenuh jiwa
dengan deraian airmata, dan suara haru terisakisak,
Omarov menangis juga. Jiwa murni anak itu
merasakan getaran rindu dan cinta yang disalurkan
oleh ibu kandungnya. Beberapa saat
kemudian, keluarlah dari mulut Omarov, "Oh
Mama!"

Seketika Yelena tambah terisak
mendengarnya. Omarov masih memanggilnya

"Mama". Yelena lalu menciumi anaknya itu
sejadi-jadinya dengan airmata terus meleleh.

"Kau sudah bisa shalat Nak?" Tanya Yelena
sambil terisak. Omarov menganggukkan kepala.

"Kau sudah bisa membaca Al-Quran?" Si Kecil
Omarov kembali menganggukkan kepala.

"Bagus. Kau anak yang baik. Teruslah mengaji.
Berbaktilah pada ayahmu dan ibumu yang satu
ya." Omarov mengangguk.

Yelena memutuskan agar Omarov tetap bersama
Majidov. Ia tidak khawatir sama sekali
Omarov akan kekurangan kasih sayang seorang
ibu. Sebab ia yakin Fatheya akan melimpahkan
cinta dan kasih sayang yang melimpah kepada
Omarov. Ia bisa merasakan dari wajah anaknya
yang cerah dan tubuhnya yang sehat berisi.
Yelena hanya meminta agar Omarov diberi
kesempatan berkunjung ke rumahnya jika
menghendakinya. Majidov dan Fatheya berjanji
akan memenuhi keinginan Yelena. Fatheya
bahkan berjanji, minimal satu tahun sekali ia,
akan mengajak Omarov mengunjungi Yelena
selama Yelena masih tinggal di Rusia. Jika
Yelena akhirnya tinggal di Indonesia bersama
Devid, maka ia tidak bisa menjanjikannya.
Yelena dan Devid meninggalkan rumah
Majidov dengan mata berkaca-kaca. Terutama
Yelena. Ia merasa masih ingin berlama-lama bersama
anaknya. Tetapi ia tahu bahwa ia tetap
harus berpisah dengan Omarov. Ia berdoa agar
Omarov selalu dijaga oleh Allah dan diberkahi
langkah hidupnya, sehingga akhirnya kelak menjadi
manusia yang bermanfaat bagi sesama dan
bermanfaat bagi dunia serta diridhai Allah Ta'ala.

***
Dalam perjalanan menuju Moskwa, di atas
pesawat Devid bertanya kepada Yelena, "Istriku,
tadi Majidov mengatakan bahwa akhirnya ia
menceraikanmu karena kau tidak memenuhi
janjimu dan karena ditambah sebab lain yang
tidak termaafkan. Dia tidak menjelaskan sebab
lain yang tidak termaafkan. Kalau * boleh tahu
apa itu sebab lain yang tidak termaafkan?"
Mendengar pertanyaan Devid, Yelena malah
terisak-isak.

"Kenapa kau malah menangis? Apakah aku
menyinggung perasaanmu? Kalau aku tidak
boleh tahu tidak apa-apa. Aku tidak memaksa. Itu
masa lalumu, kau boleh menyimpannya untuk dirimu
saja."

Yelena menyeka airmatanya dan menjawab
dengan suara serak,

"Tidak, kau tidak menyinggungku. Aku sudah
berjanji tidak akan menutupi apa pun darimu.
Aku tidak mengkhawatirkan apa pun. Itu adalah
masa lalu. Kalau pun dikenang kembali adalah
untuk diambil pelajarannya. Sesungguhnya
ketika Majidov tadi mengucapkan kalimat itu,
aku juga tersentak. Sebab, dulu saat dia memberikan
pilihan, kalimat itu samasekali tidak ia
ucapkan. Aku merasa bahwa perbuatanku tidak
diketahuinya. Ternyata dia mengetahuinya. Sebab
lain yang tak termaafkan adalah aku berselingkuh
dengan orang lain. Aku sangat rapat
menjaga hubunganku dengannya. Aku mengkhianati
Majidov. Kukira Majidov tidak tahu.

Ternyata tahu. Karena ia tahu maka ia memberikan
ultimatumnya, agar aku mengikuti segala aturan
mainnya. Itulah yang terjadi."

"Jadi ketika Majidov memberimu dua pilihan,
sebenarnya dia masih memaafkan kamu selama
kamu memenuhi janjimu dan mengikuti
aturannya."

"Iya. Tetapi diriku memang telah buta saat itu.
Aku menganggap ultimatum Majidov sebagai
arogansi kelelakiannya dan kesewenang-wenangannya.
Maka aku terima tantangannya, aku
memilih cerai dan kabur."

"Apakah kau menyesal?"

"Tentu saja. Itu adalah dosa yang harus
disesali untuk tidak diulangi."

"Apakah kau menyesal menikah denganku?"

"Justru aku akan sangat menyesal kalau tidak
memenuhi ajakanmu untuk menikah. Percayalah,
Yelena yang jahiliyyah telah binasa, dan kini
yang menjadi istrimu adalah Yelena yang lain.
Yelena yang siap mati-matian menjalankan perintah
Allah dan menjauhi larangan-Nya."

Devid tidak kuasa untuk tidak mencium kening
istrinya dengan penuh cinta. Bagi orang yang
saling cinta-mencintai tidak ada yang lebih indah
dari pernikahan suci di jalan yang diridhai Ilahi.
Demikian Rasulullah pernah menjelaskan dalam
sebuah hadisnya. Pernikahan adalah jalan paling
indah untuk ditempuh bagi lelaki dan perempuan
yang saling mencintai. Itu adalah yang ditempuh
oleh para rasul dan para shalihin yang suci.

Yelena menerima ciuman suaminya dengan
rasa bahagia yang luar biasa. Ciuman itu kini ia
rasakan bukan sebagai sesuatu yang mengotori jiwanya,
justru kini ia rasakan sebagai sesuatu
yang membersihkan dan menguatkan jiwanya.

Sebab itu adalah ciuman yang halal yang
mendatangkan datangnya rahmat dari Allah Yang
Maha Pengasih dan Penyayang.
Awal musim semi datang. Mentari bersinar
cerah. Udara terasa lebih hangat dan segar, tidak
lagi dingin menggigit. Di mana-mana salju
mencair. Butir-butir bening air masih nampak
membasahi beberapa ruas jalan. Butir-butir air itu
mengalir mencari lubang-lubang drainase kota
Moskwa yang teratur rapi setiap seratus meter.
Rumput-rumput hijau seperti bangun dari tidur
panjangnya dan tersenyum kepada siapa saja
yang memandanginya. Bunga-bunga satu per satu
mulai bermekaran.

Burung-burung merpati nampak berkerumun
di dekat halte tralibus Baumanskaya. Burungburung
merpati itu nampak seperti sedang bersenda
gurau. Mereka seperti sedang berbahagia
merayakan datangnya musim semi. Bagi burungburung
itu musim semi adalah musim yang paling
ditunggu. Di musim semi itulah burung-burung
merpati jantan dan betina ditakdirkan oleh
Tuhan untuk bertemu saling memaducinta, untuk
kemudian beranak-pinak menjaga kelestarian
spesies mereka.

Musim semi tidak hanya dinanti oleh burungburung
merpati. Musim semi juga dinanti-nanti
oleh manusia, tumbuh-tumbuhan, juga makhluk
hidup lainnya yang telah berjuang mempertahankan
hidupnya mati-matian selama musim dingin
yang beku. Musim semi adalah sentuhan rahmat
Tuhan kepada makhluk-Nya yang hampir
binasa dibelenggu musim dingin yang ganas.
Moskwa terasa hangat. Musim semi telah
datang mengganti musim dingin. Pucuk-pucuk
cemara araukaria bergoyang diterpa angin tanpa
ada setitik salju pun menempel di daun-daunnya.
Pohon-pohon cemara araukaria itu seperti bernafas
lega dan memuji syukur kepada Tuhan atas
lewatnya musim dingin dan datangnya musim
semi.

Pohon-pohon bereozka bergerak-gerak ke kiri
dan ke kanan seperti tubuh para sufi yang sedang
larut dalam nikmatnya zikir dihempus semilir
angin.

Kota Moskwa nampak molek seumpama seorang
gadis yang begitu segar. Bau harum bunga-bunga
yang bermekaran begitu terasa. Tamantaman
menjadi hidup oleh warna-warni bunga
tulip. Air mancur yang sebelumnya beku kini
mengalir indah. Gadis-gadis dan perempuan-perempuan
mudanya telah menyimpan palto mereka
dan menggantinya dengan pakaian musim semi
yang modis dan modern.

Pagi itu setelah sarapan pagi, Ayyas menyempatkan
diri untuk menikmati keindahan kota
Moskwa. Ia bergegas ke pusat kota Kitay Gorod,
di mana Kremlin dan Lapangan Merah ada di
dalamnya. Setelah melihat Kremlin di musim
dingin, Ayyas ingin melihatnya di musim semi.

Pagi itu adalah waktu yang paling tepat baginya.

Selain karena cuacanya sangat bangus. Ia
nyaris sudah tidak memiliki waktu luang lagi di
Moskwa. Jadwal kepulangannya meninggalkan
Moskwa sudah jelas. Dua hari lagi ia akan
meninggalkan Moskwa. Data yang ia perlukan
untuk menyusun tesisnya lebih dari cukup. Kepada
pihak MGU dan khususnya kepada Doktor
Anastasia Palazzo ia telah minta diri. Tiket
pesawat sudah ia beli. Barang-barangnya telah ia
kemasi. Keberadaannya di Moskwa tidak perlu ia
perpanjang lagi, apalagi targetnya mengajari dua
anak Chechnya yaitu Shamil dan Sarah bisa shalat
dan membaca Al-Quran dengan baik dan benar
telah terpenuhi.

Ayyas datang ke Lapangan Merah sendirian.
Pak Joko tidak bisa menemaninya karena harus
mengajar di Sekolah Indonesia Moskwa. Bagi
Ayyas berjalan sendirian mengamati Kremlin,
Lapangan Merah dan Gereja St. Basil justru lebih
nikmat. Ia bisa puas meneliti segala sudutnya
tanpa diganggu oleh siapa pun dan tanpa dibatasi
oleh waktu orang yang menyertainya.

Meskipun hari masih pagi, ternyata Lapangan
Merah tidak sepi. Sudah banyak orang yang
mendatanginya. Di antara mereka banyak pelancong
dari Eropa Barat dan dari Asia, selain
penduduk Moskwa sendiri. Suasana pagi itu
memang cerah dan nyaman. Rupanya tidak hanya
Ayyas yang memiliki pikiran menikmati keindahan
Kremlin dan Lapangan Merah dalam suasana
yang sangat nyaman itu.

Ayyas berdiri di tengah-tengah Lapangan
Merah dan memandang ke sekelilingnya. Pemandangan
yang baginya sangat menakjubkan. Seperti
dalam dunia mimpi. Kremlin yang kukuh,
klasik dan indah. Menara-menaranya yang gagah.
Gereja-gereja di dalamnya dengan kubah-kubah
khas ortodoks yang membuatnya berwibawa. Di
dampingi" Katedral St. Basil membuat Kremlin
menjadi legendaris.

Ayyas memandangi Kremlin sambil teringat
sejarah lahirnya kota Moskwa. Dari Kremlin itulah
sejarah kota Moskwa dimulai.

Pada tahun 1156 Pangeran Yuri Vladimirovich
Dolgoruky menemukan suatu tempat
strategis, yang sekarang disebut Kremlin, dan
tempat itu kini ada di hadapan Ayyas. Pangeran
Yuri Vladimirovich Dolgoruky melihat lokasi itu
sangat potensial untuk menahan serangan pasukan
Tartar. Karenanya ia memerintahkan membangun
suatu kremlin yang artinya benteng dari
kayu di salah satu bukit pinggir sungai Neglinka
dan Moskwa.

Dari situlah sejarah kota Moskwa dimulai.
Para ahli sejarah percaya bahwa nama "Moskwa"
berasal dari kata kuno Slavonic yang artinya
"basah", yang bisa saja merujuk kepada kawasan
rawa-rawa di sekitarnya dan sungai Moskwa
yang mengalir di sisinya. Sumber lain menyebutkan
nama Moskow diambil dari nama sungai
yang membelah kota tersebut, dimana kata
Moskwa berasal dari bahasa Finnic kuno yang
artinya "gelap" dan "keruh".

Kremlin yang dibangun Yuri Dolgoruky itu
ternyata tidak cukup kuat untuk menahan serangan
Mongol. Antara tahun 1237-1238 tentara
kekaisaran Mongol membakar kota dan membunuh
penduduk Moskwa termasuk anggota kerajaan
yang berkuasa saat itu. Selesai perang
sebagian besar wilayah Rusia dikuasai kerajaan
Mongol.

Moskwa dibangun kembali dan menjadi
ibukota kerajaan baru pada tahun 1327. Dengan
berlokasi di hulu sungai Volga, kota Moskow terus
mengalami pertumbuhan dan perluasan hingga
berkembang menjadi kota yang makmur dan stabil
dengan pusat kotanya adalah Kremlin.

Pada abad ke-14, Moskwa mulai memperlihatkan
statusnya sebagai kota besar. Kremlin
dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu
dan membuat luas wilayahnya bertambah dari luas
awalnya. Pada awal abad ke-15 tembok baru
dengan penambahan pembangunan menara. Di
arah timur Kremlin para pedagang dan ahli bangunan
menetap di sebuah tempat dinamakan
Kitay Gorod atau Kota Benteng, yang juga dikelilingi
oleh tembok yang terbuat dari batu.

Kitay Gorod terdiri atas bangunan-bangunan
satu lantai yang terbuat dari kayu hingga terjadinya
kebakaran pada tahun 1596 yang membuat
seluruh bangunan tersebut musnah. Setelah
kejadian tersebut penduduk mengganti material
kayu dengan batu untuk membangun kembali
pemukiman mereka.

Pusat kota Kitay Gorod merupakan lapangan
yang pada awal abad ke-15 dinamakan torg atau
pasar. Dan pada abad ke-16 mulai dikenal dengan
nama Lapangan Merah, £ada awalnya, tempat ini
berfungsi sebagai pasar dan lokasi pameran dimana
para seniman dan ahli bangunan dari seluruh
Rusia berkumpul untuk memamerkan hasil
karyanya. Tetapi pada akhirnya tempat ini menjadi
pusat kota dimana proses eksekusi, demonstrasi,
parade dan perayaan-perayaan lainnya termasuk
pelantikan Tsar baru digelar.

Pada pertengahan abad ke-16, Ivan the Terrible
membangun Katerdral Saint Basil di ujung
selatan Lapangan Merah untuk mengenang
kemenangannya dalam perang melawan tentara
Tatar. Sejak itu Katedral St. Basil menjadi bagian
tak terpisahkan dari Kremlin dan Lapangan
Merah. Bahkan bagian tak terpisahkan dari
Moskwa. Katedral St. Basil menjadi landmark
Moskwa yang sangat terkenal di seluruh dunia.
Dulu, Kremlin yang luasnya lebih dari dua puluh
tujuh hektar dan dikelilingi tembok batu
dengan panjang dua kilometer dan tinggi sembilan
belas meter, merupakan benteng pertahanan
terakhir kerajaan Rusia dalam menghadapi invasi
kerajaan-kerajaan lain. Kini., Kremlin adalah
pusat pemerintahan yang mengendalikan seluruh
saraf Rusia, sekaligus menjadi pusat sejarah dan
pusat pariwisata Rusia.

Mengingat sejarah lahirnya Moskwa dan sejarah
Kremlin khususnya, Ayyas jadi teringat
sejarah kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan
di Indonesia. Orang Rusia begitu perhatian
pada sejarah bangsanya dan merawat peninggalan
para pendahulunya dengan baik sekali.

Kremlin dan Katedral St. Basil menjadi buktinya.
Beratus-ratus tahun St. Basil berdiri kukuh dan
terjaga keasliannya. Anak-anak Rusia modern
bisa melihat dengan mata dan kepala mereka
lambang kejayaan Rusia Kuno zaman Ivan The
Terrible dengan melihat St. Basil.

Lain Rusia lain Indonesia. Jika anak Indonesia
sekarang ini ingin melihat seperti apa kira-kira
bentuk istana kesultanan Demak yang legendaris
itu, maka keinginan itu hanya akan menjadi
keinginan yang tidak akan tertunaikan. Jangankan
melihat bentuk istananya, bahkan bekas
pondasi istana kesultanan Demak pun tidak
ditemukan.

Demikian juga jika anak Indonesia ingin melihat
bekas istana Majapahit, tempat di mana Patih
Gajah Mada mengucapkan sumpah palapanya.
Atau ingin melihat bekas istana kerajaan Sriwijaya
yang pernah menguasai sebagian besar
Nusantara. Anak-anak Indonesia akan kecewa
dan tidak akan mendapatkan apa yang mereka
inginkan.

Anak-anak Indonesia yang ingin membanggakan
kehebatan kesultanan Demak yang pernah
menyerang portugis di Malaka, atau kejayaan
Majapahit yang mampu mengusir pasukan
Kubilai Khan, juga kemajuan Sriwijaya yang disegani
dunia, tak bisa melihat bekas peninggalannya
yang nampak kasat mata. Anak-anak
Indonesia hanya mendapatkan ceritanya dari
buku sejarah atau dari mulut orang-orang tua
yang terkadang simpang siur dan bercampur
dengan dongeng, legenda, dan foklor.

Ayyas berjalan ke selatan mendekati Katedral
St. Basil yang memiliki kubah sangat khas. Ayyas
berjalan dengan mulut berkomat-kamit melantunkan
zikir. Tak jauh di depannya serombongan
anak muda bermata sipit sedang foto bersama.

Tembok Kremlin, Lapangan Merah dan Katedral
Saint Basil mereka jadikan latar belakang. Ayyas
terus melangkah, sekonyong-konyong ia
mendengar suara seseorang memanggilnya dari
arah belakang. Ia menoleh. Ternyata Devid yang
sedang menggandeng istrinya, Yelena.

"Apa kabar pengantin baru?" Sapa Ayyas.

"Baik. Alhamdulillah. Jangan sebut kami
pengantin baru terus dong. Usia pernikahan kami
sudah hampir dua bulan lho, Yas." Jawab Devid.

"Itu masih layak disebut pengantin baru. Bagaimana,
sudah ada tanda-tanda mau punya
momongan?"

"Alhamdulillah. Dua hari lalu kami ke dokter.
Hasilnya Yelena sudah positif hamil."

Ucap Devid dengan mata berbinar bahagia.
Penampilan Devid kini nampak lebih rapi dan
terjaga. Tutur katanya lebih halus. Sorot matanya
nampak lebih teduh. Dan dalam setiap kalimatnya
tanpa sadar ia banyak menyebut asma Allah.

"Iya, alhamdulillah. Mohon kami didoakan,
agar rumah tangga kami sakinah. Dan kami
diberi keturunan yang saleh dan salehah." Tambah
Yelena yang nampak anggun dengan pakaian
rapat menutup badan dan kerudung yang melilit
menutupi kepala dan lehernya.

"Saya sangat bahagia mendengarnya. Teruslah
mendekatkan diri kepada Allah, dan bertakwalah
kepada Allah kapan saja dan di mana saja, maka
Allah akan selalu menyertai kalian." Jawab
Ayyas.

"Insya Allah." Tukas Yelena dan Devid hampir
bersamaan.

"Eh, kau jadi pulang dua hari lagi, Yas?" Tanya
Devid.

"Ya, insya Allah. Makanya hari ini aku sempatkan
untuk melihat Kremlin. Aku ingin tahu
pemandangan Kremlin di musim semi. Aku juga
ingin lihat beberapa tempat penting di Moskwa,
seperti Gorky Park, Balshoi Teater, Galeri
Tretyakov, dan Stasiun Metro Komsomolskaya
yang dibangun sangat megah oleh Stalin."

"Kalau masih ada waktu tak ada salahnya kau
ke Museum Perjuangan Kutuzoyski, sekalian
berkunjung ke masjid yang ada di situ." Sahut
Yelena memberi saran.

"Insya Allah"

"Kau pulang ke India atau ke Indonesia, Yas?"
Tanya Devid.

"Awalnya mau ke India. Tetapi tiba-tiba saya
rindu sekali sama Indonesia. Akhirnya saya putuskan
untuk terbang ke Indonesia. Saya sudah
minta izin pada Profesor Najmuddin di Aligarh
untuk cuti beberapa waktu."

"Kalau diperbolehkan, kami ingin mengantarmu
ke bandara." Ujar Yelena.

"Tentu saja boleh. Justru saya sangat berbahagia
sekali jika kalian mau mengantar ke
bandara."

"Kalau begitu, kami akan mengantarmu ke
bandara, insya Allah."

"Kalian masih tinggal di Smolenskaya?"

"Iya." Jawab Yelena.

"Apa kabar Bibi Margareta?"

"Sehat. Dia seperti ibu kami. Dan kami seperti
anaknya. Kami sedang menyiapkan baju baru untuknya.
Tanggal 17 April nanti dia akan
merayakan Hari Paskah Ortodoks yang selalu
dinanti-nantikannya." Sambung Yelena.

"Kelihatannya aku tidak akan bertemu
dengannya. Tolong sampaikan salamku padanya,
dan mintakan maaf padanya jika selama bergaul
dengannya ada kesalahan baik yang disengaja
atau pun tidak."

"Insya Allah" Jawab Yelena.

"O ya, apa kabar Linor. Apakah dia sudah
kembali?"

"Sampai sekarang tak ada kabar apa pun dari
Linor. Nomor ponselnya samasekali tidak bisa
dihubungi, la seperti hilang tertelan bumi begitu
saja." Jawab Yelena.

"Semoga dia baik saja. Sampaikan salam dan
permohonan maafku jika ada khilaf."

"Hanya itu pesannya?" Tanya Yelena.

"Ya. Itu saja. Oh ya, jika nanti bertemu
dengannya ajaklah dia mengikuti jejakmu meniti
jalan kebenaran yang diridhai oleh Allah." Jawab
Ayyas tenang.

Mereka bertiga kemudian berjalan pelan
menikmati pemandangan Lapangan Merah. Setelah
dirasa cukup, mereka berpisah. Ayyas
melangkah menuju Gorky Park yang legendaris
itu. Sementara Devid dan Yelena berjalan ke
stasiun metro bawah tanah. Mereka berdua berencana
hendak ke pasar Vietnam di Savelovsky.

Matahari pagi bersinar terang. Sinarnya yang
kuning keemasan menyepuh Lapangan Merah,
tembok merah Kremlin, Pucuk-pucuk Menara,
Kubah-kubah gereja, gedung-gedung,
rerumputan, bunga-bungaan, tanaman dan aspal
di jalan-jalan.

Pagi itu udara terasa hangat, tidak lagi dingin
menusuk tulang.

***
Di waktu yang sama, seorang perempuan
muda berambut pirang kemerahan, beralis tebal
dan berkaca mata hitam nampak keluar dari bagian
imigrasi terminal-2 Seremetyevo. Perempuan
muda itu agak ragu melangkah, tetapi ia segera
menguasai dirinya dengan baik dan melangkah
dengan pasti untuk mencari taksi dan meluncur
ke tengah kota.

Awalnya perempuan muda itu membawa taksi
yang ditumpanginya meluncur ke kawasan
Smolenskaya, utamanya menuju Panfilovsky
Pereulok. Akan tetapi sampai di Novy Arbat, perempuan
itu meminta kepada sopir taksi untuk
mengubah haluan menuju kawasan Proletarskaya.

Perempuan muda itu turun di dekat
stasiun metro Taganskaya. Ia lalu turun ke bawah
tanah dan naik metro menuju Proletarskaya. Ia
turun di stasiun Proletarskaya dan berjalan kaki
ke selatan kira-kira lima belas menit, sampailah
ia di sebuah gedung tua berlantai lima. Ia melihat
ke kiri dan ke kanan, setelah memastikan dirinya
aman tidak diikutu siapa pun, ia naik ke lantai
tiga dan membuka apartemennya.

Perempuan muda itu adalah Linor. Ia kembali
ke Moskwa, setelah menghilang sekian bulan dan
mempelajari Islam di Berlin di bawah bimbingan
keluarga Muslim Turki-Syiria, yang sudah lama
menetap di Berlin atas saran Madame Ekaterina.
Di tengah-tengah keluarga itu ia diperlakukan
seumpama putri raja, sangat dihormati dan dimuliakan.
Keluarga itu terdiri atas ayah ibu dan
tiga orang anak. Kepala keluarganya bernama
Tuan Yunus Bugha, asli Turki Kurdistan. Ibu
rumah tangganya bernama Madame Yasmina
blasteran Syiria-Jerman. Tiga anaknya semuanya
perempuan. Yang paling besar sedang S2 di bidang
ilmu pendidikan bernama Rihem. Yang kedua
bernama Rahma, dan yang ketiga bernama
Rabia.

Kepada mereka semua, Linor menceritakan dirinya
apa adanya dan sejujur-jujurnya. Tidak ada
yang ia tutup-tutupi. Awalnya mereka agak jijik
saat ia menjelaskan aktivitas kejahatannya sebagai
agen Mosad. Tetapi setelah ia sampai pada
cerita bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang
Palestina yang tidak tahu identitasnya, dan menceritakan
semua yang ia dapatkan dari Madame
Ekaterina yang selama ini merawatnya, terbitlah
rasa simpati di hati mereka.

Madame Yasmina sampai berkomentar, "Aku
memang dulu ikut jadi sukarelawan. Aku ikut
hanya sebagai perawat bukan sebagai dokter.
Aku kenal Dokter Salma Abdul Aziz dan Dokter
Ekaterina meskipun tidak akrab. Sebelum pembantaian
Sabra dan Shatila aku ditarik oleh lembaga
yang mengirimku. Aku tidak tahu kalau kejadiannya
seperti itu. Aku tidak tahu kalau
Dokter Salma Abdul Aziz yang berhati malaikat
itu juga terbantai dan anaknya diselamatkan oleh
temannya yang adalah seorang relawan bernama
Dokter Ekaterina. Aku samasekali tidak tahu itu
semua. Karena kau tidak punya siapa-siapa, anggap
saja kami ini keluargamu. Sesama Muslim
adalah bersaudara."

Sejak itu ia dimuliakan. Ia dianggap bagian
dari keluarga itu. Ketiga anak keluarga itu
menganggapnya sebagai kakak tertua yang lama
hilang. Mereka tidak memaksanya untuk masuk
Islam. Mereka menjawab segala hal yang
musykil di kepalanya, dan menjawab semua pertanyaannya
tentang Islam. Yang paling dekat dan
paling sering menjawab pertanyaan-pertanyaannya
adalah Rahma.

Rahma masih kuliah di Fakultas Psikologi
pada salah satu universitas bergengsi di Berlin.
Rahma pernah menghabiskan masa remajanya
selama tiga tahun di Damaskus, tinggal bersama
salah satu kerabat ibunya. Di Damaskus itulah
Rahma menghafalkan Al-Quran, dan bisa hafal
sempurna tiga puluh juz. Bahasa Arabnya sangat
fasih. Selain Arab, Rahma juga menguasai bahasa
Inggris, Turki, dan Jerman tentu saja.

Rahma bisa menjawab hampir semua keraguan
Linor tentang Islam. Jiwa Rahma yang
sangat halus mampu merasakan apa yang dirasakan
oleh Linor. Rahma begitu berempati kepada
Linor. Dengan kesejukan iman di dada,
Rahma mampu meredam kegelisahan dan
kegundahan yang dirasakan Linor. Rahma juga
yang membantu Linor mendapatkan semua buku
yang ditulis oleh Maryam Jameela. Tidak hanya
itu, Rahma juga mempertemukan seorang
Muslimah di Berlin yang dulunya adalah Yahudi.
Akhirnya pelan-pelan cahaya hidayah menyusup
ke relung hati Linor.

Suatu ketika, dalam acara makan malam,
Linor menyampaikan niatnya untuk mengucapkan
dua kalimat syahadat yang disambut linangan
airmata bahagia keluarga itu. Selesai makan
malam, Tuan Yunus bermaksud menghubungi
imam masjid Berlin, agar prosesi pengucapan
dua kalimat syahadat Linor diadakan secara resmi
di masjid dan disaksikan oleh banyak kaum
Muslimin. Akan tetapi Linor mencegahnya. Ia
tidak mau dirinya diketahui banyak orang. Ia
tidak mau Mosad mencium keberadaannya di
Berlin. Tuan Yunus faham. Akhirnya Linor mengucapkan
dua kalimat syahadat dengan dibimbing
oleh Rahma atas permintaannya, seketika itu
juga, selesai makan malam dan disaksikan oleh
anggota keluarga itu.

Sejak itu Linor telah menjadi Muslimah. Dan
namanya secara resmi ia ganti menjadi Sofia
Ezzuddin. Sebab Ezzuddin adalah nama ayahnya
yang sebenarnya, yaitu suami dari Salma Abdul
Aziz, ibunya. Hanya saja di paspornya namanya
masih Sofia Corsova. Nama yang diberikan oleh
ibu asuhnya yang tetap ia anggap sebagai ibu
kandungnya, yaitu Madame
Ekaterina. Paspor itu yang ia sisakan dari sekian
paspor yang ia punya. Paspor yang lain telah
ia bakar.

Sejak itu keluarga Turki-Syiria itu memanggilnya
dengan Sofia. Juga para kenalannya yang
baru di Berlin mengenalnya sebagai Sofia Ezzuddin
dari Palestina. Dangan memakai gamis dan
jilbab serta kaca mata hitam, ia samasekali berbeda
dengan Linor sebelumnya.

Sofia Ezzuddin alias Linor terus belajar banyak
tentang Islam kepada Rahma. Sampai
akhirnya ia tahu persis kisah Nabi Yusuf di
dalam Al-Quran. Yang membuatnya bergetar
adalah keteguhan iman Nabi Yusuf ketika
menghadapi rayuan Zulaikha. Seketika itu ia
teringat akan apa yang ia lakukan kepada Ayyas.
Ia bahkan melakukan hal yang sangat terencana
matang, yang lebih jahat dari Zulaikha. Akan
tetapi Ayyas tetap bisa teguh seperti Nabi Yusuf.
Ia langsung teringat mimpinya ketika bertemu
dengan ibunya saat tertidur di dalam kereta
dalam perjalanan ke Berlin. Ibunya berpesan agar
mencari suami yang seteguh iman Nabi Yusuf. Ia
jadi bertanya-tanya, apakah itu isyarat agar ia
memilih Ayyas? Yang jadi pertanyaannya apakah
Ayyas akan mau?

Sofia merasa tidak akan mendapatkan kepastian
kalau tidak menemui Ayyas. Maka ia putuskan
untuk kembali ke Moskwa demi menemui
Ayyas. Ia berharap Ayyas dapat menerimanya. Ia
tahu, Ayyas telah menyaksikan kebejatan moralnya
saat masih jahiliyyah, tetapi ia berharap
Ayyas bisa bersikap dewasa dan bijaksana. Bahwa
kebejatan dan kejahatannya itu ia lakukan
saat dirinya masih benar-benar jahiliyyah. Dan
kini ia telah menjadi Muslimah.

Bukankah keislaman
seseorang mampu menghapus segala dosa
yang dilakukan orang itu sebelum masuk Islami
Sofia Ezzuddin alias Ljnor nekat kembali ke
Moskwa. Jiwa
intelijennya muncul. Jika ia memakai gamis
dan jilbab rapat, ia khawatir akan menarik perhatian
pihak keamanan Rusia yang bisa juga
memancing kecurigaan agen Mosad yang berseliweran
di bandara. Maka ia terpaksa menyamar
menjadi perempuan modis, dan wajahnya ia
samakan persis dengan foto Sofia Corsova yang
ada di dalam paspor.

Penyamarannya sempurna dan ia berhasil.
Linor membuka pintu apartemen itu.
Hidungnya langsung mencium bau pengap.
Apartemen itu nampak kotor. Lebih dari enam
bulan apartemen itu tidak dijamah manusia.
Apartemen itu adalah salah satu properti milik
Madame Ekaterina yang sangat dirahasiakan,
agar tidak diketahui oleh agen Mosad. Diatasnamakan
perempuan tua berkebangsaan Inggris
yang sekarang sudah mati. Sampai sekarang
namanya masih perempuan Inggris itu. Ada orang
kepercayaan Madame Ekaterina yang ditugasi
menjaga dan mengurus apartemen tua itu.
Hanya saja orang itu, sudah setengah tahun ini
stroke tidak bisa berbuat apa-apa. Jadinya apartemen
itu tidak terurus.

Linor meletakkan tas tentengnya yang berisi
beberapa helai pakaian di atas sofa. Ia lalu membuka
jendela. Menyalakan lampu dan membersihkan
apartemen itu pelan-pelan. Pekerjaan itu
membuatnya cukup berkeringat. Sinar mentari
yang hangat menerobos masuk. Setelah ia rasa
cukup bersih. Ia meletakkan tasnya ke kamar dan
ia perlu istirahat sejenak.

Ia merasa tidak boleh berlama-lama di
Moskwa. Paling lama satu bulan. Lebih dari itu
sangat berisiko baginya. Ia pun harus sangat hatihati.
Ia tidak boleh menimbulkan kecurigaan
siapa pun. Termasuk tetangga apartemennya
yang ada dalam satu gedung.

Selanjutnya harus memikirkan cara terbaik untuk
menemui Ayyas. Ia tidak tahu apakah Ayyas
masih tinggal di Smolenskaya bersama Yelena,
atau $udah pindah. Sebab setahu dia Ayyas tinggal
di sana karena disewakan oleh temannya, dan
hanya beberapa bulan saja. Ia juga tidak tahu
apakah Yelena masih tinggal di sana setelah geng
Olga Nikolayenko dan suaminya musnah.

Ia tidak mungkin nekat langsung ke apartemen
yang dulu ditinggalinya di Smolenskaya. Ia tidak
tahu apakah agen Mosad di Moskwa percaya dirinya
telah mati di Kiev, ataukah tidak percaya
dan kini sedang memburunya? Jika ia nekat ke
Smolenskaya jangan-jangan mereka juga
menyiapkan jebakan di sana.

Linor memutar otaknya. Apakah ia akan mencoba
menghubungi Yelena lewat nomor baru?
Jangan-jangan nomor Yelena disadap. Ia tidak
mau memancing kecurigaan, meskipun ia bisa
mempermainkan timbre suaranya, sehingga tidak
akan ketahuan siapa sesungguhnya yang menelpon
Yelena. Akan tetapi jika nomor Yelena disadap
dan gerak-gerik Yelena diawasi dua puluh
empat jam, maka datangnya telpon darinya akan
membuat para agen itu bagai terbangun dari
pingsannya. Itu sangat berbahaya. Maka yang terbaik
baginya adalah tidak berhubungan dan tidak
menghubungi Yelena samasekali. Juga tidak
perlu menemui Yelena. Jika ia menemui Yelena,
ia bisa membocorkan identitas dirinya. Para agen
itu jika tidak yakin ia telah mati, maka akan menemukan
satu bukti nyata bahwa dirinya tidak
mati di Kiev'. Dan ia akan jadi buruan Mosad
seumur hidupnya.

Linor terus berpikir. Akhirnya ia tersenyum.
Ia akan mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia
di Moskwa. Ia akan ke sana dengan memakai
pakaian Muslimah, dan ia akan
menyamarkan identitas dirinya. Ia akan mengaku
sebagai salah satu mahasiswa MGU kenalan
Ayyas. Dan ia berharap dari KBRI ia akan
mendapatkan informasi yang cukup tentang
Ayyas.

Linor melihat jam tangannya. Sudah pukul
setengah sebelas. Masih ada. cukup waktu baginya
untuk bergerak. Ia tidak mau menyianyiakan
kesempatan yang ada. Linor mencuci
mukanya lalu berganti pakaian. Setelah ganti
pakaian ia melihat ke cermin. Tiba-tiba ia ingat
bahwa ia tidak boleh memancing kecurigaan,
bahkan para tetangga apartemennya sendiri. Jika
tadi ia masuk sebagai gadis Rusia, dan kini keluar
sebagai gadis Arab, apakah mereka tidak
curiga?

Linor melucuti pakaiannya kembali. Busana
Muslimah itu ia lipat dengan rapi dan ia
masukkan ke dalam tas ranselnya. Linor memilih
melakukan penyamaran sebagai gadis Rusia seperti
saat ia masuk. Gadis yang sangat berbeda
dengan penampilan Linor sebelumnya. Dari
ujung rambut sampai ujung kaki sangat berbeda.
Setelah merasa yakin dengan penampilannya,
Linor melangkah keluar. Tujuannya adalah Kedutaan
Indonesia di Moskwa yang terletak di Novokuznetkaya
Ulitsa.

Linor sampai di Kedutaan Indonesia tepat
sepuluh menit sebelum para staf istirahat untuk
shalat dan makan siang. Linor diterima oleh petugas
bagian konsuler. Kepada petugas itu Linor
mengaku sebagai mahasiswi MGU yang ingin
berkonsultasi dengan Ayyas tentang beberapa
masalah penting kepada Ayyas. Linor mengaku
tertarik berkonsultasi kepada Ayyas setelah
mendengar apa yang disampaikan Ayyas dalam
sebuah seminar tentang ketuhanan di Fakultas
Kedokteran.

Sejak acara live dalam "Rusia Berbicara"
nama Ayyas memang dikenal oleh semua orang
di KBRI. Ayyas menjadi bagian yang dicintai
KBRI. Dengan ramah petugas bagian konsuler
menjelaskan, Ayyas bisa dicari di apartemennya
yang ada di kawasan Baumanskaya. Linor minta
detil alamat Ayyas. Dan petugas itu
menuliskannya dengan detil. Bahkan memberikan
nomor kontak Ayyas yang tersimpan di ponselnya
kepada Linor. Terakhir petugas itu menanyakan
siapa namanya. Linor menjawab,

"Corsova."

Linor meninggalkan KBRI dengan hati
berbunga-bunga penuh harapan. Ia mendapatkan
informasi yang sangat lengkap untuk segera menemukan
Ayyas. Linor berjalan menyusuri Novokuznetkaya
Ulitsa sampai perempatan
Visnyakovski Pereulok. Di sudut gedung di pojok
perempatan jalan itu ada gastronom. Mata
Linor sangat awas dan tajam. Di depan gastronom
itu ada seorang lelaki Rusia berdiri. Dari
jarak sangat jauh Linor bisa menangkap sekilas
wajah dan gestur tubuh lelaki itu. Dada Linor terkesiap.
Lelaki itu adalah salah satu agen Mosad.

Berarti semua yang berhubungan dengan dirinya
saat masih tinggal di Smolenskaya diamati. Kelihatannya
Mosad belum benar-benar percaya bahwa
Linor telah mati di Kiev.

Linor berusaha menguasai dirinya sebaikbaiknya.
Ia harus yakin dengan penyamarannya.

Ia harus tidak menimbulkan kecurigaan agen itu.
Dengan tenang tanpa gentar sedikit pun Linor
melintas tak jauh dari tempat lelaki itu berdiri.
Linor terus berjalan, ketika ada taksi datang ke
arahnya dengan tanpa ragu ia menghentikan taksi
itu, dan naik taksi itu lalu meluncur meninggalkan
Visnyakovski Pereulok.

Linor mengarahkan taksi itu ke kawasan
Lubyana. Samasekali Linor tidak menengok ke
belakang bebarapa saat lamanya. Setelah berjalan
lima belas menit, ia menengok ke belakang. Ia
yakin tidak ada yang mengikutinya. Setelah sampai
di Lubyana, Linor meminta kepada sopir taksi
untuk terus ke utara menuju Sukharevskaya..Di
dekat stasiun metro Sukharevskaya Linor turun.
Linor lalu naik metro, mencari jalur dari Sukharevskaya
ke Baumanskaya.

Keluar dari stasiun metro Baumanskaya Linor
kembali menajamkan pandangannya ke sekeliling,
ada yang mengikuti atau mengawasinya
apa tidak. Setelah yakin tidak ada yang
mengawasinya Linor berjalan mencari alamat
yang ditulis petugas Kedutaan Republik Indonesia.
Tidak perlu lama bagi Linor untuk menemukan
Aptekarsky Pereulok.

Kini Linor ada di depan gedung tua. Ia melihat
jam tangannya, tak terasa sudah pukul empat
sore. Perjalanannya dengan taksi memang cukup
lama ditambah macet di beberapa titik di pusat
kota Moskwa. Juga perjalannya dengan metro
yang sengaja ia buat berpindah banyak jalur, lebih
dari semestinya.

Ia belum shalat Zuhur. Untung tadi ia sudah
meniatkan jamak ta'khir seperti yang diajarkan
oleh Rahma untuk orang yang sedang bepergian.
Ia merasa masih bepergian. Ia berharap bisa shalat
di tempat Ayyas.

Sekali lagi Linor melihat alamat yang ditulis.
Ia yakin gedung tua di hadapannya itulah tempat
di mana Ayyas kini tinggal. Tiba-tiba jantung
Linor berdegup kencang. Entah kenapa ia tibatiba
disergap rasa gugup luar biasa. Kakinya seperti
terpaku susah untuk digerakkan. Ia menguatkan
dirinya. Ia harus menemui Ayyas. Ia ingin
mendapatkan kepastian daripada menyesal
dengan praduga dan ketidakpastian.

Dengan membaca basmalah, Linor melangkah
memasuki gedung dan menaiki tangganya satu
per satu. Ketika kakinya menaiki tangga lantai
dua, Linor mendengar suara langkah kaki lelaki
mengikuti di bawahnya. Linor menghentikan
langkahnya, langkah orang'yang mengikutinya
juga berhenti. Ada rasa khawatir yang sangat
halus yang menyusup begitu saja ke dalam hatinya.
Linor melihat ke bawah, lelaki itu tidak
nampak kecuali ujung sepatu kulitnya. Keringat
dingin Linor tiba-tiba keluar begitu saja.

Dengan suara lirih, Linor menyebut nama Allah
dan memohon pertolongan-Nya agar
menyelamatkan hidupnya. Ia berjanji dalam hati,
jika diberi umur panjang, ia akan mewakafkan dirinya
untuk berjuang di jalan Allah.
Matahari sore bersinar kuning keemasan.
Langit biru cerah. Angin berhembus sejuk. Tidak
panas, juga tidak dingin. Bunga-bunga bermekaran
di pinggir-pinggir jalan dan di tamantaman.
Ayyas melangkah dengan dada lapang.
Besok lusa ia akan pulang, tidak ke India tempat
dimana ia belajar, tetapi langsung ke Tanah Air
tempat dimana ia akan berjuang. Keberadaannya
sekian bulan di Moskwa cukup menambah
pengalaman yang bisa ia bagi-bagikan kepada
orang-orang di kampung. Apa yang ia lihat dan ia
alami, juga hikmah yang ia dapat selama di
Moskwa bisa digunakan sebagai bahan untuk
memotivasi anak-anak muda yang haus hikmah
dan pelajaran.

Ayyas menyusuri Aptekarsky Pereulok. Beberapa
puluh meter lagi ia akan sampai di depan
dom-nya. Cukup melelahkan juga ia berjalan keliling
kota Moskwa dari pagi sampai menjelang
sore. Ia sudah melihat keindahan hamparan
bunga tulip di taman Aleksandrovskiy Sad. Ia sudah
melihat Kremlin dan Lapangan Merah di musim
semi. Ia juga sudah melihat bunga-bunga
yang bermekaran di Gorki Park. Ia sudah sampai
di depan Balshoi Teater dan melihat-lihat papan
pengumuman di sana, meskipun ia tidak masuk
ke dalamnya. Dan ia sudah melihat detil keindahan
stasiun Metro Komsomolskaya. Stasiun itu
memang menakjubkan. Seumpama istana raja di
bawah tanah. Stalin membangunnya untuk pamer
kemegahan kepada siapa pun di zamannya dan di
zaman setelannya.

Konon, stasiun itu memang sengaja dibangun
untuk memberikan kesan kekuatan dan keabadian
kekaisaran gaya Stalin. Sayangnya, Ayyas tidak
kuat untuk mencapai Galeri Tretyakov. Ia sudah
sangat letih. Jika masih ada waktu, besok setelah
belanja tambahan oleh-oleh bersama Pak Joko, ia
akan menyempatkan masuk Galeri Tretyakov
yang terkenal itu.

Ayyas melihat ke depan. Sekilas ia melihat seorang
gadis dengan pakaian rapi menghilang
masuk ke dalam dom tua, tempat di mana apartemennya
berada. Sekilas dari jauh kelebatan dan
warna pakaian gadis itu seperti Sarah, adik
Shamil. Ia sediku. bahagia, ada kemungkinan
yang berkelebat masuk itu adalah Sarah. Setelah
khataman Al-Quran bersama Shamil, ia menyampaikan
kepada kedua muridnya itu, ia akan meninggalkan
Moskwa dan pulang ke Indonesia.

Shamil nampak begitu sedih mendengar berita
itu. Ia sampai meneteskan airmata. Shamil kelihatannya
masih ingin belajar banyak dari Ayyas.

Sementara Sarah meskipun juga nampak sedih,
tetapi tidaklah sesedih kakaknya. Sarah berjanji
akan membuatkan kenang-kenangan untuk Ayyas
sebelum pulang. Sarah berjanji akan membuatkan
syal dari benang wol yang akan ia rajut sendiri
dengan kedua tangannya. Ayyas sangat bahagia
mendengarnya.

Apakah itu Sarah yang mengantarkan syal
buatannya? Ayyas tidak bisa memastikan, tetapi
entah kenapa ia yakin begitu saja bahwa yang
masuk adalah Sarah. Ayyas mengejar dengan
mempercepat langkahnya. Ia bahkan seperti
setengah berlari.

Ayyas masuk dom tak lama setelah gadis itu
masuk. Ketika sampai di tangga Ayyas
mendengar suara sepatu perempuan sedang naik.

Kembali ia beranggapan itu adalah Sarah. Ia
tirukan suara langkah itu. Dan jika berhenti ia
ikut berhenti. Beberapa saat kemudian ia merasa
ditunggu, sebab lama sekali suara itu terdiam,
padahal ia yakin belum sampai lantai tiga di
mana ia tinggal. Ayyas yakin, Sarah sedang
menunggu siapa orang yang mengikutinya.
Akhirnya Ayyas tidak tahan untuk diam terus.
Ia melangkah naik. Dengan tenang kakinya
menapaki tangga menuju lantai tiga. Ayyas melihat
agak ke atas ke orang yang tengah menunggu
dirinya yang ia kira Sarah. Ia kaget. Seorang perempuan
muda nampak diam menunggunya. Begitu
kedua matanya menangkap sosok yang berdiri
tak jauh darinya ia langsung tahu, bahwa itu
bukan Sarah. Hanya warna pakaiannya saja yang
seperti warna pakaian Sarah. Tubuh Sarah tidak
setinggi tubuh perempuan yang berdiri di
hadapannya.

Ayyas jadi salah tingkah. Ia merasa telah
mempermainkan orang lain. Ia sangat menyesal
kenapa ia bertingkah seperti anak kecil dengan
menirukan langkah orang yang menaiki tangga
yang ada di depannya. Ternyata yang ia tirukan
suara langkahnya bukan Sarah, yang biasa
menirukan langkahnya kalau ia berkunjung ke
rumahnya, dan kebetulan Sarah ada di
belakangnya.

Yang ada di depannya ternyata bukan Sarah,
tetapi perempuan dewasa yang ia belum pernah
melihat wajahnya sebelumnya. Ayyas tidak berani
menatap perempuan itu karena malu. Perempuan
itu pasti marah padanya. Ayyas bersiap untuk
menerima cacian dari perempuan itu dan bersiap
untuk meminta maaf kepadanya dengan penuh
kerendahan hati.

"Ayyas?" Sapa perempuan itu dengan suara
lembut dan bibir bergetar.

Ayyas kaget mendengarnya. Perempuan yang
tidak dikenalnya itu mengenal dirinya dan
memanggil namanya. Otaknya langsung berputar,
mungkin dia salah satu peserta seminar di Fakultas
Kedokteran MGU, atau dia salah satu
pemirsa acara talk show "Rusia Berbicara" sehingga
ia mengenalnya. Tiba-tiba ada rasa
bangga menyusup di dalam hatinya. Ternyata dirinya
terkenal juga di Moskwa. Menyadari ada
rasa takjub pada diri sendiri yang hadir, Ayyas
langsung beristighfar memohon ampun kepada
Allah.

Takjub pada diri sendiri menurut para ulama
adalah sifat tercela, termasuk penyakit hati yang
harus diberantas. Sebab takjub pada diri sendiri
ibaratnya adalah saudara kandung takabbur. Dan
itu adalah sifat yang hanya Allah yang boleh
memilikinya, makhhLk-Nya tidak boleh.
Makhluk yang takabbur sangat dimurkai Allah.
Ayyas kembali beristighfar.

"Anda Ayyas, benar?" Tanya perempuan itu
lagi.

"Ya benar. Saya Ayyas. Bagaimana Anda kenal
saya?" Jawab Ayyas dan balik bertanya.

"Kau sudah lupa padaku ya? Aku ini Linor."

"Linor?"

"Iya, Linor yang pernah satu apartemen
denganmu."

"Ingatan saya masih sehat. Maaf, Linor yang
pernah saya kenal tidak seperti Anda."

"Demi Allah, Ayyas, aku ini Linor."

"Dan Linor yang aku kenal tidak mengenal
sumpah demi Allah."

"Sekarang Linor itu sudah mengenal Allah,
Ayyas. Dia sudah berubah. Ayo izinkan aku masuk
ke apartemenmu aku akan jelaskan
semuanya."

"Jelaskanlah di sini saja. Tidak ada masalah.
Aku takut kalau kau masuk ke apartemen berdua
denganku nanti bisa terjadi fitnah."

"Tolonglah Ayyas, ini penting sekali. Dan aku
sekalian mau numpang shalat."

"Shalat?"

"Ya."

"Linor mau shalat?"

"Ya."

"Allahu akbari'Ini sebuah keajaiban. Tetapi
aku belum bisa percaya kalau Anda Linor."

"Berilah kesempatan padaku untuk shalat dan
menunjukkan siapa aku sebenarnya."

"Baiklah. Mari."

Ayyas melangkah menuju pintu apartemennya
dan membukanya. Ia lalu mempersilakan Linor
masuk. Ayyas mempersilakan tamunya untuk
mengambil air wudhu dan shalat di ruang tamu.
Ia sendiri setelah wudhu masuk kamarnya dan
menutupnya rapat-rapat pintu kamarnya. Ayyas
shalat di dalam kamarnya.

Di kamar mandi Linor melepas wignya. Ia
membersihkan mukanya dengan pembersih yang
ia bawa. Alis yang ia tebalkan ia bersihkan dan ia
biarkan seperti aslinya. Beberapa tahi lalat yang
ia buat juga sudah hilang. Kini yang nampak adalah
Linor yang sesungguhnya. Ia kemudian memakai
busana Muslimah yang ada di tas
ranselnya. Setelah itu ia keluar ke ruang tamu
dan shalat Zuhur yang digandeng dengan shalat
Ashar, masingmasing dua rakaat.
Selesai shalat, Linor menunggu Ayyas dengan
sabar, dengan duduk di sofa ruang tamu. Ia duduk
dengan menundukkan kepala. Penampilannya
sangat berbeda dengan Linor saat
tinggal di Smolenskaya dan dengan Linor yang
menyamar menjadi gadis Rusia tadi.

Sepuluh menit kemudian, Ayyas keluar.
Pemuda Indonesia itu tersentak melihat ada sosok
berjilbab duduk di sofa ruang tamunya dengan
muka tertunduk. Sosok itu samasekali bukan
sosok yang tadi memaksanya masuk untuk
numpang shalat.

"Anda siapa?"

"Tadi sudah aku katakan, aku ini Linor."

"Anda perempuan yang tadi?"

"Ya." Jawab perempuan itu sambil
mengangkat kepalanya. Perlahan nampaklah wajahnya.
Dan Ayyas tersentak kaget. Hatinya langsung
berdesir melihat wajah perempuan yang ada
di hadapannya. Itu adalah benar Linor. Nampak
begitu anggun dan bersih dalam balutan jilbab
putih dan gamis biru muda.

"Subhanallah. Anda benar-benar Linor."

"Ya aku Linor."

"Dan Anda kini berjilbab dan shalat?"

"Ya, karena aku sudah menjadi Muslimah
sekarang."

"Alhamdulillah. Maha Besar Allah. Kenapa
Anda ada di gedung tua ini? Apakah Anda
tersesat dan kita bertemu dengan tidak sengaja?"

"Moskwa ini sudah menjadi sumsum bagiku.
Aku sama sekali tidak tersesat. Aku memang
menyengaja datang ke dom tua ini."

"Apa atau siapa yang Anda cari."

"Kamu. Ayyas. Yang aku cari."

"Aku."

"Ya."

"Kenapa kau mencariku? Dan ke mana saja
kau selama ini? Yelena sampai putus asa mencari
keberadaan mu."

"Baiklah aku akan bercerita panjang lebar.
Termasuk bercerita bagaimana aku masuk Islam.
Tetapi aku minta kau tidak menceritakannya
kepada siapa-siapa kecuali kepada dirimu saja.
Apa kau bersedia berjanji?"

"Baik. Aku janji."

Linor lalu menceritakan semuanya. Siapa dirinya
sebenarnya. Termasuk siapa yang merancang
pengeboman Metropole Hotel. Reaksi Ayyas
sama seperti keluarga Tuan Yunus Bugha;
awalnya Ayyas merasa jijik mendengar cerita
kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Linor
tanpa perikemanusiaan. Tetapi ketika sampai bagian
jati dirinya yang sebenarnya seperti yang
diceritakan Madame Ekaterina, Ayyas mulai simpati.
Lalu perjuangannya mengkaji Islam untuk
mencari petunjuk hidup membuat Ayyas terkesima
dan berempati.

Pada saat Linor mencer itakan bagaimana ia
mengucapkan dua kalimat syahadat, Ayyas meneteskan
airmata. Bahkan agen Zionis, jika Allah
menghendakinya mendapatkan hidayah, maka
terjadilah proses itu begitu saja. Proses yang
tidak bisa dibuat-buat. Proses menemukan
hidayah,yang menjadi dambaan banyak umat
manusia.

Terakhir Linor menceritakan mimpinya bertemu
ibu kandungnya yang sudah mati syahid
ketika berangkat ke Berlin. Juga pesan ibunya
untuk mencari pendamping hidup yang teguh
menjaga kesucian seperti Nabi Yusuf. Dan
dengan berterus terang, dan dengan mata
berkaca-kaca Linor berkata,

"Aku sudah mendapatkan cerita Nabi Yusuf
dengan sangat detil. Aku merasa tidak perlu bingung
mencarinya, sebab aku telah menemukannya.
Dan saat diriku dulu masih
jahiliyyah aku sudah pernah mengujinya. Dan ia
sungguh lelaki yang sangat menjaga kesucian. Ia
samasekali tidak tergoda. Rasa takutnya kepada
Allah mengalahkan nafsunya yang membara.
Dan lelaki itu adalah kau, Ayyas. Maka jauh-jauh
dari Berlin dengan risiko yang sangat besar karena
mungkin aku kini sedang jadi target para
agen itu, aku datang ke Moskwa ini, memang
tujuan utamaku adalah menemuinya. Pertama
untuk meminta maaf kepadamu dan kedua untuk
memintamu memenuhi keinginan ibuku. Yaitu
agar aku menikah dengan lelaki yang menjaga
kesuciannya.

"Aku tahu bahwa diriku sangat kotor. Kau
bahkan pernah memergoki diriku melakukan perbuatan
yang keji itu. Jujur, sesungguhnya aku
tidak merasa pantas menjadi pendampingmu.
Tetapi aku tidak tahu harus berbuat bagaimana
untuk memenuhi pesan ibuku. Aku memang sudah
bobrok, karenanya dengan berislam aku berharap
aku bisa membuka lembaran hidup baru.
Hidup yang berlandas pada iman dan takwa.
Hidup di bumi cinta yang meninggikan panjipanji
kalimat tauhid: Laa ilaaha Mallah! Aku sudah
berjanji pada diriku sendiri, akan mewakafkan
diri ini untuk berjuang di jalan Allah,
sebagai tebusan dosa-dosa yang aku lakukan sebelum
ini."

Ayyas mengambil nafas panjang, Tak terasa
airmatanya meleleh mendengar perjalanan hidup
Linor yang penuh liku dan ujian. Jauh lebih berat
dari ujian yang selama ini ia rasakan. Dan Linor
dengan akal sehatnya, telah menemukan kedamaian
dalam pelukan hangatnya ajaran Islam.
Kini Linor memintanya menjadi suaminya.

Seketika ia teringat dengan apa yang dilakukan
Linor beberapa waktu yang lalu di ruang tamu
bersama lelaki bule itu. Ia tidak bisa menerimanya.
Tetapi nuraninya kemudian bicara, bahwa itu
adalah Linor saat masih jahiliiyyah. Sekarang
Linor sudah berubah. Keislamannya telah
menghapus semua dosa yang dilakukannya di
masa lalu. Jadi Linor sekarang ini masih bersih,
sebersih bayi yang baru dilahirkan.

"Saya doakan kau istiqamah di jalan yang lurus,
dan kaupegang teguh keislamanmu sampai
kau bertemu Allah. Untuk permintaanmu, sungguh
kau adalah gadis dengan pesona yang tidak
bisa ditolak kaum lelaki. Tetapi berumah tangga
bukanlah sebuah permainan atau hanya uji coba.
Berumah tangga harus semakin melipatgandakan
amal saleh dan kebaikan. Ini tidak sederhana.
Saya perlu musyawarah dan Istikharah. Padahal
besok lusa saya harus kembali ke Indonesia. Saya
tidak tahu harus bagaimana?"

"Bagaimana kalau nanti malam kau Istikharah,
jadi besok pagi sudah ada jawabannya?"

"Bagaimana kalau setelah Istikharah sekali belum
juga ada kemantapan mengiyakan atau
menolak?"

"Sebenarnya aku tidak tergesa-gesa. Aku hanya
menyampaikan apa yang ada di dalam hatiku,
yang aku merasa akan terus mengganjal jika kau
benar-benar telah pergi meninggalkan Moskwa,
tanpa tahu apa yang terjadi pada diri Linor sesungguhnya.
Jika kau mau kau tetap saja pada rencanamu
pulang ke Indonesia. Di Indonesia kau
bisa musyawarah dengan keluarga dan handai
taulan, dan kau bisa beristikharah. Hasilnya yang
berati sangat kauyakini, sampaikanlah kepadaku.
Menerima atau menolak. Jika menerima di mana
akad nikah akan dilangsungkan. Aku siap jika
akadnya harus di Indonesia. Aku akan terbang ke
Indonesia, insya Allah."

"Saranmu itu baik. Kalau begitu biarlah aku
musyawarah dan shalat Istikharah di Indonesia."

"Aku akan bersabar menunggumu. Aku berharap
tidak lama setelah kau sampai di Indonesia,
kau menyampaikan kabar baikmu kepadaku. Dan
aku berharap Indonesia menjadi bumi cinta, dimana
aku bisa mewakafkan seluruh sisa umurku
untuk berjuang meninggikan kalimat Allah."

"Amin."

Hati Ayyas meleleh mendengar kalimat Linor
yang penuh harap. Ia sendiri tidak bisa langsung
mengiyakan permintaan Linor. Ia tetap harus bermusyawarah
dengan banyak orang. Termasuk ia
akan menyempatkan minta pendapat Imam Hasan
Sadulayev. Jika ternyata perjuangan Linor lebih
diperlukan di Rusia atau Eropa, tentu lebih
baik Linor menikah dengan Muslim Rusia atau
Eropa.

Namun, jika memang pada akhirnya, setelah
melalui berbagai pertimbangan dan shalat
Istikharah, ternyata menikahi Linor dinilai memiliki
banyak kebaikan untuk dunia dakwah, Ayyas
tak bisa berbuat banyak kecuali menyerahkan
segala urusan perjodohannya kepada Allah
semata.

Ayyas hanya mengharap ridha dan kebaikan di
mata Allah, bukan di mata manusia. Yang jelas,
bagi Ayyas menikah tidak semata-mata pertemuan
lelaki dan perempuan dalam akad yang
sah. Pernikahan harus menjadi langkah lebih
maju dalam mengabdi dan beribadah kepada
Allah.

"Apakah kau sudah melihat apartemen di
Smolenskaya?" Tanya Ayyas pelan.

"Belum. Aku harus sangat berhati-hati. Aku
tidak boleh lengah sedikit pun. Bagaimana kabar
Yelena?"

"Jadi kau belum tahu kabar Yelena?”

"Belum."

"Alhamdulillah, Yelena sekarang juga sudah
Muslimah “

"Benarkah?" Linor tidak percaya.

"Benar."

"Yelena yang tidak percaya adanya Tuhan itu
sekarang Muslimah?"

"Iya. Dia mengucapkan kalimat syahadat di
masjid Prospek Mira. Ribuan orang menjadi saksi
keislamannya."

"Allahu akbar!"

"Dan Yelena sekarang sudah menikah dengan
temanku, Devid. Bahkan sudah positif hamil."

"Alhamdulillah. Aku rasa, keberadaanmu di
Moskwa ini membawa banyak berkah. Yelena
bisa masuk Islam dan menikah dengan temanmu
sedikit banyak ada pengaruh dari keberadaanmu
di Smoleskaya. Paling tidak karena kau datang,
temanmu itu jadi kenal Yelena."

"Aku rasa semuanya sudah diatur Allah."

"Benar. Dan aku berharap agar Allah mengatur
yang terbaik untuk perjalanan hidupku
selanjutnya."

"Semoga Allah mengabulkan."

"Amin. Sekali lagi, jangan lupa kabar baiknya
setelah sampai di Indonesia."

"Bagaimana caranya aku harus mengabarimu?"
tanya Ayyas.

"Kirim saja email ke sofianew@ymail.com.
Dan jangan panggil lagi aku Linor, panggil aku
Sofia. Itu namaku sejak kecil dan itu nama
Muslimahku."

"Insya Allah. Sofia adalah nama salah satu istri
Baginda Rasulullah Muhammad Saw. Semoga
kau bisa meneladani beliau. Semoga kau jadi
pemberani seperti beliau, dan tidak takut kecuali
kepada Allah Ta'ala."

"Amin."

Sofia meninggalkan apartemen Ayyas dengan
tetap mengenakan gamis dan jilbab. Ia
melangkah tanpa ragu sedikit pun. Kini ia merasa
tidak ada yang perlu ditakutinya kecuali Allah.
Angin semilir musim semi berhembus mengiringi
kepergian Sofia meninggalkan dom tua
itu. Sofia melangkah dengan wajah cerah dan hati
bertasbih kepada Allah. Ia berharap Allah mempertemukan
dengan orang yang didambanya di
bumi cinta. Bumi yang di dalamnya kalimat
Allah dijunjung tinggi dan hati-hati manusia
diikat oleh tali tauhid yang indah menyejukkan.

Sementara itu, sedetik selepas kepergian Linor
alias Sofia, hati Ayyas justru terus berdetak dan
merasakan keindahan yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya. Wajah Sofia yang anggun
dalam balutan jilbab putih seolah tidak mau sirna
dari pikirannya.

Sejatinya, ia merasa Sofia yang baru saja menemuinya
tidak layak ditolak keinginan sucinya.

Sofia telah hijrah. Dan ia ingin menyempurnakan
hijrahnya bersama dirinya. Sesungguhnya,
merupakan suatu kehormatan jika dirinya bisa
mendampingi Sofia mewakafkan diri berjuang di
jalan Allah. Adakah yang lebih mulia dari orang
yang menyerahkan jiwa dan raganya di jalan
Allah?

Tak terasa hati Ayyas basah. Ia tidak kuat untuk
berdiam diri. Tiba-tiba kakinya melangkah
menuju jendela. Ia ingin melihat Sofia, dan kalau
sempat ia ingin memanggilnya. Ayyas bergegas
menuju jendela. Dari jendela ia melihat Sofia
melangkah semakin menjauh. Jilbabnya yang
putih berkelebat.

Ia ingin memanggil Sofia dan mengatakan
kesediaannya, tetapi ia merasa Sofia tidak akan
mendengarnya.

Sesaat Ayyas terpaku di depan jendela. Ia
ingin berlari turun dan mengejar Sofia. Tetapi entah
kenapa ia ragu? Apakah itu tidak seperti
anak-anak remaja yang sedang jatuh cinta di
sinetron-sinetron Indonesia? Ia mengurungkan
niatnya. Ia berniat setelah shalat Isya' ia akan
mengontak Sofia dan mengajaknya bertemu di
rumah Imam Hasan Sadulayev, atau di suatu tempat
yang aman dari fitnah, dan ia akan menyampaikan
kesediaannya menerima tawaran Sofia.

Ayyas masih memandangi Sofia yang terus
melangkah. Tiba-tiba Ayyas melihat ada mobil
sedan merah meluncur agak cepat di belakang
Sofia. Dan Ayyas tersentak kaget. Sekilas ia melihat
penumpang sedan itu mengeluarkan pistol
dari jendela mobil. Dengan tetap melaju kencang,
pistol itu diarahkan kepada Sofia. Ayyas
langsung teringat cerita Sofia, bahwa Sofia mungkin
sedang diburu oleh agen-agen Mosad.
Dengan sangat keras Ayyas menjerit mengingatkan
Sofia,

"Sofiaaa awaaass!"

Dan...

"Dor! Dor! Dor!"

Ayyas mendengar suara tembakan itu. Ia merasa
puluhan peluru seperti menembak dirinya dan
menembus jantungnya. Tubuhnya langsung kaku.
Kedua kakinya seperti tidak ada tulang-tulangnya.
Kedua matanya melihat Sofia yang
berjilbab putih ambruk di trotoar jalan. Sesaat ia
merasa sangat terpukul. Ia merasa kehilangan sesuatu
yang sangat berharga. Sofia seperti bukan
orang lain lagi baginya. Sofia sudah ada di dalam
hatinya. Sofia sudah menjadi separo jiwanya,
dan. tiba-tiba ia merasa harus kehilangan separo
jiwa yang dicintainya. Seperti apakah perasaan
seseorang yang tehih kehilangan separo jiwanya.
Airmata Ayyas meleleh. Kedua kakinya terasa
lemas. Namun akal sehatnya segera
mengingatkan dirinya untuk segera bangkit dan
berlari secepatnya ke tempat di mana Sofia roboh
ditembus pelor peluru. Ayyas langsung bangkit
dan berlari sekencang-kencangnya sambil
memanggil-manggil nama Sofia.

Dan hatinya bagai ditusuk-tusuk belati melihat
Sofia terkapar bersimbah darah. Jilbab putih itu
memerah. Merah darah! Wajah anggun itu tampak
pucat. Bibirnya mengatup dan matanya
terpejam. Darah segar masih terus mengalir di
dekat pundak dan lehernya.

Ayyas meraih tubuh Sofia dan meletakkan di
pangkuannya. Ia meraba nadinya. Masih berdenyut.

Ia berpikir keras, bagaimana
menyelamatkan nyawa Sofia. Darah terus mengalir.
Dan tangan Sofia terasa semakin dingin. Ayyas
melihat ke kiri dan ke kanan. Ia melihat sepanjang
jalan. Kenapa sepi, tidak ada orang?

Di kejauhan ia melihat mobil keluar bergerak
menjauh. Ia memanggil-manggil mobil itu minta
tolong. Tetapi suaranya sepertinya tidak sampai,
atau sampai tetapi pengendara mobil itu tidak
mau peduli kecuali urusan dirinya sendiri.

Ayyas tidak bisa tinggal diam di situ menyaksikan
Sofia sekarat dan mati kehabisan darah.

Ayyas membopong Sofia dan membawanya berjalan
ke arah jalan yang lebih besar. Ia bergegas
secepat mungkin. Airmata Ayyas juga terus menetes
mengiringi darah yang terus menetes di sepanjang
trotoar. Dalam hati Ayyas berdoa agar Allah
menyelamatkan nyawa Sofia.

Ia berjanji kepada Allah, jika Sofia selamat, ia
akan menikahinya dan menjadikannya sebagai
teman berjuang di jalan-Nya sampai maut datang
menjemput. Ia juga berjanji, jika Sofia selamat, ia
akan menjadikannya sebagai satu-satunya bidadari
surga bagi dirinya.

Ayyas mendengar deru mobil dari arah belakang.
Di kejauhan ia melihat sedan merah
sedang meluncur ke arahnya. Ia kaget bercampur
cemas. Ia khawatir jika yang menderu itu adalah
mobil agen Mosad yang menembak Sofia. Jika
itu yang terjadi, sulit baginya untuk lolos. Ia dan
Sofia benar-benar tidak akan selamat, kecuali Allah
berkehendak lain dan melindunginya.

Sedan merah itu semakin mendekat. Ayyas semakin
cemas.

Ia pasrahkan segala takdirnya pada Allah Sang
Maha Penentu nasib umat manusia. Ia tetap berdiri
dengan membopong Sofia sambil berdoa
dalam hati, agar Allah melindunginya dan
menyelamatkan Sofia. Ia tidak mungkin menurunkan
Sofia lalu lari menyelamatkan diri. Biarlah
kalau memang dirinya harus mati, ia rela mati
dalam perjalanan menolong orang yang hijrah di
jalan Allah.

Mobil sedan merah itu terus mendekat. Begitu
dekat, Ayyas melihat seorang ibu setengah baya
yang mengendarai mobil itu. Ia lega. Ibu
setengah baya itu menghentikan mobilnya tepat
di samping Ayyas.

"Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya? Oh
darahnya terus mengucur? Apa yang terjadi
dengannya?" kata Ibu setengah baya itu sambil
turun dari mobilnya.

"Tolonglah Madame, ada orang yang menembaknya.
Tadi nadinya masih berdenyut. Mungkin
masih bisa diselamatkan kalau dia segera sampai
di rumah sakit," kata Ayyas dengan bibir
bergetar.

"Ditembak? Apa suara tembakan tadi?"

"Iya benar."

"Oh Tuhan. Apa salahnya? Kenapa sampai
ada yang tega padanya. Ayo cepat naik ke mobil.
Kita bawa dia ke rumah sakit."

"Baik Madame."

Ayyas membawa Sofia masuk ke mobil. Tangan
Sofia semakin terasa dingin. Ayyas mencaricari
denyut nadinya tetapi tidak juga ketemu. Jantung
Ayyas seperti mau hilang. Ia tidak mau kehilangan
Sofia. Ia tidak mau Sofia mati.

"Sofia, Sofia. Kau jangan mati dulu Sofia.

Bertalianlah Sofia. Aku akan menikahimu. Demi
Allah, aku akan menikahimu. Bertalianlah
Sofia!" Kata Ayyas dengan airmata berderai. Ia
belum pernah menangis seharu dan sesedih itu.
Tetapi Sofia tetap diam, dan darah di pundaknya
terus mengalir.

Mobil sedan merah itu meluncur meninggalkan
Aptekarsky Pereulok. Ibu setengah baya
itu berusaha mengendarai mobil sedan itu secepat
mungkin. Ayyas masih bergulat dengan rasa harunya
sambil terus memandangi Sofia yang berlumur
darah. Jilbab putihnya memerah. Merah
darah! Darah tmembasahi jok mobil sedan itu.

Ayyas terus mencari-cari denyut nadi Sofia;
tidak juga ketemu. Ia meletakkan tangannya di
depan hidung Sofia; tidak juga merasakan lembut
nafasnya. Apakah Sofia sudah mati? Kecemasan
dan kekhawatiran semakin merayap dalam diri
Ayyas. Ia tak pernah merasakan kecemasan dan
kekhawatiran yang sedemikian dalam seperti itu
sebelumnya.

Ayyas langsung terisak-isak. Jika Sofia benar-benar
mati, alangkah sedih dirinya. Alangkah
menyesal dirinya tidak langsung menjawab
tawaran Sofia. Dan alangkah bahagianya Sofia.

Ia meninggal dalam keadaan mulia; husnul
khatimah. Ia meninggal dalam keadaan
Muslimah dengan segala dosa yang telah diampuni
Allah Ta'ala. Ia meninggal dalam keadaan
suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan di
muka bumi.

Dan alangkah bahagianya Sofia yang telah
menemukan bumi cinta yang sesungguhnya.
Adakah bumi cinta yang lebih indah dari surganya
Allah Ta'ala?

Ayyas yakin, jika Sofia meninggal dunia,
maka ia meninggal dalam keadaan syahid. Sebab
ia meninggal dalam keadaan melangkahkan kaki
menuju Allah dengan darah tertumpah di jalan
Allah.

Ayyas terus terisak. Isakan yang kalau siapa
pun melihat dan mendengarnya niscaya akan tersayat
hatinya. Isakan seorang pencinta sejati,
yang mencintai kekasihnya karena Allah, lalu kehilangan
kekasihnya karena Allah p?ila. Adakah
isakan yang lebih menyayat hati dari isakan seorang
pencinta sejati yang kehilangan sang pujaan
hati karena Allah Ta'ala?

Ayyas memandangi wajah Sofia yang pucat
tetapi tetap anggun dalam-dalam. Sofia tetap saja
diam. Kedua matanya tetap terkatup. Darah terus
mengalir. Dan airmata Ayyas terus menetes, sementara
hatinya tiada henti meratap kepada Allah
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, lagi
Maha Mengabulkan segala doa hamba-hamba-
Nya.

Dengan penuh rasa cinta karena Allah semata,
Ayyas memanjatkan doa dalam getar suara yang
menyesakkan dada, "Ya Allah, aku tetap memohon
kepada-Mu agar Engkau selamatkan Sofia.
Hanya Engkau yang bisa menyelamatkannya ya
Allah. Engkaulah Dzat yang menghidupkan dan
mematikan. Ya Allah berilah kesempatan padaku
untuk memenuhi permintaan orang yang berhijrah
di jalan-Mu. Akan tetapi jika Engkau
menakdirkan Sofia mati, ya Allah, maka jadikanlah
matinya itu syahid di jalan-Mu. Dan terimalah
dia dengan penuh keridhaan dari-Mu. Jika itu
yang terjadi ya Allah, maka syahidkan pula aku
di jalan-Mu, agar kelak aku bisa berjumpa
dengannya di Bumi Cinta-Mu yang sejati, yaitu
surga yang Engkau sediakan bagi hamba-hamba-
Mu yang beriman dan beramal saleh. Kabulkanlah
doaku, ya Allah. Amin. "

Mendengar doa Ayyas, ibu setengah baya itu
dengan lirih berkata,

"Ameen. Tuhan pasti mengabulkan doa yang
berbalut darah dan airmata seperti doamu, Malcishka.
Percayalah, Tuhan pasti mengabulkan.
Pasti."



TAMAT
Bumi Cinta
By Habiburrahman El Shirazy