Kisah bermula dari seorang anak muda bernama Rizqaan yang waktu itu masih berusia 18 tahun. Dan ingin menjaga diri melalui nikah Bener2 kondisi Rizqaan waktu itu bisa dibilang miskin. Ia pun hanya lulusan SMA. Tapi untuk agama, ia teguh pendiriannya Di masa mudanya, ia menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu, baik dunia maupun agama. Ia bersungguh2 Namun karena faktor ekonomi, ia tak bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Jadilah ia fokus datang dari satu kajian ke kajian lain Pernah suatu kali, akhirnya curhat ke seorang ustadz, dan menyampaikan keinginannya utk menikah Ia ingin menikahi seorang wanita bernama Halimah, wanita yg merupakan anak seorang yang kaya. Calon mertuanya sangat gila dunia. Ortu Rizqaan tentu sudah mengizinkan ia menikah. Halimah pun karena ketaqwaannya, ia setuju. Tak memandang harta Namun calon ayah mertuanya lah yang menjadi hambatan. Karena ortunya halimah menginginkan Halimah menikah dgn org kaya juga. Akhirnya atas modal keyakinan, Rizqaan tetap berani melamar. Dan ternyata setelah diskusi yg panjang, calon mertuanya ini punya syarat,, Syaratnya yakni Rizqaan harus menceraikan istrinya, jika dalam 10 tahun pernikahan mereka, ia tak mampu memberikan kehidupan yg mapan, Sebuah syarat yang tak mudah. Disaat nanti telah tumbuh cinta, berpisah dalam kondisi saling mencinta tentu tak mudah Setelah berkonsultasi sana-sini, akhirnya Rizqaan menerima tantangan itu. Menghadirkan kehidupan yang mapan bagi istrinya dlm 10 tahun. Dan syarat itu terucap dalam janji di akad nikah. Mengucapkan tambahan bahwa akan menceraikan dlm 10 tahun, jika tak bisa buat mapan. Sebuah syarat yg tak biasa kita dengar. Tapi ini sungguh terjadi. Dan secara syariat memang diperbolehkan melakukan ini Sampai disini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa ketika bukan halangan syariat yg menghambat kita nikah, upayakanlah secara maksimal Jika karena melihat calon mertua menolak karena sang calon laki-laki masih belum mapan, perjuangkanlah. Perjuangkan dgn kesungguhan, Barengi perjuang itu dengan terus berdoa ke Allah, lakukan ibadah ke Allah, usahakan ikhtiar terbaik kita, Pelajaran lainnya, bagi wanita, jika datang seorang laki-laki yg baik agamanya, maka terimalah ia. Yakin ada keberkahan disana. :' Ok lanjut ya. Nah akhirnya mereka menikah dalam kesederhanaan. Sehabis menikah, mereka memilih mengontrak tempat tinggal. Bukan tinggall dengan mertuanya, karena ia berjanji untuk hidup mandiri setelah menikah. Sesulit apapun kondisinya. Mulailah kehidupan yang mereka jallani bersama. Sangat sulit. Dengan uang pas2an, hanya 200rb yg tersisa, mereka harus berjuang dgn itu. Maka mulailah Rizqaan menyisihkan sebagian untuk dijadikan modall usaha. Ia mau berdagang. Seperti sabda Rasulullah, bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui berdagang. Maka dengan modal hanya 50rb, ia mulai jualan Dari duit 50rb itu ia belikan roti di sebuah pabrik roti seharga 500 rupiah per biji. Dan ia jual lagi seharga 750 rupiah. Menggunakan sepeda ia keliling menawarkan dagangan rotinya. Ada yg dijual langsung, ada yg di tawarkan ke warung2. Jika rotinya habis, dengan modal 50rb, maka ia dapat untung 25rb. Terlihat kecil. Tapi besar dimatanya Lama2, usahanya berkembang, dari 100 perhari, hingga bisa menjual 900 roti per hari. Kehidupannya mulai membaik Akhirnya setelah cukup sukses dengan berjual sendiri, dan dari tabungan laba yang ia kumpulkan, maka ia mendirikan pabrik roti sendiri. Hingga saat ini pun, mertua Rizqaan pun masih memandang rendah menantunya ini. Bahwa pengusaha roti bukanlah apa2. Hingga akhirnya di tahun ke 9 hidup mereka sudah jauh dari kata miskin. Sudah punya pabrik roti, mobil, rumah tingkat. Tapi mertuanya tetaplah memandang rendah. Karena mertuanya ini super kaya. Ia ingin seperti dirinya yg super kaya. Standar dunia. Pelajaran yg bisa kita ambil dari hal ini adalah, kerja keras itu tentu terbayarkan. Jangan takut dengan berkeluarga jadi miskin. Jangan malu juga untuk mulai berdagang. Pun dari hal yg remeh seperti jualan roti. Kalau ditekunin sungguh2, bakal bisa besar. Dan tetaplah kuat pada pendirian bahwa mencari dunia adalah untuk akhirat. Bukan sebaliknya. Karena dunia ia benar2 sementara. Oh ya ada satu akhlak mulia yg digambarkan Rizqaan dalam berdagang. Yakni ia berangkat kerja dari habis subuh, trus rehat pas zuhur. Tentu ada jeda dalam Dhuha-nya, dan beristirahat dengan shalat Zuhur. Selepas itu jika dagangan masih ada, ia akan menjual hingga ashar. Dan ashar adalah batasan jualannya. Seberapapun lakunya. Ia harus pulang. Menemui anak istrinya. Ikut kajian dan ibadah. Karena sering kita temukan di masyarakat, seorang suami yang bekerja sangat keras dgn dalih memperjuangkan keluarganya sampai lupa waktu. Lupa bahwa keluarganya juga butuh kasih sayang. Lupa bahwa keluarganya juga butuh ajakannya untuk mengingat Allah. Lanjut kisahnya. Hingga 1 hari sebelum tepat 10 tahun usia pernikahan mereka. Terjadi musibah yang merubah segalanya. Qadar Allah. Pabrik yg berada di belakang rumah mereka terbakar. Dan ikut membakar rumah mereka juga.Disaat puncak-puncaknya kejayaan mereka, tinggal 1 hari lagi pembuktian itu, tiba-tiba atas izin Allah semuanya hilang. Rizqaan, Halimah istrinya, anaknya, serta ibu Rizqaan yg tinggal di rumah itu selamat dari maut. Ayah Rizqaan meninggal dalam kebakaran. Kesedihan yang mendalam melihat semua itu terjadi. Kehilangan orang tua, sungguh memilukan hati. Dan ibu Rizqaan jg terkena luka bakar. Akhirnya Ibu Rizqaan dibawa ke UGD rumah sakit terdekat untuk ditangani. Di ruang UGD itu tak lama datang mertua Rizqaan. Bukannya menjenguk ibu Rizqaan yg sedang sakit parah karena luka bakar, tetapi karena ingin menagih janji Rizqaan. Karena hari itu adalah hari dimana usia pernikahan mereka tepat 10 tahun. Dan mertuanya melihat bahwa ia bangkrut. Sehingga ayah mertuanya, menyuruh Rizqaan menceraikan istrinya. Bayangkan, menceraikan dalam kondisi musibah dan saling mencinta. Awalnya Rizqaan bernegosiasi dengan mertuanya itu. Menunjukkan betapa ia mencintainya. Tapi ayahnya menuntut janji yg diucapkan dulu. Bahwa sebagai seorang muslim yang baik, Rizqaan harus melaksanakan janjinya. Akhirnya dengan penuh haru ia bertanya pada istrinya. Bertanya mengenai pendapat istrinya atas apa yang akan ia lakukan. Menceraikannya. Istrinya tentu kaget, tetapi ia paham kondisinya. Sungguh tak mudah bercerai dalam kondisi seperti itu. Kondisi dimana perceraian terjadi karena saling mencintai. Bukan karena cek cok. Tapi lagi2 ini lah contoh yang sebenernya mencintai karena Allah. Bener-bener karena Allah. Mengenyampingkan perasaan. Karna Allah. Akhiranya jatuhlah talaq kepada halimah di samping ruang UGD itu. Benar-benar haru. Mereka berpisah. Namun kisah tak berhenti disini. Rizqaan dengan duit 45 juta yg ada di ATM nya membangun bisnis dan rumahnya lagi dari awal kembali. Halimah pulang kerumah ortunya. Dan hendak dijodohkan ke temen ayahnya yg kaya raya. Budiman namanya. Tapi halimah menolak. Ia masih mencintai suaminya. Lagipula saat itu ia sedang hamil anak keduanya. Bener-bener hal yang berat. Ga mudah. Sementara itu, berjalan beberapa bulan, usaha Rizqaan kembali lagi. Walaupun tak sebesar dulu, tapi sekarang sudah mulai bangkit. Dan akhirnya ayah Halimah luluh juga hatinya. Setelah 10 tahun lebih, melihat bahwa menantunya ini adalah org yg bener sholeh. Akhirnya ia mau menikahkan kembali anaknya dengan Rizqaan. Kali ini dalam kerelaan yang sangat. Tapi.. Ternyata saat itu Halimah telah terdiagnosis sakit Leukemia. Dan kata dokter, sudah parah, dan tak kan bertahan lama, 3-4 bulan lagi. Sebelum nikah yg kedua itu dilangsungkan, Halimah bertanya kembali kepada Rizqaan, apakah ia tetap mau menikahinya dgn kondisi itu ?. Dengan mantap Rizqaan menjawab bahwa ia tetap mau. Bahwa ia mencintai Halimah karena Allah. Dan ia sangat yakin dengan ketetapan Allah. Ia mau mendampingi istrinya itu dalam kondisi apapun. Akhirnya nikah yg kedua itu dilaksanakan dalam kondisi yg sgt sederhana. Beberapa bulan setelah pernikahan itu, kondisi Halimah semakin memburuk. Dan dilarikan ke rumah sakit. Siang itu halimah sholat. Tentunya sholat dalam keadaan sakit. Ia jamak dengan ashar. Sehabis itu ia pingsan kembali. Kondisinya terus melemah. Sebelum magrib, Halimah sadar dan bertanya pada suaminya, apakah azan magrib sudah mengumandang ?. Beberapa menit lagi kata suaminya. Dan Halimah pun berkata pada suaminya. "Apakah engkau meridhoi aku selama ini menjadi istrimu ?" "Tentu istriku, aku meridhoimu sebagai istriku.." kata Rizqaan. Alhamdulillah. Halimah tersenyum.. Dan setelah itu, yang keluar dari bibir halimah hanya ucapan syahadat. Beberapa kali diulang, hingga suaranya melemah.. Dan akhirnya ia meninggal dalam kondisi terbaik. Mengucapkan dua kalimah syahadat. Sungguh itu impian setiap muslim.
___sandiwara langit__
Tidak ada komentar:
Posting Komentar