Arti Sebuah Cinta
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
DefinisiCinta Untuk
mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau
dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim
mengatakan:
“Cinta tidak bisa didefinisikan dengan
jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan
menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya
cinta itu sendiri.”
(Madarijus Salikin, 3/9)
HakikatCintaCinta
adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah.
Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia
akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya
maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah
ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke
dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta
kepada AllahCinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan
yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin
(3/22) berkata:
”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah
mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada
mereka:“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku,
niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)Mereka (sebagian
salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’,
ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta
faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, faidah dan buahnya adalah
kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak
akan terwujud dan akan hilang.”Bila demikian keadaannya, maka
mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan
kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa
sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik
Radhiyallahu’anhu: “Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada
dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan
Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia
mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena
Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah
Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk
dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul
Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada
Allah) ada sepuluh perkara:Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan
memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.Kedua, mendekatkan
diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan
wajib.Ketiga,terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.Keempat,
mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya
nafsu.Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah,
menyaksikan dan mengetahuinya.Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan
Allah dan segala nikmat-Nya.Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah
Subhanahu wa ta’ala.Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat)
bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).Kesembilan, duduk
bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.Kesepuluh,
menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah
Subhanahu wa ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta
adalah Ibadah Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari
ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana
ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:“Tetapi
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu
indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)“Dan orang-orang yang beriman lebih
cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)“Maka Allah akan mendatangkan
suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.”
(Al-Maidah: 54)Adapun dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa
sallam adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan
oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan
Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam cinta
Di
antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada
yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab
Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114)
menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama,cinta ibadah.Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua,cinta
syirik.Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah Subhanahu wa
ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain
Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai
tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.”
(Al-Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.Yaitu
cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan
Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan- Nya. Allah Subhanahu
wa ta’ala berfirman:“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan
yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta
tabiat.Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain
yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah
Subhanahu wa ta’ala berfirman:“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf
‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak
kita dar pada kita.”(Yusuf:8) Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita
tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan
kewajiban-kewajiban , maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta
tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut
sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka
cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah
bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta,
takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu
sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di
akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di
Rahimahullah menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan
dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan
penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan
hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan
seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal.
110)Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka
kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh
secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama,
bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya
kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh
dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Cinta
bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap
orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal.
Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia
lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta
yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada
Rabb-nya.Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf:
CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk
mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal
itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat
ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa
diiringi rasa malu mengatakan,
“Kami sama-sama cinta, suka sama
suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya
bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas
istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu
sedikitpun.Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan
kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini,
setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan
dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala
yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wa
sallam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali
‘Imran: 14)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam
tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali
‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih
mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan
perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah Subhanahu wa
ta’ala memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak,
dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka
dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada
segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan
dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita,
cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit
dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”
Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam dalam haditsnya dari shahabat Tsauban
radhiyallahu’anhu mengatakan: ‘Hampir-hampir orang-orang kafir
mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’
Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat
sedikit?’ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam berkata: ‘Bahkan
kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan
Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian
dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit)
al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai
Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: ‘Cinta
dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar